3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Nang Lepug, Perawat Covid-19

I Wayan Putra Yasa by I Wayan Putra Yasa
June 9, 2020
in Esai
Cerita Nang Lepug, Perawat Covid-19

Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Di tengah lelah  fisik karena ada acara keluarga yang meninggal dan membahas pandemi Covid19 yang begitu menakutkan pukul 21.33 wita tanggal 20 Maret 2020 WA Grup Keluarga berdering. Nang Lepug mengirimkan pesan….”Nyama jani cang lakar metempurne ajak musuh….minta doa restu semoga diberikan kekuatan dan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan, suksma nyamane”…( Saudaraku sekarang saya akan bertempur melawan musuh…minta doa restu semoga diberikan kekuatan dan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan ….terima kasih saudara-saudarakau).

Pesan singkat namun cukup menebar ketakutan bagi kami sekeluarga, mendadak rame grup WA Keluarga yang biasanya mati suri. Semua bertanya-tanya apa maksudnya, pertanyaan yang hampir sama. Kok bisa kamu yang merawat, tempat kerjamu kan hanya rumah sakit pinggiran yang secara kelayakan sarana dan prasarana masih sangat terbatas. Nang Lepug menjelaskan itu sudah diperintahkan oleh yang berwenang mungkin sudah dipertimbangkan matang-matang. Kami hanya melaksanakan kewajiban saja sebagai petugas medis. Malam itu semua keluarga bergerilya mencari informasi kenapa bisa disana, ada yang menghubungi kenalan dokter, kenalan ajudan sang penguasa, dan mencari informasi diberbagai media. Kami sekeluarga malam itu benar-benar galau. Semua memegang Handphone sampil sesekali melihat grup WA. Sambil terus bergumam kenapa disana dan kenapa harus Nang Lepug yang merawat. Karena kami tahu rumah sakit itu hanya rumah sakit setingkat puskesmas dipinggiran kota.

Situasi itu membuat kecemasan kami semakin memuncak, berbagai saran pun disampaikan. Nang Lepug berupaya menenangkan kami. Kami semua dengan penuh keraguan mulai merasa nyaman. Ada secercah harapan di balik kegalauan kami, Nang Lepug dengan tegas menyampaikan ini sudah tugas profesi dan tugas kemanusiaan. Kami perawat dan dokter adalah garda terdepan untuk melawan musuh ini. Kami yakin akan bisa memenangkan perang ini. Ada perasaan lega dan juga bangga begitu hebat dedikasi dan pengabdian para petugas medis yang menjadi garda terdepan melawan Covid19 ini. Nang Lepug yang biasanya meboya malam itu menunjukkan kalau dia juga bisa begitu berwibawa dan punya tanggungjawab.

Keesokan harinya pagi-pagi Grup WA Keluarga kembali berdering.  Nang Lepug minta kamar dan rumah yang dipakai untuk istirahat agar disterilkan. Bapak yang biasanya istirahat di sana diminta untuk pindah ke bangunan lainnya. Nang Lepug meminta disedikan termos, rice cooker, piring, sendok, dan peralatan lainnya untuk dipakai sendiri. Kami juga diminta untuk tidak masuk kerumah itu selama dia merawat pasien Covid19. Setiap minggu kamar dan tempat barang-barangnya harus di semprot disinpektan. Begitu juga ketika pulang semua barang yang dibawa dan pakaian disemprot disinpektan. Kami juga harus menyediakan air panas karena sehabis datang dari rumah sakit Nang Lepug harus mencuci dan merendam seluruh pakaiannya demi memastikan bahwa dia aman.  Begitu displinnya Nang Lepug mencegah jika hal yang tak diinginkan terjadi pada dirinya. Karena dia menyadari bahwa Perawat dan Dokter adalah orang yang paling rentan tertular. Ini terbukti dari berbagai informasi di rumah sakit banyak perawat dan dokter menjadi korban karena covid 19.

Cang Mulih jani….begitulah isi pesan di Grup WA keluarga jika Nang Lepug sudah pulang dari rumah sakit tempatnya bertugas. Berarti di rumah sudah harus memasak air panas, menyediakan makanan dan lauknya. Terkadang sedih dan terharu jika diingat, ketika Nang Lepug minta makan atau minum dia akan melemparkan atau mendorong piringnya dari dalam rumah ke teras rumah. Kemudian datang adiknya Jhon atau keluarga yang lain membawa nasi kemudian diisi dipiring lengkap dengan lauknya. Setelah Si Jhon mengisi nasi dan beranjak pergi, sambil bilang sudah Lepug dan dia berlalu. Baru Lepug keluar mengambil nasi itu. Jaga jarak benar-benar diterapkan, tidak hanya sekedar wacana dan retorika pemanis bibir belaka. Itu sudah dilakukan hampir sebulan ini. Setiap hari dia hanya berdiam di kamar mengisolasi diri. Lazimnya Lepug selalu nongkrong dengan teman sebayanya. Tetapi kini hanya bisa tercengkrama di media sosial tertawa dan saling suport di grup WA dan medsos lainnya.

Sedangkan di luar sana ada informasi pemerintah daerahnya menyediakan hotel, Pekerja Migrasi Indonesia (PMI) dikarantina di hotel disediakan makan dan semua biaya di tanggung pemerintah. Sedangkan Nang Lepug harus begitu dan mungkin banyak Nang Lepug lainnya yang tidak tersentuh bergulat dengan APD berjam-jam melawan rasa lapar dan haus, mengisolasi diri, melawan lelah tak ada yang tahu. Belum lagi adanya penolakan Perawat tinggal di rumah kost, penolakan pemakaman jenazahnya, ada gosip-gosip yang  mencibir bahwa perawat dan dokter bisa membawa virus terus bergulir. Sering kami berharap apakah tidak bisa mereka juga disedikan tempat tinggal sementara semacam kost atau hotel kayak PMI. Jika melihat pengorbannya tak berlebih jika mereka mendapatkan fasilitas itu demi keselamatan dan kenyamanan mereka bekerja.

Untungnya perawat dan dokter seperti Nang Lepug tidak seperti masyarakat yang menolak pemakaman mereka. Coba jika mereka menolak merawat kita yang sakit, kita bisa berbuat apa. Kalau tidak bisa membantu janganlah anda mempersulit disituasi yang sulit ini. Mereka sudah mengorbankan banyak hal untuk melawan covid19 dari nyawa, harta, dan kesempatan berkumpul dengan keluarga. Sedangkan kita hanya harus berdoa dan mendukung dengan diam dirumah sambil bercengkrama dengan yang terkasih.

Wahai kalian yang masih keluar tidak pakai masker, yang masih menganggap kumpul-kumpul tidak bermasalah, yang tidak mendengarkan dan melaksanakan himbauan pemerintah. Sadarlah kasihan Nang Lepug kasihan Dokter, kasihanilah keluarga dan masyarakat di sekitar anda. Kalian mungkin tidak akan berdampak karena imunitas tubuhnya kuat. Tidak terimbas karena uang di tabungan masih banyak. Tidak bekerja setahun masih bisa makan enak. Tetapi anak kecil, orang tua yang renta, Nang Lepug, masyarakat pekerja harian mereka tidak bisa hidup aman. Tidak bisa mencari nafkah, tidak bisa hidup normal berinteraksi dengan yang lainnya. Semakin lama pandemi ini berlangsung, kita semua tidak akan mati karena Corona tapi mati karena merana tidak makan, stres dirumah saja.

Sadarlah bahwa ini adalah masalah kita semua, mari bekerja sama saling bahu membahu, bekerja sama saling meringankan, tinggallah di rumah, jaga kebersihan, pakailah masker jika keluar. Agar pandemi ini segera berakhir dan kita bisa hidup normal lagi. Mari tunjukan kalian masih punya otak untuk berpikir dan punya hati untuk merasa. Pemerintah sudah memberikan berbagai kebijakan tentu tidak bisa menyenangkan semua orang dan tidak secepat memperbaharui status medsos kita. Kita sebagai masyarakat harus membantu meringankan pekerjaan ini dengan melakukan social distancing/ physical distancing, menghindari kerumuman, tinggal dirumah saja, mencuci tangan setiap waktu dengan sabun. Astungkara semua akan baik-baik saja. Swaha. [T]

Tags: covid 19dokterpetugas medis
Share97TweetSendShareSend
Previous Post

Naga Api, dan Semburan Api Sejati

Next Post

Kegelisahan, Pengalaman Empirik, dan Kecintaan Terhadap “Natah Palekadan” – Pengantar Buku Orang Desa Bicara Desa

I Wayan Putra Yasa

I Wayan Putra Yasa

Staf Dosen Prodi Pendidikan Sejarah. Lahir di Karangasem, 24 Juni 1984 Pendidikan S1 Pendidikan Sejarah, Undiksha dn S2 Pendidikan Sejarah, Universitas Sebelas Maret

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kegelisahan, Pengalaman Empirik, dan Kecintaan Terhadap “Natah Palekadan” – Pengantar Buku Orang Desa Bicara Desa

Kegelisahan, Pengalaman Empirik, dan Kecintaan Terhadap “Natah Palekadan” - Pengantar Buku Orang Desa Bicara Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co