2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pilihan Buku yang Sulit dan Rumit

Ikrom F. by Ikrom F.
February 13, 2023
in Esai
Pilihan Buku yang Sulit dan Rumit

Ilustrasi foto tatkala.co

BEBERAPA HARI belakangan saya merasa sedikit kurang nyaman, terutama masalah pilihan bacaan buku yang tepat bagi kita. Apalagi setelah mengintip minat baca masyarakat Indonesia yang minim sekali. Seperti dilansir oleh Majalah Tebuireng, rata-rata kondisi minat baca masyarakat kita hanya 1%. Artinya, kegemaran membaca buku adalah pekerjaan rumah sejak zaman dulu sampai saat ini.

Saya sempat berpikir bahwa keadaannya akan seperti itu mengingat pemerintah abai terhadap tugas wajibnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Lagi pula, Perpustakaan Nasional sebagai gudang berbagai ilmu belum mengeluarkan rekomendasi katalog buku yang bisa kita lihat setiap harinya. Rupanya saya keliru.

Sudah banyak tindakan yang dilakukan pemerintah dengan cara kerja sama penerbit-penerbit kelas atas dan beberapa gerakan gemar membaca. Para penerbit ini digunakan sebagai mitra kerja untuk menyesuaikan selera orang-orang yang ingin membaca sebuah buku. Kita bisa membuka youtube, misalnya, guna menonton potongan video perihal aksi gerakan membaca itu melalui kata kunci di mesin pencari.

Orang-orang bisa menonton kapan pun tayangan itu selagi dirinya ingin atau berhasrat. Tanpa ada hasrat, mereka—dan kita—selalu terjebak ke dalam kubangan kemalasan yang akut. Parahnya, kita tidak bisa memperbaiki hobi malas itu dari waktu ke waktu. Sekalipun kita akan menyanggah sikap tersebut melalui alasan, kata Jules Renard; kemalasan sebenarnya nama lain dari kebiasaan beristirahat sebelum kita lelah. Dan kalimat magis itu anehnya dijadikan landasan normatif dalam hidup kita.

Sebenarnya mudah sekali menebak bahwa menonton dan membaca adalah dua kata kerja yang tidak sama. Jika kita lebih peka kepada aktivitas masyarakat hari ini, mereka ternyata lebih suka menonton sepotong video daripada membaca satu lembar buku. Dapat kita buktikan, aplikasi TikTok yang memuat cuplikan video pendek, begitu asyik dilihat dan memanjakan mata selama berjam-jam. Tanpa pernah habis. Meskipun tayangannya itu-itu saja; menari, menyanyi, ceramah, agama, prank, jual beli, dan quotes.

Bandingkan dengan membaca sebuah buku, kita agaknya alergi untuk menuntaskan. Contohnya novel sufistik berjudul Sang Alkemis. Karya monumental dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa—termasuk Indonesia—tersebut sulit diselesaikan dalam kurun waktu sebentar.

Saya tidak akan panjang lebar membahas mengapa kita lebih suka menonton video pendek daripada membaca buku. Karena dua hal ini sangat sensitif. Bahkan saya yakin, frekuensi dari dua pendapat ini terjadi saling tolak-menolak yang pada akhirnya mengalami benturan maha kuat. Dan orang lain, ujung-ujungnya, secara nakal akan menduga sekaligus mengintimidasi bagi siapa saja yang kalah dan menang dalam pertarungan ini.

Rumah judi pilihan buku agaknya kurang mendominasi tulisan-tulisan para penulis pemula, seperti saya contohnya. Dalam memilih sebuah bacaan, biasanya, orang cenderung melihat dulu siapa pengarangnya. Jika ia orang terkenal, pasti akan dibaca. Sebaliknya, seorang penulis yang sukar didengar atau tidak termasuk ke dalam daftar para penulis tersohor, saya—dan tentu saja kita semua—akan sulit menerima bahwa tulisannya bermutu dan sepantasnya dibaca.

Paulo Coelho, misalnya. Nama penulis satu ini, tenyata masih asing ke telinga santri yang statusnya siswa. Padahal, Paulo adalah termasuk dari seribu satu penulis yang direkomendasikan dan karya-karyanya benar-benar baik. Sekalipun bukunya impor dari luar negeri, tetapi terjemahannya bagus. Bagi yang belum membaca bukunya, Sang Alkemis menceritakan perjalanan seorang anak pengembala domba bernama Santiago yang ingin menemukan harta karun di Piramida. Ia bertemu dengan berbagai orang dari segala penjuru dan menemukan apa yang ia cari.

Paulo Coelho agaknya tidak menjabarkan secara detail mengapa ia menulis novel pendek tersebut. Sesuatu yang tidak lazim diterbitkan sebagai genre paling populer dan banyak disukai oleh kalangan remaja. Mungkin pasar dari buku ini adalah masyarakat yang semula tidak menyukai buku, semakin tertarik, berhubung halamannya cukup ringkas. Namun tujuan itu tidak selamanya berhasil.

Buku lain dari penulis lokal kita, yakni Sapardi Djoko Darmono. Judul bukunya Hujan Bulan Juni. Kita semua tahu, Hujan Bulan Juni ada dua genre, tapi yang mungkin banyak dibaca adalah novel sastranya. Sebab kehadiran buku Hujan Bulan Juni membawa sesuatu yang bernilai: atas nama sepasang manusia yang sedang rindu. Seperti pengantar penerbit; dari puisi, menjadi lagu, kemudian komik, dan nanti film.

Sungguh aneh, dua buku itu harus rela kalah oleh tumpukan buku bertemakan asmara remaja. Saya merasa curiga, ketika melihat setumpuk buku yang berada di lemari teman-teman, semuanya berjudul bahasa Inggris. Di antara susunan buku, saya menemukan nama penerbit yang sama sekali jarang didengar, Whattpat. Ajaibnya, buku ini mendominasi bahan bacaan yang lain.  

Saya bisa menduga mengapa santri begitu antusias untuk membacanya. Pertama, buku itu dijual dengan harga ramah kantong. Kedua, ceritanya selalu soal cinta anak SMP, SMA, Mahasiswa, atau Dosen. Ada juga cerita yang punya ranting 18 ke atas. Dibandingkan dengan penerbit buku lain, penerbit satu ini hanya menjual kisah seperti itu saja, seterusnya. Saya tidak menemukan soal lain selain percintaan. 

Satu-satunya judul yang bisa saya ingat hanyalah Antares. Antares ini adalah nama orang yang berprofesi sebagai anak geng motor. Narasi-narasi yang coba ditulis—dalam buku itu bila mau dibandingkan—nyaris sama dengan satu buku ikonik, dan kaula remaja pasti tahu akan hal itu; Dilan. Maksudnya dua buku tersebut mempunyai kesamaan dari penokohan tapi unsur ceritanya beda.

Namun, buku itu begitu laku di pasaran, dan santri menikmati setiap bagian ceritanya. Entah ceritanya karena seorang anak SMA yang kebetulan menjadi geng motor, atau ikon anak jalanan sebagai identitas ‘kenakalan’ yang sampai hari ini tetap trend menghiasi media sosial, adalah sekian alasan untuk mereka agar tertarik membaca bukunya. Kita tak pernah tahu dan itu barangkali jadi urusan tabu.

Padahal, urusan membaca soal nomor satu dalam pendidikan kita. Dalam artian, generasi saat ini jika berbicara politik, tapi bacaannya Mariposa, mungkinkah mereka paham dan mengerti seperti apa situasi politik Indonesia?

  Tentu kita tahu kira-kira jawabannya tidak mungkin. Atau kalau mungkin paradigma yang ditawarkan pasti bermuara terhadap, “politik Indonesia terlalu kasar jika dibicarakan.” Kasar sebab tak ada pengetahuan sebelumnya, jika bacaannya seperti itu selamanya. [T]

Karangan Bunga dari Pembajak Buku
Cerita Anak dan Masa Depan Bumi | Dari Peluncuran Buku Nana Ernawati dan Nurul Ilmi di Ubud
Manik dan Kabut yang Dicarinya | Diskusi Buku “Kota Kabut Walli Jing Kang”
Tags: BukuLiterasisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Perarem Desa Adat”, Peran Strategis Adat Cegah Rabies

Next Post

Hutan Landep: Ada yang Merusak, Ada yang Merawat

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Hutan Landep: Ada yang Merusak, Ada yang Merawat

Hutan Landep: Ada yang Merusak, Ada yang Merawat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co