23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Nang Lepug, Perawat Covid-19

I Wayan Putra Yasa by I Wayan Putra Yasa
June 9, 2020
in Esai
Cerita Nang Lepug, Perawat Covid-19

Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Di tengah lelah  fisik karena ada acara keluarga yang meninggal dan membahas pandemi Covid19 yang begitu menakutkan pukul 21.33 wita tanggal 20 Maret 2020 WA Grup Keluarga berdering. Nang Lepug mengirimkan pesan….”Nyama jani cang lakar metempurne ajak musuh….minta doa restu semoga diberikan kekuatan dan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan, suksma nyamane”…( Saudaraku sekarang saya akan bertempur melawan musuh…minta doa restu semoga diberikan kekuatan dan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan ….terima kasih saudara-saudarakau).

Pesan singkat namun cukup menebar ketakutan bagi kami sekeluarga, mendadak rame grup WA Keluarga yang biasanya mati suri. Semua bertanya-tanya apa maksudnya, pertanyaan yang hampir sama. Kok bisa kamu yang merawat, tempat kerjamu kan hanya rumah sakit pinggiran yang secara kelayakan sarana dan prasarana masih sangat terbatas. Nang Lepug menjelaskan itu sudah diperintahkan oleh yang berwenang mungkin sudah dipertimbangkan matang-matang. Kami hanya melaksanakan kewajiban saja sebagai petugas medis. Malam itu semua keluarga bergerilya mencari informasi kenapa bisa disana, ada yang menghubungi kenalan dokter, kenalan ajudan sang penguasa, dan mencari informasi diberbagai media. Kami sekeluarga malam itu benar-benar galau. Semua memegang Handphone sampil sesekali melihat grup WA. Sambil terus bergumam kenapa disana dan kenapa harus Nang Lepug yang merawat. Karena kami tahu rumah sakit itu hanya rumah sakit setingkat puskesmas dipinggiran kota.

Situasi itu membuat kecemasan kami semakin memuncak, berbagai saran pun disampaikan. Nang Lepug berupaya menenangkan kami. Kami semua dengan penuh keraguan mulai merasa nyaman. Ada secercah harapan di balik kegalauan kami, Nang Lepug dengan tegas menyampaikan ini sudah tugas profesi dan tugas kemanusiaan. Kami perawat dan dokter adalah garda terdepan untuk melawan musuh ini. Kami yakin akan bisa memenangkan perang ini. Ada perasaan lega dan juga bangga begitu hebat dedikasi dan pengabdian para petugas medis yang menjadi garda terdepan melawan Covid19 ini. Nang Lepug yang biasanya meboya malam itu menunjukkan kalau dia juga bisa begitu berwibawa dan punya tanggungjawab.

Keesokan harinya pagi-pagi Grup WA Keluarga kembali berdering.  Nang Lepug minta kamar dan rumah yang dipakai untuk istirahat agar disterilkan. Bapak yang biasanya istirahat di sana diminta untuk pindah ke bangunan lainnya. Nang Lepug meminta disedikan termos, rice cooker, piring, sendok, dan peralatan lainnya untuk dipakai sendiri. Kami juga diminta untuk tidak masuk kerumah itu selama dia merawat pasien Covid19. Setiap minggu kamar dan tempat barang-barangnya harus di semprot disinpektan. Begitu juga ketika pulang semua barang yang dibawa dan pakaian disemprot disinpektan. Kami juga harus menyediakan air panas karena sehabis datang dari rumah sakit Nang Lepug harus mencuci dan merendam seluruh pakaiannya demi memastikan bahwa dia aman.  Begitu displinnya Nang Lepug mencegah jika hal yang tak diinginkan terjadi pada dirinya. Karena dia menyadari bahwa Perawat dan Dokter adalah orang yang paling rentan tertular. Ini terbukti dari berbagai informasi di rumah sakit banyak perawat dan dokter menjadi korban karena covid 19.

Cang Mulih jani….begitulah isi pesan di Grup WA keluarga jika Nang Lepug sudah pulang dari rumah sakit tempatnya bertugas. Berarti di rumah sudah harus memasak air panas, menyediakan makanan dan lauknya. Terkadang sedih dan terharu jika diingat, ketika Nang Lepug minta makan atau minum dia akan melemparkan atau mendorong piringnya dari dalam rumah ke teras rumah. Kemudian datang adiknya Jhon atau keluarga yang lain membawa nasi kemudian diisi dipiring lengkap dengan lauknya. Setelah Si Jhon mengisi nasi dan beranjak pergi, sambil bilang sudah Lepug dan dia berlalu. Baru Lepug keluar mengambil nasi itu. Jaga jarak benar-benar diterapkan, tidak hanya sekedar wacana dan retorika pemanis bibir belaka. Itu sudah dilakukan hampir sebulan ini. Setiap hari dia hanya berdiam di kamar mengisolasi diri. Lazimnya Lepug selalu nongkrong dengan teman sebayanya. Tetapi kini hanya bisa tercengkrama di media sosial tertawa dan saling suport di grup WA dan medsos lainnya.

Sedangkan di luar sana ada informasi pemerintah daerahnya menyediakan hotel, Pekerja Migrasi Indonesia (PMI) dikarantina di hotel disediakan makan dan semua biaya di tanggung pemerintah. Sedangkan Nang Lepug harus begitu dan mungkin banyak Nang Lepug lainnya yang tidak tersentuh bergulat dengan APD berjam-jam melawan rasa lapar dan haus, mengisolasi diri, melawan lelah tak ada yang tahu. Belum lagi adanya penolakan Perawat tinggal di rumah kost, penolakan pemakaman jenazahnya, ada gosip-gosip yang  mencibir bahwa perawat dan dokter bisa membawa virus terus bergulir. Sering kami berharap apakah tidak bisa mereka juga disedikan tempat tinggal sementara semacam kost atau hotel kayak PMI. Jika melihat pengorbannya tak berlebih jika mereka mendapatkan fasilitas itu demi keselamatan dan kenyamanan mereka bekerja.

Untungnya perawat dan dokter seperti Nang Lepug tidak seperti masyarakat yang menolak pemakaman mereka. Coba jika mereka menolak merawat kita yang sakit, kita bisa berbuat apa. Kalau tidak bisa membantu janganlah anda mempersulit disituasi yang sulit ini. Mereka sudah mengorbankan banyak hal untuk melawan covid19 dari nyawa, harta, dan kesempatan berkumpul dengan keluarga. Sedangkan kita hanya harus berdoa dan mendukung dengan diam dirumah sambil bercengkrama dengan yang terkasih.

Wahai kalian yang masih keluar tidak pakai masker, yang masih menganggap kumpul-kumpul tidak bermasalah, yang tidak mendengarkan dan melaksanakan himbauan pemerintah. Sadarlah kasihan Nang Lepug kasihan Dokter, kasihanilah keluarga dan masyarakat di sekitar anda. Kalian mungkin tidak akan berdampak karena imunitas tubuhnya kuat. Tidak terimbas karena uang di tabungan masih banyak. Tidak bekerja setahun masih bisa makan enak. Tetapi anak kecil, orang tua yang renta, Nang Lepug, masyarakat pekerja harian mereka tidak bisa hidup aman. Tidak bisa mencari nafkah, tidak bisa hidup normal berinteraksi dengan yang lainnya. Semakin lama pandemi ini berlangsung, kita semua tidak akan mati karena Corona tapi mati karena merana tidak makan, stres dirumah saja.

Sadarlah bahwa ini adalah masalah kita semua, mari bekerja sama saling bahu membahu, bekerja sama saling meringankan, tinggallah di rumah, jaga kebersihan, pakailah masker jika keluar. Agar pandemi ini segera berakhir dan kita bisa hidup normal lagi. Mari tunjukan kalian masih punya otak untuk berpikir dan punya hati untuk merasa. Pemerintah sudah memberikan berbagai kebijakan tentu tidak bisa menyenangkan semua orang dan tidak secepat memperbaharui status medsos kita. Kita sebagai masyarakat harus membantu meringankan pekerjaan ini dengan melakukan social distancing/ physical distancing, menghindari kerumuman, tinggal dirumah saja, mencuci tangan setiap waktu dengan sabun. Astungkara semua akan baik-baik saja. Swaha. [T]

Tags: covid 19dokterpetugas medis
Share97TweetSendShareSend
Previous Post

Naga Api, dan Semburan Api Sejati

Next Post

Kegelisahan, Pengalaman Empirik, dan Kecintaan Terhadap “Natah Palekadan” – Pengantar Buku Orang Desa Bicara Desa

I Wayan Putra Yasa

I Wayan Putra Yasa

Staf Dosen Prodi Pendidikan Sejarah. Lahir di Karangasem, 24 Juni 1984 Pendidikan S1 Pendidikan Sejarah, Undiksha dn S2 Pendidikan Sejarah, Universitas Sebelas Maret

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kegelisahan, Pengalaman Empirik, dan Kecintaan Terhadap “Natah Palekadan” – Pengantar Buku Orang Desa Bicara Desa

Kegelisahan, Pengalaman Empirik, dan Kecintaan Terhadap “Natah Palekadan” - Pengantar Buku Orang Desa Bicara Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co