12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Akhmad Faozi Sundoyo by Akhmad Faozi Sundoyo
April 12, 2022
in Esai
Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Foto hanya ilustrasi | tatkala.co

Di balik elusan lembut pada sampul buku kesayangan yang dinikmati perlahan sembari bersantai menyesap kopi, ada berlapis-lapis cerita dramatik. Buku, entah didapat dari toko buku, bingkisan orang terkasih, pinjaman teman atau perpustakaan, lahir dari meja kerja penerbitan, keringat kurir pengiriman, dan likuan-likuan pra serta pasca cetak yang tak pendek. Sekian tangan turut membentuk, mengelus, dan membungkusnya.

Melihat kawan sedang berpose dengan buku, hati saya senang sekaligus merinding. Senang karena buku masih diminati, dipilih sebagai latar potret (citra) diri. Merinding, juga miris, karena “jangan-jangan” buku-buku itu hanya sebagai pajangan saja. Citranya dipuja, isinya disia-sia. Kendati demikian, mentoknya mentok, saya rasa berpose dengan buku masih lebih—meminjam ungkapan andalan Agus Mulyadi—membuat mongkok daripada potret-potret berilustrasi santap makan mewah dan jalan-jalan di Cappadocia.

Perasaan senang bersanding merinding itu, mungkin sentimentalitas saya saja. Sentimen dari seorang “bakul buku online” yang terlanjur tercebur profesi.

Buku dan Profesi

Saya sering agak-agak rikuh ketika bertemu dan ngobrol dengan kenalan baru. Tepatnya ketika obrolan tiba pada pertanyaan, “kamu kerja apa?”. Biasanya momen itu terjadi ketika saya di posisi sebagai “Mister Nobodi”. Satu istilah yang diciptakan oleh Umar Kayam (Sugih Tanpa Banda, cet.4, 2012), merujuk pada kondisi saat kita bukanlah siapa-siapa. Tidak ada teman, tidak ada kenalan, sehingga setiap kontak pertemuan adalah orang asing versus orang asing. Biasanya saya akan menjawab, “saya bakul buku online”.

Obituari Pandemi | Sudut Pandang Kegembiraan

Saya selalu menjelaskan secara komplit tiga kata majemuk keprofesian itu, bakul-buku-online (BBO) kepada lawan bicara. Padahal kata-kata itu sering merepotkan. Saya harus menjelaskan jenis buku apa yang dijual, siapa yang membeli, sampai bagaimana peluangnya sebagai sandaran ekonomi. Tapi anehnya, kok selalu ada rasa mongkok itu tadi.

Rasa mongkok ketika menjelaskan profesi sebagai BBO itu sebenarnya ada filosofinya, walapun dengan standar filosofi ala kadarnya. Pertama, saya ingin mengenalkan dan menancapkan kata “buku” di alam bawah sadar lawan bicara. Saya ingin buku dikenali bukan sebatas benda mati, atau obyek foto selfie saja. Kedua, saya ingin menegaskan bahwa bakul buku online adalah sebuah profesi. Satu profesi yang tidak kalah mentereng dengan guru honorer, atau jenis pegawai bergaji rutin—di awal, tengah, dan akhir bulan.

Buku Bajakan dan Kabar Duka darinya

BBO adalah sebuah profesi. Sama seperti profesi lain, ia akan besar bila diseriusi dan dijalani dengan “hati”. Tetapi satu hal yang membedakannya dengan profesi lain adalah bahwa menjual buku, tidak sebatas tentang ketahanan dan kemapanan ekonomi pribadi. Berjualan buku, langsung bersentuhan dengan fakta persebaran literasi. Anda akan merasakan bangga bercampur haru—saya jelaskan di awal sebagai rasa mongkok tadi—ketika mengetahui bahwa, misalnya, ada lho remaja yang rutin membeli buku. Masih belum mati literasi sebagai gaya hidup.

Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Saya pernah, dikunjungi saudara, mereka datang sebrayat. Anak saudara saya itu usia belasan (SMP-lah). Saya benar-benar merinding ketika melihat anak itu menenteng Sapiens-nya Noval Yuah Harari kemana-mana. Seakan buku tebal bermuka putih itu boneka kesayangannya. Sesekali ia membacanya, dengan mencari tempat duduk paling nyaman.

Rasa merinding berlanjut. Anak belasan tahun itu, ketika melihat koleksi buku-buku saya, ia asyik menyentuhi dan memilih buku dengan mata berbinar. Dengan masih mengempit Sapiens, tangan kiri mengambil otobiografi Mahatma Gandhi (berhalaman 700-an), tangan kanannya mengambil Mein Kampf yang juga tebal. Lantas, ia merengek ke ibunya, “Bu, beli ini ya. Ya…”. Ibunya mengecek kedua buku itu, menimbang-nimbang, “Satu dulu saja”. Dibelilah Mahatma Gandhi.  

Perasaan merinding lain, berkebalikan dengan mongkok, saya alami di lain waktu. Waktu itu saya sedang mengantar istri dan anak berbelanja alat tulis di toko tak jauh dari kampung kami. Naluri bakul buku membawa saya untuk menjelajah rak buku. Eh, beneran ada buku-buku bacaan dijual di sana. Saya amati judul per judul, saya perhatikan fisik buku. Ya Allah, ternyata buku-buku itu palsu, buku bajakan. Saya sudah bisa membedakan buku bajakan dengan buku asli sejak dari pandangan kedua dan ketiga. Lebih clear and distinct lagi ketika sudah memegangnya. Saya cek satu per satu, benar saja semua buku di toko itu bajakan. Lemas lunglai hati saya. Ternyata persebaran buku bajakan telah tiba di muka kampung-kampung dan perdesaan.

Pemakaman Harapan

Ada beberapa sebutan populer, merujuk pada buku bajakan. Kata “bajakan” sendiri jarang sekali (katakan tidak pernah) dipakai. Buku Ka-We, buku repro, buku non-ori, lebih sering digunakan secara bergantian. Jenis kertas dan kualitas penjilidan (binding) buku bajakan tak seragam. Beberapa buku bajakan bahkan lebih kokoh dari buku asli. Tetapi secara umum, buku bajakan dicirikan dengan ketajaman dan kejernihan cetakan yang acak adut seperti bercermin di ‘air keruh’. Penjilidan pun sama, ringkih. Tetapi sekali lagi, itu bukan jaminan. Satu-satunya kemampuan untuk dapat membedakan mana buku asli mana bajakan, hanyalah dengan sering-sering belanja, membaca dan merawat buku.

Jika boleh menyebut satu indikator terpenting untuk mengenali buku bajakan adalah dari sisi “harga”. Buku bajakan dibandrol dengan rumus penjumlahan kertas + tinta cetak + untung penjual. Alhasil, murahnya tak ketulungan. Sandingkan dengan kalkulasi harga buku resmi yang di luar bahan baku produksi, aliran uangnya harus mengairi desainer sampul, editor bahasa, editor isi, distributor resmi, royalti penulis, penjual dan seterusnya.

Rajah Gairah Selepas Percintaan Kata || Novel “Yang Tersisa Usai Bercinta”

Sebenarnya pelapak buku tidak bisa disalakan, walaupun nyatanya “salah”. Mereka sebatas untaian kedua terbawah dari hirarki rantai pembajakan. Untaian terakhir tentu saja pembeli. Mereka mencari untung paling banter lima sampai sepuluhan ribu dari penjualan per buku. Dan tak setiap saat laku. Bos sebenarnya adalah para godfather pembajakan yang menurut Muhidin M. Dahlan (mojok.co, 01/02/2019) beromset miliyaran rupiah. Bagaimana nasib para godfather itu? Sampai saat ini mereka masih leha-leha.

Beredarnya buku bajakan tidak hanya merugikan penulis buku dan penerbit saja, akan tetapi merembes ke seluruh galur perbukuan resmi. Pemerintah terkurangi pemasukan pajak, masyarakat termanipulasi cita rasa literasinya. Dan yang terpenting penulis buku, tersunat royalti karyanya.

Royalti sebuah “karya” adalah kebanggaan dan soko guru ekonomi penulis. Memang akan selalu ada penulis yang terus berkarya dengan tulus dengan atau tanpa kepastian royalti. Tetapi, jika mau realistis dan pragmatis, berapa orang serta sampai kapan mereka dapat bertahan?

Kendati demikian, harapan belum sepenuhnya bernisan. Para penggerak literasi, termasuk jaringan bakul buku selalu bergerak mengkampanyekan sadisnya buku bajakan. Mungkin akan menjadi wacana menarik bila tema “mengubur buku bajakan” diseriusi para politisi. Dibuatkan perangkat regulasi dan unit Satgas khusus anti buku bajakan. Tetapi, kemungkinan ini entah harus menunggu berapa generasi lagi.

Kritik Sastra “Pribumi”: Teoritisasi atau Cita Rasa?

Kalau mau membuat harapan serius, saya lebih berharap dibuat regulasi “subsidi literasi”. Harga kertas, kemudahan pameran, perluasan sosialisasi dan seluruh perabot percetakan buku diberikan ekosistem sendiri. Jika buku-buku bisa dijual murah, maka industri pembajakan akan menyusut dan tidak diminati lagi. Para godfather buku bajakan akan lebih bergairah berpindah ke bisnis minyak goreng, misalnya.

Iklim pembajakan buku, akan menyumbang munculnya berita-berita pemakaman penerbit dan toko-toko buku resmi. Lamat-lamat mulai hinggap rasa merinding, membayangkan akan berjejer karangan bunga dari para pembajak buku. Dengan ungkapan warna-warni, terbaca “Turut Berduka atas Meninggalnya Literasi Negeri Ini”. Ngeri ..

Tetapi bagaimana jika pilihannya hanya dua, membaca buku bajakan atau tidak membaca sama sekali? [T]

Tags: Bukubuku bajakanLiterasiminat bacapembajakan buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gél di Nusa Penida, Gélgél di Klungkung dan Gegélan di Bali

Next Post

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Akhmad Faozi Sundoyo

Akhmad Faozi Sundoyo

Penulis adalah pembelajar Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. S1 Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Momong anak lanang dan penikmat literasi. Domisili di Pundong, Bantul, Yogyakarta.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co