23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 17, 2021
in Esai
Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Prof. Bawa Atmadja

Seorang guru besar bidang Antropologi yang sangat konsisten menjaga kultur ilmiah, baik di kampus maupun di luar kampus, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA., memasuki masa purnatugas sebagai pengajar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, per 17 Februari 2021.

Seorang muridnya yang kemudian menjadi sahabat kental di dunia pendidikan dan penelitian, Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., mempersembahkan sekumpulan puisi kepada Sang Profesor, guru yang amat dikaguminya itu. Puisi? Ya, puisi.

Sungguh menarik. Puisi, karya sastra yang kerap dicibir sebagai tumpukan kata-kata khayalan, dipersembahkan kepada seorang guru besar yang selama ini dikenal sangat ketat memegang teguh sikap-sikap ilmiah. Kesannya berlawanan, tapi dua hal itu — puisi dan karya ilmiah – sesungguhnya punya hubungan erat. Khayalan biasanya tumbuh juga dari pertanyaan-pertanyaan ilmiah. Karya ilmiah banyak muncul dari tumpukan khayal di kepala.

DI AWAL KU MENGENALMU
Pantai Indah, Medio Nopember 2020

Awal aku tak mengenalmu sebagai guru
Yang kukenal hanyalah sosok yang BIASA SAJA
Persisnya aku tak mengenalmu
Aku asyik dengan duniaku sebagai mahasiswa baru
Penuh gaya
Pesolek
Cuek bebek
Gagap, maklum saja migran baru
Tentangmu di awal tatapanku
Yang kutau KAU hanyalah
Engkau Sosok yang
Kurus
Maaf … Lusuh
Kuyu…
Maaf LAGI: tidak kaya, tinggal di rumah kontrakkan
Tidak bermobil
Biasa dengan vespa bututmu…
Engkau saat itu bukan guru yang populer
Cirinya…
Akrab sama murid
Doyan becanda
Jadi tempat curhat…
Kayaknya hanya itu yang kutahu, ciri guru popoler saat
aku jadi muridmu di ERA LALU
Jalan setapak mengarahkanku tentangmu lebih dari
sekedar yang kutatap di awal
Di lembah gunung
Di amparan sawah yang amat luas
Kaki kecilmu berlari-lari
Konon, hati dan kakimu selalu kau bawa berlari
Hanya untuk mengejar mimpi
Keluar dari stigma anak desa yang…
Kucel
Miskin
Lugu
Yang teramat menyakitkan stigma kebodohan
Semangat yang kuat
Hasrat membara
Dan ternyata tidak cukup itu,
Engkau termasuk anak yang berasal dari Tuan Tanah
Pantas saja, jenjang sekolahmu lancar
Entah latah atau memang mimpi yang dirajut dari awal,
Takdirmu membawa pilihanmu masuk di sekolah
keguruan
Akhirnya, Lahirlah anak di sudut desa yang paling sudut
Di lembah gunung dan hamparan sawah
Dengan Ke Riang an
Pulang
Membawa SELEMBAR ijazah
Yang menjadi gengsi keintelektualanmu
Sebagai anak desa di desa yang paling sudut
Menjadi ilmuwan terhormat

Itu adalah puisi Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., yang ditulis bersama suaminya, Dr. I Ketut Margi, M.Si., yang juga pengajar di Undiksha Singaraja.

Puisi itu terkumpul dalam buku puisi berjudul “Beri Aku Secarik Kertas, Antologi Puisi Persembahan untuk Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A.” yang diterbitkan Mahima Institute Indonesia. Seperti juga puisi “Di Awal Ku Mengenalmu”, puisi lain dalam buku itu semuanya bercerita tentang hubungan Sendratari dan suaminya dengan Prof. Bawa, baik saat kuliah maupun saat sama-sama menjadi pengajar di Undiksha.

Buku puisi persembahan untuk Prof Bawa Atmaja

“Ucap syukur tak terperi atas limpahan kondisi sehat yang telah diberi Sang Pencipta, hingga puisi ini dapat terselesaikan sesuai rencana. Perasaan senang dan gejolak emosi menyertai selama proses penyelesaiannya. Tanpa pelibatan emosi kiranya puisi ini tidak akan pernah
selesai,” kata Luh Putu Sendratari.

Luh Putu Sendratari menuturkan, latar lahirnya puisi ini semata-mata didorong oleh memori panjang yang mengikuti perjalanan kami bersama Prof Bawa Atmadja. “Perjalanannya yang penuh dinamika tampaknya sayang jika hanya disimpan dalam benak saja,” ujarnya.

Dengan menulis puisi, Luh Putu Sendratari tentu saja tak hendak menjadi penyair, atau bercita-cita menjadi penyair. Dalam kata pengantarnya, ia menyebutkan bahwa ia sangat menyadari kemampuan menulis puisi jauh dari standar sastrawan pada umumnya. Namun, berbekal keberanian mencoba dan semangat menuangkan unek-unek ternyata tidak sanggup mengerem kehendak melahirkan puisi untuk dipersembahkan kepada guru/ bapak/teman yang legend, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA.

Jika kata-kata ilmiah tak sanggup menyampaikan perasaan, maka puisi bisa membantu untuk mengangungkapkannya.

Guru Besar yang Sederhana

Luh Putu Sendratari mulai mengenal Prof Bawa pada tahun 1980, saat ia mulai menjadi mahasiswa di Jurusan Sejarah, FKG (Fakultas Keguruan) Universitas Udayana yang kini menjadi Undiksha.

“Kesan mendalam yang tetap melekat terhadap beliau adalah penggunaan bahasa yang sederhana sehingga mudah bisa mengerti apa yang dijelaskan. Prinsip yang beliau pegang jika bisa dengan cara mudah mengapa dibuat sulit. Kesan lainnya adalah jenaka,” kata Luh Putu Sendratari.

Meski bahasanya sederhana dan jenaka, Prof Bawa tak boleh diragukan konsistensinya terhadap kultur ilmiah yang senantiasa berupaya memegang teguh sikap-sikap ilmiah sebagai seorang ilmuwan. Dengan konsistensinya itulah Prof Bawa menjadi figur yang selalu dijadikan orientasi dalam spirit mengajegkan budaya akademik.

Kenapa puisi?

“Agak aneh memang seorang Prof Bawa yang penulis kenal sebagai sosok ilmuwan yang tidak familiar dengan puisi atau karya seni lainnya, tiba-tiba disodorkan bacaan puisi oleh anak didiknya. Namun, puisi ini memang sengaja disiapkan untuk melengkapi perhatian Prof Bawa terhadap hal yang tidak biasa,” kata Luh Putu Sendratari.

Luh Putu Sendratari meyakini puisi pastilah bahasa bermantra yang memuat rasa dari penulisnya, yakni perasaan tertentu terhadap sesuatu yang dianggap penuh makna. Melahirkan puisi kiranya tidak perlu menunggu peristiwa luar biasa yang akan menginspirasi, terhadap hal yang tampak biasa-biasa saja bisa menjadi puisi yang bermakna.

“Misalnya, kami pernah jalan-jalan mendalami fenomena badak yang dihormati, mengamati salib di tengah sawah. Semua itu pengalaman unik bersama Prof Bawa yang sekaligus suatu situasi yang menggugah naluri ilmiah kami sebagai anak didiknya. Hanya melalui jalanjalan, mengendap dalam memori, menjadi puisi. Semoga, Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa menjaga simakrama kami selaku anak didiknya dengan senantiasa mengingat spirit akademik yang telah ditanamkan. Astungkara!” cerita Sendratari.

Prof . Dr. Nengah Bawa  Atmadja, MA., lahir di Tabanan, tepatnya di Desa Riang gede, Penebel, 17 Februari 1951. Ia menyelesaikan S1 di IKIPN Malang, lalu mendapatkan gelar magister dan doktor di Universitas Indonesia. Selain mengajar di Undiksha, ia juga mengajar di pascasarjana Unud Denpasar. Selain itu juga mengajar di pascasarjana UNHI Denpasar dan IHD (kini Universitas Hindu Darma IGB Sugriwa). Jabatan terakhirnya di Undiksha adalah Dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial.

Sebagai seorang profesor dalam bidang ilmu-ilmu sosial, ia punya perhatian sangat besar terhadap persoalan-persoalan adat, budaya dan tradisi di Bali. Bukunya yang ditulisnya banyak sekali. Dari yang banyak itu terdapat hasil-hasil penelitian yang kerap menjadi perbincangan hangat di Bali, seperti tajen dan jogged porno.

Soal tajen ia menulis buku berjudul “Tajen di Bali : Perspektif Homo Complexus”. Buku itu ditulis Anantawikrama Tungga Atmadja, Luh Putu Sri Ariyani dan diterbitkan Pustaka Larasan dan IBBik Undiksha, Tahun : 2015. Soal joged porno, ia menulis buku “Komodifikasi tubuh perempuan: joged” ngebor” Bali”.

Ingin tahu lebih banyak tentang Prof Bawa, baca buku-bukunya. Baca seperempat saja dari semua buku dan artikelnya di berbagai jurnal dipastikan kadar intelektual kita akan menggelembung. Apalagi baca semua bukunya. Apalagi ngobrol sama Pak Prof.

Selamat menjalankan purnatugas, Pak Prof. Mengabdilah terus untuk ilmu pengetahuan…. [T]

Tags: ilmuProf. Nengah Bawa AtmadjaPuisiUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Next Post

Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co