24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Naga Api, dan Semburan Api Sejati

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
June 9, 2020
in Dongeng
Penyesalan Kelelawar

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Saat masih kecil Naga Api tidak tahu kalau dirinya bisa menyemburkan api. Kemampuan menyemburkan api baru dia ketahui saat ia bermain jauh dari rumah. Saat itu, teman-teman sepermainnya yang biasa mengejek jambulnya yang seperti mahkota itu tiba-tiba mengeroyok dan menarik jambulnya.

“Ahhh kamu sombong sekali, selalu pakai jambul agar nampak cantik dan hebat,” kata mereka kemudian mengeroyok, menarik-narik jambulnya. Tentu saja Naga Api marah, dan tak sadar menyemburkan api yang sangat panas ke tubuh pengeroyoknya. Untung saja mereka cepat menghindar sehingga tidak sampai celaka. Tetapi sejak saat itu Naga Api tak punya teman lagi. Naga Api dijauhi, dibicarakan di belakangnya sebagai mahluk yang jahat. Tapi Naga Api berusaha sabar dan menahan diri.

“Tidak semua mahluk bisa menyemburkan api, kamu dianugrahi kemampuan yang luar bisa dari Tuhan, jagalah anugrah itu dengan baik. Ingatlah dalam anugrah juga terkandung masalah. Anggaplah masalah itu juga anugrah dalam bentuk ujian yang harus kamu selesaikan. Sehingga masalahpun akan menjadi anugrah,” pesan kakeknya sebelum mereka berpisah.

Kini Naga Api tak pernah lagi bertemu Kakek, tetapi pesan-pesan Kakek selalu terngiang dalam telinga dan hatinya, membuatnya tak pernah merasa sendiri. Api yang bisa ia semburkan selalu dia usahakan bermanfaat bagi mahluk lain. Naga Api tidak mau anugrah yang ia miliki menjadi masalah bagi mahluk lain dan dirinya.

Di tempatnya yang baru Naga Api merasa sangat disayang dan dihargai, karena ia selalu memakai apinya untuk kebaikan mahluk lain. Banyak orang dan binatang yang ingin bersahabat dengannya, bahkan diantara yang laki-laki banyak yang ingin memilikinya, menjadikannya kekasih. Diantara semuanya ada seseorang yang begitu sangat mencintainya, memanjakannya dan membuatnya merasa sangat berharga.

Ya lelaki itu akhirnya menjadi kekasihnya, selalu mengajaknya kemanapun pergi dan memintanya untuk menyemburkan api pada saat diperlukan.

Setiap saat kekasihnya itu selalu memintanya menyemburkan api, baik untuk memasak makanan, membakar sampah, menghangatkan ruangan dan lain-lain. Naga Api melakukannya dengan senang walaupun tenaganya harus terkuras dan tubuhnya sakit. Naga Api merasa telah melakukan hal yang benar, berkorban demi kebahagiaan kekasihnya.

Suatu hari lelaki itu berbicara pelan kepada Naga Api. Lelaki itu takut Naga Api tersinggung dan marah, atau menjauhinya.

“Saya sangat menyayangimu, saya selalu membutuhkan bantuanmu, jangan pernah tinggalkan saya ya, berjanjilah untuk selalu di sisi saya dan membantu saya sebagai saudara, karena kita ditakdirkan tidak berjodoh, “kata lelaki itu lembut sambil mengelus-elus jambulnya.

Dada Naga Api naik turun, ia ingin menangis, marah, dan meledakkan semua perasaan yang ada di dadanya. Tapi, tak bisa, tangan lelaki itu masih mengelus-elus jambulnya. Naga Api tak ingin lelaki itu terluka, ia tak ingin ada yang terluka, bagaimanapun ia menyayangi lelaki itu. Naga Api berusaha keras agar anugrah semburan api yang dia miliki tak menimbulkan masalah.

Setelah lelaki itu pergi, Naga Api tak kuat menahan gejolak perasaannya. Naga Api tak tahan, tubuhnya terasa panas, tetapi ada rasa kasih yang besar di dalamnya. Tanpa disadari tubuh Naga Api yang merah berubah menjadi ungu, dan semburan apinyapun berwarna ungu. Anehnya semburan api yang tak sengaja mengenai bunga mawar yang sedang mekar membuat bunga itu layu. Naga Api sedih sekali, dan berkali-kali meminta maaf kepada Pohon Mawar.

“Maafkan kesalahan saya, saya telah membuat bungamu layu,” kata Naga Api kepada Pohon Mawar yang tetap tersenyum dengan bunga-bunganya yang lain.

“Marahlah, hukumlah saya, jangan tersenyum terus,” kata Naga Api. Pohon Mawar tetap tersenyum.

“Marah, menghukummu, tidak akan membuat bungaku yang layu segar kembali, malahan bunga-bungaku yang lain akan ikut layu,” jelas Pohon Mawar. Naga Api tertegun mendengar kata-kata Pohon Mawar, ia ingat kata-kata kakeknya.

“Api yang paling bagus adalah api yang tidak berwarna, yang tidak bisa dipadamkan oleh air. Belajarlah menciptakan api itu, api yang tidak membakar, tidak memadamkan, tetapi menciptakan, dan menyegarkan,” kata Kakeknya.

Naga Api tersenyum, ia kini tahu caranya menebus kesalahannya. Naga Api bertekad untuk melatih konsentrasi dan perasaannya agar bisa menyemburkan api bening, agar bisa menyegarkan kembali bunga Mawar yang telah ia buat layu itu.

Naga Api terus berlatih, tanpa makan tanpa minum. Hanya satu tekadnya menciptakan api yang bisa menyegarkan Bunga Mawar yang layu itu.

Jika dahulu Naga Api selalu menyemburkan api dengan semangat yang membara, kini Naga Api melatihnya untuk lebih tenang. Dan benar saja saat pikiran dan perasaannya tenang, tubuh dan api yang disemburkannya juga berubah warna. Kini Naga Api bisa menyemburkan api yang berwarna biru, mematangkan tetapi tidak membara. Naga Api tidak puas, dia berusaha dan berusaha terus untuk melatih perasaannya, menghilangkan semua kebencian, kesedihan dan rasa tidak puas.

Dan aneh, pada saat seperti itu tubuhnya dan semburan apinya berubah menjadi hitam. Naga Api terheran-heran dengan apa yang dilihat dan dialaminya. Naga Api terus berlatih, mengendalikan keinginannya, dan merasakan kasih sayangnya pada Bunga Mawar, hanya kasih sayang. Tiba-tiba saja tubuh dan semburan nafasnya menjadi bening tak berwarna. Pada saat itu Naga Api merasakan kebahagian yang sangat, yang tak bisa diucapkan.

“Bagus cucuku, api yang kamu semburkan adalah penampakan jiwamu, dirimu yang sejati. Api itu banyak jenisnya, kesejatianmu menentukan warna api, ingatlah api bening adalah api yang tak akan padam oleh air, karena api bening adalah api cinta kasih, api semesta. Pertahankanlah…” suara Kakeknya bergema mengisi relung-relung jiwa Naga Api.

Kini Naga Api tahu, bahwa perasaan dan jiwa menentukan warna api yang disemburkannya. Selama ini Naga Api tidak tahu kalau dirinya, dan semua mahluk bisa menciptakan dan menyemburkan api bening dari tubuhnya, semburan api yang sejati. Naga Api hanya tahu api merah membara yang bisa ia semburkan, membuat orang-orang kagum, lalu memanfaatkannya. “Terima kasih Mawar, terima kasih, kau telah mengajarkan aku tentang api yang tak terlihat, tentang semburan api yang sejati” kata Naga Api sambil mencakupkan tangan dan bersujud di depan Pohon Mawar dengan bunga-bunyanya yang mekar dan selalu mekar. [T]

____

BACA Dongeng lain dari penulis Mas Ruscitadewi

____

Tags: dongengfaunafloraPendidikan
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Laksana Dharma

Next Post

Cerita Nang Lepug, Perawat Covid-19

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 5, 2025
0
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

ADA satu danau  berbentuk hati. Danau itu punya air biru jernih. Di sekitar danau tinggallah seekor capung bersama keluarga serangga:...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Nang Lepug, Perawat Covid-19

Cerita Nang Lepug, Perawat Covid-19

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co