23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 17, 2021
in Esai
Puisi Bagi Penjaga Setia Kultur Ilmiah || Selamat Purnatugas Prof. Bawa Atmadja

Prof. Bawa Atmadja

Seorang guru besar bidang Antropologi yang sangat konsisten menjaga kultur ilmiah, baik di kampus maupun di luar kampus, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA., memasuki masa purnatugas sebagai pengajar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, per 17 Februari 2021.

Seorang muridnya yang kemudian menjadi sahabat kental di dunia pendidikan dan penelitian, Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., mempersembahkan sekumpulan puisi kepada Sang Profesor, guru yang amat dikaguminya itu. Puisi? Ya, puisi.

Sungguh menarik. Puisi, karya sastra yang kerap dicibir sebagai tumpukan kata-kata khayalan, dipersembahkan kepada seorang guru besar yang selama ini dikenal sangat ketat memegang teguh sikap-sikap ilmiah. Kesannya berlawanan, tapi dua hal itu — puisi dan karya ilmiah – sesungguhnya punya hubungan erat. Khayalan biasanya tumbuh juga dari pertanyaan-pertanyaan ilmiah. Karya ilmiah banyak muncul dari tumpukan khayal di kepala.

DI AWAL KU MENGENALMU
Pantai Indah, Medio Nopember 2020

Awal aku tak mengenalmu sebagai guru
Yang kukenal hanyalah sosok yang BIASA SAJA
Persisnya aku tak mengenalmu
Aku asyik dengan duniaku sebagai mahasiswa baru
Penuh gaya
Pesolek
Cuek bebek
Gagap, maklum saja migran baru
Tentangmu di awal tatapanku
Yang kutau KAU hanyalah
Engkau Sosok yang
Kurus
Maaf … Lusuh
Kuyu…
Maaf LAGI: tidak kaya, tinggal di rumah kontrakkan
Tidak bermobil
Biasa dengan vespa bututmu…
Engkau saat itu bukan guru yang populer
Cirinya…
Akrab sama murid
Doyan becanda
Jadi tempat curhat…
Kayaknya hanya itu yang kutahu, ciri guru popoler saat
aku jadi muridmu di ERA LALU
Jalan setapak mengarahkanku tentangmu lebih dari
sekedar yang kutatap di awal
Di lembah gunung
Di amparan sawah yang amat luas
Kaki kecilmu berlari-lari
Konon, hati dan kakimu selalu kau bawa berlari
Hanya untuk mengejar mimpi
Keluar dari stigma anak desa yang…
Kucel
Miskin
Lugu
Yang teramat menyakitkan stigma kebodohan
Semangat yang kuat
Hasrat membara
Dan ternyata tidak cukup itu,
Engkau termasuk anak yang berasal dari Tuan Tanah
Pantas saja, jenjang sekolahmu lancar
Entah latah atau memang mimpi yang dirajut dari awal,
Takdirmu membawa pilihanmu masuk di sekolah
keguruan
Akhirnya, Lahirlah anak di sudut desa yang paling sudut
Di lembah gunung dan hamparan sawah
Dengan Ke Riang an
Pulang
Membawa SELEMBAR ijazah
Yang menjadi gengsi keintelektualanmu
Sebagai anak desa di desa yang paling sudut
Menjadi ilmuwan terhormat

Itu adalah puisi Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., yang ditulis bersama suaminya, Dr. I Ketut Margi, M.Si., yang juga pengajar di Undiksha Singaraja.

Puisi itu terkumpul dalam buku puisi berjudul “Beri Aku Secarik Kertas, Antologi Puisi Persembahan untuk Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A.” yang diterbitkan Mahima Institute Indonesia. Seperti juga puisi “Di Awal Ku Mengenalmu”, puisi lain dalam buku itu semuanya bercerita tentang hubungan Sendratari dan suaminya dengan Prof. Bawa, baik saat kuliah maupun saat sama-sama menjadi pengajar di Undiksha.

Buku puisi persembahan untuk Prof Bawa Atmaja

“Ucap syukur tak terperi atas limpahan kondisi sehat yang telah diberi Sang Pencipta, hingga puisi ini dapat terselesaikan sesuai rencana. Perasaan senang dan gejolak emosi menyertai selama proses penyelesaiannya. Tanpa pelibatan emosi kiranya puisi ini tidak akan pernah
selesai,” kata Luh Putu Sendratari.

Luh Putu Sendratari menuturkan, latar lahirnya puisi ini semata-mata didorong oleh memori panjang yang mengikuti perjalanan kami bersama Prof Bawa Atmadja. “Perjalanannya yang penuh dinamika tampaknya sayang jika hanya disimpan dalam benak saja,” ujarnya.

Dengan menulis puisi, Luh Putu Sendratari tentu saja tak hendak menjadi penyair, atau bercita-cita menjadi penyair. Dalam kata pengantarnya, ia menyebutkan bahwa ia sangat menyadari kemampuan menulis puisi jauh dari standar sastrawan pada umumnya. Namun, berbekal keberanian mencoba dan semangat menuangkan unek-unek ternyata tidak sanggup mengerem kehendak melahirkan puisi untuk dipersembahkan kepada guru/ bapak/teman yang legend, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA.

Jika kata-kata ilmiah tak sanggup menyampaikan perasaan, maka puisi bisa membantu untuk mengangungkapkannya.

Guru Besar yang Sederhana

Luh Putu Sendratari mulai mengenal Prof Bawa pada tahun 1980, saat ia mulai menjadi mahasiswa di Jurusan Sejarah, FKG (Fakultas Keguruan) Universitas Udayana yang kini menjadi Undiksha.

“Kesan mendalam yang tetap melekat terhadap beliau adalah penggunaan bahasa yang sederhana sehingga mudah bisa mengerti apa yang dijelaskan. Prinsip yang beliau pegang jika bisa dengan cara mudah mengapa dibuat sulit. Kesan lainnya adalah jenaka,” kata Luh Putu Sendratari.

Meski bahasanya sederhana dan jenaka, Prof Bawa tak boleh diragukan konsistensinya terhadap kultur ilmiah yang senantiasa berupaya memegang teguh sikap-sikap ilmiah sebagai seorang ilmuwan. Dengan konsistensinya itulah Prof Bawa menjadi figur yang selalu dijadikan orientasi dalam spirit mengajegkan budaya akademik.

Kenapa puisi?

“Agak aneh memang seorang Prof Bawa yang penulis kenal sebagai sosok ilmuwan yang tidak familiar dengan puisi atau karya seni lainnya, tiba-tiba disodorkan bacaan puisi oleh anak didiknya. Namun, puisi ini memang sengaja disiapkan untuk melengkapi perhatian Prof Bawa terhadap hal yang tidak biasa,” kata Luh Putu Sendratari.

Luh Putu Sendratari meyakini puisi pastilah bahasa bermantra yang memuat rasa dari penulisnya, yakni perasaan tertentu terhadap sesuatu yang dianggap penuh makna. Melahirkan puisi kiranya tidak perlu menunggu peristiwa luar biasa yang akan menginspirasi, terhadap hal yang tampak biasa-biasa saja bisa menjadi puisi yang bermakna.

“Misalnya, kami pernah jalan-jalan mendalami fenomena badak yang dihormati, mengamati salib di tengah sawah. Semua itu pengalaman unik bersama Prof Bawa yang sekaligus suatu situasi yang menggugah naluri ilmiah kami sebagai anak didiknya. Hanya melalui jalanjalan, mengendap dalam memori, menjadi puisi. Semoga, Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa menjaga simakrama kami selaku anak didiknya dengan senantiasa mengingat spirit akademik yang telah ditanamkan. Astungkara!” cerita Sendratari.

Prof . Dr. Nengah Bawa  Atmadja, MA., lahir di Tabanan, tepatnya di Desa Riang gede, Penebel, 17 Februari 1951. Ia menyelesaikan S1 di IKIPN Malang, lalu mendapatkan gelar magister dan doktor di Universitas Indonesia. Selain mengajar di Undiksha, ia juga mengajar di pascasarjana Unud Denpasar. Selain itu juga mengajar di pascasarjana UNHI Denpasar dan IHD (kini Universitas Hindu Darma IGB Sugriwa). Jabatan terakhirnya di Undiksha adalah Dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial.

Sebagai seorang profesor dalam bidang ilmu-ilmu sosial, ia punya perhatian sangat besar terhadap persoalan-persoalan adat, budaya dan tradisi di Bali. Bukunya yang ditulisnya banyak sekali. Dari yang banyak itu terdapat hasil-hasil penelitian yang kerap menjadi perbincangan hangat di Bali, seperti tajen dan jogged porno.

Soal tajen ia menulis buku berjudul “Tajen di Bali : Perspektif Homo Complexus”. Buku itu ditulis Anantawikrama Tungga Atmadja, Luh Putu Sri Ariyani dan diterbitkan Pustaka Larasan dan IBBik Undiksha, Tahun : 2015. Soal joged porno, ia menulis buku “Komodifikasi tubuh perempuan: joged” ngebor” Bali”.

Ingin tahu lebih banyak tentang Prof Bawa, baca buku-bukunya. Baca seperempat saja dari semua buku dan artikelnya di berbagai jurnal dipastikan kadar intelektual kita akan menggelembung. Apalagi baca semua bukunya. Apalagi ngobrol sama Pak Prof.

Selamat menjalankan purnatugas, Pak Prof. Mengabdilah terus untuk ilmu pengetahuan…. [T]

Tags: ilmuProf. Nengah Bawa AtmadjaPuisiUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendaras Puisi Emha: Ajari Aku Tidur

Next Post

Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Siapa yang Keliru? | Distorsi Makna SE Endek dan Gaya Komunikasi Publik Gubernur Koster

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co