23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Love Language: Bukan Pilihan, Tapi Keharusan!

Musti Ariantini by Musti Ariantini
April 16, 2023
in Esai
Love Language: Bukan Pilihan, Tapi Keharusan!

Ilustrasi tatkala.co

LOVE LANGUAGE, kata yang belakangan ini tidak pernah absen disebutkan oleh generasi muda yang sedang menjalin kasih. Atau mungkin kawan-kawan juga sering menggunakan istilah keren itu dalam keseharian?

Love Language dicetuskan oleh Gary Chapman, seorang penulis sekaligus pembawa acara talk show radio dari Amerika Serikat, dalam buku berjudul “5 Love Language” (barangkali ada kawan-kawan yang belum tahu asal muasal kata Love Language).

Love Language atau bahasa cinta adalah cara untuk mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang kepada seseorang.

Biasanya digunakan untuk bisa saling memahami dan menyenangkan pasangan, sangat penting untuk memahami keinginan pasangan untuk dicintai dengan cara yang seperti apa. Kalau kata ABG (Anak Baru Gede) zaman sekarang, mencintai seseorang tidak cukup hanya dengan perasaan yang tulus harus ada effort.

Terdapat 5 bahasa cinta yang sangat popular belakangan ini:

  • Word Of Affirmation (Mengungkapkan cinta melalui kata-kata)

Cara mengungkapkan rasa cinta yang paling dasar dan paling mudah, namun jarang disadari.

Mengekspresikan cinta juga bisa melalui kata-kata manis dan menenangkan, sehingga pasangan merasa spesial. Kalimat seperti “ada cerita apa hari ini”, atau sesimpel ucapan “selamat pagi” bisa membuat pasangan bersemangat dalam menjalani hari.

Sesekali memuji pasangan atau menenangkan ketika pasangan sedang memasuki fase down juga merupakan bentuk ungkapan cinta, yang sangat berarti bagi sebagian orang (mungkin semua orang).

Cara mencintai ini harus dimiliki oleh semua orang (menurut saya), karena pada dasarnya semua manusia memerlukan pengakuan, semua manusia membutuhkan pujian.

Tak jarang seutas kalimat yang kita ucapkan bisa menenangkan dan membangkitkan seseorang yang mungkin ingin menyerah pada hidupnya. Namun, kebanyakan orang menganggap bahwa bentuk ungkapan cinta tersebut adalah hal sepele dan tidak penting.

  • Quality Time (Menghabisakan waktu yang berkualitas Bersama)

Kebersamaan dalam menghabiskan waktu yang berkualitas sangat penting untuk menunjukan cinta kepada pasangan, yang berarti kita meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas bersama dan merangkai kenangan indah.

Membangun suasana yang nyaman, bercengkrama dalam ruang yang hanya milik berdua, tanpa adanya gangguan dari orang lain atau aktivitas lain. Seperti olahraga bersama, memasak bersama, menonton film atau berlibur ke tempat favorit.

Dengan melakukan Quality time, pasangan akan merasa di hargai dan diprioritaskan, bukan malah membiarkan pasangan kesepian atau istilah gaulnya feeling lonely. Apalagi kawan-kawan lebih memilih menghabiskan semua waktu berkumpul dengan teman atau mencari kesibukan sendiri untuk mengabaikan pasangan.

  • Act Of Service (Mengungkapkan cinta melalui Tindakan)

Mengungkapkan cinta dengan tindakan secara langsung bahkan tanpa disuruh adalah Bahasa cinta yang mungkin disukai oleh semua orang.

Act Of Service biasanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang bisa mengungkapkan cintanya dengan kata-kata atau bisa disebut sedikit bicara banyak bertindak. Namun bukan berarti tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, hanya saja jarang.

Seperti misalnya membantu pasangan sebelum dimintai tolong, membawakan barang ketika pasangan terlihat kesulitan, membelikan makanan untuk pasangan dan banyak lagi tindakan-tindakan kecil yang bisa dilakukan oleh orang dengan bahasa cinta act of service untuk mengungkapkan cinta. Yuk, belajar peka!

  • Receiving Gift (Mengungkapkan cinta dengan memberi/menerima hadiah)

Menunjukan cinta dengan kejutan-kejutan manis yang berkesan adalah bahasa cinta yang sangat spesial. Saya rasa semua orang suka diberi kejutan manis, apalagi dari orang terkasih (termasuk saya sendiri).

Hadiah-hadiah kecil yang mampu membuat senyum pasanganmu merekah sepanjang hari. Seperti memberi coklat, bunga atau makanan kesukaan pasangan; memberi ucapan ulang tahun atau hari jadi yang dikemas dengan manis dan penuh kesan. Atau bisa juga membelikan barang-barang yang dibutuhkan oleh pasangan.

Hadiah tidak harus mahal, cukup dengan kesan dan effort yang tulus.

  • Physical Touch

Mengekspresikan cinta melalui sentuhan fisik kepada pasangan, seperti menggenggam tangan, memeluk, mencium atau mengusap rambut pasangan yang membuat pasangan merasakan kenyamanan.

Namun, tentunya ada perbedaan “sentuhan” yang dimaksud, sesuai dengan tingkat hubungan yang dijalani.

Physical touch suami istri dengan physical touch pacaran tentunya jauh berbeda, tergantung dari budaya dan norma adat yang dianut.

Untuk hubungan tingkat pacaran, bersentuhan fisik yang bisa dilakukan di antaranya: berpegangan tangan, mengusap rambut pasangan atau menghapus air mata pasangan ketika sedang bersedih.

Berbeda dengan bersentuhan fisik pasangan yang sudah menikah, maka boleh saja dan tidak ada larangan, karena mereka sudah sah secara hukum maupun agama.

Nah, semua bentuk ekspresi cinta tersebut seharusnya dilakukan, bukan hanya memilih salah satu. Dengan begitu kerekatan hubungan akan semakin terjalin dan bisa memahami pasangan dengan lebih baik lagi.

Mengungkapkan cinta dengan kata-kata sudah sepatutnya diimbuhi dengan tindakan dan dibumbui dengan kejutan yang manis.

Seperti misalnya, kawan-kawan hanya mengatakan betapa besarnya rasa cinta yang kawan-kawan miliki terhadap pasangan, namun tidak pernah menunjukannya melalui tindakan, tidak pernah meluangkan waktu dengan pasangan atau tidak pernah memberi kejutan manis walau hanya sekedar setangkai mawar merah kepada pasangan. Hal tersebut sama saja dengan bullshit.

Begitupula jika kawan-kawan hanya menunjukan cinta dengan tindakan (tanpa meyakinkannya dengan pengakuan dan pujian), sudah pasti pasangan kawan-kawan akan ragu dengan cinta yang kawan-kawan berikan untuknya—khususnya perempuan yang sangat memerlukan pengakuan.

Kawan-kawan tentu tidak kaget ketika pasangan menanyakan: “apakah kamu menyayangiku?” atau “apakah kamu mencintaiku?” yang dikatakan berulang-ulang dan entah sampai kapan akan berakhir (saya juga sering melakukannya).

Padahal, sudah jelas-jelas kawan-kawan meluangkan banyak waktu untuk dia, sudah membelikan banyak hadiah atau bahkan sudah melakukan apapun untuk pasangan kalian, namun mereka masih menanyakan kata-kata di atas. Maka kawan-kawan jangan heran, “kata-kata cinta” dalam suatu hubungan memiliki peran yang sangat penting untuk mengusir keraguan.

Namun perlu dicatat, semua bentuk cinta tersebut pasti ada porsinya masing-masing, jangan sampai disalahgunakan atau terkesan memanfaatkan. Jangan sampai kawan-kawan memanfaatkan bentuk cinta word affirmation untuk menipu pasangan dengan janji-janji manis yang efeknya lebih mengerikan daripada penyakit diabetes.

Jangan memanfaatkan bentuk cinta act of service untuk menjadikan pasangan kalian babu pribadi, yang bisa disuruh melakukan apapun yang bahkan di luar nalar pasangan secara gratis.

Jangan memanfaatkan bentuk cinta quality time untuk membunuh semua aktivitas pasangan, bahkan sampai merenggut pekerjaan atau waktu pasangan untuk me time. Jangan menguasai waktu pasangan, kalau kawan-kawan ingin memiliki pasangan yang selalu ada disetiap menitnya, maka carilah pengangguran.

Jangan pula jadikan bentuk cinta receiving gift, untuk memeras pasangan–dalam artian meminta hadiah mewah dan mahal, karena sesungguhnya bentuk cinta receiving gift itu memberikan kejutan-kejutan kecil yang bermakna, tidak harus mahal dan tidak harus berupa barang, bisa saja berupa surat cinta, video kebersamaan dan masih banyak lagi.

Nah, yang terakhir-–yang mungkin bisa menimbulkan kesalah pahaman bahkan kerugian yang besar—yaitu bentuk cinta phisycal touch, yang mana porsi sentuhan fisik yang berlebihan untuk ukuran pasangan yang baru tahap pacaran.

Dengan adanya bentuk cinta ini, bisa menjadi modus yang mengarah pada kekerasan seksual, yang bisa merenggut masa depan anak bangsa (khususnya perempuan).

Jadi, untuk kawan-kawan, perlu diingat, semua bahasa cinta di atas memiliki posisi yang sama-sama penting dan tidak bisa hanya memilih salah satunya saja, namun harus diingat porsinya, supaya tidak ada yang dirugikan, karena cinta tidak menimbulkan untung dan rugi.[T]

Bukan Mau Su’udzon, tapi Orang Bilang Itu Friendzone
Gabut Berkedok Self Healing dan Saran untuk Mengatasinya
Ke Kampus Mengejar Cinta atau Cita-Cita? Nah, Lho?!
Tags: Bahasacintacinta kasih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Skala dan Citra | Catatan Selepas Menonton Layar Mulatari: Arsitektur Tubuh

Next Post

Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging

Musti Ariantini

Musti Ariantini

Admin tatkala.co

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Perjanjian Pohon Kopi dengan Semut Hitam

Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co