23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laksana Dharma

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
June 9, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Laksanakan dharma! Nasihat itu diulang berulang kali oleh Bhagawan Wararuci. Meskipun Bhagawan yakin dengan Subha Karma sebagai cara untuk melewati laut kesengsaraan dan kelahiran, dia sendiri tidak bisa memastikan setelah melakukannya semua manusia bisa terlepas dari penderitaan atau tidak. Khusus bagi siapa saja yang sudah berbuat baik dari pangkal sampai ujung, tapi tidak bisa lepas dari ikatan kelahiran-kematian, dia dianggap sebagai orang sial [kabancana].

Meskipun begitu, Bhagawan terus menerus memanggil siapa saja dan berharap mendengarkan ucapannya. Mencari harta dan pemenuhan keinginan, mestilah didasari oleh dharma. Begitu terus menerus Bhagawan berkata, meski tidak ada yang mendengarkan. Meski mendengar, banyak yang tak paham. Meski paham, tidak ada yang menjalani. Memahami tapi tak menjalani, tak ubahnya seperti seorang Wiku Wikalpa menurut teks Malawi.

Apa sebabnya Dharma Laksana sulit dijalani? Selain karena konsepnya yang berhimpit sini sana, kesulitan itu lahir karena selalu sulit melakukan yang baik-baik. Agar disebut baik, sesuatu harus sesuai dengan norma atau ketentuan. Sayangnya, norma-norma itu sangat sering berhimpitan, tumpang tindih, dan bahkan bertolak belakang. Ada banyak ketentuan yang mesti dipenuhi agar kebaikan bisa dijalani dengan baik.

Contoh dasar dari pelaksanaan kebaikan adalah Dasa Yama-Niyama Brata. Belum lagi melaksanakan, memahami konsepnya saja sudah sulit. Setidaknya ada tiga kelompok Dasa Yama-Niyama Brata. Kelompok pertama, adalah konsep dasar tentang sepuluh Brata yang merupakan gabungan antara lima Yama Brata dan lima Niyama Brata. Karena keduanya digabung, disebutlah Dasa Yama-Niyama Brata. Dasa artinya sepuluh.

Kelompok kedua adalah sepuluh Yama Brata. Sepuluh Yama Brata itu ialah: 1] Tidak mementingkan diri sendiri, 2] Memaafkan, 3] Teguh pada kebenaran, 4] Tidak menggunakan kekerasan, 5] Menasehati diri, 6] Jujur, 7] Mengasihi semua makhluk, 8] Suci hati dan pikiran, 9] Sikap lembut dan sopan, 10] Rendah hati. Sepuluh Niyama Brata ialah: 1] Mau dan mampu memberi, 2] Memuja Tuhan dan leluhur, 3] Pemanasan diri, 4] Pemusatan pikiran, 5] Mempelajarai dan memahami ajaran, 6] Mengendalikan nafsu kelamin, 7] Menepati janji, 8] Berpuasa, 9] Mendiamkan lidah, 10] Menyucikan diri setiap hari.

Kelompok pertama tidak disebutkan dan dijelaskan lagi dalam tulisan ini karena tidak sulit menemukannya pada berbagai sumber. Ketiga kelompok ini tidaklah berbeda sama sekali. Ketiganya mengajarkan untuk memperhatikan tubuh mulai dari lapisan paling kasar sampai yang halus. Ajaran yang memusatkan perhatian pada tubuh, adalah salah satu ciri Tantra. Ketiganya adalah dasar-dasar yoga. Yoga dalam pandangan saya, tidak sebatas pada olah fisik tapi juga mistik. Tidak hanya tentang merawat kehidupan, tapi juga menyiapkan kematian.

Sang Dharmika adalah sebutan bagi siapa saja yang bertindak sesuai dengan Dharma. Sarasamuccaya yang kita jadikan pusat pembicaraan akhir-akhir ini, membedakan antara Pandita dan Dharmika. Sang Dharmika diposisikan lebih tinggi dari Sang Pandita. Sang Pandita selalu memuja dan memuji Sang Dharmika. Siapakah Sang Dharmika?

Sang Dharmika bisa saja orang yang telah berhasil membadankan Dharma tanpa embel-embel gelar Pandita, tanpa gelar akademis, atau gelar pejalan spiritual. Sang Dharmika bisa juga Dharma itu sendiri. Sang Dharmika bisa jadi adalah seorang Pandita yang bertindak sesuai Dharma. Sang Dharmika bisa siapa saja. Bisa mereka, bisa juga kita jika menjalankan segala sesuatu sesuai Dharma. Tetapi, hati-hati mengaku Dharmika karena siapa saja yang menjalankan Dharma tidak pernah mengakungaku.

Ada beberapa perumpamaan untuk Dharma menurut Bhagawan Wararuci. Dharma diumpamakan seperti perahu yang membuat banyak musafir bisa menyeberangi lautan dan menemukan tempat baru. Dharma juga diumpamakan seperti jalan. Jalan yang satu ini menuju sebuah tempat bernama Swarga. Menemukan jalan, berarti menemukan Dharma. Menemukan Dharma berarti menemukan apa yang dicari selama masih hidup dalam pandangan Hindu.

Hidup yang dilandasi dengan Dharma, adalah hidup yang ideal. Disebut ideal, karena Dharma menjadi dasar untuk mendapatkan harta, kama dan moksa. Harta yang baik, diperoleh tanpa meniadakan Dharma. Dharma juga yang mengatur keinginan [kama]. Jika harta dan kama didasarkan pada Dharma, kebebasan akan dicapai. Ciri-ciri orang bebas dari harta, rela memberi.

Ciri orang yang bebas dari kama, rela kehilangan. Merelakan adalah tugas paling sulit sebelum mencapai tujuan akhir. Harta yang diperoleh dengan susah payah, mesti rela diberikan kepada orang yang tepat pada saat yang tepat pula. Pemberian yang tepat waktu dan tepat orang, adalah pemberian yang utama. Rela kehilangan sesuatu yang paling berharga, tidaklah gampang. Contoh kehilangan yang sulit adalah kehilangan hidup. Hanya orang yang benar-benar memiliki, yang berani kehilangan tanpa merasa kehilangan. [T]

Tags: filsafatfilsafat balirenungansastra
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Bosan… Bosan… Bosan… Kami Mulai Bosan – [Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

Next Post

Naga Api, dan Semburan Api Sejati

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Penyesalan Kelelawar

Naga Api, dan Semburan Api Sejati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co