3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bosan… Bosan… Bosan… Kami Mulai Bosan – [Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

Vincent Chandra by Vincent Chandra
June 8, 2020
in Ulasan
Bosan… Bosan… Bosan… Kami Mulai Bosan – [Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

[Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

Karya-karya dalam pameran ini tidak akan menyinggung persoalan wabah corona maupun isu-isu yang terbangun karenanya. Ini adalah pernyataan sekaligus sikap yang dipilih oleh Putra Wali (Aco), Yusuf (Ucup) Faizal, Joning Prayoga dan Yoga Satyadhi (Mamang) ketika berpameran virtual.

Pameran virtual itu sendiri sudah dimulai 4 Juni di situs artsteps.com.

Dengan nada sarkastik sambil bercanda masing-masing dari mereka melepaskan uneg-uneg mereka tentang bagaimana belakangan karya seni di era ini begitu seragam dan terkesan menakut-nakuti. Hampir segala objek dalam karya yang mereka temui dalam media sosial dibaluti masker, tampak dikerumuni virus bermahkota, pun hanya sebagian kecil yang coba menampilkan optimisme, sisanya (mungkin) sedang malas menggambar bibir, hidung dan bagian lainnya.

Bagi mereka adalah sebuah kesulitan untuk mengulangi hal yang sudah menyeragam. Sebagai anak muda mereka bisa dibilang tipe yang nyeleneh dan lebih senang melawan dibanding mengikuti kemauan banyak orang.

“Dulu sekali gambar masker ya menarik bisa dibaca dengan tafsiran macam-macam, tapi hari ini setelah banyak orang mengulangi dan sebagiannya tidak punya usaha memberi wacana lebih dibaliknya, ya itu akhirnya menjadi biasa-biasa saja,” kritik Yusuf.

Mereka setuju bahwa seni selayaknya adalah sebuah kebebasan untuk tiap pelakunya, tidak ada pendiktean apalagi pemaksaan makna didalamnya. Oleh karena itu ya bukan masalah pula jika kali ini mereka juga mengesampingkan perkara kontekstual dalam karya-karya mereka.

Baik Aco, Ucup, Joning dan Yoga memilih untuk menampilkan karya mereka apa adanya tanpa ada imbuhan isu apapun di dalamnya. Sebagai gantinya mereka mengusahakan karya-karya mereka dapat terbaca dan menggugah secara indrawi dengan menampilkan ciri khas kepribadian masing-masing, lewat keterampilan teknis, wahananya, hingga cara mereka memainkan unsur-unsur intrinsik secara unik dan usil.

Mereka bukannya kaum formalis, apalagi apatis, beberapa kali mereka kerap menghadirkan isu-isu sosial dan lingkungan di dalam karya-karya mereka. Hanya saja keempat orang yang “kepingin jadi seniman” ini mengaku sedang lebih tertarik mengeksplor bentuk-bentuk dan teknik baru dalam kekaryaan mereka.

Terlaksananya pameran ini didukung oleh munculnya rasa bosan dalam diri mereka masing-masing. Rasa bosan atau jenuh ini tidak sepenuhnya diindikasikan keempat orang ini pada keseharian yang mereka jalani. Namun juga pada apa yang terus-menerus mereka temui di dalam layar ponsel mereka misalnya.

Informasi atau berita yang melulu itu-itu saja, hingga bagaimana aktivitas seni rupa berlangsung amat mainstream ditengah ke-chaos-an hari ini, semua tadi adalah salah satu pemicu munculnya kebosanan dan kejenuhan mereka. Rasa bosan inilah yang kemudian menjadi pengantar mereka untuk hadir ditengah-tengah publik sambil mengumandangkan kebebasan ekspresi mereka.

Sebagai sebuah aktivitas kolaborasi-kolektif, mereka berempat tidak menawarkan gagasan yang teramat spesial seperti kelompok-kelompok lainnya. Tujuan mereka dalam pameran ini sederhana, yaitu untuk bisa menunjukkan hasil eksplorasi di dalam karya mereka.

Karya-karya yang mereka hadirkan dalam pameran ini berwujud dua dimensi, sebagian merupakan hasil kerja di media digital dan sebagian lagi dikerjakan dengan teknik tradisional. Beberapa diantaranya merupakan karya kolaborasi antar Aco-Ucup dan Joning-Yoga, serta karya kolaborasi yang dikerjakan oleh mereka berempat. Eksplorasi-eksplorasi yang tampak dalam karya-karya ini beragam mulai dari teknik hingga bahasa atau teks visual yang dipakai.

Aco misalnya, secara sadar meminjam objek-objek yang ia rasa cukup universal atau dikenali banyak orang seperti salah satunya Medusa, Centaurus, Dewi Sarasvati, dan sebagainya. Ia kemudian dengan seenaknya mengolah kembali bentuk objek-objek tadi yang semula telah dianggap mapan oleh orang-orang. Transformasi pada objek-objek tersebut ia lakukan dengan cara menghilangkan, mengganti hingga menambahkan bagian-bagian tertentu. Aco mengungkapkan bahwa obsesinya dalam memanipulasi muncul sebagai manifestasi idenya terhadap keindahan yang ideal.

Sama-sama mengolah bentuk, Joning merekam keseharian manusia di dalam karyanya menggunakan karakter-karakter fantatif menyerupai bentuk hewan yang ia ciptakan. Dalam karya-karyanya ia cenderung menggunakan pendekatan imajinatif yang terbangun lewat pengalaman-pengalamannya saat menikmati film kartun semasa kecil bahkan hingga sekarang. Ketertarikannya tersebut membuatnya terus menerus melakukan eksplorasi pada bentuk-bentuk hewan dengan imbuhan aktivitas dan ekspresi yang jenaka.

Melihat karya Ucup mengingatkan kita pada wujud tembok pyramid atau dinding gua primitif. Ia mendominasi karya-karyanya dengan garis-garis yang tebal secara spontan. Garis-garis serupa coretan asal ini membentuk simbol-simbol yang kadang abstrak dan ia anggap dapat mewakili wujud ketidaktahuannya atas dirinya sendiri.

Dalam bidang gambarnya yang penuh juga ia sengaja menyembunyikan simbol-simbol tertentu yang ia manfaatkan sebagai wahana untuk bermain bersama penikmat karyanya. Eksplorasi dalam karyanya juga tampak pada bagaimana Ucup coba menghadirkan elemen utama karyanya yaitu garis ditengah panel-panel warna yang cerah dan berani.

Yoga yang akrab disapa Mamang juga turut merayakan pameran ini dengan goresan-goresan ekspresifnya. Karya drawing yang ia hasilkan menggunakan berbagai macam pulpen menggambarkan macam-macam bentuk yang ia akui muncul begitu saja dalam pikirannya. Alam bawah sadarnya seolah menyediakan objek secara acak ketika ia mulai menarik garis hingga ia akhirya menghasilkan sebuah objek yang utuh.

Objek-objek dalam karyanya berupa figur-figur yang menyerupai patung, tengkorak, hewan, hingga bentuk yang tidak umum. Paduan antara bidang kosong, warna dan garis-garis luwes dan dinamis adalah yang ingin ditonjolkan Mamang dalam karya drawingnya.

Mereka berempat dalam pameran ini terbaca lebih mempersoalkan bentuk atau teks visual dibanding apa yang ingin mereka kemukakan. Meski demikian, karya-karya mereka tidak menutup kemungkinan untuk ditafsir lebih dalam dan rinci.

Maka pameran virtual “Bosan.. Bosan.. Bosan.. Kami Mulai Bosan” dan melalui karya-karya yang ditampilkan walaupun tidak mempersoalkan isu yang serius, kami harap dapat sedikit tidaknya melepas lara dan memberi hiburan. Sesederhana itu. Terima kasih dan selamat mengapresiasi!

Singaraja Mei 2020,

Tags: PameranPameran Seni Rupapameran virtualvirtual
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

Next Post

Laksana Dharma

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Atat Yang Bijaksana #1

Laksana Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co