7 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Jani Nugraha 2022 | Putu Wijaya dan Spirit Tradisi Bali

tatkala by tatkala
December 1, 2022
in Persona, Pilihan Editor
Bali Jani Nugraha 2022 | Putu Wijaya dan Spirit Tradisi Bali

Putu Wijaya | Sumber foto: FB Putu Wijaya

PUTU WIJAYA, sastrawan dan dramawan besar Indonesia. Ia bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya lahir 11 April 1944 di Puri Anom, Tabanan, Bali. Meski lahir di Bali, ia besar dengan karya-karya besarnya ketika berada di luar Bali.

Yang menarik, ketika berada di Bali, ia tak tertarik dengan tardisi Bali. Barangkali karena ia hidup terlalu dekat dengan tradisi leluhurnya itu. Justru ketika di luar Bali, tradisi itu hidup dalam karya-karya.

“Sewaktu tinggal di Bali hingga bangku SMA, saya kurang tertarik pada tradisi karena mungkin terlalu dekat hal biasa,” kata Putu Wjaya suatu kali.

Beda ketika ia berada jauh dari tanah kelahiranya, justru tanpa disadari nilai-nilai  tradisi tumbuh subur di bawah alam sadarnya sehingga menjadi spirit penting dalam karya-karyanya.

“Setelah jauh, berada  di Yogya, Jakarta, AS, Jepang  Biograd, justru  kearifan lokal Bali seperti desa kala patra, ana tan ana, puyung maisi, rwa bhineda,  menyeruak dari bawah sadar saya dan melumuri seluruh karya tulis maupun tontonan teater, film, sinetron karya saya sampai sekarang,” ujar Putu Wijaya, putra dari  I Gusti Ngurah Raka ini.

Putu Wijaya mengakui, dulu ia menelusuri tradisi Bali dari sudut kasat mata sehingga yang terurai adalah penampakannya atau tampilannya.

“Kini lewat jiwa kearifan lokal Bali serta reinterprerasi, reposisi dan revitalisasinya, saya menemukan nilai-nilai universal. yang bisa difungsikan untuk converter desa kala patra agar segala sesuatu tetap bisa aktual,” ujar Putu.

Banyak  karya-karya tulis berupa cerpen, novel maupun naskah drama dengan mengandung spitir Bali, di antaranya, karya berjudul  ‘Bila Malam Bertambah Malam’, ‘Tiba Tiba Malam’, ‘Aus’, ‘Putri’, ‘Jprut’, ‘Goro Goro’, dan ‘Lautan Bernyanyi.

“Belum ada karya saya yang paling berkesan,” katanya.

Karena itulah, ia mengaku tmasih terus penasaran menulis. Dalam kesehariannya hidup bersama istri, Dewi Pramunawati, dan anaknya I Gusti Ngurah Taksu Wijaya, ia terus menulis, hingga kini.  

Hingga kini Putu Wijaya dikenal sebagai penulis sastra, penulis drama, sutradara dan produser film. Meski jauh dari kampung halamannya, Putu Wijaya begitu dekat dengan Bali dan senantiasa berpikir terus untuk menulis tentang Bali, bahkan sampai detik ini belum ada yang dirasakan puas untuk menulis soal Bali.

Putu Wijaya memiliki  motto kerja, dalam setiap langkah dalam menentukan tema, karya, tulisan yang dituangkan menjadi sebuah garapan, tontonan dan sebagainya. “  Motto kerja saya: BERTOLAK DARI YANG ADA,  pun rohnya muncul dari upaya mereinterpretasi kearifan lokal Bali,” tandasnya.

Mengenal kiprah sang sautradara tenar ini, dalam menulis novel, drama dan kolom untuk Bali selama 20 tahun, rutin dilakukan  di salah satu media Tokoh (Kelompok Media Bali Post).

Sedangkan tingkat nasional, dramawan kondang ini banyak menulis cerpen, novel, drama, kolom, kritik, scenario, teater , workshop dan film. Sedangkan di tingkat internasional, ada penulisan lakon, cerpen, dan novel yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris,  Bahasa Jerman, Bahasa Perancis, Bahasa Arab, Bahasa Jepang, Bahasa Rusia dan Bahasa Belanda.

Putu Wijaya juga sangat dekat dengan dunia kewartawanan, di awal karier Putu Wijaya mengasuh beberapa media besar di Jakarta. Yakni bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres. Setelah memimpin majalah Ekspres (karena majalah itu mati), ia bekerja sebagai redaktur majalah Tempo. Pada saat itulah Putu Wijaya mendapat dukungan dari beberapa temannya di Tempo untuk mendirikan sebuah teater. Akhirnya, Putu Wijaya mendirikan Teater Mandiri.

Kepeloporan dan kontribusi yang kental dilakukan Putu Wijaya baik di tingkat lokal maupun nasional bahkan internasional diantaranya, re-interprestasi terhadap kearifan lokal/tradisi Bali, sedangkan tingkat nasional menemukan konsep kerja “Bertolak dari yang Ada”, menciptakan karya-karya terror mental mengungkap lahirnya tradisi baru. Putu tuangkan baik dalam cerpen, novel, drama, essay dan penulisan scenario maupun sinetron.

Sebagai novelis, cerpenis, dramawan, dan wartawan, dari  namanya ini dapat diketahui bahwa ia berasal dari keturunan bangsawan. Putu Wijaya  menamatkan sekolah rakyat hingga sekolah menengah atas di Bali,  sedangkan melanjutkan perkuliahan di studi di Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada dan mendapat gelar sarjana hukum tanggal 28 Juni 1969.

Di samping berkuliah di Fakultas Hukum, Putu juga belajar di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) selama satu tahun, yaitu tahun 1964.  Dalam kehidupan sehari-hari Putu Wijaya tidak pernah memakai gelar “sarjana hukumnya”. Tahun 1968 ia ikut bermain di Bengkel Teater Rendra dan sempat mementaskan “Bip-Bop” dan “Pozzo” dalam drama Menunggu Godot di Jakarta tahun 1969.

Sejak tahun 1959 Putu Wijaya bermain drama dengan Kelompok Sanggar Bambu. Di sanggar itu, ia menyutradarai pementasan Lautan Bernyanyi tahun 1968. Setelah pindah ke Jakarta, Putu Wijaya bergabung dengan kelompok Teater Kecil pimpinan Arifin C. Noer.

Dia juga menggabungkan diri dengan kelompok Teater Populer pimpinan Teguh Karya. Dia juga pernah menjadi redaktur majalah Zaman. Tahun 1973 Putu Wijaya mendapat beasiswa untuk belajar drama di Jepang selama satu tahun. Dalam mengikuti pelajaran itu, ia ikut hidup dengan kelompok masyarakat komunal di Ittoen, Jepang.

Di sana Putu Wijaya hidup sebagai petani. Putu juga menyertai kelompok itu untuk berkeliling dalam usaha memberikan pertunjukan “sandiwara rakyat keliling” yang bernama “Swaraji”. Dia hanya sanggup memanfaatkan beasiswa itu selama tujuh bulan, lalu kembali ke Indonesia dan aktif kembali sebagai staf redaksi majalah Tempo.

Tahun 1974 Putu Wijaya mendapat kesempatan untuk mengikuti lokakarya penulisan kreatif di Iowa City, Amerika Serikat. Kegiatan itu bernama International Writing Program yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Iowa. Setelah pulang ke Indonesia tahun 1975, ia mendapat kesempatan untuk bermain drama dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, sebelah timur kota Paris, Prancis. Tahun 1985 Putu Wijaya mengikuti kegiatan Festival Horizonte III di Berlin, Jerman.

Dalam berkarier Putu Wijaya terkenal sebagai penulis naskah drama. Dari tangannya telah muncul beberapa naskah drama modern yang beraliran arus kesadaran. Naskah drama yang ditulisnya tidak sama dengan naskah drama konvensional. Di samping itu, Putu Wijaya juga menulis beberapa novel yang beraliran baru. Novel-novelnya juga bercorak “arus kesadaran”, “absurd”, seperti juga corak-corak novel Iwan Simatupang.

Novel bercorak kejiwaan dan filsafat merupakan ciri tulisan Putu Wijaya. Putu Wijaya juga menulis cerita pendek. Sejumlah cerita pendeknya muncul, baik yang berupa buku maupun yang terbit di berbagai majalah dan surat kabar. Sama seperti drama dan novelnya, cerita pendek Putu Wijaya juga bercorak baru, beraliran kesadaran baru, dan mengungkapkan banyak stream of consciousness.

Banyak kritikus dan pengamat sastra yang memberikan kritik dan komentar terhadap Putu Wijaya. A. Teeuw menyatakan bahwa Putu Wijaya adalah orang yang sangat energetik dan serbabisa. Dia bukan hanya wartawan dan anggota tetap staf redaksi majalah Tempo, melainkan juga sutradara dan penulis drama. Unsur keterasingan (sebagai ciri khas manusia modern) makin jelas dalam novel-novelnya. Di sinilah ia menunjukkan bakatnya sebagai novelis sepenuh-penuhnya.

Putu Wijaya mendapat beberapa penghargaan dan hadiah atas karya-karyanya. Tahun 1967 naskah Putu Wijaya “Lautan Bernyanyi” mendapat hadiah ketiga dari Badan Pembina Teater Nasional Indonesia dalam Sayembara Penulisan Lakon. Tahun 1980 ia memperoleh Hadiah Sastra Asean (SEA Write Award) yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand atas karyanya Telegram dan tahun 2008 ia menerima Penghargaan Federasi Teater Indonesia di Taman Ismail Marzuki.

Atas pengabdian, kegigihan dan keteguhan I Gusti Ngurah Putu Wijaya, dalam membina, melestarikan, dan mengembangkan seni sastra/ drama   tanpa mengenal lelah dan putus asa , Pemerintah Provinsi Bali mengapresiasi dengan memberikan penghargaan Bali Jani Nugraha tahun 2022.  [T][Ole/*]

Bali Jani Nugraha 2022 | Prof. I Nyoman Darma Putra, Juru Kunci Sastra Indonesia di Bali
Bali Jani Nugraha 2022 | Mas Ruscitadewi Dalam Dunia Cerita Anak-anak
Bali Jani Nugraha 2022 | Tan Lioe Ie Pada Pusaran Puisi dan Musik
Tags: DramaPutu Wijayasastrasastrawansastrawan baliTeaterTeater Mandiri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Campuhan Budaya 2022, Cok Ace: Pelestarian Kebudayaan Diteruskan Anak Muda Secara Lebih Hebat

Next Post

Bali Jani Nugraha 2022 | Sthiraprana Duarsa, Dokter dan Kesetiaan Pada Puisi

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Bali Jani Nugraha 2022 | Sthiraprana Duarsa, Dokter dan Kesetiaan Pada Puisi

Bali Jani Nugraha 2022 | Sthiraprana Duarsa, Dokter dan Kesetiaan Pada Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co