2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Virus “Lato-Lato” Jadi Ancaman Politik Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 22, 2023
in Esai
Virus “Lato-Lato” Jadi Ancaman Politik Indonesia

Foto ilustrasi tatkala.co

BEBERAPA BULAN BELAKANGAN ini permainan lato-lato berhasil membuat saya heran. Permainan ini bukanlah hal baru buat saya, dulu pada masa SD saya pun pernah gandrung dengan permainan ini. Kalau di daerah saya, orang menyebutnya dengan nama “tek-tekan”.

Tak hanya digandrungi oleh anak-anak, permainan ini bahkan sempat menghebohkan jagat internasional. Pasalnya lato-lato juga dimainkan oleh Paul Rudd—seorang aktor yang memerankan Ant Man. Semakin heboh jadinya karena ia bermain lato-lato di acara Red Carpet fan event untuk Ant-Man and The Wasp: Quantumania di Hoyts Entertainment Square, Sydney, Australia.

Animo di dalam negeri lebih besar lagi. Tidak hanya kalangan selebriti, lato-lato juga sering dimainkan oleh para pejabat di negeri ini. Mulai dari pejabat di tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.

Belakangan yang paling ramai adalah saat Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo diminta bermain lato-lato di sela-sela kunjungannya di Jawa Barat. Tak hanya Jokowi, Ridwan Kamil yang mendampinginya pun tak mau ketinggalan untuk memainkan permainan ini.

Partai politik juga tak mau kalah. Untuk menjadi relevan di tengah masyarakat, partai politik pun mengadakan lomba lato-lato dengan ragam hadiah untuk menarik simpati rakyat, apalagi jelang Pemilu—momen-momen seperti ini wajib dimanfaatkan.

Berhenti sampai di sana? Tentu saja tidak.

Bahkan di Sulawesi Utara, salah satu lembaga negara—saya tidak mau menyebut namanya, menggunakan lato-lato sebagai media untuk membuka secara resmi acara tersebut. Itulah kekuatan lato-lato di negeri ini. Sebuah permainan tradisional yang tidak hanya mampu menyentuh masyarakat kalangan bawah, tapi juga mampu menjangkau dunia internasional. Perlu banyak latihan untuk jago memainkan permainan ini.

Seingat saya, dulu saya sangatlah jago bermain lato-lato. Bahkan kalau dilombakan, mungkin saya masuk tiga besar. Hehe.

Jadi lato-lato ini adalah mainan yang berbentuk dua bola, masing-masing bola diikatkan tali yang bertemu pada sebuah simpul. Kemudian simpul yang mempertemukan dua tali tersebut dipegang, lalu dimainkan hingga dua bola tersebut berbenturan satu sama lain. Benturan tersebut menghasilkan bunyi yang begitu khas—sampai-sampai permainan ini jadi cerita-cerita lucu di pelbagai platform digital.

Seperti itulah kira-kira permainan lato-lato yang berhasil menyita perhatian seluruh kalangan di Indonesia. Permainan yang dulu pernah hadir di masa kanak-kanak saya, kemudian beberapa belas tahun kemudian kembali eksis—bahkan dalam waktu yang cukup lama. Lalu, apa korelasi permainan lato-lato dalam catur perpolitikan Indonesia?

Politik “Lato-Lato”

Seperti yang saya katakan di awal, lato-lato jadi permainan yang sangat digandrungi oleh rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya adalah elit-elit politik. Buat saya hal tersebut bukanlah hal baru. Mengikuti tren masa kini bagi sebagian elit adalah sarana untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan rakyat—saya menyebutnya dengan “gimik politik”. Dan itu sah-sah saja dilakukan.

Menurut saya sendiri, kunci dari permainan lato-lato adalah benturan yang kemudian menghasilkan bunyi. Bunyi tersebut bisa saja mengganggu, bisa saja menarik—tergantung cara pandang kita.

Bagi saya, akan menjadi bahaya ketika konsep permainan lato-lato diterapkan dalam catur perpolitikan Indonesia hari ini. Para elit yang kini berperan sebagai pemegang kekuasaan sengaja membelah rakyatnya.

Kelompok-kelompok yang terbentuk akibat pembelahan tersebut kemudian dibenturkan satu sama lain, dan para elit memetik hasilnya dalam bentuk suara yang dikonversi menjadi kursi parlemen. Lalu rakyat dapat apa? Rakyat, yaitu saya dan anda sekalian hanya mendapatkan sentimen identitas yang tidak berkesudahan.

Benturan-benturan semacam ini sejatinya kerap kali terjadi. Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 dan Pemilu di tahun 2019 telah memperlihatkan begitu dalamnya dampak dari pembelahan dan benturan yang terjadi. Politisasi SARA jadi bahan yang sangat ‘gurih’ untuk diolah menjadi pemicu pembelahan dan benturan. Perbedaan yang hadir bukannya menyatukan, justru perbedaan menjadi kunci membelah masyarakat.

Bagi Agnes Heller dalam Syafuan Rozi & tim menyebutkan bahwa politik identitas secara sederhana dapat dimaknai sebagai strategi politik yang memfokuskan pada pembedaan dan pemanfaatan ikatan primordial sebagai kategori utama. Ia juga menambahkan di satu sisi politik identitas mampu memunculkan toleransi dan kebebasan. Namun di sisi lain, politik identitas juga dapat memunculkan pola-pola intoleransi, kekerasan verbal-fisik, dan juga pertentangan etnik dalam kehidupan bermasyarakat.

Berangkat dari apa yang disebutkan oleh Agnes Heller, maka keberagaman suku, adat, tradisi, budaya, dan agama yang dimiliki Indonesia menjadi ladang subur bagi politik identitas. Apalagi aspeknya sangat beragam. Penggunaan politik identitas tentang simbol etnik, agama, ataupun masalah-masalah lainnya menjadi sebuah strategi untuk mendapatkan dukungan di saat Pemilu.

Politik identitas sebenarnya hadir di ruang-ruang nyata. Jadi, politik tidak hanya bicara soal hukum, undang-undang, dan institusi pengambil keputusan. Tetapi politik juga berada dalam ruang-ruang kontestasi atau pertarungan kekuasaan politik melalui kekuatan kultural, sosial, ekonomi, dan politik yang bersifat informal dan tidak kasat mata. Hal-hal yang tidak kasat mata semacam inilah yang memiliki dampak dan berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan di isu-isu strategis.

Baiklah, kembali ke lato-lato. Sebagai sebuah permainan, lato-lato memberi banyak dampak positif. Lato-lato mampu mengalihkan perhatian anak-anak Indonesia dari gawainya untuk sementara waktu, dan sibuk memamerkan kemampuannya di depan teman sepermainannya.

Namun apabila konsep permainan ini di bawa ke ranah politik, maka ancaman disintegrasi bangsa akan kembali muncul ke permukaan. Saya juga dibuat heran saat mendengar bahwa salah satu partai politik baru yang berhasil menjadi peserta Pemilu, secara sadar mendeklarasikan diri untuk menggunakan politik identitas sebagai strateginya.

Bagi saya politik identitas tidak bisa dihindarkan—politik identitas adalah sebuah keniscayaan selama bangsa ini menganut sistem demokrasi. Hal yang paling penting adalah bagaimana kita mendewasakan diri, sehingga saya dan anda semua dapat bersikap bijak ketika dihadapkan dengan elit politik yang menggunakan politik identitas demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Lato-lato dalam politik hanyalah sebuah analogi saja, lalu bagaimana menurut kalian soal politik identitas? [T]

BACA artikel lain dari penulis TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA

Mengenal Politisi Berbaju Relawan di Indonesia
Politik Catur Ala Erick Thohir
Mari Berikan Standing Applause Buat “The Atlas Lions”
Tags: lato-latopemiluPemilu 2024Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kehidupan Perempuan Sebelum dan Sesudah Menikah: Antara Karier, IRT atau Keduanya?

Next Post

Raka Bujangga, Budiarta Aryawan, dan Andika Darmawan Juara Lomba Foto Bulan Bahasa Bali 2023

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Raka Bujangga, Budiarta Aryawan, dan Andika Darmawan Juara Lomba Foto Bulan Bahasa Bali 2023

Raka Bujangga, Budiarta Aryawan, dan Andika Darmawan Juara Lomba Foto Bulan Bahasa Bali 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co