24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Akhmad Faozi Sundoyo by Akhmad Faozi Sundoyo
April 12, 2022
in Esai
Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Foto hanya ilustrasi | tatkala.co

Di balik elusan lembut pada sampul buku kesayangan yang dinikmati perlahan sembari bersantai menyesap kopi, ada berlapis-lapis cerita dramatik. Buku, entah didapat dari toko buku, bingkisan orang terkasih, pinjaman teman atau perpustakaan, lahir dari meja kerja penerbitan, keringat kurir pengiriman, dan likuan-likuan pra serta pasca cetak yang tak pendek. Sekian tangan turut membentuk, mengelus, dan membungkusnya.

Melihat kawan sedang berpose dengan buku, hati saya senang sekaligus merinding. Senang karena buku masih diminati, dipilih sebagai latar potret (citra) diri. Merinding, juga miris, karena “jangan-jangan” buku-buku itu hanya sebagai pajangan saja. Citranya dipuja, isinya disia-sia. Kendati demikian, mentoknya mentok, saya rasa berpose dengan buku masih lebih—meminjam ungkapan andalan Agus Mulyadi—membuat mongkok daripada potret-potret berilustrasi santap makan mewah dan jalan-jalan di Cappadocia.

Perasaan senang bersanding merinding itu, mungkin sentimentalitas saya saja. Sentimen dari seorang “bakul buku online” yang terlanjur tercebur profesi.

Buku dan Profesi

Saya sering agak-agak rikuh ketika bertemu dan ngobrol dengan kenalan baru. Tepatnya ketika obrolan tiba pada pertanyaan, “kamu kerja apa?”. Biasanya momen itu terjadi ketika saya di posisi sebagai “Mister Nobodi”. Satu istilah yang diciptakan oleh Umar Kayam (Sugih Tanpa Banda, cet.4, 2012), merujuk pada kondisi saat kita bukanlah siapa-siapa. Tidak ada teman, tidak ada kenalan, sehingga setiap kontak pertemuan adalah orang asing versus orang asing. Biasanya saya akan menjawab, “saya bakul buku online”.

Obituari Pandemi | Sudut Pandang Kegembiraan

Saya selalu menjelaskan secara komplit tiga kata majemuk keprofesian itu, bakul-buku-online (BBO) kepada lawan bicara. Padahal kata-kata itu sering merepotkan. Saya harus menjelaskan jenis buku apa yang dijual, siapa yang membeli, sampai bagaimana peluangnya sebagai sandaran ekonomi. Tapi anehnya, kok selalu ada rasa mongkok itu tadi.

Rasa mongkok ketika menjelaskan profesi sebagai BBO itu sebenarnya ada filosofinya, walapun dengan standar filosofi ala kadarnya. Pertama, saya ingin mengenalkan dan menancapkan kata “buku” di alam bawah sadar lawan bicara. Saya ingin buku dikenali bukan sebatas benda mati, atau obyek foto selfie saja. Kedua, saya ingin menegaskan bahwa bakul buku online adalah sebuah profesi. Satu profesi yang tidak kalah mentereng dengan guru honorer, atau jenis pegawai bergaji rutin—di awal, tengah, dan akhir bulan.

Buku Bajakan dan Kabar Duka darinya

BBO adalah sebuah profesi. Sama seperti profesi lain, ia akan besar bila diseriusi dan dijalani dengan “hati”. Tetapi satu hal yang membedakannya dengan profesi lain adalah bahwa menjual buku, tidak sebatas tentang ketahanan dan kemapanan ekonomi pribadi. Berjualan buku, langsung bersentuhan dengan fakta persebaran literasi. Anda akan merasakan bangga bercampur haru—saya jelaskan di awal sebagai rasa mongkok tadi—ketika mengetahui bahwa, misalnya, ada lho remaja yang rutin membeli buku. Masih belum mati literasi sebagai gaya hidup.

Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Saya pernah, dikunjungi saudara, mereka datang sebrayat. Anak saudara saya itu usia belasan (SMP-lah). Saya benar-benar merinding ketika melihat anak itu menenteng Sapiens-nya Noval Yuah Harari kemana-mana. Seakan buku tebal bermuka putih itu boneka kesayangannya. Sesekali ia membacanya, dengan mencari tempat duduk paling nyaman.

Rasa merinding berlanjut. Anak belasan tahun itu, ketika melihat koleksi buku-buku saya, ia asyik menyentuhi dan memilih buku dengan mata berbinar. Dengan masih mengempit Sapiens, tangan kiri mengambil otobiografi Mahatma Gandhi (berhalaman 700-an), tangan kanannya mengambil Mein Kampf yang juga tebal. Lantas, ia merengek ke ibunya, “Bu, beli ini ya. Ya…”. Ibunya mengecek kedua buku itu, menimbang-nimbang, “Satu dulu saja”. Dibelilah Mahatma Gandhi.  

Perasaan merinding lain, berkebalikan dengan mongkok, saya alami di lain waktu. Waktu itu saya sedang mengantar istri dan anak berbelanja alat tulis di toko tak jauh dari kampung kami. Naluri bakul buku membawa saya untuk menjelajah rak buku. Eh, beneran ada buku-buku bacaan dijual di sana. Saya amati judul per judul, saya perhatikan fisik buku. Ya Allah, ternyata buku-buku itu palsu, buku bajakan. Saya sudah bisa membedakan buku bajakan dengan buku asli sejak dari pandangan kedua dan ketiga. Lebih clear and distinct lagi ketika sudah memegangnya. Saya cek satu per satu, benar saja semua buku di toko itu bajakan. Lemas lunglai hati saya. Ternyata persebaran buku bajakan telah tiba di muka kampung-kampung dan perdesaan.

Pemakaman Harapan

Ada beberapa sebutan populer, merujuk pada buku bajakan. Kata “bajakan” sendiri jarang sekali (katakan tidak pernah) dipakai. Buku Ka-We, buku repro, buku non-ori, lebih sering digunakan secara bergantian. Jenis kertas dan kualitas penjilidan (binding) buku bajakan tak seragam. Beberapa buku bajakan bahkan lebih kokoh dari buku asli. Tetapi secara umum, buku bajakan dicirikan dengan ketajaman dan kejernihan cetakan yang acak adut seperti bercermin di ‘air keruh’. Penjilidan pun sama, ringkih. Tetapi sekali lagi, itu bukan jaminan. Satu-satunya kemampuan untuk dapat membedakan mana buku asli mana bajakan, hanyalah dengan sering-sering belanja, membaca dan merawat buku.

Jika boleh menyebut satu indikator terpenting untuk mengenali buku bajakan adalah dari sisi “harga”. Buku bajakan dibandrol dengan rumus penjumlahan kertas + tinta cetak + untung penjual. Alhasil, murahnya tak ketulungan. Sandingkan dengan kalkulasi harga buku resmi yang di luar bahan baku produksi, aliran uangnya harus mengairi desainer sampul, editor bahasa, editor isi, distributor resmi, royalti penulis, penjual dan seterusnya.

Rajah Gairah Selepas Percintaan Kata || Novel “Yang Tersisa Usai Bercinta”

Sebenarnya pelapak buku tidak bisa disalakan, walaupun nyatanya “salah”. Mereka sebatas untaian kedua terbawah dari hirarki rantai pembajakan. Untaian terakhir tentu saja pembeli. Mereka mencari untung paling banter lima sampai sepuluhan ribu dari penjualan per buku. Dan tak setiap saat laku. Bos sebenarnya adalah para godfather pembajakan yang menurut Muhidin M. Dahlan (mojok.co, 01/02/2019) beromset miliyaran rupiah. Bagaimana nasib para godfather itu? Sampai saat ini mereka masih leha-leha.

Beredarnya buku bajakan tidak hanya merugikan penulis buku dan penerbit saja, akan tetapi merembes ke seluruh galur perbukuan resmi. Pemerintah terkurangi pemasukan pajak, masyarakat termanipulasi cita rasa literasinya. Dan yang terpenting penulis buku, tersunat royalti karyanya.

Royalti sebuah “karya” adalah kebanggaan dan soko guru ekonomi penulis. Memang akan selalu ada penulis yang terus berkarya dengan tulus dengan atau tanpa kepastian royalti. Tetapi, jika mau realistis dan pragmatis, berapa orang serta sampai kapan mereka dapat bertahan?

Kendati demikian, harapan belum sepenuhnya bernisan. Para penggerak literasi, termasuk jaringan bakul buku selalu bergerak mengkampanyekan sadisnya buku bajakan. Mungkin akan menjadi wacana menarik bila tema “mengubur buku bajakan” diseriusi para politisi. Dibuatkan perangkat regulasi dan unit Satgas khusus anti buku bajakan. Tetapi, kemungkinan ini entah harus menunggu berapa generasi lagi.

Kritik Sastra “Pribumi”: Teoritisasi atau Cita Rasa?

Kalau mau membuat harapan serius, saya lebih berharap dibuat regulasi “subsidi literasi”. Harga kertas, kemudahan pameran, perluasan sosialisasi dan seluruh perabot percetakan buku diberikan ekosistem sendiri. Jika buku-buku bisa dijual murah, maka industri pembajakan akan menyusut dan tidak diminati lagi. Para godfather buku bajakan akan lebih bergairah berpindah ke bisnis minyak goreng, misalnya.

Iklim pembajakan buku, akan menyumbang munculnya berita-berita pemakaman penerbit dan toko-toko buku resmi. Lamat-lamat mulai hinggap rasa merinding, membayangkan akan berjejer karangan bunga dari para pembajak buku. Dengan ungkapan warna-warni, terbaca “Turut Berduka atas Meninggalnya Literasi Negeri Ini”. Ngeri ..

Tetapi bagaimana jika pilihannya hanya dua, membaca buku bajakan atau tidak membaca sama sekali? [T]

Tags: Bukubuku bajakanLiterasiminat bacapembajakan buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gél di Nusa Penida, Gélgél di Klungkung dan Gegélan di Bali

Next Post

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Akhmad Faozi Sundoyo

Akhmad Faozi Sundoyo

Penulis adalah pembelajar Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. S1 Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Momong anak lanang dan penikmat literasi. Domisili di Pundong, Bantul, Yogyakarta.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co