2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 12, 2022
in Esai
Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

teknologi sederhana untuk menggerus yang umum dipakai oleh sangging-sangging kamasan.

Teman-teman di Gurat Institute sedang mengerjakan sebuah penelitian terkait dengan pengetahuan warna di Bali. Karena itu sejak minggu pertama di bulan November 2021 lalu, bersama mereka saya sering pulang-pergi ke Banjar Sangging di Kamasan, Klungkung, dan sekitarannya.

Tujuannya bukan untuk menikmati mie koples, kerupuk be, serombotan dan rujak bir yang terkenal di sana. Kalau pun itu jadi tujuan, katakanlah itu hanya tujuan kedua kami. Tujuan utamanya adalah untuk menyusuri data-data di Kamasan, lewat senimannya, tokoh-tokoh, maupun masyarakatnya.

Per Januari 2022 kami masih sering bolak-balik ke Klungkung, lebih sering lagi mampir ke studionya I Made Sesangka, pelukis asal Banjar Sangging Kamasan yang juga merupakan murid sekaligus menantu dari maestro I Nyoman Mandra. Lewat mengikuti proses berkarya Pak Dek (panggilan saya padanya), kami mencoba mengenali seni lukis Kamasan secara lebih dekat dan mencoba memahami pengetahuan-pengetahuan yang ada dibaliknya.

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Tulisan pendek ini adalah catatan atas pengamatan proses tersebut.

Catatan ini coba membahas dua kedatangan kami ke Kamasan, yakni Minggu 7 November 2021 dan Jumat tanggal 28 Januari 2022 dimana kami berkesempatan untuk mengamati proses ngerus yang merupakan salah satu tahap penting dalam pembuatan lukisan Kamasan.

Ngerus dalam bahasa Bali berarti menggosok, dalam lukis Kamasan ngerus berarti menghaluskan dan melicinkan permukaan kain kanvas menggunakan panas dari gesekan cangkang kerang bulih/ kerang kuwuk bermotif tutul (latin: Cypraea Tigris).

Tahap ngerus dalam lukis Kamasan biasanya dilakukan dua kali, yang pertama ‘ngerus bubuan’untuk menyiapkan kain sebelum disket atau ngreke. Sementara yang kedua, ‘ngerus warnaan’ setelah warna-warna selesai dipasang agar siap untuk dicawi.

Masing-masing proses ngerus itu dipraktekkan oleh I Wayan Suardita (produsen kanvas Kamasan) di dalam ruang dapur rumah yang juga difungsikan menjadi tempat menggerus kain, satunya lagi oleh Pak Dek Sesangka dengan menggunakan alat pengerusan yang ada di Sanggar Wasundari—sanggar lukis Kamasan yang dibangun oleh Nyoman Mandra dan kini dikelola oleh Pak Dek dan Istrinya, Ni Wayan Sri Wedari.

Foto: Teknologi sederhana untuk menggerus yang umum dipakai oleh sangging-sangging di Kamasan, Klungkung, Bali.

Apa yang terlihat dalam foto-foto di atas adalah teknologi sederhana untuk menggerus yang umum dipakai oleh sangging-sangging kamasan. Karena difungsikan untuk menggerus maka teknologi ini dinamai pengerusan.

Menurut penuturan Pak Dek, pengerusan ini dulu hampir dapat ditemui di tiap rumah sangging atau seniman Kamasan, namun hari-hari ini pengerusan maupun aktivitas mengerus itu hanya dapat ditemui di beberapa rumah yang masih memproduksi kanvas Kamasan, serta studio-studio seniman Kamasan yang mempunyai kebutuhan memberikan workshop atau pelatihan kepada orang-orang yang datang ke mereka untuk belajar melukis dengan stil Kamasan.

Bosan… Bosan… Bosan… Kami Mulai Bosan – [Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

Keluarga I Wayan Suardita dan Sanggar Wasundari adalah beberapa diantaranya yang masih menyediakan fasilitas pengerusandan biasanya sering dipinjam oleh para seniman Kamasan untuk menggerus lukisan.

Antara alat pengerus yang dipakai oleh I Wayan Suardita dan Pak Dek Sesangka, kita bisa melihat ada perbedaan pada bentuk pementalan (bambu untuk menekan kerang ke kain) yang dipakai. Apabila pementalan di Sanggar Suwandari hanya memanfaatkan satu bilah bambu, pementalan di dapur I Wayan Suardita dibuat dari dua bilah bambu yang diikat kencang dengan tali yang hampir menutupi seluruh bilah. Dibuat demikian mungkin menyesuaikan dengan fungsinya, karena pengerusan milik keluarga I Wayan Suardita biasanya hanya dipakai untuk menggerus kain kanvas yang baru selesai diberi tepung beras atau mubuhin.

Pengerusan ini juga digosok maju-mundur menggunakan dua tangan, sehingga terkesan menghasilkan kekuatan gosokan yang lebih kuat. Berbeda dengan teknik mengerus yang dipraktikkan oleh Pak Dek Sesangka, yakni menggunakan satu tangan dan tampak tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk menekan kerang ke kain.

Foto: Kami dari Gurat Institute di Banjar Sangging di Kamasan, Klungkung

Menurut Pak Dek pula, untuk menggerus lukisan-lukisan Kamasan yang berukuran kecil jarang dipergunakan pengerusan dengan pementalan, artinya yang diandalkan hanya cangkang kerang bulih dan tangan tukang gerusnya itu sendiri. Menurutnya hal tersebut untuk meminimalisir tekanan gesekan yang terlalu keras yang berisiko merusak kain.

Berdasarkan pengamatan atas dua proses ngerusyang diperlihatkan oleh I Wayan Suardita dan Pak Dek, maka komponen-komponen pembentuk alat pengerusan beserta fungsinya coba saya urai menjadi beberapa bagian, antara lain:

  1. Lambang (tiang bagian atas), fungsi utamanya sebagai penopang atau tempat memasang pementalan.
  2. Pementalan, satu paket komponen yang terdiri dari sebuah balok kayu yang pada bagian tengahnya dibuat sedikit berongga untuk tempat memasang bilah bambu sehingga menghasilkan tekanan kepada kerang bulih. Panjang pementelan menyesuaikan antara tinggi lambang, alas papan, dan tebal kerang bulih agar menghasilkan daya tekan dan gosok yang kuat.
  3. Kerang bulih, kerang yang dipakai untuk menggerus biasanya memiliki cangkang licin seperti jenis kerang kuwuk atau Cypraea Tigris.
  4. Papan, papan tebal yang permukaannya rata sebagai alas tempat membentang kain, biasanya papan berukuran memanjang mengingat arah gosokan dengan pengerusan ini dominan hanya maju-mundur.

Cara mengaplikasikan pengerusan ini sederhana. Selain syarat utamanya harus menggunakan kerang bulih, kunci untuk menyukseskan proses pengerusan ini juga terletak pada kain kanvasnya sendiri. Agar kain dinyatakan siap digerus maka kain harus dijemur terlebih dahulu untuk memastikan kain dan warna (pada tahap ngerus warnaan) telah benar-benar kering.

Biasanya jika tidak (cukup) dijemur dan langsung digerus, warna akan terangkat dan belobor, merusak bagian-bagian pada lukisan. Setelah dijemur, kain yang masih dalam keadaan hangat langsung dibentang diatas alas papan tebal, kemudian cangkang kerang yang telah dihubungkan ke bambu pementalan ditaruh diatas kain kanvas, selanjutnya cangkang digosokkan secara maju-mundur.

Kuta, Kita, Kini | Pameran Seni Rupa Kelompok Artheist

Tahap ngerus dalam lukis Kamasan sendiri biasanya terjadi sebanyak dua kali, ngerus pertama yakni pada tahap setelah mubuhin-sebelum ngreke disebut ‘ngerus bubuan’ berfungsi untuk membuat pori-pori kain terbuka agar warna dapat terserap dengan baik.

Sementara proses ngerus yang kedua pada tahap setelah ngewarnin disebut ‘ngerus warnaan’ berfungsi untuk melekatkan, merapatkan dan mengencangkan warna pada kain kanvas. Proses ngerus juga berfungsi untuk mempermudah pelukis ketika akan melanjutkan beberapa tahapan akhir seperti nyawi (kontur), nyocain (memberi warna merah pada bagian permata), dan meletik (memberi warna putih/highlight pada bagian gigi, kuku, ornamen).

Bagaimana untuk mengetahui dan mengukur hasil gerusan? Menurut Pak Dek Sesangka kita cukup menggunakan tangan untuk meraba tekstur kanvas apabila dirasa permukaan kain telah rata dan licin maka menandakan jalannya ujung kuas tidak akan tersangkut-sangkut. Selain meraba kanvas, biasanya permukaan kain yang sudah cukup digerus akan terlihat lebih mengkilap daripada yang belum digerus.

Semula kegiatan menggerus ini terlihat mudah dipraktikkan, namun setelah teman-teman di Gurat Institute sendiri mencoba mempraktikkan ngerus ini sepulang dari Kamasan barulah kami memahami betapa banyak usaha mulai tenaga dan fokus yang harus disiapkan oleh para sangging maupun para ‘tukang gerus’ pada tahapan ngerus ini.

Catatan singkat ini ingin mengapresiasi hal tersebut, terutama keluarga I Wayan Suardita di Banjar Sangging yang sampai saat ini masih melanggengkan pengetahuan membuat kanvas kamasan hingga mengerus ini secara turun temurun. [T]

Batubulan, Februari 2022

Tags: Desa KamasanGurat InstituteKlungkunglukisan kamasanSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Next Post

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co