29 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menapak Jejak Konsep Purusa-Pradana di Lereng Gunung Rawung

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
December 19, 2022
in Tualang
Menapak Jejak Konsep Purusa-Pradana di Lereng Gunung Rawung

Candi Gumuk Kancil di Dusun Wonoasih, Glenmore, Banyuwangi

PERJALANAN SAYA menuju lereng Gunung Rawung, Jawa Timur, pada tanggal 8 Desember 2022 bersama rombongan preti sentana Dalem Tarukan sebenarnya bukanlah perjalanan yang pertama. Di tahun-tahun sebelumnya perjalanan yang serupa sudah pernah saya lakukan bersama rombongan yang sama, namun kali ini menyisakan suatu pengalaman yang berbeda dari sebelumnya.

Awalnya, saya pahami di sana ada petilasan Rsi Markandeya, ada kolam pembersihan atau beji, terdapat Candi Gumuk Kancil, ada Goa Gantung yang kesemuanya akan bisa memberikan pengalaman spiritual yang unik dari setiap pemedek yang tangkil.

Magnit spiritual yang tersimpan di areal ini bisa dirasakan karena letaknya jauh dari hiruk pikuk kebisingan. Desiran angin yang menyejukkan, gemericik air pancuran di beji yang tumpah di beberapa kolam bukan hanya indah didengar ibarat suara dentingan gitar yang bersautan dari satu kolam ke kolam lainnya, namun kesejukan airnya mampu mengirim kesegaran yang luar biasa dan dipercaya khasiatnya dapat mengobati berbagai penyakit.

Di tahun sebelumnya pemahaman seperti itu menjadi hal dominan bagi saya. Tiba-tiba saja, perhatian saya saat piodalan yang jatuh pada, Umanis Purnama Kenem, 9 Desember 2022, telah memberi wawasan baru dalam membangun cara pandang tentang keberadaan Pura Gumuk Kancil di kawasan lereng Gunung Rawung.

Keberadaan candi ini bukan begitu saja ada, namun melalui proses yang sangat panjang. Candi ini terletak di Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Letaknya sekitar 80 Km dari kota Banyuwangi. Waktu yang diperlukan menuju Pura Gumuk Kancil dari Kota Denpasar, Bali kurang lebih 8 jam.

Di tengah kerindangan pepohonan dan perkebunan yang merupakan hutan milik KPH (Kesatuan Pemangku Hutan) Perhutai Banyuwangi Barat berdiri tegak dan anggun Candi Gumuk Kancil, yang bentuknya mirip dengan Candi Prambanan di Jawa Tengah.

Candi Gumuk Kancil di Dusun Wonoasih, Glenmore, Banyuwangi | Dokumentasi; Made Jaya Senastri, Desember 2022

Candi Gumuk Kancil yang saat ini dikelola oleh Yayasan Nusantara Jaya dibangun sejak tahun 2001 dan diresmikan 11 Agustus 2002. Keberadaannya selalu dikaitkan dengan Maha Rhsi Agung Markandeya–seorang tokoh spiritual Hindu yang sangat terkenal pada Abad ke 7.

Ulasan-ulasan tentang candi ini yang tersiar media sosial, tidak bisa lepas dari pemberitaan Sang Rshi. Misalnya tentang:

Petilasan sejarah masuknya ajaran hindu di tanah Blambangan: http://www.semangatbanyuwangi.id/2020/08/petilasan-sejarah-masuknya-ajaran-hindu.html; Candi Agung Gumuk Kancil  https://www.babadbali.com/pura/plan/gumuk-kancil.htm;

Candi Agung Gumuk Kancil, Jejak Pasraman Maharesi Markandeya; https://balibercerita.com/candi-agung-gumuk-kancil-jejak-pasraman-maharesi-markandeya/

Ulasan tentang keberadaannya memberi pemahaman kepada kita bahwa di lokasi berdirinya Candi Gumuk Kancil dipercaya sebagai petilasan Rshi Markandeya — seorang Rhsi yang berasal dari India berdasarkan Lontar Markandeya Purana.

Lontar ini menceritakan tentang asal usul sang Maha Rsi dan perjalanan beliau dalam berdharmayatra. Dikisahkan perjalanan suci beliau dari India menuju tanah Jawadwipa dan sempat beryoga semadi di Gunung Demulung, kemudian lanjut ke pegunungan Dieng. Diperkirakan karena adanya bencana alam (gunung meletus) perjalanan beliau diteruskan menuju ke arah timur — ke Gunung Rawung, Banyuwangi.

Di sinilah beliau beserta pengikutnya membangun pasraman, yang saat ini menjadi lokasi didirikannya Candi Gumuk Kancil. Masyarakatpun sangat percaya bahwa wilayah di Rawung selatan merupakan pasraman yang ditempati masyarakat Jawa Aga (sebutan untuk masyarakat yang tinggal di lereng selatan Gunung Rawung).

Pasramannya dikenal dengan sebutan Diwang Ukir Damalung membentang dari Banyuwangi hingga Besuki, Situbondo. Komunitas Hindu di lereng Raung tersebar di dua dusun, Sugihwaras dan Wono Asih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore. Dua dusun terpencil ini berlokasi di lereng selatan Rawung.

Berdasarkan peninggalan sejarah yang ditemukan di lokasi ini berupa arca Siwa, genta dari kuningan, dan alat-alat upacara lainnya seperti uang kepeng, tempat tirta, kendi dan alat-alat rumah tangga dan masih adanya pemukiman penduduk  yang saat ini masih bertempat tinggal di lereng Rawung Selatan secara turun temurun yang warganya beragama Hindu (Dusun Sugihwaras dan Wono Asih) menjadi penguat bahwa tempat ini merupakan jejak sejarah yang terkait dengan akivitas ritual yang bercorak Hindu.

Di pasraman di lereng Selatan Gunung Rawung, Sang Rhsi Markandeya melakukan tapa semedi, dan dari sanalah beliau mendapatkan wangsit yang mengharuskan beliau melanjutkan perjalanan sucinya ke tanah Bali.

Perjalanan pertama ke Bali beliau ditemani oleh sekitar 800 pengikutnya menuju pegunungan Toh Langkir, Besakih, Karangasem. Hanya saja, di perjalanan pertama ini, pengikut Sang Rshi banyak yang diserang penyakit yang berakibat pada kematian sebagian besar pengikutnya.

Melalui tapa semedi, Rhsi mendapat pentunjuk untuk kembali ke Gunung Rawung, dan keajaiban terjadi ketika para pengikut yang sakit mandi di lereng Gunung Rawung menjadi sembuh. Dan tempat tersebut saat ini disebut dengan Sugihwaras. Perjalanan kedua kalinya beserta rombongan yang berjumlah sekitar 400 orang akhirnya berhasil dengan membawa lima jenis logam yang dikenal dengan sebutan panca datu merupakan tonggak awal Bali mengenal ritual bercorak Hindu.

Sebagai bentuk penghormatan kepada Rshi Markandeya atas jasa beliau menyebarkan agama Hindu dari Pulau Jawa ke Bali, dibangunlah Candi Gumuk Kancil. Misi utama dari pendiriannya yang pembangunannya diketuai oleh Bapak Ketut Wiryana beserta timnya (Jaya Prana dan Prof. Dr. I Wayan Runa, M.Si) dimaksudkan untuk membangun tonggak persatuan warga Jawa-Bali.

Niat mulia inipun diwujudkan dengan pembangunan candi yang menggunakan bahan batu andesit yang berasal dari Gunung Merapi (mewakili Jawa) dan batu dari Gunung Agung (mewakili Bali). Kaki dan badan candi menggunakan batu yang berasal dari Gunung Merapi, sedangkan puncak candi menggunkan batu yang berasal dari Gunung Agung yang dilengkapi dengan kersi yang b erlapis emas dan sekaligus berfungsi sebagai penangkal petir.

Sangatlah logis bahwa pembangunannya bukan hanya sekadar sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok Rshi Markandeya, namun lebih jauh dari itu sebagai tindakan simbolik yang diharapkan mampu dijadikan wahana untuk merawat kesadaran sejarah yang nantinya diyakini akan menghasilkan kesadaran tentang arti penting menjaga keseimbangan lahiriah dan batiniah.

Aura magis yang terpancar di kawasan Candi Gumuk Kancil kiranya akan bisa mengantarkan umat Hindu yang tangkil untuk mendapatkan kejernihan pikiran. Terlebih keberadaannya dikelilingi dengan tempat suci lainnya yakni Pura Puncak Raung, Goa Gantung dan Beji. Tahapan persembahyangan yang diawali dengan pembersihan diri di Beji, dilanjutkan dengan persembayangan di Pura Puncak Raung dan selanjutnya di Candi Gumuk Kancil merupakan tahapan spritual yang akan mampu menyisakan pemahaman tentang arti pembersihan dan kesucian.

10 Pancuran di Beji: Tempat Penglukatan | Dokumentasi: Sendratari, Desember 2022

Pemberitaan dan pembacaan tentang Candi Gumuk Kancil yang dilengkapi dengan aura religius magisnya dengan pelahan namun pasti dari sejak pendiriannya telah menambah lintas cakrawala umat Hindu di Bali yang dulunya hanya melintas di Pura Blambangan, Banyuwangi, namun kini telah menjadikan Candi Gumuk Kancil sebagai lintasan yang melengkapi perlawatan spiritual dari historis dikenalnya agama Hindu ke Bali.

Hasil perlawatan saya saat sampai di Candi Gumuk Kancil pada piodalan yang jatuh pada Jumat 9 Desember 2022, Umanis Purnama, Wuku Kajeng bukan hanya menguatkan pemahaman tentang sejarah pendiriannya, tahapan persembahyangannya, emosi keagamannya namun ada hal yang mampu menarik perhatian saya tentang simbol-simbol yang dihadirkan di depan candi.

Perhatian saya tentang simbol-simbol yang menyedot perhatian bukan hanya dimaksudkan untuk mengasah daya kritis, namun ternyata telah mampu membawa saya ke ruang pemikiran tentang permainan oposisi biner yang terpaut dengan mekanisme penguatan tentang makna keseimbangan. Dalam konteks inilah perjalanan kali ini menjadi berbeda dari perjalanan sebelumnya saat menuju tempat yang sama.

Simbol-simbol Pada Candi Gumuk Kancil | Dokumentasi: Made Jaya Senastri, Desember 2022

Pertama, di ruang candi diletakkan lingga dan yoni. Di dalam pemahaman lingga yoni yang selama ini ada diartikan sebagai simbol penciptaan manusia. Lingga diartikan sebagai organ maskulin, sedangkan yoni mewakili organ feminin. Penyatuan keduanya akan menghasilkan kehidupan. Dalam penyatuan lingga dan yoni terdapat pemaknaan bahwa penyatuan keduanya akan menghasilkan energi penciptaan kehidupan.

Jika dilihat dari perspektif agama Hindu, pemujaan atas penyatuan keduanya akan menghasilkan kekuatan tertinggi, bahkan penyatuan keduanya diartikan sebagai lambang kesuburan, sehingga pemujaan terhadap simbol ini sebagai pengharapan untuk mendapatkan kesuburan alam semesta.

Pemaknaan tentangya, kiranya dapat diperluas bahwa kehadiran lingga-yoni di Candi Gumuk Kancil dari pembacaan semiotika dapat menyiratkan suatu pesan moral yang hidden di mana simbolisasi yang hadir disitu bisa melatihkan cara berpikir dan bertindak kita tentang purusa (laki-laki) dan predana (perempuan) yang diartikan sebagai dua kekuatan yang bisa saling mengisi, saling melengkapi.

Jika sudah sampai pada pemahaman di tingkat ini, maka sikap yang terbangun dalam kehidupan sosial adalah sikap yang saling mengasihi dan bukan sebaliknya sikap yang saling melukai. Kiranya pembacaan yang semacam ini bukan semata sebagai tafsir yang dilandasi sikap feminis, namun dilandasi pula dengan hasil pembacaan dari simbol lainnya yang tersedia di Candi Gumuk Kancil, yakni pemakaian warna merah dan putih di areal candi.

Kedua, pemakaian warna merah dan putih dalam bentuk tedung/payung, bendera dan umbul-umbul ternyata bukanlah hanya sebagai pajangan. Kehadirannya ternyata menguatkan pandangan bahwa manusia adalah makhluk simbolik (homo simbolicum). Pembacaan tentang simbol, diperoleh dari Romo Cokro, atau yang lebih populer dipanggil dengan sebutan Romo Eko.

Romo diartikan sebagai orang yang dimuliakan. Romo Eko berasal dari kawasan Dieng, hadir pada saat piodalan di Candi Gumuk Kancil. Beliau memberikan pembacaan atas hadirnya warna merah dan putih di candi seperti berikut ini.

“Merah -Putih itu adalah simbol bhuwana agung dan bhuwana alit, merah itu simbol bumi/pertiwi dan putih adalah simbol angkasa. Sama juga artinya dengan simbol purusa dan pradana. Putih itu adalah lingga, sedangkan merah adalah yoni. Dalam kehidupan kita sebagai manusia kedua warna ini selalu hadir untuk menyadarkan kita bahwa keduanya sangat diperlukan untuk memberi arti pada kehidupan kita. Simbol angkasa dan pertiwi akan mengajarkan kita bahwa keduanya sangat berarti untuk mendapatkan kualitas hidup. Kita tidak bisa hidup tanpa bumi dan angkasa”

Romo Eko Saat Menjelaskan Makna Simbol di Candi Gumuk Kancil | Dokumentasi Made Jaya Senastri, Desember 2022

Pandangan dari Romo Eko dapat membantu kita bahwa simbol merah putih yang dihadirkan di Candi Gumuk Kancil seharusnya bisa memberi pelajaran hidup kepada kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan baik dalam artian saling menghormati antara pursa dan pradana, namun juga pentingnya penghormatan kita terhadap bumi dengan segala isinya karena, di bumilah sumber kehidupan.

Menurut Romo Eko keberadaan simbol di candi sesungguhnya memberikan pesan kepada manusia agar selalu eling untuk menjaga bumi, karena bumi sudah berjasa memberi kehidupan kepada manusia. Pandangan ini sesuai dengan prinsip ekofeminisme yakni sifat feminis yang berpegang pada prinsip perawatan terhadap bumi. Kesadaran akan pentingnya bumi dalam kehidupan manusia ditunjukkan melalui pembuatan gunungan hasil bumi saat piodalan di Candi Gumuk Kancil sebagai cerminan persembahan kepada Hyang Maha Kuasa.

Gunung adalah sumber kehidupan, karena dari sanalah berbagai hasil bumi diperoleh, dan sumber air pun kita peroleh dari gunung, sehingga manusia wajib berucap syukur. Demikian penjelasan Romo Eko tentang makna tersembunyi dibalik persembahan hasil bumi.

Menariknya lagi prinsip perawatan terhadap bumi dan cara unik umat Hindu melakukan persembahan tampak dari bahan sesajen yang sepenuhnya diambil dari hasil bumi setempat., tidak mengandalkan bahan dari luar desa. Wadah sesajen dibuat dari irisan bambu dan berisi pisang dan kelapa. Tidak bisa ditutupi kesan sederhana tentang cara umat Hindu di lereng Gunung Raung melaksanakan ritual. Potret ini bisa menjadi bahan ajar yang memperkaya pemahaman umat Hindu tentang arti perbedaan.

Isian Sesajen untuk Persembahan di Candi Gumuk Kancil | Dokumentasi : Sendratari, Desember 2022

Menapak jejak purusa dan predana di Candi Gumuk Kancil akan mengajarkan kita arti pentingnya kerjasama antara purusa dan predana yang diperkuat melalui  warna merah dan putih sebagai simbolisasi langit dan bumi yang memberi kehidupan kepada umat manusia.

Ternyata pembacaan terhadap simbol telah mampu memupus anggapan bahwa perjalanan spiritual yang melintas batas wilayah hanyalah pemuas gaya hidup, namun telah mampu mengirim cakrawala baru yang penuh kesan. [T]

Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’
Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme
Panji Semirang: Tokoh Imajiner dalam Merajut Manusia Androgyni
Tags: banyuwangiGunung RawunghinduHindu JawaHindu NusantaraJawa Timur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Undisputed Poetry Surabaya : Kita Mewujud Puisi

Next Post

Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails
Next Post
Teater Sebagai Produksi Memori  | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung

Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co