3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laksana Dharma

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
June 9, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Laksanakan dharma! Nasihat itu diulang berulang kali oleh Bhagawan Wararuci. Meskipun Bhagawan yakin dengan Subha Karma sebagai cara untuk melewati laut kesengsaraan dan kelahiran, dia sendiri tidak bisa memastikan setelah melakukannya semua manusia bisa terlepas dari penderitaan atau tidak. Khusus bagi siapa saja yang sudah berbuat baik dari pangkal sampai ujung, tapi tidak bisa lepas dari ikatan kelahiran-kematian, dia dianggap sebagai orang sial [kabancana].

Meskipun begitu, Bhagawan terus menerus memanggil siapa saja dan berharap mendengarkan ucapannya. Mencari harta dan pemenuhan keinginan, mestilah didasari oleh dharma. Begitu terus menerus Bhagawan berkata, meski tidak ada yang mendengarkan. Meski mendengar, banyak yang tak paham. Meski paham, tidak ada yang menjalani. Memahami tapi tak menjalani, tak ubahnya seperti seorang Wiku Wikalpa menurut teks Malawi.

Apa sebabnya Dharma Laksana sulit dijalani? Selain karena konsepnya yang berhimpit sini sana, kesulitan itu lahir karena selalu sulit melakukan yang baik-baik. Agar disebut baik, sesuatu harus sesuai dengan norma atau ketentuan. Sayangnya, norma-norma itu sangat sering berhimpitan, tumpang tindih, dan bahkan bertolak belakang. Ada banyak ketentuan yang mesti dipenuhi agar kebaikan bisa dijalani dengan baik.

Contoh dasar dari pelaksanaan kebaikan adalah Dasa Yama-Niyama Brata. Belum lagi melaksanakan, memahami konsepnya saja sudah sulit. Setidaknya ada tiga kelompok Dasa Yama-Niyama Brata. Kelompok pertama, adalah konsep dasar tentang sepuluh Brata yang merupakan gabungan antara lima Yama Brata dan lima Niyama Brata. Karena keduanya digabung, disebutlah Dasa Yama-Niyama Brata. Dasa artinya sepuluh.

Kelompok kedua adalah sepuluh Yama Brata. Sepuluh Yama Brata itu ialah: 1] Tidak mementingkan diri sendiri, 2] Memaafkan, 3] Teguh pada kebenaran, 4] Tidak menggunakan kekerasan, 5] Menasehati diri, 6] Jujur, 7] Mengasihi semua makhluk, 8] Suci hati dan pikiran, 9] Sikap lembut dan sopan, 10] Rendah hati. Sepuluh Niyama Brata ialah: 1] Mau dan mampu memberi, 2] Memuja Tuhan dan leluhur, 3] Pemanasan diri, 4] Pemusatan pikiran, 5] Mempelajarai dan memahami ajaran, 6] Mengendalikan nafsu kelamin, 7] Menepati janji, 8] Berpuasa, 9] Mendiamkan lidah, 10] Menyucikan diri setiap hari.

Kelompok pertama tidak disebutkan dan dijelaskan lagi dalam tulisan ini karena tidak sulit menemukannya pada berbagai sumber. Ketiga kelompok ini tidaklah berbeda sama sekali. Ketiganya mengajarkan untuk memperhatikan tubuh mulai dari lapisan paling kasar sampai yang halus. Ajaran yang memusatkan perhatian pada tubuh, adalah salah satu ciri Tantra. Ketiganya adalah dasar-dasar yoga. Yoga dalam pandangan saya, tidak sebatas pada olah fisik tapi juga mistik. Tidak hanya tentang merawat kehidupan, tapi juga menyiapkan kematian.

Sang Dharmika adalah sebutan bagi siapa saja yang bertindak sesuai dengan Dharma. Sarasamuccaya yang kita jadikan pusat pembicaraan akhir-akhir ini, membedakan antara Pandita dan Dharmika. Sang Dharmika diposisikan lebih tinggi dari Sang Pandita. Sang Pandita selalu memuja dan memuji Sang Dharmika. Siapakah Sang Dharmika?

Sang Dharmika bisa saja orang yang telah berhasil membadankan Dharma tanpa embel-embel gelar Pandita, tanpa gelar akademis, atau gelar pejalan spiritual. Sang Dharmika bisa juga Dharma itu sendiri. Sang Dharmika bisa jadi adalah seorang Pandita yang bertindak sesuai Dharma. Sang Dharmika bisa siapa saja. Bisa mereka, bisa juga kita jika menjalankan segala sesuatu sesuai Dharma. Tetapi, hati-hati mengaku Dharmika karena siapa saja yang menjalankan Dharma tidak pernah mengakungaku.

Ada beberapa perumpamaan untuk Dharma menurut Bhagawan Wararuci. Dharma diumpamakan seperti perahu yang membuat banyak musafir bisa menyeberangi lautan dan menemukan tempat baru. Dharma juga diumpamakan seperti jalan. Jalan yang satu ini menuju sebuah tempat bernama Swarga. Menemukan jalan, berarti menemukan Dharma. Menemukan Dharma berarti menemukan apa yang dicari selama masih hidup dalam pandangan Hindu.

Hidup yang dilandasi dengan Dharma, adalah hidup yang ideal. Disebut ideal, karena Dharma menjadi dasar untuk mendapatkan harta, kama dan moksa. Harta yang baik, diperoleh tanpa meniadakan Dharma. Dharma juga yang mengatur keinginan [kama]. Jika harta dan kama didasarkan pada Dharma, kebebasan akan dicapai. Ciri-ciri orang bebas dari harta, rela memberi.

Ciri orang yang bebas dari kama, rela kehilangan. Merelakan adalah tugas paling sulit sebelum mencapai tujuan akhir. Harta yang diperoleh dengan susah payah, mesti rela diberikan kepada orang yang tepat pada saat yang tepat pula. Pemberian yang tepat waktu dan tepat orang, adalah pemberian yang utama. Rela kehilangan sesuatu yang paling berharga, tidaklah gampang. Contoh kehilangan yang sulit adalah kehilangan hidup. Hanya orang yang benar-benar memiliki, yang berani kehilangan tanpa merasa kehilangan. [T]

Tags: filsafatfilsafat balirenungansastra
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Bosan… Bosan… Bosan… Kami Mulai Bosan – [Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

Next Post

Naga Api, dan Semburan Api Sejati

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Penyesalan Kelelawar

Naga Api, dan Semburan Api Sejati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co