25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Memilih Tulisan yang Tak Pernah Mudah

Ikrom F. by Ikrom F.
February 22, 2023
in Esai
Tentang Memilih Tulisan yang Tak Pernah Mudah

Menulis | Foto ilustrasi: tatkala.cp

PENYEBAB UTAMA KITA gagal menulis dengan baik ketika kita asyik membaca tulisan yang sangat buruk. Mungkin asyik bukan kalimat yang tepat. Karena membaca tulisan yang buruk sama sekali tak punya dampak bagus dalam tulisan kita.

Saya tidak akan menyindir seorang jurnalis dan penulis yang memang baru berlatih. Saya hanya cukup jengkel apabila dalam sebuah berita atau esai, yang dimuat di selebaran organisasi, haruslah layak untuk kita baca. Saya tak tahu menahu bagaimana kru bisa memahami kelayakan dari sebuah karya yang baik. Barangkali redaksi asal comot saja dan yang paling penting karyanya utuh.

Karena redaksi asal comot dan terbit, kita bisa menyimpulkan bahwa mereka tidak mengerti cara memilih sebuah karya untuk diterbitkan. Orang-orang yang tidak tahu cara memilih karya yang layak dibaca, biasanya punya pandangan sempit. Dan sebagian dari mereka belum menyadari pemikiran itu, yang ternyata tidak seluas dan sekaya apa yang diharapkan.

Jadi, mereka akan terus menyiksa kita dengan pilihan karya yang dianggap baik, setiap hari sampai mereka berhenti kelak atau sampai mereka memutuskan berganti jabatan, misalnya menjadi ketua atau sekretaris. 

Perhatikan tulisan berikut, penggalan dari sebuah berita berjudul Realisasikan Go Clean; Tanamkan Cinta lingkungan. Saya menemukan berita itu di salah satu selebaran dan berhasil menemukan kesalahan sang jurnalis. Berita itu ditulis dengan dorongan memaksakan diri untuk melaporkan sebuah peristiwa yang cukup penting, namun isinya biasa saja. Bahkan sialnya, judul itu agaknya aneh:

(02/09/22). Ikatan Santri Annuqayah Jawa (Iksaj) seksi harian merealisasikan program kerja Go Clean lebih dini dibandingkan periode sebelumnya di tengah periode.

 Program kerja tersebut sebenarnya mengalami perubahan nama dari yang asalnya Go Green menjadi Go Clean. Penamaan tersebut merupakan rekomendasi pengurus pesantren saat sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Organisasi Daerah (Orda).

Hal pertama sebelum kita menulis, adalah kita tahu apa saja yang mesti disampaikan. Kedua, kita paham kronologi kejadian dan bagaimana cara menyampaikan laporan berita pada pembaca. Tidak perlu kita terpengaruh terhadap sesuatu atau apapun selama hal itu mempunyai dampak yang cukup absurd. Misalnya, tanggal, bulan, dan tahun yang tertera sebelum kalimat pembuka.

Mestinya para editor paham bahwa dalam paragraf pertama harus memuat 5W+1H ketika menyampaikan informasi, bukan kemudian ditulis secara satu kalimat dan tiba-tiba menjadi paragraf awal.

Wartawan yang baik, umumnya menulis berita di atas seperti ini;

Pengurus Ikatan Santri Annuqayah Jawa (Iksaj) seksi harian sedang merealisasikan kegiatan Go Clean yang bertempat di halaman pondok pesantren, kemarin (02/09). Salah satu kegiatan yang memang masuk dalam program kerja itu, dilakukan lebih dini dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini dikarenakan pihak pesantren telah merekomendasikan kegiatan tersebut agar segera dimulai.

Perbedaan yang mencolok dari kedua ini—bila mau dibandingkan—adalah cara menulis berita yang efektif dan jelas. Pada kalimat pembuka, sang jurnalis luput atau lupa memberikan subjek (pelaku) saat pelaporan; Ia hanya menuliskan tentang organisasinya bukan pengurusnya. Bahkan parahnya, dalam paragraf pertama tidak dicantumkan alamat pelaksanaan, kenapa dilaksanakan, dan siapa yang melaksanakan. Dan ia begitu berani menulis di paragraf pertama hanya satu kalimat saja.

Maka, kalimat pembuka sekaligus paragraf pertama dalam berita itu harus diedit kembali. Itu berarti si wartawan menulis straight news dengan cara menyalahi prinsip segitiga terbalik: Ia mengisi bagian awal berita, yang mestinya mudah diketahui oleh pembaca sebagai informasi, malah memberi informasi-informasi yang semuanya sulit dipahami dan mengundang tanya-jawab.

Saya membaca berita itu karena ingin melihat bagaimana cara media kita menulis berita dan bagaimana media masa yang lain menulis berita juga—apa yang kita sajikan dan apa yang mereka sampaikan. Kesimpulan saya, media kita masih tidak tahu apa-apa tentang liputan dan membuat berita. Kita hanya ikut melaporan: ikut membuat kabar terkini tetapi tidak menyampaikan apa pun, seperti informasi-informasi angin lalu.

Contoh lain dari tulisan yang kurang baik sebagaimana berikut:

 Namun, banyak dari kita yang membiarkan dari kita pemujaan terhadap berhala memasuki hati (yang dimaksud sebagai kenikmatan duniawi yang bersifat sementara, kekuasaan dan ketenaran) serta menghambakan diri untuk mencapainya. Jika kita menyadari hati kita kuil Tuhan, maka kepekaan kita terhadap diri, dan keseluruhan akan tertransformasikan. Di mana dari sudut pandang ini kita bukanlah makhluk duniawi yang mencari spiritualitas; kita adalah makhluk spiritual yang berusaha menemukan diri kita yang sejati.

Kalimat ini sangat alot sekali dan saya tidak sanggup untuk mencernanya. Lagi pula, saya tidak akan memaksakan diri untuk mencerna sesuatu yang tidak bisa dikunyah.

Kenapa ia tidak menuliskannya simpel saja? Ketimbang dijadikan gelembung sabun, paragraf itu jauh lebih indah ditulis dalam satu kalimat: Stok orang sufi di dunia ini sudah habis; yang berlimpah hanya orang-orang yang ingin menempuh kenikmatan dunia dan para pemuja berhala.  

Satu gelembung sabun lagi:

Namun, manusia kini sejatinya masih belum sadar akan tujuan hidupnya. Bagaimana seorang hamba dalam mengagungkan Tuhan adalah dengan beribadah. Masih banyak sebagian dari kita, menjalankan ibadah sebagai formalitas tanpa menghadirkan hati dalam ibadahnya. Tidak sedikit juga yang lebih memprioritaskan urusan duniawi. Masih banyak dari kita yang ketika beribadah menghadirkan sosok semu dan masih banyak hal-hal lain yang mengganggu hati kita.

Kita bisa membuatnya lebih ringkas dan lebih elegan dalam satu kalimat: Sekalipun banyak cara agar seseorang taat kepada Tuhan, namun sifat kemanusiaan yang terkadang lebih mementingkan urusan nafsu, masih banyak dan kita jarang untuk sadar akan hal itu.    

Orang sering ingin tampak pintar dengan cara menuliskan kalimat-kalimat yang ruwet, memamerkan kosakata yang menggelembung, dan mengobral jargon. Dan mereka—kata AS Laksana—tidak akan tampak pintar dengan cara seperti itu. Mereka hanya tampak pretensius.

Saya pikir mereka perlu menyadari bahwa pembaca tidak akan sudi meluangkan waktu atau mendedikasikan diri untuk memahami kalimat-kalimat ruwet. Tetapi, tidak apa-apa juga jika mereka tidak mau menyadari. Dua penggalan terakhir itu adalah urusan pribadi para penulis artikel. Sayang, redaksi memuat karya itu ke dalam rubrik esai yang sama sekali kurang cocok.

Yang lebih buruk dari setiap apa yang disajikan redaksi pada kita—para pembaca—adalah cara memilih suatu karya dan berita untuk diterbitkan. Mereka memilih atas dasar ketidakcakapan. Dan ketidakcakapan itu sekarang sudah menjadi standar. Setiap saat kita bisa menjumpai berita dan karangan yang ditulis dengan model seperti itu. Berita yang ditulis buruk bukan hanya menjengkelkan untuk dibaca. Ia juga tidak membantu pembaca untuk lebih memahami realitas. [T]

Pilihan Buku yang Sulit dan Rumit
Rumah Literasi Indonesia di Banyuwangi, Bukan Sekadar Membaca, Tapi Juga Berwisata
Tags: jurnalistikLiterasimenulis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mangku Pastika dan Gede Suardana Duduk Bersama Bicara Generasi Milenial

Next Post

Kehidupan Perempuan Sebelum dan Sesudah Menikah: Antara Karier, IRT atau Keduanya?

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails
Next Post
Kehidupan Perempuan Sebelum dan Sesudah Menikah: Antara Karier, IRT atau Keduanya?

Kehidupan Perempuan Sebelum dan Sesudah Menikah: Antara Karier, IRT atau Keduanya?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co