24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Akhmad Faozi Sundoyo by Akhmad Faozi Sundoyo
February 17, 2021
in Ulasan
Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Foto Emha diambil dari caknun.com

Puisi bisa sangat pendek, sependek surat al-Kautsar. Bahkan bisa lebih pendek lagi. Puisi bisa pula sangat panjang, walaupun tidak sepanjang surat al-Baqarah.

Emha Ainun Nadjib dalam Satu Kekasihku, cuma butuh satu bait dan empat baris kalimat untuk berpuisi.

Mati hidup satu kekasihku // Takkan kubikin ia cemburu // Kurahasiakan dari anak istri // Kulindungi dari politik dan kiyai.

Iqbal, filsuf dan penyair India, bisa berpuisi sangat panjang. Dalam Tulip Dari Sinai dia bersajak sepanjang seratus enam puluh tiga (163) bait.Jumlah barisnya bersisi 163×4 = 652 kalimat. Tentu tidak akan saya tuliskan tubuh utuhnya di sini.

Saya akan mendaras puisi. Semacam balas dendam atas tadarus di bulan Ramadhan kemarin, yang tak cukup khusyu’ karena lebih sibuk menghikmat pandemi, daripada Yang Ilahi.

Seperti kata Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an, tadarus tidak mengharuskan hatam berulang-ulang. Tadarus lebih menekankan bobot penghayatan. Sedemikian tadarus Alquran. Ketika sampai pada puisi, saya kira serupa itu. Karena di puisi, setiap rupa kata mengimplisitkan ‘makna’.

Kalau puisi tidak mau didudukkan sebagai igauan kata, aspek maknawi tersebut harus ditarik ke permukaan, melalui kedalaman pencermatan dan penghayatan. Serupa tadarus tadi.

Kata Emha: Ajari Aku Tidur

Kita berhenti di pelataran rumah eksistensi kepenyairan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, bersejenak membaca pelan-pelan salah satu buah karyanya yang ‘puisi’: Ajari Aku Tidur (1986).


(1)

Tuhan sayang ajari aku tidur

Seperti dulu menemuimu di rahim ibu

Sesudah lahir menjadi anak kehidupan

Sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik dan kebodohan

Bisaku cuma tertidur

Tertidur


(2)

Tuhan sayang tak kurang-kurang engkau menghibur

Tapi setiap kali badan terbujur ruhku bangkit memekik-mekik!

Hidupku jadi ngantuk, luar biasa ngantuk

Tanpa pernah bisa sungguh-sungguh tidur


(3)

Di siang dunia berseliweran kecemasan

Orang-orang berburu prasangka

Menumpuk salah paham terhadap kehidupan

Memburu dugaan, bersandar pada bayangan

Mengulum batu-batu akik, aku ngantuk

Sungguh-sungguh ngantuk


(4)

Di malam segala nina bobo yang menenggelamkan

Tak mampu kubaringkan mati kecilku

Ajari mati, ya tuhan sayang, ajari aku mati

Nasib sejarah menggumpal di jantungku

Jantung mengerjat-ngerjat

Tapi tak pingsan


(5)

Telah beribu kali

Jantung meledak tak mati-mati

Tuhan sayang, ya tuhan sayang

Rinduku amat tua

Dan sakit


Angka-angka di sela bait puisi di atas, bukanlah aslinya. Angka itu adalah tambahan dari saya. Supaya lebih nyaman kita mendaras.

Membaca Ajari Aku Tidur, kita semacam diajak bertanya: tidur yang bagaimana yang dimaksudkan Emha? Mengapa pula sehanya tidur saja, butuh minta ajar?

Bait pertama, sekilas sangat kacau: paradoks. “Tuhan sayang ajari aku tidur”, kata Aku-Sajak. Di pembukaan ini, dia mau mengatakan, dia sedang tidak bisa tidur. Minimalnya tak cukup memahami apa itu tidur. Tetapi baru tiga baris berlalu, dia melakukan pembalikan: “bisaku cuma tertidur”. Belum cukup kuat, dia nyatakan lagi: “Tertidur”.

Bait kedua. Paradoksa atau perseberangan maksud dari kata “ajari tidur” dan “bisaku cuma tertidur”, diuraikan di sini. Penulis ini mengatakan: “hidupku jadi ngantuk, luar biasa ngantuk. Tanpa pernah bisa sungguh-sungguh tidur”. Penulis sajak, menjelaskan perbedaan mengantuk dan tidur. Mengantuk adalah kondisi jengah atau lelah membuka mata ‘kesadaran’. Lelah yang meminta untuk ditidurkannya badan. Tetapi ketika badan telah dibaringkan, disiapkan menuju tidur, hasilnya justru tidak bisa tidur lelap.

Bait ketiga. Dijelaskan di sini, penyebab utama rasa kantuk. Aku-sajak yang mengeluhkan ‘mengantuk’, ternyata karena menurutnya orang-orang kebanyakan menumpuk salah paham terhadap kehidupan, ditambah memburu dugaan, bersandar pada bayangan. Artinya ada kesalahan yang dilakukan banyak orang. Kesalahan ini berupa ‘salah memahami orientasi dan makna hidup’. Mereka hidup berdasarkan ‘dugaan-dugaan’ saja tanpa dilandasi pengetahuan yang kokoh.

Sebagai sandingan, keresahan semacam ini, belakangan dilantangkan oleh Aku Sajak-nya Rendra dalam Hai, Ma (1992). Rendra bahkan lebih panjang lagi melantangkan keresahannya. Tetapi yang paling telak berada pada kata “mereka merobek-robek buku dan menertawakan cita-cita”. Lalu aku sajak, merespon dengan: “aku marah, aku takut, aku gemetar, namun gagal menyusun bahasa”.

Tampaklah—bila dilensa melalui sajak Rendra di atas—yang membuat Aku-Sajak mengantuk dalam Ajari Aku Tidur, ialah nuansa takut, gemetar dan marah yang gagal menemukan pintu pengungkapan atau pelepasan.

Selanjutnya, di bait keempat, kegelisahan ini semakin menjadi. Dikatakan oleh Aku-Sajak bahwa gelisah dan rasa sakit, terus terbawa-bawa setiap akan memejam mata. Di saat lazimnya orang-orang tidur, dia si Aku-Sajak kesakitan mengerjat-ngerjat tanpa henti. Tak kuasa tidur, bahkan setelah membaring-baringkan tubuh.

Di bait penutup, Aku-Sajak masih kesakitan terus menerus. Kesakitan yang telah lama dirasa, dan masih selalu terasa. “Telah beribu-ribu kali, jantung meledak tak mati-mati”.

Sampai di sini, Emha dapat dikatakan mengukuhi jalan puisi yang bukan sebatas untaian kata bersayap, atau semacam bisikan rayuan kekasih kepada terkasihnya. Dia mengajak pembaca sajak dolan ke bilik refleksi ruhani. Sebangun ruang yang di dalamnya berisi (kesadaran) diri yang sunyi, sepi, kadang terasing. Kesunyian si Aku-Sajak, dikikis melalui jalan munajat: meminta ajar kepada Tuhan yang dia tahu Maha Bisa, termasuk bisa menuturkan “ilmu tidur”.

Pengejaan maksud-makna di sini tentu hanyalah sisi pojok saja, dari pembacaan saya. Suara yang mungkin salah, jauh dari tepat, akan tetapi penting. Penting sebagai pembuka suara lain yang mungkin benar, jauh dari menyeleweng. Lain perjumpaan, kita lanjut lagi di ayat-ayat puisi yang lain. []

Bibliografi:

  • Muhammad Iqbal. 1985. Pesan dari Timur (terj. Abdul Hadi WM). Bandung: Pustaka.
  • Emha Ainun Nadjib. 2004. Cahaya Maha Cahaya: Kumpulan Sajak. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Tags: Cak NunEmha Ainun NadjibPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Pelacuran | Potret Buram Kemanusiaan yang Perlu Kaji Tindak Non Diskriminatif

Next Post

Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Akhmad Faozi Sundoyo

Akhmad Faozi Sundoyo

Penulis adalah pembelajar Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. S1 Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Momong anak lanang dan penikmat literasi. Domisili di Pundong, Bantul, Yogyakarta.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co