Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang terkandung di dalamnya terus dipahami dan dinegosiasikan oleh generasi berikutnya. Dalam konteks inilah Barong Brutuk dari Desa Terunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, menarik untuk dibaca bukan sekadar sebagai sebuah bentuk kesenian tradisional, tetapi sebagai sistem pengetahuan budaya yang mengandung sejarah, identitas, religiositas, relasi sosial, dan pandangan masyarakat terhadap alam.
Barong Brutuk merupakan tarian sakral yang secara khusus berkaitan dengan kehidupan spiritual masyarakat Desa Terunyan. Tarian ini dipentaskan dalam rangkaian piodalan di Pura Pancering Jagat, terutama pada Ngusaba Gede Kapat Lanang. Pementasannya tidak berlangsung setiap tahun, melainkan mengikuti siklus upacara yang dilaksanakan secara bergiliran. Dengan demikian, Barong Brutuk tidak dapat dilepaskan dari struktur masyarakat Desa Terunyan. Barong Brutuk bukan pertunjukan yang berdiri sendiri, melainkan bagian integral dari sistem ritual masyarakat.
Kebudayaan pada masa kini bukan hanya bagaimana sebuah tradisi dipertahankan dalam bentuk aslinya. Persoalan yang lebih kompleks adalah bagaimana pengetahuan tentang tradisi tersebut dapat diwariskan kepada generasi yang tidak lagi selalu mengalami ritual secara langsung. Di sinilah perubahan medium menjadi penting. Ketika Barong Brutuk ditransformasikan dari pengalaman ritual menjadi cerita bergambar, terjadi proses yang jauh lebih kompleks daripada sekadar memindahkan sebuah cerita ke dalam bentuk visual. Terjadi proses penerjemahan budaya: sesuatu yang sakral, kompleks, dan hidup dalam ruang komunitas diterjemahkan menjadi narasi yang dapat dibaca, dilihat, dan dipelajari oleh pembaca, terutama generasi muda.
Cerita bergambar tentang Barong Brutuk dapat dipandang sebagai sebuah strategi pemertahanan budaya. Akan tetapi, strategi tersebut sekaligus mengandung persoalan akademis yang perlu dikritisi: apakah transformasi dari ritual sakral ke cerita bergambar mampu mempertahankan makna budaya, atau justru berpotensi menyederhanakan bahkan mereduksi kompleksitas tradisi? Pertanyaan inilah yang menjadikan transformasi Barong Brutuk dari tarian sakral ke cerita bergambar penting dikaji secara lebih tajam.
Barong Brutuk sebagai Identitas Budaya Masyarakat Terunyan
Barong Brutuk tidak dapat dipahami hanya berdasarkan bentuk tariannya. Barong Brutuk merupakan representasi simbolik dari struktur kosmologis masyarakat Desa Terunyan. Barong Brutuk dikaitkan dengan dua figur penting, yaitu Ratu Sakti Pancering Jagat atau Ratu Datonta dan Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar. Kedua figur tersebut bukan sekadar tokoh dalam sebuah cerita, tetapi memiliki posisi penting dalam sistem kepercayaan masyarakat Desa Terunyan.
Dalam Tarian Barong Brutuk, pembagian peran penari berkaitan erat dengan struktur sosial dan genealogis masyarakat. Para teruna dari Sibak Muani berperan sebagai Ratu Sakti Pancering Jagat, sedangkan perempuan dari Sibak Luh direpresentasikan melalui peran Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar. Pembagian peran tersebut tidak semata-mata didasarkan pada aspek pertunjukan, tetapi berakar pada keyakinan masyarakat mengenai hubungan genealogis kedua kelompok dengan tokoh-tokoh tersebut.
Sibak Muani dan Sibak Luh diyakini memiliki hubungan keturunan dengan Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar. Oleh karena itu, keterlibatan teruna dari Sibak Muani dan anggota Sibak Luh dalam pementasan Barong Brutuk menjadi bagian penting dari representasi identitas genealogis sekaligus struktur sosial masyarakat. Dengan demikian, Tarian Barong Brutuk tidak hanya hadir sebagai ekspresi seni dan ritual, tetapi juga menjadi medium untuk meneguhkan hubungan kekerabatan, identitas kelompok, serta kesinambungan tradisi yang diwariskan antargenerasi.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa tarian Barong Brutuk merupakan sebuah budaya yang memiliki banyak lapisan. Ia memuat ritual, struktur genealogis, sosial, dan ekologis. Mentransformasi tarian Barong Brutuk sebagai menjadi sebuah cerita bergambar hendaknya jangan mengabaikan dimensi sosial dan religius sehingga cerita bergambar tersebut memiliki arti bagi masyarakat pendukungnya.
Ketika sebuah tradisi yang kompleks dikemas sebagai bahan bacaan, ada kecenderungan untuk memilih aspek-aspek yang dianggap paling mudah dipahami. Topeng, penari, keraras, cambuk, dan prosesi pengejaran pemedek pada saat ritual berlangsung, secara visual memang menarik. Namun, apabila pembaca hanya berhenti pada aspek tersebut, Barong Brutuk dapat berubah menjadi objek eksotik yang menarik untuk dilihat tetapi kehilangan konteks yang menjelaskan mengapa itu penting bagi masyarakat Desa Terunyan.Oleh sebab itu, cerita bergambar seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai media visualisasi, tetapi sebagai media kontekstualisasi. Pembaca perlu diarahkan untuk memahami bahwa di balik topeng dan gerakan terdapat sistem nilai yang hidup dalam masyarakat.
Dari Ritual ke Narasi: Sebuah Proses Transformasi Budaya
Mengubah ritual menjadi cerita bergambar pada dasarnya merupakan proses translasi budaya. Ritual yang semula hadir dalam ruang sakral, dengan waktu, tempat, pelaku, aturan, dan simbol tertentu, dipindahkan ke dalam struktur naratif yang memiliki awal, tengah, dan akhir.
Barong Brutuk sendiri memiliki rangkaian ritual yang sangat kompleks. Para teruna yang menjadi penari harus menjalani makemit selama 30 sampai 42 hari di kawasan Pura Pancering Jagat. Selama masa tersebut mereka menjalani proses penyucian diri, tinggal bersama, menyiapkan makanan, serta mempersiapkan berbagai perlengkapan pementasan.
Mereka juga harus mencari keraras sebagai bahan utama kostum, batu padas putih sebagai bahan odak (bedak), serta tirta kayan teruna sebagai bagian dari persiapan ritual. Semua kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pementasan Barong Brutuk tidak dimulai ketika penari keluar dari pura. Pementasan sebenarnya telah dimulai jauh sebelumnya melalui proses persiapan fisik, sosial, dan spiritual.
Ketika seluruh rangkaian tersebut dituangkan menjadi cerita bergambar, tantangan utamanya adalah bagaimana mempertahankan “proses” tersebut. Cerita bergambar tidak boleh hanya menampilkan puncak pertunjukan karena puncak pertunjukan hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan tradisi.
Dengan demikian, transformasi budaya yang baik bukanlah transformasi yang sekadar mempermudah. Transformasi harus mampu membuat sesuatu yang kompleks menjadi dapat dipahami tanpa menghilangkan struktur maknanya. Kesederhanaan bentuk tidak boleh identik dengan penyederhanaan makna.
Keraras: Dari Bahan Kostum Menjadi Simbol Kebudayaan
Salah satu kekuatan cerita Barong Brutuk terdapat pada penggunaan keraras (daun pisang yang kering). Keraras dijalin dan digunakan sebagai bagian utama atribut penari. Selibah yang terbuat dari pelepah pisang digunakan sebagai tempat mengikat rangkaian keraras yang menutupi tubuh penari.
Jika dilihat secara sederhana, keraras mungkin tampak hanya sebagai bahan kostum yang membedakan Barong Brutuk dari bentuk tari lainnya. Namun, dalam keseluruhan ritual, keraras memiliki makna yang jauh lebih besar. Setelah pementasan, masyarakat mengambil keraras yang terlepas dari tubuh penari dan memperlakukannya sebagai simbol kesuburan. Keraras kemudian dapat ditebarkan secara simbolis di lahan pertanian dengan harapan memberikan kesuburan dan kemakmuran.
Pada titik ini, cerita bergambar memiliki peluang pedagogis yang sangat besar. Keraras dapat dijadikan pintu masuk untuk memperkenalkan konsep hubungan manusia dan alam. Anak-anak tidak hanya diperkenalkan kepada bentuk pakaian penari, tetapi juga diajak memahami bahwa dalam kebudayaan lokal, benda-benda alam dapat memperoleh makna simbolik melalui relasi manusia dengan lingkungan dan keyakinannya.
Artinya, cerita bergambar Barong Brutuk dapat berfungsi sebagai media ekopedagogis. Ia mengajarkan bahwa daun pisang yang secara material tampak sederhana dapat menjadi bagian dari sistem simbol yang menghubungkan ritual, pertanian, kesuburan, dan kesejahteraan masyarakat.
Tubuh Penari dan Penyucian Diri
Dimensi lain yang penting adalah tubuh penari. Dalam Barong Brutuk, tubuh tidak sekadar menjadi alat untuk menghasilkan gerakan tari. Tubuh merupakan bagian dari proses ritual. Para penari dipilih dari kelompok tertentu dan menjalani masa makemit sebagai proses penyucian diri. Mereka tidak bebas meninggalkan kawasan tempat makemit dan harus mematuhi aturan tertentu.
Sebelum pementasan, mereka mandi di tepian Danau Batur, melakukan persembahyangan di Meru Tumpang Pitu dan pelinggih Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar, kemudian membalur tubuh dengan odak (bedak yang terbuat dari batu kapur). Odak secara lahiriah berfungsi menyamarkan identitas penari, sedangkan secara simbolis dipahami sebagai sarana penyatuan spirit alam dan para dewa dengan penari.
Aspek ini penting dalam cerita bergambar karena menunjukkan bahwa transformasi Barong Brutuk bukan hanya tentang memindahkan objek budaya ke dalam bentuk visual, tetapi juga tentang menjelaskan konsep “menjadi”. Seorang teruna dari Sibak Muani tidak sekadar mengenakan kostum dan kemudian tampil sebagai Barong Brutuk, melainkan menjalani suatu proses yang membuat dirinya secara simbolis memasuki identitas dan peran yang berbeda. Dalam konteks ini, “menjadi” mengandung makna transformasi dari individu sebagai pribadi biasa menjadi pelaku yang menjalankan peran sakral dalam ritual Barong Brutuk. Proses tersebut memperlihatkan bahwa identitas Barong Brutuk tidak melekat pada kostum atau bentuk fisiknya semata, tetapi dibentuk melalui hubungan antara teruna, komunitas, ritual, keyakinan, dan warisan genealogis.
Oleh karena itu, cerita bergambar perlu menampilkan proses tersebut agar pembaca tidak berhenti pada pemahaman bahwa Barong Brutuk hanyalah sebuah tarian atau pertunjukan, tetapi memahami bahwa di balik penampilan fisiknya terdapat proses pembentukan identitas budaya dan pengalaman sakral yang menjadikan seorang teruna “menjadi” Barong Brutuk.Jika aspek ini dihilangkan, pembaca mungkin hanya melihat seseorang yang memakai topeng dan daun pisang kering. Padahal, makna Barong Brutuk justru terletak pada proses perubahan status tersebut: dari pemuda biasa menjadi pelaku ritual.
Cambuk, Berkah, dan Penolak Bala
Bagian pementasan Barong Brutuk yang paling menarik perhatian adalah ketika para penari berlari dan mencambuki pemedek. Secara visual, adegan tersebut sangat kuat sehingga sangat potensial dijadikan bagian utama dalam cerita bergambar. Akan tetapi, adegan tersebut juga merupakan bagian yang paling rentan disalahpahami apabila dilepaskan dari konteks budaya.
Dalam ritual penolak bala, para penari memang mengejar pemedek dan mencambuk mereka. Masyarakat mempercayai cambukan tersebut sebagai bagian dari proses penyembuhan. Pangkal cambuk yang disentuhkan ke ubun-ubun dimaknai sebagai pemberian berkat. Keraras juga diberikan kepada pemedek sebagai simbol kesuburan, sementara surudan dipandang membawa berkah dan keselamatan.

Dalam perspektif akademis, bagian ini memperlihatkan bahwa sebuah tindakan yang secara kasatmata dapat dibaca sebagai kekerasan memiliki makna yang berbeda dalam sistem budaya pendukungnya. Makna tidak berada pada tindakan secara fisik semata, tetapi lahir dari konteks sosial dan simbolik yang menyertainya.Oleh karena itu, cerita bergambar memiliki tanggung jawab representasional. Adegan cambuk tidak cukup digambarkan secara dramatis. Pembaca harus memperoleh konteks bahwa cambukan tersebut berada dalam ruang ritual dan dimaknai oleh masyarakat sebagai simbol penyembuhan dan berkah. Jika tidak, transformasi budaya dapat berubah menjadi komodifikasi visual: aspek yang paling spektakuler justru ditonjolkan, sedangkan makna yang mendasarinya dihilangkan.
Matambak dan Simbol Kehidupan
Puncak penting lainnya adalah ritual matambak (menggambarkan proses perkawinan) . Setelah prosesi penolak bala, dua penari yang memerankan Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar menjalani ritual yang menggambarkan perkawinan kedua tokoh tersebut. Ratu Sakti Pancering Jagat berusaha menangkap Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar. Masyarakat berharap proses tersebut berhasil.Ketika akhirnya Ratu Sakti Pancering Jagat berhasil menangkap Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar, masyarakat menyambutnya dengan kegembiraan. Peristiwa tersebut dipahami sebagai simbol perkawinan kedua tokoh dan diyakini membawa perlindungan serta kemakmuran bagi Desa Terunyan.
Dalam konteks cerita bergambar, adegan ini memiliki fungsi naratif yang sangat kuat. Ia menyediakan konflik, ketegangan, pengejaran, dan penyelesaian. Namun, secara kultural, matambak juga membawa pesan yang lebih dalam tentang keberlangsungan kehidupan.Perkawinan simbolik tersebut dapat dibaca sebagai representasi tentang penyatuan, keseimbangan, dan harapan akan keberlanjutan.
Cerita Bergambar sebagai Strategi Pemertahanan Budaya
Dalam masyarakat yang mengalami perubahan sosial dan teknologi secara cepat, pewarisan budaya menghadapi persoalan baru. Pengetahuan budaya tidak lagi otomatis diwariskan hanya melalui keterlibatan langsung dalam komunitas. Generasi muda dapat mengenal budaya melalui berbagai media, termasuk buku, gambar, video, dan media digital.
Dalam situasi tersebut, cerita bergambar memiliki posisi strategis. Ia bekerja melalui dua jalur sekaligus: narasi verbal dan representasi visual. Anak-anak dapat mengenali tokoh, kostum, tempat, benda ritual, dan tahapan upacara melalui gambar, sementara teks memberikan penjelasan mengenai konteks dan maknanya. Oleh karena itu, cerita bergambar Barong Brutuk dapat menjadi bentuk dokumentasi budaya yang bersifat pedagogis. Ia tidak hanya menyimpan informasi, tetapi mengubah informasi menjadi pengalaman membaca. Dalam proses tersebut, budaya lokal dapat masuk ke ruang pendidikan dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak.
Pemanfaatan cerita bergambar sebagai media pelestarian tidak boleh membuat kebudayaan berubah menjadi sekadar “materi pembelajaran”. Kebudayaan memiliki konteks sosial dan spiritual yang tidak seluruhnya dapat direpresentasikan dalam halaman buku. Cerita bergambar harus diposisikan sebagai pintu masuk menuju pemahaman budaya, bukan sebagai pengganti tradisi. Buku dapat memperkenalkan tarian Barong Brutuk, tetapi buku tidak dapat menggantikan pengalaman masyarakat dalam menjalankan ritualnya. Dengan kata lain, representasi bukanlah realitas itu sendiri.
Risiko Reduksi dan Komodifikasi
Transformasi Barong Brutuk menjadi cerita bergambar memiliki paradoks. Di satu sisi, ia membantu memperluas akses terhadap pengetahuan budaya. Di sisi lain, semakin luas budaya direpresentasikan, semakin besar pula kemungkinan terjadinya penyederhanaan.
Risiko pertama adalah reduksi sakralitas. Barong Brutuk yang dalam konteks aslinya berkaitan dengan upacara keagamaan dapat berubah menjadi “cerita menarik tentang tarian tradisional”. Risiko kedua adalah eksotisasi. Topeng, daun pisang kering, cambuk, dan gerakan penari dapat ditampilkan sebagai sesuatu yang unik dan aneh tanpa menjelaskan logika budaya yang melatarinya. Risiko ketiga adalah komodifikasi, ketika nilai budaya lebih ditekankan sebagai sesuatu yang menarik untuk dikonsumsi daripada sesuatu yang harus dipahami dan dihormati.
Oleh karena itu, cerita bergambar perlu menerapkan prinsip representasi yang bertanggung jawab. Unsur sakral harus ditempatkan secara proporsional. Bahasa yang digunakan harus mampu menjelaskan tanpa merendahkan. Visualisasi harus menarik tanpa mengubah ritual menjadi tontonan eksotis. Dan yang paling penting, suara masyarakat pendukung tradisi perlu menjadi dasar utama dalam menjelaskan makna budaya.Cerita bergambar bukan sekadar produk kreatif. Ia merupakan bentuk mediasi budaya. Penulis menjadi mediator antara masyarakat pemilik tradisi dan pembaca yang mungkin tidak memiliki pengalaman langsung dengan tradisi tersebut.
Dari Pelestarian Menuju Revitalisasi
Konsep pelestarian sering kali dipahami sebagai upaya mempertahankan sesuatu agar tidak hilang. Pandangan semacam itu sebenarnya terlalu pasif. Tradisi tidak cukup hanya disimpan; tradisi harus terus memiliki relevansi bagi generasi yang hidup pada zamannya. Cerita bergambar menawarkan kemungkinan untuk bergerak dari pelestarian menuju revitalisasi. Barong Brutuk tidak hanya “disimpan” dalam bentuk dokumentasi, tetapi dihadirkan kembali melalui bahasa visual dan narasi yang sesuai dengan karakteristik pembaca masa kini.
Dalam konteks pendidikan, cerita bergambar dapat digunakan untuk mengembangkan literasi budaya. Anak tidak hanya belajar membaca kata, tetapi juga membaca simbol, membaca tradisi, membaca lingkungan, dan membaca identitas masyarakat. Cerita bergambar tarian Barong Brutuk dapat menjadi teks literasi budaya yang mengajarkan bahwa setiap praktik kebudayaan memiliki konteks dan makna.
Lebih jauh, cerita bergambar dapat menjadi jembatan antara pendidikan formal dan pengetahuan lokal. Pembelajaran saat ini belum banyak menggunakan sumber belajar berupa pengetahuan yang hidup di sekitar peserta didik. Cerita bergambar tarian Barong Brutuk dapat mengisi ruang tersebut dengan menghadirkan kebudayaan lokal sebagai sumber belajar.
Transformasi Barong Brutuk dari tarian sakral menjadi cerita bergambar pada dasarnya bukan sekadar perubahan bentuk penyajian. Ia merupakan proses negosiasi antara tradisi dan modernitas, antara pengalaman ritual dan kebutuhan literasi, antara pengetahuan komunitas dan kebutuhan pendidikan.
Barong Brutuk memiliki kompleksitas yang jauh melampaui bentuk pertunjukannya. Ia menyimpan struktur sosial masyarakat Terunyan, hubungan genealogis, keyakinan spiritual, praktik penyucian diri, simbol kesuburan, hubungan manusia dengan alam, serta harapan terhadap keselamatan dan kemakmuran. Rangkaian tersebut terlihat sejak proses makemit, pencarian keraras dan tirta, persiapan pementasan, ritual penolak bala, hingga matambak dan penyucian diri di Danau Batur.
Dengan demikian, Barong Brutuk dari tarian sakral ke cerita bergambar bukanlah perjalanan dari tradisi menuju modernitas, melainkan perjalanan tradisi untuk menemukan ruang baru dalam kehidupan generasi masa kini. Tradisi tidak harus tetap dalam satu bentuk agar tetap autentik. Yang harus dijaga adalah nilai, makna, konteks, dan hubungan masyarakat terhadap tradisi tersebut. Selama hal itu tetap dipelihara, Barong Brutuk tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap menjadi pengetahuan budaya yang hidup dan relevan bagi masa depan.
Catatan: Cerita bergambar Tari Barong Brutuk di Desa Terunyan merupakan cerita bergambar yang disusun berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh dan pemuka adat, para teruna yang pernah menarikan tarian Barong Brutuk serta berdasarkan sumber tertulis yang mengkaji tentang tarian Barong Brutuk. Cerita bergambar ini merupakan luaran hibah pengabdian kepada masyarakat yang diperoleh tahun 2025. Link cerita: https://online.fliphtml5.com/cbsyo/Barong-Brutuk_I-Ketut-Suar-Adnyana/#p=1
Penulis: Ketut Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole





















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)







