2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 12, 2022
in Esai
Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

teknologi sederhana untuk menggerus yang umum dipakai oleh sangging-sangging kamasan.

Teman-teman di Gurat Institute sedang mengerjakan sebuah penelitian terkait dengan pengetahuan warna di Bali. Karena itu sejak minggu pertama di bulan November 2021 lalu, bersama mereka saya sering pulang-pergi ke Banjar Sangging di Kamasan, Klungkung, dan sekitarannya.

Tujuannya bukan untuk menikmati mie koples, kerupuk be, serombotan dan rujak bir yang terkenal di sana. Kalau pun itu jadi tujuan, katakanlah itu hanya tujuan kedua kami. Tujuan utamanya adalah untuk menyusuri data-data di Kamasan, lewat senimannya, tokoh-tokoh, maupun masyarakatnya.

Per Januari 2022 kami masih sering bolak-balik ke Klungkung, lebih sering lagi mampir ke studionya I Made Sesangka, pelukis asal Banjar Sangging Kamasan yang juga merupakan murid sekaligus menantu dari maestro I Nyoman Mandra. Lewat mengikuti proses berkarya Pak Dek (panggilan saya padanya), kami mencoba mengenali seni lukis Kamasan secara lebih dekat dan mencoba memahami pengetahuan-pengetahuan yang ada dibaliknya.

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Tulisan pendek ini adalah catatan atas pengamatan proses tersebut.

Catatan ini coba membahas dua kedatangan kami ke Kamasan, yakni Minggu 7 November 2021 dan Jumat tanggal 28 Januari 2022 dimana kami berkesempatan untuk mengamati proses ngerus yang merupakan salah satu tahap penting dalam pembuatan lukisan Kamasan.

Ngerus dalam bahasa Bali berarti menggosok, dalam lukis Kamasan ngerus berarti menghaluskan dan melicinkan permukaan kain kanvas menggunakan panas dari gesekan cangkang kerang bulih/ kerang kuwuk bermotif tutul (latin: Cypraea Tigris).

Tahap ngerus dalam lukis Kamasan biasanya dilakukan dua kali, yang pertama ‘ngerus bubuan’untuk menyiapkan kain sebelum disket atau ngreke. Sementara yang kedua, ‘ngerus warnaan’ setelah warna-warna selesai dipasang agar siap untuk dicawi.

Masing-masing proses ngerus itu dipraktekkan oleh I Wayan Suardita (produsen kanvas Kamasan) di dalam ruang dapur rumah yang juga difungsikan menjadi tempat menggerus kain, satunya lagi oleh Pak Dek Sesangka dengan menggunakan alat pengerusan yang ada di Sanggar Wasundari—sanggar lukis Kamasan yang dibangun oleh Nyoman Mandra dan kini dikelola oleh Pak Dek dan Istrinya, Ni Wayan Sri Wedari.

Foto: Teknologi sederhana untuk menggerus yang umum dipakai oleh sangging-sangging di Kamasan, Klungkung, Bali.

Apa yang terlihat dalam foto-foto di atas adalah teknologi sederhana untuk menggerus yang umum dipakai oleh sangging-sangging kamasan. Karena difungsikan untuk menggerus maka teknologi ini dinamai pengerusan.

Menurut penuturan Pak Dek, pengerusan ini dulu hampir dapat ditemui di tiap rumah sangging atau seniman Kamasan, namun hari-hari ini pengerusan maupun aktivitas mengerus itu hanya dapat ditemui di beberapa rumah yang masih memproduksi kanvas Kamasan, serta studio-studio seniman Kamasan yang mempunyai kebutuhan memberikan workshop atau pelatihan kepada orang-orang yang datang ke mereka untuk belajar melukis dengan stil Kamasan.

Bosan… Bosan… Bosan… Kami Mulai Bosan – [Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

Keluarga I Wayan Suardita dan Sanggar Wasundari adalah beberapa diantaranya yang masih menyediakan fasilitas pengerusandan biasanya sering dipinjam oleh para seniman Kamasan untuk menggerus lukisan.

Antara alat pengerus yang dipakai oleh I Wayan Suardita dan Pak Dek Sesangka, kita bisa melihat ada perbedaan pada bentuk pementalan (bambu untuk menekan kerang ke kain) yang dipakai. Apabila pementalan di Sanggar Suwandari hanya memanfaatkan satu bilah bambu, pementalan di dapur I Wayan Suardita dibuat dari dua bilah bambu yang diikat kencang dengan tali yang hampir menutupi seluruh bilah. Dibuat demikian mungkin menyesuaikan dengan fungsinya, karena pengerusan milik keluarga I Wayan Suardita biasanya hanya dipakai untuk menggerus kain kanvas yang baru selesai diberi tepung beras atau mubuhin.

Pengerusan ini juga digosok maju-mundur menggunakan dua tangan, sehingga terkesan menghasilkan kekuatan gosokan yang lebih kuat. Berbeda dengan teknik mengerus yang dipraktikkan oleh Pak Dek Sesangka, yakni menggunakan satu tangan dan tampak tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk menekan kerang ke kain.

Foto: Kami dari Gurat Institute di Banjar Sangging di Kamasan, Klungkung

Menurut Pak Dek pula, untuk menggerus lukisan-lukisan Kamasan yang berukuran kecil jarang dipergunakan pengerusan dengan pementalan, artinya yang diandalkan hanya cangkang kerang bulih dan tangan tukang gerusnya itu sendiri. Menurutnya hal tersebut untuk meminimalisir tekanan gesekan yang terlalu keras yang berisiko merusak kain.

Berdasarkan pengamatan atas dua proses ngerusyang diperlihatkan oleh I Wayan Suardita dan Pak Dek, maka komponen-komponen pembentuk alat pengerusan beserta fungsinya coba saya urai menjadi beberapa bagian, antara lain:

  1. Lambang (tiang bagian atas), fungsi utamanya sebagai penopang atau tempat memasang pementalan.
  2. Pementalan, satu paket komponen yang terdiri dari sebuah balok kayu yang pada bagian tengahnya dibuat sedikit berongga untuk tempat memasang bilah bambu sehingga menghasilkan tekanan kepada kerang bulih. Panjang pementelan menyesuaikan antara tinggi lambang, alas papan, dan tebal kerang bulih agar menghasilkan daya tekan dan gosok yang kuat.
  3. Kerang bulih, kerang yang dipakai untuk menggerus biasanya memiliki cangkang licin seperti jenis kerang kuwuk atau Cypraea Tigris.
  4. Papan, papan tebal yang permukaannya rata sebagai alas tempat membentang kain, biasanya papan berukuran memanjang mengingat arah gosokan dengan pengerusan ini dominan hanya maju-mundur.

Cara mengaplikasikan pengerusan ini sederhana. Selain syarat utamanya harus menggunakan kerang bulih, kunci untuk menyukseskan proses pengerusan ini juga terletak pada kain kanvasnya sendiri. Agar kain dinyatakan siap digerus maka kain harus dijemur terlebih dahulu untuk memastikan kain dan warna (pada tahap ngerus warnaan) telah benar-benar kering.

Biasanya jika tidak (cukup) dijemur dan langsung digerus, warna akan terangkat dan belobor, merusak bagian-bagian pada lukisan. Setelah dijemur, kain yang masih dalam keadaan hangat langsung dibentang diatas alas papan tebal, kemudian cangkang kerang yang telah dihubungkan ke bambu pementalan ditaruh diatas kain kanvas, selanjutnya cangkang digosokkan secara maju-mundur.

Kuta, Kita, Kini | Pameran Seni Rupa Kelompok Artheist

Tahap ngerus dalam lukis Kamasan sendiri biasanya terjadi sebanyak dua kali, ngerus pertama yakni pada tahap setelah mubuhin-sebelum ngreke disebut ‘ngerus bubuan’ berfungsi untuk membuat pori-pori kain terbuka agar warna dapat terserap dengan baik.

Sementara proses ngerus yang kedua pada tahap setelah ngewarnin disebut ‘ngerus warnaan’ berfungsi untuk melekatkan, merapatkan dan mengencangkan warna pada kain kanvas. Proses ngerus juga berfungsi untuk mempermudah pelukis ketika akan melanjutkan beberapa tahapan akhir seperti nyawi (kontur), nyocain (memberi warna merah pada bagian permata), dan meletik (memberi warna putih/highlight pada bagian gigi, kuku, ornamen).

Bagaimana untuk mengetahui dan mengukur hasil gerusan? Menurut Pak Dek Sesangka kita cukup menggunakan tangan untuk meraba tekstur kanvas apabila dirasa permukaan kain telah rata dan licin maka menandakan jalannya ujung kuas tidak akan tersangkut-sangkut. Selain meraba kanvas, biasanya permukaan kain yang sudah cukup digerus akan terlihat lebih mengkilap daripada yang belum digerus.

Semula kegiatan menggerus ini terlihat mudah dipraktikkan, namun setelah teman-teman di Gurat Institute sendiri mencoba mempraktikkan ngerus ini sepulang dari Kamasan barulah kami memahami betapa banyak usaha mulai tenaga dan fokus yang harus disiapkan oleh para sangging maupun para ‘tukang gerus’ pada tahapan ngerus ini.

Catatan singkat ini ingin mengapresiasi hal tersebut, terutama keluarga I Wayan Suardita di Banjar Sangging yang sampai saat ini masih melanggengkan pengetahuan membuat kanvas kamasan hingga mengerus ini secara turun temurun. [T]

Batubulan, Februari 2022

Tags: Desa KamasanGurat InstituteKlungkunglukisan kamasanSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Next Post

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co