6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cangkit Den Bukit, Sebuah Sinekdoke Zadam

Nurjaya PM by Nurjaya PM
March 26, 2023
in Ulas Buku
Cangkit Den Bukit, Sebuah Sinekdoke Zadam

Buku puisi Cangkit den Bukit karya Komang Sujana

Judul: Cangkit Den Bukit – Pupulan Puisi
Penulis: Komang Sujana
Penerbit: Mahima Institute Indonesia
Cetakan Pertama: Februari, 20923
ISBN : 978-623-5435-04-6
Tebal: iv + 70 halaman

PUISI MERUPAKAN REFLEKSI HATI. Begitu pula dengan antologi puisi berjudul Cangkit Den Bukit karya Komang Sujana. Buku ini merefleksikan sejumlah hal berkenaan dengan personal, komunal, serta institusional penulis. Dalam hal ini, ada sejumlah fenomena yang bisa dicermati serta dimaknai sebagai bentuk apresiasi terbitnya buku ini.

Untuk memaknai buku Cangkit Den Bukit perlu dilandasi dengan pemikiran posmo agar mendapatkan pemaknaan melebihi batas positifistik. Sejumlah paradigma, seperti mimetis, heuristik, dan hermeneutik tentunya diperlukan untuk menelisik karya ini. Perlu digunakan sejumlah teori, salah satunya teori semiotika untuk membahas lebih jauh serta dekonstruksi untuk mendapatkan makna dari sudut pandang berbeda. Dalam hal ini, pembahasan akan dilakukan dari dua aspek, yaitu (1) bentuk material dan (2) makna parsial sebagai berikut.

Bentuk Material

Membicarakan bentuk tidak bisa dilepaskan dari material pembangunnya. Dalam hal ini, buku Cangkit Den Bukit dibangun dari sejumlah unsur yang berasal dari teks puisi serta unsur dari konteks puisi tersebut.

Pertama, unsur yang berasal dari teks puisi menunjukkan penggunaan bahasa Bali yang lumbrah dan beberapa menggunakan bahasa yang arkais. Seperti penggunakan kata ‘umung’ yang berarti ramai pada puisi “17 Agustus Mangkin” termasuk bahasa yang arkais. Selanjutnya, penulis banyak menggunakan diksi dengan gaya bahasa pararelisme, seperti pada puisi “Peteng” kata ‘wantah’ yang berarti ‘hanya’ diulang berkali-kali pada setiap alenia. Aliterasi dan Asonansi juga dipraktikan dalam sejumlah puisi, salah satunya pada puisi “Politik” dengan aliterasi konsonan [K] yang diulang-ulang kemudian pada puisi “Nundung Pandung” dengan asonansi vokal [U] yang diulang-ulang.

Sebagian besar puisi menunjukkan fenomena sinekdoke dengan menghadirkan sebagian objek atau subjek sebagai perwakilan utuh dari puisi tersebut, diantaranya: (1) dalam puisi “Lovina” dihadirkan sejumlah simbol laut serta icon khas Pantai Lovina yaitu lumba-lumba, (2) dalam puisi “Ibu” penulis menghadirkan sosok Oka Rusmini sebagai panutan dengan ciri khas emansipasi wanitanya ‘ngigelang emansipasi’, (3) dalam puisi “Kober Merah Putih lan Barak” penulis menghadirkan protes terhadap perlakuan Bendera Merah Putih atas bendera lain.

Tipografi tiap-tiap tulisan menunjukkan keseragaman, normatif, serta teratur. Pada tiap akhir puisi ditambahkan tempat atau tanggal pembuatan puisi mencerminkan adanya kesinambungan rantai-rantai ingatan penulis terhadap karyanya.

Kedua, unsur yang berasal dari konteks puisi ini berkaitan dengan si penulis. Penulis merupakan seorang guru bahasa daerah (Bahasa Bali) sehingga tulisannya banyak berlantar dunia pendidikan, seperti puisi “Malajah Jumah” yang berisi tentang belajar daring masa pandemi, “Kesaman” yang berisi tentang liburan semesteran, dan “Suksma Guru” yang berisi ucapan Hardiknas.

Selanjutnya penulis memiliki keahlian bernyanyi tradisional (Tetembangan), hal ini mempengaruhi sejumlah puisi yang bernafaskan ‘tembang’, diantaranya puisi “Gitanjali” yang berisi tentang nyanyian untuk memohon kedamaian, puisi “Gitanjali (2)” berisi cuplikan pupuh-pupuh yang lumbrah di Bali.

Penulis banyak menulis pada masa pandemi Covid-19 seputar tahun 2020 hingga 2022, oleh sebab itu sejumlah puisi juga menunjukkan kondisi saat pandemi, diantaranya puisi “Covid Siangolas” yang berisikan tentang kesedihan saat pandemi melanda, puisi “Malajah Jumah” yang berisi tentang kondisi pendidikan saat pandemi, dan puisi “PPKM” yang isinya tentang himbauan saat pandemi. Penulis terlihat terburu-buru membuat puisi, dengan interval waktu tahun 2022 penulis banyak menyelesaikan puisi-puisi (rata-rata dua sampai tiga puisi perbulan).

Dari kedua material tersebut, Cangkit Den Bukit dapat menunjukkan bentuknya sebagai sinekdoke dari penulis serta kegundahan penulis pada kondisi yang ia alami saat menulis puisi-puisi tersebut. Kesan indah banyak disajikan berkaitan dengan lango yang sering dinikmati penulis lewat kemahirannya bernyanyi tradisional.

Makna Parsial

Memaknai puisi hendaknya memperhatikan sekuen-sekuen puisi secara utuh serta susunan-susunan puisi terhadap buku tersebut. Misalkan dalam sejumlah sekuen terdapat kata-kata keceriaan tentu puisi ini mengandung unsur kebahagiaan, begitu sebaliknya. Dalam Cangkit Den Bukit sekuen-sekuen tersebut dapat dimaknai dalam pemaknaan denotatif, konotatif, maupun ideologis sebagai berikut.

Pertama, makna denotatif dari Cangkit Den Bukit dapat dilihat dari arti harfiahnya. ‘Cangkit’ berarti tipuan dengan kata-kata yang ambiguitas dan ‘Den Bukit’ berarti ada di sebelah utara bukit atau sebutan Kabupaten Buleleng. ‘Cangkit Den Bukit’ secara denotatif dapat dimaknai sebagai “Tipuan dengan kata-kata ambiguitas ala Den Bukit”.

Kedua, makna konotatif dari Cangkit Den Bukit dapat diamati dari makna ‘Cangkit’ yang bertujuan untuk bergaul dengan bercandaan dan ‘Den Bukit’ yang berarti Buleleng. ‘Cangkit Den Bukit’ secara konotatif dapat dimaknai sebagai “Cara bergaul ala Buleleng yang mengedepankan bercandaan”.

Dalam hal ini, pemaknaan atas Cangkit Den Bukit tidak bisa dilepaskan dari keutuhan karya tersebut. Mulai dari sampul yang menyajikan pemandangan laut dengan pura di sebelahnya dapat dimaknai sebagai bentuk kecintaan penulis terhadap hal-hal yang indah, keinginan penulis yang luas seperti lautan untuk menerbitkan buku ini, doa-doa penulis yang disimbolkan lewat pura dengan meru bertumpang 11.

Selanjutnya, puisi yang disusun berdasarkan bulan jadi yang berurutan kemudian puisi pertama yang dibuat (berangka tahun 2012) ditaruh paling belakang sekaligus menjadi judul buku Cangkit Den Bukit dapat dimaknai sebagai tonggak awal penulis dalam menciptakan tulisan.

Muatan-muatan yang ringan, lugas, dan kontekstual dalam tiap-tiap puisi dapat dimaknai sebagai bentuk penjelmaan penulis yang bersahaja di dalam tulisannya. Selain itu, buku ini terlalu banyak menawarkan keindahan sehingga tidak mencerminkan Buleleng sebagai kota yang ‘lugas’ dengan perkataan yang ‘keras’ namun hatinya yang tegas tanpa bahasa muslihat atau Macangkitan, penulis menghadirkan antitesis dirinya.

Ketiga, makna ideologis dari Cangkit Den Bukit berkenaan dengan sejumlah pengetahuan yang cobak dimasukan, disajikan, dielaborasi ke dalam sejumlah karya. Pengetahuan-pengetahuan tentang sejumlah tempat di Kabupaten Buleleng, sejumlah suasana religius kepercayaan masyarakat, serta keyakinan penulis terhadap tulisannya.

Tulisan-tulisan tersebut ada yang saing berkaitkan, mengaitkan diri, bahkan bertentangan satu sama lain sebagai ideologi penulis yang menginginkan karyanya lahir. Selain hal tersebut di atas, perlu kiranya penulis membungkus sebagian kecil puisinya agar menimbulkan rasa penasaran bagi pembaca untuk membuka sekuen demi sekuan yang disajikan; ibaratnya kita diberikan kado yang sudah terbuka, maka ada hal yang kurang ketika kita memaknai hadiah tersebut. Penulis vulgar dalam membahasakan puisi — ia teringat nyanyian tradisional Bali yang jarang menggunakan kias.

Akhirnya buku ini terbit sebagai individu yang mandiri dan siap untuk menantang kerasnya dunia. Selamat Bli Mang Zadam! [T]

Pertanyaan-pertanyaan Tak Berjawab tentang Bali dalam Sajak-sajak GM Sukawidana
Linieritas Peristiwa Teks dan Pengalaman Individu | Membaca Persoalan Klasik dalam Cerpen “Pura Subak” Karya DN Sarjana
Ngurah Parsua dan Karyanya: Prosa yang Reflektif, Puisi yang Jernih
Tags: Bukubuku puisiPuisipuisi bali anyarsastrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Jakarta, Teruslah Membaca

Next Post

Intoleransi Saat Nyepi, Mengapa Terjadi ?

Nurjaya PM

Nurjaya PM

Guru SMPN 14 Denpasar

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Intoleransi Saat Nyepi, Mengapa Terjadi ?

Intoleransi Saat Nyepi, Mengapa Terjadi ?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co