2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 17, 2021
in Esai
Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Prof. Bawa Atmadja

Seorang guru besar bidang Antropologi yang sangat konsisten menjaga kultur ilmiah, baik di kampus maupun di luar kampus, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA., memasuki masa purnatugas sebagai pengajar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, per 17 Februari 2021.

Seorang muridnya yang kemudian menjadi sahabat kental di dunia pendidikan dan penelitian, Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., mempersembahkan sekumpulan puisi kepada Sang Profesor, guru yang amat dikaguminya itu. Puisi? Ya, puisi.

Sungguh menarik. Puisi, karya sastra yang kerap dicibir sebagai tumpukan kata-kata khayalan, dipersembahkan kepada seorang guru besar yang selama ini dikenal sangat ketat memegang teguh sikap-sikap ilmiah. Kesannya berlawanan, tapi dua hal itu — puisi dan karya ilmiah – sesungguhnya punya hubungan erat. Khayalan biasanya tumbuh juga dari pertanyaan-pertanyaan ilmiah. Karya ilmiah banyak muncul dari tumpukan khayal di kepala.

DI AWAL KU MENGENALMU
Pantai Indah, Medio Nopember 2020

Awal aku tak mengenalmu sebagai guru
Yang kukenal hanyalah sosok yang BIASA SAJA
Persisnya aku tak mengenalmu
Aku asyik dengan duniaku sebagai mahasiswa baru
Penuh gaya
Pesolek
Cuek bebek
Gagap, maklum saja migran baru
Tentangmu di awal tatapanku
Yang kutau KAU hanyalah
Engkau Sosok yang
Kurus
Maaf … Lusuh
Kuyu…
Maaf LAGI: tidak kaya, tinggal di rumah kontrakkan
Tidak bermobil
Biasa dengan vespa bututmu…
Engkau saat itu bukan guru yang populer
Cirinya…
Akrab sama murid
Doyan becanda
Jadi tempat curhat…
Kayaknya hanya itu yang kutahu, ciri guru popoler saat
aku jadi muridmu di ERA LALU
Jalan setapak mengarahkanku tentangmu lebih dari
sekedar yang kutatap di awal
Di lembah gunung
Di amparan sawah yang amat luas
Kaki kecilmu berlari-lari
Konon, hati dan kakimu selalu kau bawa berlari
Hanya untuk mengejar mimpi
Keluar dari stigma anak desa yang…
Kucel
Miskin
Lugu
Yang teramat menyakitkan stigma kebodohan
Semangat yang kuat
Hasrat membara
Dan ternyata tidak cukup itu,
Engkau termasuk anak yang berasal dari Tuan Tanah
Pantas saja, jenjang sekolahmu lancar
Entah latah atau memang mimpi yang dirajut dari awal,
Takdirmu membawa pilihanmu masuk di sekolah
keguruan
Akhirnya, Lahirlah anak di sudut desa yang paling sudut
Di lembah gunung dan hamparan sawah
Dengan Ke Riang an
Pulang
Membawa SELEMBAR ijazah
Yang menjadi gengsi keintelektualanmu
Sebagai anak desa di desa yang paling sudut
Menjadi ilmuwan terhormat

Itu adalah puisi Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., yang ditulis bersama suaminya, Dr. I Ketut Margi, M.Si., yang juga pengajar di Undiksha Singaraja.

Puisi itu terkumpul dalam buku puisi berjudul “Beri Aku Secarik Kertas, Antologi Puisi Persembahan untuk Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A.” yang diterbitkan Mahima Institute Indonesia. Seperti juga puisi “Di Awal Ku Mengenalmu”, puisi lain dalam buku itu semuanya bercerita tentang hubungan Sendratari dan suaminya dengan Prof. Bawa, baik saat kuliah maupun saat sama-sama menjadi pengajar di Undiksha.

Buku puisi persembahan untuk Prof Bawa Atmaja

“Ucap syukur tak terperi atas limpahan kondisi sehat yang telah diberi Sang Pencipta, hingga puisi ini dapat terselesaikan sesuai rencana. Perasaan senang dan gejolak emosi menyertai selama proses penyelesaiannya. Tanpa pelibatan emosi kiranya puisi ini tidak akan pernah
selesai,” kata Luh Putu Sendratari.

Luh Putu Sendratari menuturkan, latar lahirnya puisi ini semata-mata didorong oleh memori panjang yang mengikuti perjalanan kami bersama Prof Bawa Atmadja. “Perjalanannya yang penuh dinamika tampaknya sayang jika hanya disimpan dalam benak saja,” ujarnya.

Dengan menulis puisi, Luh Putu Sendratari tentu saja tak hendak menjadi penyair, atau bercita-cita menjadi penyair. Dalam kata pengantarnya, ia menyebutkan bahwa ia sangat menyadari kemampuan menulis puisi jauh dari standar sastrawan pada umumnya. Namun, berbekal keberanian mencoba dan semangat menuangkan unek-unek ternyata tidak sanggup mengerem kehendak melahirkan puisi untuk dipersembahkan kepada guru/ bapak/teman yang legend, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA.

Jika kata-kata ilmiah tak sanggup menyampaikan perasaan, maka puisi bisa membantu untuk mengangungkapkannya.

Guru Besar yang Sederhana

Luh Putu Sendratari mulai mengenal Prof Bawa pada tahun 1980, saat ia mulai menjadi mahasiswa di Jurusan Sejarah, FKG (Fakultas Keguruan) Universitas Udayana yang kini menjadi Undiksha.

“Kesan mendalam yang tetap melekat terhadap beliau adalah penggunaan bahasa yang sederhana sehingga mudah bisa mengerti apa yang dijelaskan. Prinsip yang beliau pegang jika bisa dengan cara mudah mengapa dibuat sulit. Kesan lainnya adalah jenaka,” kata Luh Putu Sendratari.

Meski bahasanya sederhana dan jenaka, Prof Bawa tak boleh diragukan konsistensinya terhadap kultur ilmiah yang senantiasa berupaya memegang teguh sikap-sikap ilmiah sebagai seorang ilmuwan. Dengan konsistensinya itulah Prof Bawa menjadi figur yang selalu dijadikan orientasi dalam spirit mengajegkan budaya akademik.

Kenapa puisi?

“Agak aneh memang seorang Prof Bawa yang penulis kenal sebagai sosok ilmuwan yang tidak familiar dengan puisi atau karya seni lainnya, tiba-tiba disodorkan bacaan puisi oleh anak didiknya. Namun, puisi ini memang sengaja disiapkan untuk melengkapi perhatian Prof Bawa terhadap hal yang tidak biasa,” kata Luh Putu Sendratari.

Luh Putu Sendratari meyakini puisi pastilah bahasa bermantra yang memuat rasa dari penulisnya, yakni perasaan tertentu terhadap sesuatu yang dianggap penuh makna. Melahirkan puisi kiranya tidak perlu menunggu peristiwa luar biasa yang akan menginspirasi, terhadap hal yang tampak biasa-biasa saja bisa menjadi puisi yang bermakna.

“Misalnya, kami pernah jalan-jalan mendalami fenomena badak yang dihormati, mengamati salib di tengah sawah. Semua itu pengalaman unik bersama Prof Bawa yang sekaligus suatu situasi yang menggugah naluri ilmiah kami sebagai anak didiknya. Hanya melalui jalanjalan, mengendap dalam memori, menjadi puisi. Semoga, Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa menjaga simakrama kami selaku anak didiknya dengan senantiasa mengingat spirit akademik yang telah ditanamkan. Astungkara!” cerita Sendratari.

Prof . Dr. Nengah Bawa  Atmadja, MA., lahir di Tabanan, tepatnya di Desa Riang gede, Penebel, 17 Februari 1951. Ia menyelesaikan S1 di IKIPN Malang, lalu mendapatkan gelar magister dan doktor di Universitas Indonesia. Selain mengajar di Undiksha, ia juga mengajar di pascasarjana Unud Denpasar. Selain itu juga mengajar di pascasarjana UNHI Denpasar dan IHD (kini Universitas Hindu Darma IGB Sugriwa). Jabatan terakhirnya di Undiksha adalah Dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial.

Sebagai seorang profesor dalam bidang ilmu-ilmu sosial, ia punya perhatian sangat besar terhadap persoalan-persoalan adat, budaya dan tradisi di Bali. Bukunya yang ditulisnya banyak sekali. Dari yang banyak itu terdapat hasil-hasil penelitian yang kerap menjadi perbincangan hangat di Bali, seperti tajen dan jogged porno.

Soal tajen ia menulis buku berjudul “Tajen di Bali : Perspektif Homo Complexus”. Buku itu ditulis Anantawikrama Tungga Atmadja, Luh Putu Sri Ariyani dan diterbitkan Pustaka Larasan dan IBBik Undiksha, Tahun : 2015. Soal joged porno, ia menulis buku “Komodifikasi tubuh perempuan: joged” ngebor” Bali”.

Ingin tahu lebih banyak tentang Prof Bawa, baca buku-bukunya. Baca seperempat saja dari semua buku dan artikelnya di berbagai jurnal dipastikan kadar intelektual kita akan menggelembung. Apalagi baca semua bukunya. Apalagi ngobrol sama Pak Prof.

Selamat menjalankan purnatugas, Pak Prof. Mengabdilah terus untuk ilmu pengetahuan…. [T]

Tags: ilmuProf. Nengah Bawa AtmadjaPuisiUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Next Post

Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co