2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Akhmad Faozi Sundoyo by Akhmad Faozi Sundoyo
April 12, 2022
in Esai
Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Foto hanya ilustrasi | tatkala.co

Di balik elusan lembut pada sampul buku kesayangan yang dinikmati perlahan sembari bersantai menyesap kopi, ada berlapis-lapis cerita dramatik. Buku, entah didapat dari toko buku, bingkisan orang terkasih, pinjaman teman atau perpustakaan, lahir dari meja kerja penerbitan, keringat kurir pengiriman, dan likuan-likuan pra serta pasca cetak yang tak pendek. Sekian tangan turut membentuk, mengelus, dan membungkusnya.

Melihat kawan sedang berpose dengan buku, hati saya senang sekaligus merinding. Senang karena buku masih diminati, dipilih sebagai latar potret (citra) diri. Merinding, juga miris, karena “jangan-jangan” buku-buku itu hanya sebagai pajangan saja. Citranya dipuja, isinya disia-sia. Kendati demikian, mentoknya mentok, saya rasa berpose dengan buku masih lebih—meminjam ungkapan andalan Agus Mulyadi—membuat mongkok daripada potret-potret berilustrasi santap makan mewah dan jalan-jalan di Cappadocia.

Perasaan senang bersanding merinding itu, mungkin sentimentalitas saya saja. Sentimen dari seorang “bakul buku online” yang terlanjur tercebur profesi.

Buku dan Profesi

Saya sering agak-agak rikuh ketika bertemu dan ngobrol dengan kenalan baru. Tepatnya ketika obrolan tiba pada pertanyaan, “kamu kerja apa?”. Biasanya momen itu terjadi ketika saya di posisi sebagai “Mister Nobodi”. Satu istilah yang diciptakan oleh Umar Kayam (Sugih Tanpa Banda, cet.4, 2012), merujuk pada kondisi saat kita bukanlah siapa-siapa. Tidak ada teman, tidak ada kenalan, sehingga setiap kontak pertemuan adalah orang asing versus orang asing. Biasanya saya akan menjawab, “saya bakul buku online”.

Obituari Pandemi | Sudut Pandang Kegembiraan

Saya selalu menjelaskan secara komplit tiga kata majemuk keprofesian itu, bakul-buku-online (BBO) kepada lawan bicara. Padahal kata-kata itu sering merepotkan. Saya harus menjelaskan jenis buku apa yang dijual, siapa yang membeli, sampai bagaimana peluangnya sebagai sandaran ekonomi. Tapi anehnya, kok selalu ada rasa mongkok itu tadi.

Rasa mongkok ketika menjelaskan profesi sebagai BBO itu sebenarnya ada filosofinya, walapun dengan standar filosofi ala kadarnya. Pertama, saya ingin mengenalkan dan menancapkan kata “buku” di alam bawah sadar lawan bicara. Saya ingin buku dikenali bukan sebatas benda mati, atau obyek foto selfie saja. Kedua, saya ingin menegaskan bahwa bakul buku online adalah sebuah profesi. Satu profesi yang tidak kalah mentereng dengan guru honorer, atau jenis pegawai bergaji rutin—di awal, tengah, dan akhir bulan.

Buku Bajakan dan Kabar Duka darinya

BBO adalah sebuah profesi. Sama seperti profesi lain, ia akan besar bila diseriusi dan dijalani dengan “hati”. Tetapi satu hal yang membedakannya dengan profesi lain adalah bahwa menjual buku, tidak sebatas tentang ketahanan dan kemapanan ekonomi pribadi. Berjualan buku, langsung bersentuhan dengan fakta persebaran literasi. Anda akan merasakan bangga bercampur haru—saya jelaskan di awal sebagai rasa mongkok tadi—ketika mengetahui bahwa, misalnya, ada lho remaja yang rutin membeli buku. Masih belum mati literasi sebagai gaya hidup.

Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Saya pernah, dikunjungi saudara, mereka datang sebrayat. Anak saudara saya itu usia belasan (SMP-lah). Saya benar-benar merinding ketika melihat anak itu menenteng Sapiens-nya Noval Yuah Harari kemana-mana. Seakan buku tebal bermuka putih itu boneka kesayangannya. Sesekali ia membacanya, dengan mencari tempat duduk paling nyaman.

Rasa merinding berlanjut. Anak belasan tahun itu, ketika melihat koleksi buku-buku saya, ia asyik menyentuhi dan memilih buku dengan mata berbinar. Dengan masih mengempit Sapiens, tangan kiri mengambil otobiografi Mahatma Gandhi (berhalaman 700-an), tangan kanannya mengambil Mein Kampf yang juga tebal. Lantas, ia merengek ke ibunya, “Bu, beli ini ya. Ya…”. Ibunya mengecek kedua buku itu, menimbang-nimbang, “Satu dulu saja”. Dibelilah Mahatma Gandhi.  

Perasaan merinding lain, berkebalikan dengan mongkok, saya alami di lain waktu. Waktu itu saya sedang mengantar istri dan anak berbelanja alat tulis di toko tak jauh dari kampung kami. Naluri bakul buku membawa saya untuk menjelajah rak buku. Eh, beneran ada buku-buku bacaan dijual di sana. Saya amati judul per judul, saya perhatikan fisik buku. Ya Allah, ternyata buku-buku itu palsu, buku bajakan. Saya sudah bisa membedakan buku bajakan dengan buku asli sejak dari pandangan kedua dan ketiga. Lebih clear and distinct lagi ketika sudah memegangnya. Saya cek satu per satu, benar saja semua buku di toko itu bajakan. Lemas lunglai hati saya. Ternyata persebaran buku bajakan telah tiba di muka kampung-kampung dan perdesaan.

Pemakaman Harapan

Ada beberapa sebutan populer, merujuk pada buku bajakan. Kata “bajakan” sendiri jarang sekali (katakan tidak pernah) dipakai. Buku Ka-We, buku repro, buku non-ori, lebih sering digunakan secara bergantian. Jenis kertas dan kualitas penjilidan (binding) buku bajakan tak seragam. Beberapa buku bajakan bahkan lebih kokoh dari buku asli. Tetapi secara umum, buku bajakan dicirikan dengan ketajaman dan kejernihan cetakan yang acak adut seperti bercermin di ‘air keruh’. Penjilidan pun sama, ringkih. Tetapi sekali lagi, itu bukan jaminan. Satu-satunya kemampuan untuk dapat membedakan mana buku asli mana bajakan, hanyalah dengan sering-sering belanja, membaca dan merawat buku.

Jika boleh menyebut satu indikator terpenting untuk mengenali buku bajakan adalah dari sisi “harga”. Buku bajakan dibandrol dengan rumus penjumlahan kertas + tinta cetak + untung penjual. Alhasil, murahnya tak ketulungan. Sandingkan dengan kalkulasi harga buku resmi yang di luar bahan baku produksi, aliran uangnya harus mengairi desainer sampul, editor bahasa, editor isi, distributor resmi, royalti penulis, penjual dan seterusnya.

Rajah Gairah Selepas Percintaan Kata || Novel “Yang Tersisa Usai Bercinta”

Sebenarnya pelapak buku tidak bisa disalakan, walaupun nyatanya “salah”. Mereka sebatas untaian kedua terbawah dari hirarki rantai pembajakan. Untaian terakhir tentu saja pembeli. Mereka mencari untung paling banter lima sampai sepuluhan ribu dari penjualan per buku. Dan tak setiap saat laku. Bos sebenarnya adalah para godfather pembajakan yang menurut Muhidin M. Dahlan (mojok.co, 01/02/2019) beromset miliyaran rupiah. Bagaimana nasib para godfather itu? Sampai saat ini mereka masih leha-leha.

Beredarnya buku bajakan tidak hanya merugikan penulis buku dan penerbit saja, akan tetapi merembes ke seluruh galur perbukuan resmi. Pemerintah terkurangi pemasukan pajak, masyarakat termanipulasi cita rasa literasinya. Dan yang terpenting penulis buku, tersunat royalti karyanya.

Royalti sebuah “karya” adalah kebanggaan dan soko guru ekonomi penulis. Memang akan selalu ada penulis yang terus berkarya dengan tulus dengan atau tanpa kepastian royalti. Tetapi, jika mau realistis dan pragmatis, berapa orang serta sampai kapan mereka dapat bertahan?

Kendati demikian, harapan belum sepenuhnya bernisan. Para penggerak literasi, termasuk jaringan bakul buku selalu bergerak mengkampanyekan sadisnya buku bajakan. Mungkin akan menjadi wacana menarik bila tema “mengubur buku bajakan” diseriusi para politisi. Dibuatkan perangkat regulasi dan unit Satgas khusus anti buku bajakan. Tetapi, kemungkinan ini entah harus menunggu berapa generasi lagi.

Kritik Sastra “Pribumi”: Teoritisasi atau Cita Rasa?

Kalau mau membuat harapan serius, saya lebih berharap dibuat regulasi “subsidi literasi”. Harga kertas, kemudahan pameran, perluasan sosialisasi dan seluruh perabot percetakan buku diberikan ekosistem sendiri. Jika buku-buku bisa dijual murah, maka industri pembajakan akan menyusut dan tidak diminati lagi. Para godfather buku bajakan akan lebih bergairah berpindah ke bisnis minyak goreng, misalnya.

Iklim pembajakan buku, akan menyumbang munculnya berita-berita pemakaman penerbit dan toko-toko buku resmi. Lamat-lamat mulai hinggap rasa merinding, membayangkan akan berjejer karangan bunga dari para pembajak buku. Dengan ungkapan warna-warni, terbaca “Turut Berduka atas Meninggalnya Literasi Negeri Ini”. Ngeri ..

Tetapi bagaimana jika pilihannya hanya dua, membaca buku bajakan atau tidak membaca sama sekali? [T]

Tags: Bukubuku bajakanLiterasiminat bacapembajakan buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gél di Nusa Penida, Gélgél di Klungkung dan Gegélan di Bali

Next Post

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Akhmad Faozi Sundoyo

Akhmad Faozi Sundoyo

Penulis adalah pembelajar Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. S1 Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Momong anak lanang dan penikmat literasi. Domisili di Pundong, Bantul, Yogyakarta.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co