2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bosan… Bosan… Bosan… Kami Mulai Bosan – [Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

Vincent Chandra by Vincent Chandra
June 8, 2020
in Ulasan
Bosan… Bosan… Bosan… Kami Mulai Bosan – [Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

[Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

Karya-karya dalam pameran ini tidak akan menyinggung persoalan wabah corona maupun isu-isu yang terbangun karenanya. Ini adalah pernyataan sekaligus sikap yang dipilih oleh Putra Wali (Aco), Yusuf (Ucup) Faizal, Joning Prayoga dan Yoga Satyadhi (Mamang) ketika berpameran virtual.

Pameran virtual itu sendiri sudah dimulai 4 Juni di situs artsteps.com.

Dengan nada sarkastik sambil bercanda masing-masing dari mereka melepaskan uneg-uneg mereka tentang bagaimana belakangan karya seni di era ini begitu seragam dan terkesan menakut-nakuti. Hampir segala objek dalam karya yang mereka temui dalam media sosial dibaluti masker, tampak dikerumuni virus bermahkota, pun hanya sebagian kecil yang coba menampilkan optimisme, sisanya (mungkin) sedang malas menggambar bibir, hidung dan bagian lainnya.

Bagi mereka adalah sebuah kesulitan untuk mengulangi hal yang sudah menyeragam. Sebagai anak muda mereka bisa dibilang tipe yang nyeleneh dan lebih senang melawan dibanding mengikuti kemauan banyak orang.

“Dulu sekali gambar masker ya menarik bisa dibaca dengan tafsiran macam-macam, tapi hari ini setelah banyak orang mengulangi dan sebagiannya tidak punya usaha memberi wacana lebih dibaliknya, ya itu akhirnya menjadi biasa-biasa saja,” kritik Yusuf.

Mereka setuju bahwa seni selayaknya adalah sebuah kebebasan untuk tiap pelakunya, tidak ada pendiktean apalagi pemaksaan makna didalamnya. Oleh karena itu ya bukan masalah pula jika kali ini mereka juga mengesampingkan perkara kontekstual dalam karya-karya mereka.

Baik Aco, Ucup, Joning dan Yoga memilih untuk menampilkan karya mereka apa adanya tanpa ada imbuhan isu apapun di dalamnya. Sebagai gantinya mereka mengusahakan karya-karya mereka dapat terbaca dan menggugah secara indrawi dengan menampilkan ciri khas kepribadian masing-masing, lewat keterampilan teknis, wahananya, hingga cara mereka memainkan unsur-unsur intrinsik secara unik dan usil.

Mereka bukannya kaum formalis, apalagi apatis, beberapa kali mereka kerap menghadirkan isu-isu sosial dan lingkungan di dalam karya-karya mereka. Hanya saja keempat orang yang “kepingin jadi seniman” ini mengaku sedang lebih tertarik mengeksplor bentuk-bentuk dan teknik baru dalam kekaryaan mereka.

Terlaksananya pameran ini didukung oleh munculnya rasa bosan dalam diri mereka masing-masing. Rasa bosan atau jenuh ini tidak sepenuhnya diindikasikan keempat orang ini pada keseharian yang mereka jalani. Namun juga pada apa yang terus-menerus mereka temui di dalam layar ponsel mereka misalnya.

Informasi atau berita yang melulu itu-itu saja, hingga bagaimana aktivitas seni rupa berlangsung amat mainstream ditengah ke-chaos-an hari ini, semua tadi adalah salah satu pemicu munculnya kebosanan dan kejenuhan mereka. Rasa bosan inilah yang kemudian menjadi pengantar mereka untuk hadir ditengah-tengah publik sambil mengumandangkan kebebasan ekspresi mereka.

Sebagai sebuah aktivitas kolaborasi-kolektif, mereka berempat tidak menawarkan gagasan yang teramat spesial seperti kelompok-kelompok lainnya. Tujuan mereka dalam pameran ini sederhana, yaitu untuk bisa menunjukkan hasil eksplorasi di dalam karya mereka.

Karya-karya yang mereka hadirkan dalam pameran ini berwujud dua dimensi, sebagian merupakan hasil kerja di media digital dan sebagian lagi dikerjakan dengan teknik tradisional. Beberapa diantaranya merupakan karya kolaborasi antar Aco-Ucup dan Joning-Yoga, serta karya kolaborasi yang dikerjakan oleh mereka berempat. Eksplorasi-eksplorasi yang tampak dalam karya-karya ini beragam mulai dari teknik hingga bahasa atau teks visual yang dipakai.

Aco misalnya, secara sadar meminjam objek-objek yang ia rasa cukup universal atau dikenali banyak orang seperti salah satunya Medusa, Centaurus, Dewi Sarasvati, dan sebagainya. Ia kemudian dengan seenaknya mengolah kembali bentuk objek-objek tadi yang semula telah dianggap mapan oleh orang-orang. Transformasi pada objek-objek tersebut ia lakukan dengan cara menghilangkan, mengganti hingga menambahkan bagian-bagian tertentu. Aco mengungkapkan bahwa obsesinya dalam memanipulasi muncul sebagai manifestasi idenya terhadap keindahan yang ideal.

Sama-sama mengolah bentuk, Joning merekam keseharian manusia di dalam karyanya menggunakan karakter-karakter fantatif menyerupai bentuk hewan yang ia ciptakan. Dalam karya-karyanya ia cenderung menggunakan pendekatan imajinatif yang terbangun lewat pengalaman-pengalamannya saat menikmati film kartun semasa kecil bahkan hingga sekarang. Ketertarikannya tersebut membuatnya terus menerus melakukan eksplorasi pada bentuk-bentuk hewan dengan imbuhan aktivitas dan ekspresi yang jenaka.

Melihat karya Ucup mengingatkan kita pada wujud tembok pyramid atau dinding gua primitif. Ia mendominasi karya-karyanya dengan garis-garis yang tebal secara spontan. Garis-garis serupa coretan asal ini membentuk simbol-simbol yang kadang abstrak dan ia anggap dapat mewakili wujud ketidaktahuannya atas dirinya sendiri.

Dalam bidang gambarnya yang penuh juga ia sengaja menyembunyikan simbol-simbol tertentu yang ia manfaatkan sebagai wahana untuk bermain bersama penikmat karyanya. Eksplorasi dalam karyanya juga tampak pada bagaimana Ucup coba menghadirkan elemen utama karyanya yaitu garis ditengah panel-panel warna yang cerah dan berani.

Yoga yang akrab disapa Mamang juga turut merayakan pameran ini dengan goresan-goresan ekspresifnya. Karya drawing yang ia hasilkan menggunakan berbagai macam pulpen menggambarkan macam-macam bentuk yang ia akui muncul begitu saja dalam pikirannya. Alam bawah sadarnya seolah menyediakan objek secara acak ketika ia mulai menarik garis hingga ia akhirya menghasilkan sebuah objek yang utuh.

Objek-objek dalam karyanya berupa figur-figur yang menyerupai patung, tengkorak, hewan, hingga bentuk yang tidak umum. Paduan antara bidang kosong, warna dan garis-garis luwes dan dinamis adalah yang ingin ditonjolkan Mamang dalam karya drawingnya.

Mereka berempat dalam pameran ini terbaca lebih mempersoalkan bentuk atau teks visual dibanding apa yang ingin mereka kemukakan. Meski demikian, karya-karya mereka tidak menutup kemungkinan untuk ditafsir lebih dalam dan rinci.

Maka pameran virtual “Bosan.. Bosan.. Bosan.. Kami Mulai Bosan” dan melalui karya-karya yang ditampilkan walaupun tidak mempersoalkan isu yang serius, kami harap dapat sedikit tidaknya melepas lara dan memberi hiburan. Sesederhana itu. Terima kasih dan selamat mengapresiasi!

Singaraja Mei 2020,

Tags: PameranPameran Seni Rupapameran virtualvirtual
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

Next Post

Laksana Dharma

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Atat Yang Bijaksana #1

Laksana Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co