24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pilihan Buku yang Sulit dan Rumit

Ikrom F. by Ikrom F.
February 13, 2023
in Esai
Pilihan Buku yang Sulit dan Rumit

Ilustrasi foto tatkala.co

BEBERAPA HARI belakangan saya merasa sedikit kurang nyaman, terutama masalah pilihan bacaan buku yang tepat bagi kita. Apalagi setelah mengintip minat baca masyarakat Indonesia yang minim sekali. Seperti dilansir oleh Majalah Tebuireng, rata-rata kondisi minat baca masyarakat kita hanya 1%. Artinya, kegemaran membaca buku adalah pekerjaan rumah sejak zaman dulu sampai saat ini.

Saya sempat berpikir bahwa keadaannya akan seperti itu mengingat pemerintah abai terhadap tugas wajibnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Lagi pula, Perpustakaan Nasional sebagai gudang berbagai ilmu belum mengeluarkan rekomendasi katalog buku yang bisa kita lihat setiap harinya. Rupanya saya keliru.

Sudah banyak tindakan yang dilakukan pemerintah dengan cara kerja sama penerbit-penerbit kelas atas dan beberapa gerakan gemar membaca. Para penerbit ini digunakan sebagai mitra kerja untuk menyesuaikan selera orang-orang yang ingin membaca sebuah buku. Kita bisa membuka youtube, misalnya, guna menonton potongan video perihal aksi gerakan membaca itu melalui kata kunci di mesin pencari.

Orang-orang bisa menonton kapan pun tayangan itu selagi dirinya ingin atau berhasrat. Tanpa ada hasrat, mereka—dan kita—selalu terjebak ke dalam kubangan kemalasan yang akut. Parahnya, kita tidak bisa memperbaiki hobi malas itu dari waktu ke waktu. Sekalipun kita akan menyanggah sikap tersebut melalui alasan, kata Jules Renard; kemalasan sebenarnya nama lain dari kebiasaan beristirahat sebelum kita lelah. Dan kalimat magis itu anehnya dijadikan landasan normatif dalam hidup kita.

Sebenarnya mudah sekali menebak bahwa menonton dan membaca adalah dua kata kerja yang tidak sama. Jika kita lebih peka kepada aktivitas masyarakat hari ini, mereka ternyata lebih suka menonton sepotong video daripada membaca satu lembar buku. Dapat kita buktikan, aplikasi TikTok yang memuat cuplikan video pendek, begitu asyik dilihat dan memanjakan mata selama berjam-jam. Tanpa pernah habis. Meskipun tayangannya itu-itu saja; menari, menyanyi, ceramah, agama, prank, jual beli, dan quotes.

Bandingkan dengan membaca sebuah buku, kita agaknya alergi untuk menuntaskan. Contohnya novel sufistik berjudul Sang Alkemis. Karya monumental dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa—termasuk Indonesia—tersebut sulit diselesaikan dalam kurun waktu sebentar.

Saya tidak akan panjang lebar membahas mengapa kita lebih suka menonton video pendek daripada membaca buku. Karena dua hal ini sangat sensitif. Bahkan saya yakin, frekuensi dari dua pendapat ini terjadi saling tolak-menolak yang pada akhirnya mengalami benturan maha kuat. Dan orang lain, ujung-ujungnya, secara nakal akan menduga sekaligus mengintimidasi bagi siapa saja yang kalah dan menang dalam pertarungan ini.

Rumah judi pilihan buku agaknya kurang mendominasi tulisan-tulisan para penulis pemula, seperti saya contohnya. Dalam memilih sebuah bacaan, biasanya, orang cenderung melihat dulu siapa pengarangnya. Jika ia orang terkenal, pasti akan dibaca. Sebaliknya, seorang penulis yang sukar didengar atau tidak termasuk ke dalam daftar para penulis tersohor, saya—dan tentu saja kita semua—akan sulit menerima bahwa tulisannya bermutu dan sepantasnya dibaca.

Paulo Coelho, misalnya. Nama penulis satu ini, tenyata masih asing ke telinga santri yang statusnya siswa. Padahal, Paulo adalah termasuk dari seribu satu penulis yang direkomendasikan dan karya-karyanya benar-benar baik. Sekalipun bukunya impor dari luar negeri, tetapi terjemahannya bagus. Bagi yang belum membaca bukunya, Sang Alkemis menceritakan perjalanan seorang anak pengembala domba bernama Santiago yang ingin menemukan harta karun di Piramida. Ia bertemu dengan berbagai orang dari segala penjuru dan menemukan apa yang ia cari.

Paulo Coelho agaknya tidak menjabarkan secara detail mengapa ia menulis novel pendek tersebut. Sesuatu yang tidak lazim diterbitkan sebagai genre paling populer dan banyak disukai oleh kalangan remaja. Mungkin pasar dari buku ini adalah masyarakat yang semula tidak menyukai buku, semakin tertarik, berhubung halamannya cukup ringkas. Namun tujuan itu tidak selamanya berhasil.

Buku lain dari penulis lokal kita, yakni Sapardi Djoko Darmono. Judul bukunya Hujan Bulan Juni. Kita semua tahu, Hujan Bulan Juni ada dua genre, tapi yang mungkin banyak dibaca adalah novel sastranya. Sebab kehadiran buku Hujan Bulan Juni membawa sesuatu yang bernilai: atas nama sepasang manusia yang sedang rindu. Seperti pengantar penerbit; dari puisi, menjadi lagu, kemudian komik, dan nanti film.

Sungguh aneh, dua buku itu harus rela kalah oleh tumpukan buku bertemakan asmara remaja. Saya merasa curiga, ketika melihat setumpuk buku yang berada di lemari teman-teman, semuanya berjudul bahasa Inggris. Di antara susunan buku, saya menemukan nama penerbit yang sama sekali jarang didengar, Whattpat. Ajaibnya, buku ini mendominasi bahan bacaan yang lain.  

Saya bisa menduga mengapa santri begitu antusias untuk membacanya. Pertama, buku itu dijual dengan harga ramah kantong. Kedua, ceritanya selalu soal cinta anak SMP, SMA, Mahasiswa, atau Dosen. Ada juga cerita yang punya ranting 18 ke atas. Dibandingkan dengan penerbit buku lain, penerbit satu ini hanya menjual kisah seperti itu saja, seterusnya. Saya tidak menemukan soal lain selain percintaan. 

Satu-satunya judul yang bisa saya ingat hanyalah Antares. Antares ini adalah nama orang yang berprofesi sebagai anak geng motor. Narasi-narasi yang coba ditulis—dalam buku itu bila mau dibandingkan—nyaris sama dengan satu buku ikonik, dan kaula remaja pasti tahu akan hal itu; Dilan. Maksudnya dua buku tersebut mempunyai kesamaan dari penokohan tapi unsur ceritanya beda.

Namun, buku itu begitu laku di pasaran, dan santri menikmati setiap bagian ceritanya. Entah ceritanya karena seorang anak SMA yang kebetulan menjadi geng motor, atau ikon anak jalanan sebagai identitas ‘kenakalan’ yang sampai hari ini tetap trend menghiasi media sosial, adalah sekian alasan untuk mereka agar tertarik membaca bukunya. Kita tak pernah tahu dan itu barangkali jadi urusan tabu.

Padahal, urusan membaca soal nomor satu dalam pendidikan kita. Dalam artian, generasi saat ini jika berbicara politik, tapi bacaannya Mariposa, mungkinkah mereka paham dan mengerti seperti apa situasi politik Indonesia?

  Tentu kita tahu kira-kira jawabannya tidak mungkin. Atau kalau mungkin paradigma yang ditawarkan pasti bermuara terhadap, “politik Indonesia terlalu kasar jika dibicarakan.” Kasar sebab tak ada pengetahuan sebelumnya, jika bacaannya seperti itu selamanya. [T]

Karangan Bunga dari Pembajak Buku
Cerita Anak dan Masa Depan Bumi | Dari Peluncuran Buku Nana Ernawati dan Nurul Ilmi di Ubud
Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”
Tags: BukuLiterasisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Perarem Desa Adat”, Peran Strategis Adat Cegah Rabies

Next Post

Hutan Landep: Ada yang Merusak, Ada yang Merawat

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Hutan Landep: Ada yang Merusak, Ada yang Merawat

Hutan Landep: Ada yang Merusak, Ada yang Merawat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co