12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rajah Gairah Selepas Percintaan Kata || Novel “Yang Tersisa Usai Bercinta”

Akhmad Faozi Sundoyo by Akhmad Faozi Sundoyo
January 8, 2021
in Ulasan
Rajah Gairah Selepas Percintaan Kata || Novel “Yang Tersisa Usai Bercinta”
  • Judul: Yang Tersisa Usai Bercinta
  • Penulis: Cep Subhan KM
  • Penerbit: Odise Publishing, Yogyakarta
  • ISBN: 978-623-95462-2-9
  • Tebal: 182 halaman
  • Cetakan Pertama: November 2020

Bahasa, beribarat dengan alam. Alam menunggu datangnya seniman untuk memilah mana pasir kali dan mana emas murni. Seniman melingsirkan kebakuan bentuk kayu atau batu menjadi kebakaan rupa seni: patung, rumah, perkakas. Jika kebakuan itu adalah bahasa, seniman itu disebut ‘sastrawan’. Dia mengerami kata dan makna, sehingga lahir raga dan jiwa kata: sastra.

Hujan yang turun, caranya mengguyur, selalu sama sejak kala purba. Gairah dan senggama, caranya menekuk akal, rukuk di atas lutut, selalu sama sejak Adam dan Hawa. Sastra mengubah pola itu. Memutus momen ‘biasa’, membawanya pada ruang renung karya. Yang ‘biasa’, dipotong-potong, disusun ulang menjadi sajian pesta raya perkesanan dan pemaknaan.

Di seberang lain, sastra mirip kecap. Dikenal karena ‘rasa’ yang dibawa. Keduanya dibolehkan untuk mendakukan diri “no.1”. Semata karena rasa (lidah) tidak memiliki rumus (tulang) baku. Rasa pembacaan, memang tanpa kebakuan?!

Di Pati, daerah pesisiran (Utara) tempat saya lahir, ada dua merk kecap yang sama-sama Nomor Satu. Kecap Lele dan kecap Gentong. Memang sulit untuk mengatakan salah satunya sebagai ‘tak nomor satu’. Namun mudah saja mengatakan bahwa keduanya berada di level rasa yang berbeda dengan si Malika, atau Kecap Abjad yang biasa disponsorkan dan mensponsori kontes kuliner. Perbedaan yang berada pada satu atau dua grade lebih tinggi dari kecap-kecap (iklan) pasaran. Hal ini bukan karena semata ‘lidah tak bertulang’ dan rasa yang merdeka, namun lebih pada ‘sifat rasa’ yang konon amanah: tak pernah bohong. Enak, tidak butuh iklan. Terkecuali enaknya uang, itulah iklan.

Saya bercerita tentang ‘sifat kecap’, semata karena saya butuh abstraksi analogis untuk meringkus kesan setelah membaca satu novel karya Cep Subhan KM. Semacam gairah ngrasani kesusastraan yang muncul kembali setelah lama rukuk pada rutinitas non sastrawi.

Rajah Gairah: Simbol-Simbol Eksistensial

Berjudul Yang Tersisa Usai Bercinta (selanjutnya disebut YTUB), karya ini adalah Body Painting. Sebuah ketelanjangan yang bukan birahi sembrono. Walau topografi erotisme digelarkan, semata sebagai kanvas, untuk dikuasi dengan kata-kata yang—meminjam bahasa penulisnya—berkelas. Kelas yang bangku-bangkunya tidak hanya berisi murid-murid diksi belaka, tapi lebih pada fade in-out alur dan estetika perenungan eksistensial.

Saya merasakan, novel ini ditulis di kota. Dalam ruang di mana diri manusia menjadi pastura. Dengan segala lorong dan labirin ‘sisi dalam’. Sisi dalam ini kadang gilap, kadang, remang dan sumir. Sisi dalam manusia digarap begitu kokoh dalam novel ini, secara serius dan brutal.

YTUB memberi serentetan pertanyaan tentang ADA APA: Ada apa di balik kenormalan-kenampakan? Ada apa di balik rangkaian kata? Ada apa di balik rumah tangga, keharmonisan? Ada apa di balik politik sastra? Semacam mapping terhadap matriks realitas.

Karya ini ambisius. Karena selain wujudnya yang novel—bisa juga disebut novelet—penulisnya pula ber-esai dan berpuisi. Di beberapa babak, dia melakukan kerja menerjemah. Membawa teks-teks negeri seberang lautan untuk didiksikan dalam cerita. Naasnya, pembaca diberi tugas yang sama: menerjemahkan diksi-diksi itu.

Sepintas YTUB menggoda, mengelabuhi pembaca pada daya tarik ketubuhan: kehendak libidinal. Padahal godaan sebenarnya ada di balik itu. Yakni pada aliran sungai psiko-eksistensial yang justru lebih deras dan lebih bergolak di dalamnya.

Kekuatan YTUB ada pada karakter tokoh-tokohnya. Setiap tokoh dalam ruang cerita ini dihidupkan semanusiawi mungkin. Memang sekelebatan ada penampakan jin—dari Timur Tengah sepertinya—dalam cerita, tapi tak pernah ada malaikat dan setan. Setidaknya, tidak ada manusia yang dimalaikatkan atau disetankan. Manusia adalah manusia, dengan black hole batin masing-masing. Makhluk dengan satu pusaran lubang kelam tanpa definisi. Walaupun di luarnya tampil sebagai penulis, aktivis feminis, atau ustadz media.

Dalam lembar-lembar YTUB, manusia tidak dimungkinkan berkamar Barat atau Timur, rasional atau dungu. Manusia adalah pelancong abadi yang singgah pada tradisi masa lalu, namun tak mungkin menjadi pribumi di sana. Mereka magang di akademi Yunani, sembari teguh merapal mantra-mantra berfrekuensi klenik hakiki.

Novel ini penuh perkelindanan skandal atas normativitas. Kesetiaan, keluguan, kejujuran, alih-alih kesucian, diserdawakan begitu saja. Bumi YTUB adalah planet niskala yang mengorbit pada gairah kemungkinan. Satu semesta yang menolak dua warna pasti: hitam dan putih.

Novel yang bisa rampung dibaca sekali duduk ini, mempunyai bilik-bilik persinggahan yang di dalamnya kenormalan ditelanjangi. Hubungan suami-istri yang nampak baik-baik saja, ternyata mempunyai kabin bawah tanah yang menyimpan api tersekam. Asyiknya, justru tepat pada kabin (bersekam) inilah yang digarap serius oleh penulisnya. Sehingga tiap babak yang tergelar, bisa ‘membakar’ kapan saja. Di satu kobaran, tertangkap kemurungan eksistensial ala Budi Darma, Olenka. Kadang, muncul kewingitan batin Sunda-Jawa yang mistis. Kadang muncul nuansa kegilaan Freud dan Jung. Walaupun sangat minor, ada juga lintasan ‘situasi komedi’.

Sastra sebagai Kritik

Secara diksi, novel ini adalah tesaurus. Tidak hanya bahasa Indonesia, seringkali penulisnya melancong sampai aksen Latin. Pemilihan dan penggunaan bahasa-bahasa ini menjadi semakin bernyawa, saat pada raganya ditiupkan teori psikoanalisis dan cultural studies. Dan yang lebih menggairahkan, terselip (atau diselipkan tentu saja) aspek “sastra sebagai kritik”. Baik kritik sosial, maupun kritik terhadap kesusastraan sendiri.

Jika Budi Darma membaca novel ini, dia akan tersenyum. Karena kritiknya dalam Solilokui yang melihat adanya kecenderungan ‘kerja instan’ dalam penggarapan karya sastra di Indonesia terbantah. YTUB terasa sangat berusia, secara kata dan kepadatan kalimatnya. Misalnya (hlm. 49), “akan tetapi kerapian bukan satu-satunya hal yang membuat darah Pandu turun dari kepala, naik dari kaki, berkumpul di tengah-tengah menugurkan menara pada muara. Dalam gelap malam, bukan hanya angin yang bisa menggerakkan dedaunan.”   

Penulis YTUB seperti sadar betul bahwa kehadiran karya sastra, tidak cukup berisi fiksi pembunuh waktu. Tetapi lebih pada satu kerja seni. Seturut dengan Apresiasi Kesusastraan, sebentuk karya sastra baiknya memiliki kekuatan seni yang memadai. Aspek seni ini ditandai dengan fictionality, esthetic values, serta special use of language (Jakob Sumardjo dan Saini K.M., 1997: 13). Kutipan pada paragraf sebelum ini, saya kira sudah dapat mewakili esthetic values. Sedangkan untuk sifat kebahasaan yang khas dan nyeni, pembaca akan menemukan sendiri hampir menyekujur di setiap babak cerita.

Terakhir. Bagi saya—setelah terhantui oleh kesan pasca pembacaan—YTUB ini (terlalu) temaram. Semacam melulu pada dunia kaca: kamar perenungan. Mungkin sedemikian, saturasi yang diingini penulisnya. Tetapi bila mau diberikan keriangan Senyum Karyamin, misalnya, jejaknya akan lebih membumi dengan keseharian. Atau bila berkarsa menyerapkan nafas sajak (Rendra) Hai Ma, sisa-sisa senggama dalam YTUB akan (lebih) dewasa. Akan tetapi, bagi penulis yang sebelum ini telah menerbitkan sajak—dengan ketebalan satu buku—Hari Tanpa Nama yang akrab dan menaruh hati pada Goenawan Mohamad, sisi temaram mungkin sudah jadi jalan kekaryaannya.

Selebihnya, Yang Tersisa Usai Bercinta ini benar-benar telah merajahkan gairah pada pembaca. Gairah untuk terus hidup dalam tegangan kegelisahan dan kenikmatan. Gairah yang muncul-tenggelam di sebelum, selama, dan selepas menyenggamai sastra. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hope & Freedom – Run for Mental Health

Next Post

Canggihnya Teknologi Zaman Now, Hasilkan Uang dengan Cara Rebahan

Akhmad Faozi Sundoyo

Akhmad Faozi Sundoyo

Penulis adalah pembelajar Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. S1 Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Momong anak lanang dan penikmat literasi. Domisili di Pundong, Bantul, Yogyakarta.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Canggihnya Teknologi Zaman Now, Hasilkan Uang dengan Cara Rebahan

Canggihnya Teknologi Zaman Now, Hasilkan Uang dengan Cara Rebahan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co