12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Naga Api, dan Semburan Api Sejati

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
June 9, 2020
in Dongeng
Penyesalan Kelelawar

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Saat masih kecil Naga Api tidak tahu kalau dirinya bisa menyemburkan api. Kemampuan menyemburkan api baru dia ketahui saat ia bermain jauh dari rumah. Saat itu, teman-teman sepermainnya yang biasa mengejek jambulnya yang seperti mahkota itu tiba-tiba mengeroyok dan menarik jambulnya.

“Ahhh kamu sombong sekali, selalu pakai jambul agar nampak cantik dan hebat,” kata mereka kemudian mengeroyok, menarik-narik jambulnya. Tentu saja Naga Api marah, dan tak sadar menyemburkan api yang sangat panas ke tubuh pengeroyoknya. Untung saja mereka cepat menghindar sehingga tidak sampai celaka. Tetapi sejak saat itu Naga Api tak punya teman lagi. Naga Api dijauhi, dibicarakan di belakangnya sebagai mahluk yang jahat. Tapi Naga Api berusaha sabar dan menahan diri.

“Tidak semua mahluk bisa menyemburkan api, kamu dianugrahi kemampuan yang luar bisa dari Tuhan, jagalah anugrah itu dengan baik. Ingatlah dalam anugrah juga terkandung masalah. Anggaplah masalah itu juga anugrah dalam bentuk ujian yang harus kamu selesaikan. Sehingga masalahpun akan menjadi anugrah,” pesan kakeknya sebelum mereka berpisah.

Kini Naga Api tak pernah lagi bertemu Kakek, tetapi pesan-pesan Kakek selalu terngiang dalam telinga dan hatinya, membuatnya tak pernah merasa sendiri. Api yang bisa ia semburkan selalu dia usahakan bermanfaat bagi mahluk lain. Naga Api tidak mau anugrah yang ia miliki menjadi masalah bagi mahluk lain dan dirinya.

Di tempatnya yang baru Naga Api merasa sangat disayang dan dihargai, karena ia selalu memakai apinya untuk kebaikan mahluk lain. Banyak orang dan binatang yang ingin bersahabat dengannya, bahkan diantara yang laki-laki banyak yang ingin memilikinya, menjadikannya kekasih. Diantara semuanya ada seseorang yang begitu sangat mencintainya, memanjakannya dan membuatnya merasa sangat berharga.

Ya lelaki itu akhirnya menjadi kekasihnya, selalu mengajaknya kemanapun pergi dan memintanya untuk menyemburkan api pada saat diperlukan.

Setiap saat kekasihnya itu selalu memintanya menyemburkan api, baik untuk memasak makanan, membakar sampah, menghangatkan ruangan dan lain-lain. Naga Api melakukannya dengan senang walaupun tenaganya harus terkuras dan tubuhnya sakit. Naga Api merasa telah melakukan hal yang benar, berkorban demi kebahagiaan kekasihnya.

Suatu hari lelaki itu berbicara pelan kepada Naga Api. Lelaki itu takut Naga Api tersinggung dan marah, atau menjauhinya.

“Saya sangat menyayangimu, saya selalu membutuhkan bantuanmu, jangan pernah tinggalkan saya ya, berjanjilah untuk selalu di sisi saya dan membantu saya sebagai saudara, karena kita ditakdirkan tidak berjodoh, “kata lelaki itu lembut sambil mengelus-elus jambulnya.

Dada Naga Api naik turun, ia ingin menangis, marah, dan meledakkan semua perasaan yang ada di dadanya. Tapi, tak bisa, tangan lelaki itu masih mengelus-elus jambulnya. Naga Api tak ingin lelaki itu terluka, ia tak ingin ada yang terluka, bagaimanapun ia menyayangi lelaki itu. Naga Api berusaha keras agar anugrah semburan api yang dia miliki tak menimbulkan masalah.

Setelah lelaki itu pergi, Naga Api tak kuat menahan gejolak perasaannya. Naga Api tak tahan, tubuhnya terasa panas, tetapi ada rasa kasih yang besar di dalamnya. Tanpa disadari tubuh Naga Api yang merah berubah menjadi ungu, dan semburan apinyapun berwarna ungu. Anehnya semburan api yang tak sengaja mengenai bunga mawar yang sedang mekar membuat bunga itu layu. Naga Api sedih sekali, dan berkali-kali meminta maaf kepada Pohon Mawar.

“Maafkan kesalahan saya, saya telah membuat bungamu layu,” kata Naga Api kepada Pohon Mawar yang tetap tersenyum dengan bunga-bunganya yang lain.

“Marahlah, hukumlah saya, jangan tersenyum terus,” kata Naga Api. Pohon Mawar tetap tersenyum.

“Marah, menghukummu, tidak akan membuat bungaku yang layu segar kembali, malahan bunga-bungaku yang lain akan ikut layu,” jelas Pohon Mawar. Naga Api tertegun mendengar kata-kata Pohon Mawar, ia ingat kata-kata kakeknya.

“Api yang paling bagus adalah api yang tidak berwarna, yang tidak bisa dipadamkan oleh air. Belajarlah menciptakan api itu, api yang tidak membakar, tidak memadamkan, tetapi menciptakan, dan menyegarkan,” kata Kakeknya.

Naga Api tersenyum, ia kini tahu caranya menebus kesalahannya. Naga Api bertekad untuk melatih konsentrasi dan perasaannya agar bisa menyemburkan api bening, agar bisa menyegarkan kembali bunga Mawar yang telah ia buat layu itu.

Naga Api terus berlatih, tanpa makan tanpa minum. Hanya satu tekadnya menciptakan api yang bisa menyegarkan Bunga Mawar yang layu itu.

Jika dahulu Naga Api selalu menyemburkan api dengan semangat yang membara, kini Naga Api melatihnya untuk lebih tenang. Dan benar saja saat pikiran dan perasaannya tenang, tubuh dan api yang disemburkannya juga berubah warna. Kini Naga Api bisa menyemburkan api yang berwarna biru, mematangkan tetapi tidak membara. Naga Api tidak puas, dia berusaha dan berusaha terus untuk melatih perasaannya, menghilangkan semua kebencian, kesedihan dan rasa tidak puas.

Dan aneh, pada saat seperti itu tubuhnya dan semburan apinya berubah menjadi hitam. Naga Api terheran-heran dengan apa yang dilihat dan dialaminya. Naga Api terus berlatih, mengendalikan keinginannya, dan merasakan kasih sayangnya pada Bunga Mawar, hanya kasih sayang. Tiba-tiba saja tubuh dan semburan nafasnya menjadi bening tak berwarna. Pada saat itu Naga Api merasakan kebahagian yang sangat, yang tak bisa diucapkan.

“Bagus cucuku, api yang kamu semburkan adalah penampakan jiwamu, dirimu yang sejati. Api itu banyak jenisnya, kesejatianmu menentukan warna api, ingatlah api bening adalah api yang tak akan padam oleh air, karena api bening adalah api cinta kasih, api semesta. Pertahankanlah…” suara Kakeknya bergema mengisi relung-relung jiwa Naga Api.

Kini Naga Api tahu, bahwa perasaan dan jiwa menentukan warna api yang disemburkannya. Selama ini Naga Api tidak tahu kalau dirinya, dan semua mahluk bisa menciptakan dan menyemburkan api bening dari tubuhnya, semburan api yang sejati. Naga Api hanya tahu api merah membara yang bisa ia semburkan, membuat orang-orang kagum, lalu memanfaatkannya. “Terima kasih Mawar, terima kasih, kau telah mengajarkan aku tentang api yang tak terlihat, tentang semburan api yang sejati” kata Naga Api sambil mencakupkan tangan dan bersujud di depan Pohon Mawar dengan bunga-bunyanya yang mekar dan selalu mekar. [T]

____

BACA Dongeng lain dari penulis Mas Ruscitadewi

____

Tags: dongengfaunafloraPendidikan
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Laksana Dharma

Next Post

Cerita Nang Lepug, Perawat Covid-19

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Nang Lepug, Perawat Covid-19

Cerita Nang Lepug, Perawat Covid-19

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co