25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mbok

Putri Handayani by Putri Handayani
February 2, 2018
in Cerpen

Cerpen: Putri Handayani

MALAM. Purnama. Hujan lebat. Aku meringkuk di balik selimut tebal. Tubuhku tertelan habis dari ujung kaki hingga kepala. Setiap malam, saat masih terjaga, aku selalu menenggelamkan diri dalam selimut, karena aku penakut, apalagi sedang hujan lebat.

Aku takut kalau-kalau sesuatu tiba-tiba muncul dan berbaring di sampingku. Aku takut wajahku diraba oleh tangan-tangan dingin yang kesepian, atau ada yang menarik selimutku dari bawah kasur.

Aku sengaja tidak menutup tirai jendela agar ada secerca sinar purnama yang masuk melalui jendela-jendela itu, jadi kamarku tidak terlihat begitu gelap. Tapi aku kadang takut ketika pohon-pohon di luar jendela yang tertiup angin tiba-tiba membentuk siluet-siluet yang menyeramkan. Bergerak-gerak seperti tangan monster yang hendak mencengkramku.

Sesak. Gerah. Nafasku terengah. Titik-titik keringat mulai mengembun di sekitar dahiku. Aku masih meringkuk di balik selimut, sementara mata ini belum juga mengantuk. Kaki dan tanganku tiba-tiba berkeringat, aku tahu sesuatu pasti ada di sekitarku. Aku penasaran ingin mengintip keadaan di luar selimut tapi aku takut.

Bagaimana jika benar ada sesuatu? Aku menjadi benar-benar penasaran. Setelah beberapa saat berargumen dengan diri sendiri, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengintip ke luar selimut. Tanganku gemetar, kakiku semakin berkeringat. Kutarik sedikit demi sedikit tepian selimut yang menutupi wajahku.

Kuedarkan bola mataku ke seluruh penjuru kamar. Tembok kamar masih dihiasi siluet pepohonan yang menyeramkan. Tapi tunggu dulu. Ada sesuatu yang berbeda dari siluet-siluet itu. Mataku menangkap siluet seorang perempuan yang sedang duduk menyamping. Aku melihat lekukan dahinya, hidungnya, bibirnya, dagunya, juga aku melihat siluet rambutnya yang panjang.

Perlahan aku memalingkan wajahku ke kanan. Astaga! Spontan mulutku memekik kecil. Aku belum percaya apa yang kulihat. Benar saja, seorang perempuan tengah duduk dengan manis di tepi kanan kasurku. Ia menoleh kearahku.

Aku menutup mata dengan kelima jariku yang sedikit kurenggangkan. Percuma. Aku masih bisa melihatnya. Wajahnya datar, dingin, pucat. Tidak begitu cantik, tapi wajahnya meneduhkan. Ia tersenyum padaku. Ujung bibirku perlahan tertarik dan aku membalas senyumnya. Malam itu menjadi saksi pertemuan kami.

Aku tidak tahu namanya siapa, tapi aku sering memanggilnya Mbok. Mbok, ya.. pokoknya Mbok. Aku juga tidak tahu ia datang dari mana dan untuk apa. Yang jelas sejak malam purnama disertai hujan lebat itu, ia selalu datang dan memandangiku ketika tidur. Awalnya sangat aneh dan agak menakutkan, tapi lama-kelamaan aku jadi terbiasa dengan hal itu.

Ajaib. Aku jadi tidak takut lagi sekarang karena ada Mbok yang selalu menjagaku tidur. Aku jadi merasa terlindungi. Aku tidak lagi berpikir soal sesuatu yang tiba-tiba tidur di sampingku, tangan-tangan dingin yang menyentuh pipi, atau monster yang ingin menarik selimutku dari bawah tempat tidur.

Mbok sudah mewakili semuanya, tapi bedanya aku tidak takut melihatnya karena wujudnya hampir sama seperti manusia, hanya saja wajahnya lebih datar dan dingin. Dia wangi, dia mengenakan baju putih terang. Dan dia bukan kuntilanak.

***

SAAT itu aku kelas 4 SD. Aku ingat sekali, aku sering pulang sendiri berjalan kaki. Tapi aku takut karena sering dihadang ular di jalan. Saat itu jalan yang aku lalui sedang diaspal. Saat itu aku melihat Mbok ada di sampingku. Ia tersenyum. Ia wangi seperti biasa. Lalu aku digendong olehnya. Orang-orang yang tidak bisa melihat keberadaan Mbok mungkin melihatku seperti melayang atau mungkin mereka melihatku hanya berjalan melewati aspal-aspal yang basah itu tanpa takut lengket atau terkena panasnya. Tapi aku merasa tubuhku terangkat dan tiba-tiba saja aku sudah sampai di jalan yang tidak ada aspal yang lengket dan panas. Jadi begitu, setiap pulang sekolah Mbok selalu diam di sana dan menungguiku agar aku tidak diganggu oleh ular-ular nakal itu.

Aku suka bercanda dengan Mbok. Dia lucu dan agak usil. Jadi, aku ingat suatu ketika lampu kamar mandiku mati-hidup dengan sendirinya, dan juga air keran selalu menyala dan mati sendiri. Mbok memainkannya. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang usil itu. Ia juga tertawa, atau lebih tepatnya menyeringai seperti yang dilakukan hantu, hemmm, aku tidak tahu Mbok ini hantu atau bukan.

Yang jelas dia baik sekali padaku, dan sudah aku anggap kakak sendiri. Ketika menjelang tidur, seperti biasa Mbok duduk di tepian kasur lalu memandangiku yang tertidur.

Di komplek tempat perumahanku hanya ada dua rumah yang baru rampung dan sisanya sawah juga sungai. Aku suka bermain sendiri di sungai itu. Airnya jernih dan suasananya tenang. Tapi, Mbok melarangku bermain di sungai itu, dia bilang di sana banyak ada ular. Sejak saat itu aku tidak berani lagi pergi atau bermain di sungai itu, menengok saja tidak. Aku sangat takut dengan ular, takut sekali. Untung ada Mbok yang selalu menjaga dan memperingatiku.

***

SUATU ketika aku sakit. Seluruh tubuhku panas. Sudah 3 minggu aku cuti dari sekolah gara-gara sakit. Ayah dan ibuku tidak tahu aku sakit apa. Sudah berbagai dokter spesialis didatangkan, aku belum juga sembuh dan mereka tidak mengerti aku sakit apa. Tapi, sesuatu seperti mengarahkan orang tuaku agar membawaku ke orang pintar.

Maka, berangkatlah kami ke sebuah tempat yang agak terpencil di antara rerimbunan hutan. Sambil digendong aku selalu bertanya ini di mana? Untuk apa ke sini? Aku juga selalu mengeluh tubuhku panas sekali. Seperti ingin mati rasanya. Berkali-kali aku selalu memanggil nama Mbok, Mbok, dan Mbok, tapi dia tidak datang juga. Kenapa justru di saat yang seperti ini ia tidak datang menemaniku? Sejak hari pertama aku sakit aku tidak melihat lagi keberadaannya.

Aku ingat ketika pulang sekolah, Mbok dan aku melewati sebuah pohon jambu air yang cukup besar. Buahnya merah ranum dan banyak sekali. Siang itu memang cukup terik, seragam sekolah sampai basah di bagian punggung oleh keringat. Keringat juga sudah bercucuran di dahi hingga poniku menjadi lepek tak beraturan.

Aku merengek pada Mbok, aku bilang aku haus. Aku ingin Mbok memetikkan beberapa jambu itu untukku. Mbok menolaknya. Kata Mbok pohon jambu itu bukan milikku dan aku tidak boleh memetik buahnya sembarangan, berbahaya. Tapi aku tetap keras kepala dan malah merajuk pada Mbok. Mbok sedikit kesal dengan tingkahku, tapi sepertinya ia tidak tega melihat raut wajahku yang sudah hampir menangis dengan mata yang berkaca-kaca.

Akhinya Mbok menjatuhkan beberapa buah jambu ke tanah dengan satu kibasan tangan. Aku melihatnya tapi orang lain mungkin hanya merasakan ada angin besar yang tiba-tiba menjatuhkan jambu-jambu itu. Aku melonjak kegirangan. Raut wajahku seketika ceria kembali. Lalala, aku memunguti satu demi satu jambu air yang berserakan di tanah sambil sesekali menggigitinya satu per satu. Mbok hanya tersenyum melihat tingkahku. Lalu, keesokan harinya sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku.

Kami sudah sampai di tempat tujuan. Aku tidak suka tempat ini, lembap dan banyak barang-barang aneh, lalu wewangian dupa yang menyesakkan. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini, tapi apa daya tubuhku terlalu lemas untuk bergerak, bahkan berjalan. Aku masih di dekapan ayah, lalu mereka duduk menghadap orang pintar itu sambil memangku tubuhku. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, yang jelas dari pembicaraan yang aku tangkap, intinya mereka sedang membicarakan kondisiku lalu ritual-ritual untuk penyembuhanku.

Oia, yang lebih aneh lagi, orang pintar itu mengatakan bahwa aku terkena cetik, sejenis racun yang dikirim seseorang melalui makanan atau dikirim secara magis. Ia tahu aku pernah memungut buah di jalan dan memakannya. Aku juga disukai oleh makhluk halus karena dalam tubuhku terdapat sesuatu yang bila sesuatu itu didapatkan oleh orang yang menganut aliran sesat maka orang itu akan bertambah kesaktiannya. Jiwaku sudah ditahan di suatu tempat dan jika tidak segera diupacarai, maka aku akan mati. Begitulah orang pintar itu bercerita yang diiringi oleh isak tangis ayah dan ibuku.

***

TENTANG Mbok, dia tidak lagi menampakkan dirinya di mana pun. Terkadang aku rindu tingkahnya yang usil ketika memainkan lampu dan keran di kamar mandiku. Aku rindu wajahnya yang datar dan dingin. Aku rindu senyumnya yang menyeringai, juga aromanya yang wangi. Aku ingat Mbok selalu menggendongku ketika pulang sekolah, menjauhkan ular-ular itu dariku. Aaaa… Mbok, aku sangat merindukanmu. Aku menyesal telah memaksanya mengambilkan jambu-jambu itu. Pasti dia marah padaku. (T)

 

 

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Acep Zamzam Noor# Kwatrin Kegembiraan, Kwatrin Kesedihan

Next Post

Putu Wijaya Menyambung Lidah Rendra

Putri Handayani

Putri Handayani

Bernama lengkap Desak Ketut Putri Handayani. Lahir di Klungkung. Adalah penulis pemula yang punya niat besar untuk terus berkembang

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post

Putu Wijaya Menyambung Lidah Rendra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co