23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Virus “Lato-Lato” Jadi Ancaman Politik Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 22, 2023
in Esai
Virus “Lato-Lato” Jadi Ancaman Politik Indonesia

Foto ilustrasi tatkala.co

BEBERAPA BULAN BELAKANGAN ini permainan lato-lato berhasil membuat saya heran. Permainan ini bukanlah hal baru buat saya, dulu pada masa SD saya pun pernah gandrung dengan permainan ini. Kalau di daerah saya, orang menyebutnya dengan nama “tek-tekan”.

Tak hanya digandrungi oleh anak-anak, permainan ini bahkan sempat menghebohkan jagat internasional. Pasalnya lato-lato juga dimainkan oleh Paul Rudd—seorang aktor yang memerankan Ant Man. Semakin heboh jadinya karena ia bermain lato-lato di acara Red Carpet fan event untuk Ant-Man and The Wasp: Quantumania di Hoyts Entertainment Square, Sydney, Australia.

Animo di dalam negeri lebih besar lagi. Tidak hanya kalangan selebriti, lato-lato juga sering dimainkan oleh para pejabat di negeri ini. Mulai dari pejabat di tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.

Belakangan yang paling ramai adalah saat Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo diminta bermain lato-lato di sela-sela kunjungannya di Jawa Barat. Tak hanya Jokowi, Ridwan Kamil yang mendampinginya pun tak mau ketinggalan untuk memainkan permainan ini.

Partai politik juga tak mau kalah. Untuk menjadi relevan di tengah masyarakat, partai politik pun mengadakan lomba lato-lato dengan ragam hadiah untuk menarik simpati rakyat, apalagi jelang Pemilu—momen-momen seperti ini wajib dimanfaatkan.

Berhenti sampai di sana? Tentu saja tidak.

Bahkan di Sulawesi Utara, salah satu lembaga negara—saya tidak mau menyebut namanya, menggunakan lato-lato sebagai media untuk membuka secara resmi acara tersebut. Itulah kekuatan lato-lato di negeri ini. Sebuah permainan tradisional yang tidak hanya mampu menyentuh masyarakat kalangan bawah, tapi juga mampu menjangkau dunia internasional. Perlu banyak latihan untuk jago memainkan permainan ini.

Seingat saya, dulu saya sangatlah jago bermain lato-lato. Bahkan kalau dilombakan, mungkin saya masuk tiga besar. Hehe.

Jadi lato-lato ini adalah mainan yang berbentuk dua bola, masing-masing bola diikatkan tali yang bertemu pada sebuah simpul. Kemudian simpul yang mempertemukan dua tali tersebut dipegang, lalu dimainkan hingga dua bola tersebut berbenturan satu sama lain. Benturan tersebut menghasilkan bunyi yang begitu khas—sampai-sampai permainan ini jadi cerita-cerita lucu di pelbagai platform digital.

Seperti itulah kira-kira permainan lato-lato yang berhasil menyita perhatian seluruh kalangan di Indonesia. Permainan yang dulu pernah hadir di masa kanak-kanak saya, kemudian beberapa belas tahun kemudian kembali eksis—bahkan dalam waktu yang cukup lama. Lalu, apa korelasi permainan lato-lato dalam catur perpolitikan Indonesia?

Politik “Lato-Lato”

Seperti yang saya katakan di awal, lato-lato jadi permainan yang sangat digandrungi oleh rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya adalah elit-elit politik. Buat saya hal tersebut bukanlah hal baru. Mengikuti tren masa kini bagi sebagian elit adalah sarana untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan rakyat—saya menyebutnya dengan “gimik politik”. Dan itu sah-sah saja dilakukan.

Menurut saya sendiri, kunci dari permainan lato-lato adalah benturan yang kemudian menghasilkan bunyi. Bunyi tersebut bisa saja mengganggu, bisa saja menarik—tergantung cara pandang kita.

Bagi saya, akan menjadi bahaya ketika konsep permainan lato-lato diterapkan dalam catur perpolitikan Indonesia hari ini. Para elit yang kini berperan sebagai pemegang kekuasaan sengaja membelah rakyatnya.

Kelompok-kelompok yang terbentuk akibat pembelahan tersebut kemudian dibenturkan satu sama lain, dan para elit memetik hasilnya dalam bentuk suara yang dikonversi menjadi kursi parlemen. Lalu rakyat dapat apa? Rakyat, yaitu saya dan anda sekalian hanya mendapatkan sentimen identitas yang tidak berkesudahan.

Benturan-benturan semacam ini sejatinya kerap kali terjadi. Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 dan Pemilu di tahun 2019 telah memperlihatkan begitu dalamnya dampak dari pembelahan dan benturan yang terjadi. Politisasi SARA jadi bahan yang sangat ‘gurih’ untuk diolah menjadi pemicu pembelahan dan benturan. Perbedaan yang hadir bukannya menyatukan, justru perbedaan menjadi kunci membelah masyarakat.

Bagi Agnes Heller dalam Syafuan Rozi & tim menyebutkan bahwa politik identitas secara sederhana dapat dimaknai sebagai strategi politik yang memfokuskan pada pembedaan dan pemanfaatan ikatan primordial sebagai kategori utama. Ia juga menambahkan di satu sisi politik identitas mampu memunculkan toleransi dan kebebasan. Namun di sisi lain, politik identitas juga dapat memunculkan pola-pola intoleransi, kekerasan verbal-fisik, dan juga pertentangan etnik dalam kehidupan bermasyarakat.

Berangkat dari apa yang disebutkan oleh Agnes Heller, maka keberagaman suku, adat, tradisi, budaya, dan agama yang dimiliki Indonesia menjadi ladang subur bagi politik identitas. Apalagi aspeknya sangat beragam. Penggunaan politik identitas tentang simbol etnik, agama, ataupun masalah-masalah lainnya menjadi sebuah strategi untuk mendapatkan dukungan di saat Pemilu.

Politik identitas sebenarnya hadir di ruang-ruang nyata. Jadi, politik tidak hanya bicara soal hukum, undang-undang, dan institusi pengambil keputusan. Tetapi politik juga berada dalam ruang-ruang kontestasi atau pertarungan kekuasaan politik melalui kekuatan kultural, sosial, ekonomi, dan politik yang bersifat informal dan tidak kasat mata. Hal-hal yang tidak kasat mata semacam inilah yang memiliki dampak dan berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan di isu-isu strategis.

Baiklah, kembali ke lato-lato. Sebagai sebuah permainan, lato-lato memberi banyak dampak positif. Lato-lato mampu mengalihkan perhatian anak-anak Indonesia dari gawainya untuk sementara waktu, dan sibuk memamerkan kemampuannya di depan teman sepermainannya.

Namun apabila konsep permainan ini di bawa ke ranah politik, maka ancaman disintegrasi bangsa akan kembali muncul ke permukaan. Saya juga dibuat heran saat mendengar bahwa salah satu partai politik baru yang berhasil menjadi peserta Pemilu, secara sadar mendeklarasikan diri untuk menggunakan politik identitas sebagai strateginya.

Bagi saya politik identitas tidak bisa dihindarkan—politik identitas adalah sebuah keniscayaan selama bangsa ini menganut sistem demokrasi. Hal yang paling penting adalah bagaimana kita mendewasakan diri, sehingga saya dan anda semua dapat bersikap bijak ketika dihadapkan dengan elit politik yang menggunakan politik identitas demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Lato-lato dalam politik hanyalah sebuah analogi saja, lalu bagaimana menurut kalian soal politik identitas? [T]

BACA artikel lain dari penulis TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA

Mengenal Politisi Berbaju Relawan di Indonesia
Politik Catur Ala Erick Thohir
Mari Berikan Standing Applause Buat “The Atlas Lions”
Tags: lato-latopemiluPemilu 2024Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kehidupan Perempuan Sebelum dan Sesudah Menikah: Antara Karier, IRT atau Keduanya?

Next Post

Raka Bujangga, Budiarta Aryawan, dan Andika Darmawan Juara Lomba Foto Bulan Bahasa Bali 2023

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Raka Bujangga, Budiarta Aryawan, dan Andika Darmawan Juara Lomba Foto Bulan Bahasa Bali 2023

Raka Bujangga, Budiarta Aryawan, dan Andika Darmawan Juara Lomba Foto Bulan Bahasa Bali 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co