23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 13, 2023
in Esai
Huda: Alasan Memancing dan Nasib Sialnya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

INI BUKAN SEBUAH gosip. Bukan pula rasan-rasan. Ini cerita betulan.

Di Singaraja, saya memiliki banyak teman.  Tapi, dari sekian banyak itu, tampaknya tak ada yang lebih gila dan nyeleneh  ketimbang teman yang satu ini. Huda, namanya. Pemuda dari Pulau Kangean itu benar-benar gila memancing. Ini hal yang wajar, mengingat, Huda memang “anak pulau”.

Kami dipertemukan di tanah rantau, Singaraja, untuk tujuan yang sama, yakni kuliah.  Berteman sejak awal masuk kuliah sampai sekarang. Pertemanan kami sudah  masuk tahun ke 7—dan itu membuat kami kenyang akan cerita-cerita (pahit-manis) kehidupan di tanah rantau.

Sekadar informasi, Pulau Kangean itu jauh dari Jawa maupun Bali. Salah satu dari beberapa pulau yang masuk ke dalam wilayah kepulauan Madura, Jawa Timur. Pulau yang jarak tempuhnya hampir 10 jam menggunakan transportasi laut dari pelabuhan Ketapang Banyuwangi—bahkan dari Pelabuhan Kalianget Madura saja, memerlukan kurang lebih 9 jam untuk sampai ke Pulau Kangean. Benar-benar pulau yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota.

Saya sering mendengarkan cerita-cerita Huda tentang ironisnya keadaan masyarakat di pulaunya. Untuk akses kesehatan saja, mereka lebih memilih untuk ke Bali dengan menggunakan perahu kecil yang jauh dari kata Safety. Maklum saja, jarak tempuh dari Pulau Kangean ke Buleleng lebih singkat daripada ke Jawa.

“Hanya 7 jam,” katanya. Meski begitu, kita akan menjadi manusia paling alim juga soleh saat melakukan perjalanan ke sana. “Segala macam doa akan kamu baca. Dan seketika itu kamu akan mengingat Tuhan—karena goncangan ombak yang sampai membasahi sekujur tubuh,” kata Huda mejelaskan. (Sepertinya pemerintah harus lebih banyak mendengar dan membaca kisah-kisah masyarakat Kangean.)

Tapi kali ini saya tak akan membahas tentang Kangean yang dianak tirikan itu. Saya hanya ingin menceritakan sahabat saya, Huda—pemuda dekil dari Kangean itu.

***

Entah setan apa yang telah menyerang ketenangan hidup pemuda yang serba selow itu. Setiap kali kami bertemu, sapaan pertama yang terlontar dari mulut berbisanya bukan menanyakan kabar, “sudah makan apa belum?” atau sapaan klise lainnya. Tetapi, sapaannya saat bertemu saya pasti, “Cuk, ayo mancing!”

(Kami berdua memang saling memanggil satu sama lain dengan sapaan “cuk”. Rasanya aneh saja kalau pertemanan yang sudah kami bangun 7 tahun ini masih memanggil satu sama lain dengan sebutan nama. Menurut saya itu kurang ada kemistri.)

Hampir setiap hari kami memancing. Entah pagi maupun sore (kadang sampai lupa waktu—bahkan kami pernah memancing di Pantai Skip, dari matahari baru nongol sampai matahari tepat di atas kepala kami. Berapa jam itu?)

Kami tinggal di kos yang berbeda. Saya di Perumahan Jalak Putih, dia kos di kamar belakang sekretariat HMI Cabang Singaraja di Jalan Abimanyu. Meskipun berbeda tempat tinggal, rutinitas pertemuan kami (inten) hampir setiap hari—karena satu kegiatan: memancing.

Awalnya saya kira memancing adalah caranya menghilangkan kejenuhan lantaran lamaran kerjanya tak kunjung mendapatkan hasil (Huda lulus lebih dulu daripada saya). Tapi, lama kelamaan saya menaruh curiga dengannya dan kegiatan memancingnya.

Begini. Ia, setiap kali ngajak mancing, selalu request umpan udang. Tak mau dia memancing dengan umpan lain. Memang benar. Hal ini tampak biasa. Secara teori dunia permancingan, di kalangan angler mania, umpan udang memang umpan istimewa. Selain gampang penggunannya, biasanya hasil yang diperoleh juga ikan-ikan predator yang berukuran lumayan besar.

Tetapi bangsatnya, teori itu tak berlaku untuk teman saya ini. Meskipun umpan udang, seingat saya, tak pernah joran pancingnya melengkung drastis karena sambaran ikan. (Kalau melengkung karena nyangkut di batang kayu atau sampah itu sudah pasti.)

Kalaupun ada sambaran, itu hanya ikan karang yang kecil-kecil itu. Alih-alih kenyang, kalau digoreng, itu hanya akan mencemari minyak goreng saja. Memang lebih cocok sebagai ikan hias.

Tapi kecurigaan saya benar-benar terbukti. Ternyata, umpan udang yang selalu jadi permintaannya sebagai umpan memancing itu adalah solusi alternatifnya kalau tak dapat ikan. Begini ucapannya yang selalu saya ingat sampai sekarang di saat memancing tak membuahkan hasil: “Kan masih ada udang, Cuk,” dengan senyum licik yang terpancar dari raut wajah yang nggatheli itu.

Benar-benar jawaban yang sangat menjengkelkan. Tampaknya bagi kami, mahasiswa perantauan, kalau tidak memiliki uang, memancing adalah pilihan terbaik. Selain untuk mencari kesenangan, juga menjadi ajang mencari tambahan nutrisi kalau dapat ikan.

***

Terlepas dari alasannya memancing dengan umpan udang itu, saya juga merasakan betul tentang kenehan teman saya ini. Tampaknya kekecewaan dan nasib buruk telah utuh menjadi takdir hidupnya selama di Singaraja.

Pernah satu waktu, pas di kampus, nasi sebungkus yang dia gantung di motor hasil pinjaman itu, raib di santap seekor anjing. Padahal, bungkusan nasi itu hanya ia tinggal sebentar masuk ke dalam kampus yang entah untuk urusan apa. Dan tragisnya, itu adalah uang terakhirnya di minggu itu. Benar-benar sial sekali hidupnya.

Atau tentang sepatu pantofel hitam yang sekilas mirip sepatu Aladinkarena tampilannya yang runcing dan melengkung ke atas.  Ini benar-benar menggelikan dan tidak masuk akal. Sepatu yang menjadi andalannya untuk kuliah itu—ia sangat menyayangi sepatu itu—telah terkoyak dengan sangat memprihatinkan karena keganasan anjing di kosnya yang sebelumnya. Sebelah kiri kalau tidak salah ingat.

Saat itu, umpatan dan hinaan ia lontarkan via telpon bukan kepada hewan najis yang telah mengkoyak sepatunya, tapi kepada saya. Ia bercerita dengan penuh amarah. Awalnya saya tertawa terpingkal-pingkal sebelum saya iba kepadanya.

Sebenarnya banyak kegilaan lainnya yang lahir dari perjalanan hidup pemuda dengan postur tubuh yang serba kurang itu selama di Singaraja. Dari ikut demo menggunakan baju bertuliskan Transformer dan kemeja coklat yang sangat Prabowo itu benar-benar melekat diingatan saya. Mengingatnya membuat saya tersenyum geli.

Terakhir, dari tulisan ini, setidaknya ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, saya sedih karena faktanya dia lulus terlebih dahulu dan memutuskan untuk pulang ke pulaunya (Kangean), dan kedua, saya bersyukur, karena saya tidak akan pernah memancing lagi dengannya.[T]

Mie Ayam Uncle Sam: Anda Kenyang, Saya Bahagia
Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan
Saya Belum Lulus, dan Itu Pilihan Saya
Tags: bulelengKepulauan KangeanmahasiswamemancingSingarajaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berbagi Makanan atau Berbagi Postingan Makanan

Next Post

Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Ginjalku Sayang, Ginjalku Malang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co