24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama

Gde Aryantha Soethama by Gde Aryantha Soethama
September 3, 2022
in Cerpen
Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama

Ilustrasi (crop) Lina PW

Malam turun menggigil ketika Gancang menggamit lengan Sukantun ke luar gubuk, berdiri di tengah sawah yang baru sepekan ditanami padi. Mereka menginjak pematang yang becek limpahan air, berkilat oleh gemerlap bintang.

“Kau dengar kan, Tun?” tanya Gancang setelah mengatupkan mata.

Sukantun menggeleng. “Tak kudengar apa pun yang kamu perintahkan harus kudengar.”

“Pejamkan mata, kamu akan mendengarnya!”

“Sudah, tapi tak kunjung kudengar.”

“Bayangkan pucuk ilalang berayun-ayun perlahan, amati seksama goyangannya.”

“Sudah, sudah….. cuma kutangkap desis panjang berulang datang-hilang, seperti bunyi bongkahan es disiram air, berderak lembut. Suara itu yang kamu maksud, Gan?”

“Itu pertanda kamu hampir sampai. Pusatkan pikir dan rasa pada angin yang mengayun-ayun ilalang. Akan kau raih bunyi panjang melengking halus.”

Sukantun menajamkan perasaan, mengendus, meresapkan, dan mencecap liukan ilalang dengan batinnya. Ia mulai mendengar suara-suara lirih, tipis, lurus dan meruncing. “Aku mulai mendengarnya, samar, sayup-sayup. Iya, iya, sekarang bunyi itu menjadi suara tersedu-sedu.”

“Suara apa itu, Tun?”

“Tangis bayi. Suara yang mengharap-harap untuk diurus. Tangis memelas panjang sekali. Itukah suara yang  kau maksud, Gan?”

“Iya, iya, pejamkan terus mata, pusatkan jiwa pada pucuk ilalang bergoyang-goyang, kamu akan terus mendengar tangis bayi.”

Kini di dusun itu Sukantun adalah orang ketiga pemilik ilmu Sarwa Pireng, untuk menangkap suara dalam gulita, agar bisa mendengar suara yang bersumber dari benda-benda diam yang nyata maupun maya. Jika dikuasai dengan sempurna, penekun Sarwa Pireng selangkah lagi menggenggam ilmu Sarwa Pineh, aji untuk membaca pikiran dan kehendak orang.

Lebih setahun Sukantun tepekur belajar Sarwa Pireng pada Gancang, hampir saban malam di gubuk petani itu, sebuah tempat yang tak jauh dari sumber tangis. Gancang sendiri belajar dari Ni Rentit, orang pertama yang paling jelas bisa mendengar tangis-tangis itu. Mungkin karena Ni Rentit seorang perempuan yang mengurus orok-orok pelantun tangis yang dicampakkan itu.

Ketika pertama kali orok ditemukan dibungkus plastik menghambat saluran air ke sawah, Banjar[i] Penasar geger. Polisi gagal menemukan si pembuang jabang tak bernyawa itu. Tiga bulan kemudian orok ditemukan di bawah pohon sukun dekat penjual bubur. Dusun tidak cuma gaduh, tapi sepakat melangsungkan upacara bendu guru piduka[ii]. Mereka menganggap diri bersalah dan terkutuk, sampai ada orang berani membuang bayi di desa mereka.

Tapi, berselang sepuluh bulan mayat bayi ditemukan lagi dekat pasar. Upacara kembali digelar, kali ini lebih megah, disertai sesaji mohon ampun dengan kepala kerbau. Tentu banyak biaya dihabiskan. Setelah lelah melaksanakan upacara, krama[iii] Banjar Penasar tetap berdebar-debar, jangan-jangan akan ada lagi bayi dibuang di dusun mereka. Benar juga, berselang empat bulan, seorang petani sedang mencari kayu bakar menemukan orok di tegalan kelapa.  Apa boleh buat, upacara digelar lagi, kini lebih kecil, karena sedikit yang menyumbang untuk biaya sesaji.

“Kita harus berdoa dengan ikhlas, bersih, tenang, sujud, dan jangan sekali-sekali mencaci si pembuang orok,” ujar kepala dusun. “Dengki dan dendam tak pernah menyudahi masalah. Sepenuh ikhlas kita mohon agar kampung ini damai, terhindar dari bencana, dan tidak menjadi dusun tempat buang orok.”

Ilustrasi: Lina PW

Doa-doa ikhlas itu agaknya tidak mempan, karena tiga bulan kemudian ditemukan lagi orok dibuang, kali ini sangat mencolok, digeletakkan di bawah pohon manggis di halaman balai banjar. Warga membungkus orok itu, lalu ramai-ramai mendatangi kantor polisi, menuntut penegak hukum segera menangkap para pembuang orok. Mereka kemudian pergi begitu saja setelah menggeletakkan orok masih dililit tali pusar itu di meja penjaga.

Itu adalah bayi terakhir yang dipedulikan krama. Setelah itu ada tujuh orok lagi dibuang di dusun itu. Tubuh-tubuh mungil pucat itu tak lagi diacuhkan warga. Jika seseorang menemukan mayat bayi, tak ada yang peduli. Mereka jadi terbiasa, ogah melapor ke polisi, karena yakin si pembuang orok tak bakalan tertangkap, kendati mereka juga tahu polisi sudah berusaha keras untuk itu.  Krama kini sibuk bertanya-tanya, apa kesalahan dan kelebihan kampung mereka sampai dijadikan tempat buang bayi?

Sejak krama tak lagi peduli pada jabang dibuang itulah Ni Rentit, janda tanpa anak, turun tangan. Mayat-mayat itu ia bawa ke sebuah bukit yang puncaknya kurang lebih seluas dua kali lapangan voli, dirimbuni ilalang. Beberapa pohon gamal dan jambu mete tumbuh di tepi sekeliling. Banyak yang keberatan menyebut tanah itu bukit. “Itu cuma gundukan tanah tinggi luar biasa,” ujar orang-orang. Tapi, jauh lebih banyak yang menyebut sebagai bukit. Ilalang rimbun dari utara ke selatan di puncaknya mengingatkan pada potongan rambut gaya punk suku Indian Mohawk, tampil dengan jambul memanjang di bagian tengah kepala, rambut dipangkas pendek kiri-kanan. Orang-orang pun kemudian menyebut tempat itu Bukit Jambul.

Ni Rentit membersihkan mahluk-mahluk mungil malang itu, dan menguburnya di Bukit Jambul, dekat sebuah batu tegak bulat memanjang menyerupai sosis setinggi pinggang. Ia mengingat sudah sebelas jabang dibuang di Banjar Penasar, tujuh ia kubur di Bukit Jambul.  Selalu Sukantun membantu menggali kubur, dan Ni Rentit membalasnya dengan menurunkan Sarwa Pireng kepada petani pemilik sawah tak jauh dari batu penemuan itu.

Ni Rentit menemukan batu menyerupai palus[iv], seperti penis ereksi,di tengah puncak bukit. Ia potong rendah ilalang yang mengitari palus, sehingga batu itu kelihatan semakin gagah, kian kukuh menantang tegak. Jika purnama, ujung separo bundar batu yang sangat mirip kepala penis ereksi tertarik kulupnya itu, berkilat seksi.

Entah siapa memulai menyebarkan berita di Bukit Jambul ada lingga[v]. Banyak orang datang memastikan keberadaan batu simbol kejantanan itu. Mereka yakin Bukit Jambul dan lingga adalah tempat keramat yang akan bermurah hati memberi rahmat. Setiap pendatang selalu ingin bertemu Ni Rentit yang diyakini sebagai penjaga palus, dan paling tahu tentang lingga.

Banyak pasangan yang bertahun-tahun tidak dikaruniai anak melakukan tapa-yoga-samadi di Bukit Jambul. Mereka memohon agar diberi momongan, karena tak punya cukup uang untuk menjalani operasi bayi tabung. Sudah sebelas pasangan datang berkabar riang kepada Ni Rentit, memeluk haru janda tua itu menyampaikan syukur dan terima kasih karena si perempuan hamil. Ni Rentit lalu dikenal sebagai perempuan penjaga bukit tempat orang-orang memohon jiwa.

Mereka adalah pasangan yang datang ketika purnama, langit bersih, ujung batu palus berkilat oleh sapuan cahaya bulan, sangat menggairahkan ketika mereka tatap dalam samadi, sebelum mereka bercinta dengan gairah berkobar-kobar setiba di rumah. Mereka tak peduli ketika Ni Rentit menjelaskan, bisa jadi bayi yang dikandung adalah arwah salah satu jabang yang dibuang.

“Tapi mereka akan hidup penuh kemuliaan, karena sudah melunasi derita,” hibur Ni Rentit.

Bukit Jambul semakin ramai oleh pemohon bayi. Beberapa warga mendirikan tenda menjual makanan dan minuman. Ada pasangan yang membangun kemah, tinggal berhari-hari di kaki bukit. Sepanjang malam mereka bersamadi mohon bayi. Beberapa pasangan itu baru sadar, kalau mereka tidak lagi pernah bertemu Ni Rentit. Gancang juga tak tahu ke mana janda tua itu pergi.

“Sudah tiga kali kami ke sini tak berjumpa beliau,” ujar pasangan yang sudah tujuh tahun menikah belum punya momongan, kepada Gancang. Si lelaki kurus, kalau lagi bicara serius kelopak matanya berkedip cepat. Pasangannya gembrot dengan timbunan lemak di perut.

Seisi dusun berusaha menemukan Ni Rentit. Mereka juga minta bantuan SAR dan relawan pecinta alam. Lembah, lereng dan puncak ditelusuri. Sungai, semak, ceruk, diselidik, tak juga Ni Rentit ditemukan. Janda itu menghilang, gaib. Di mana ia bersembunyi?

Sukantun mendatangi Gancang, bertanya apa gerangan sesungguhnya terjadi.

“Kamu ingat pertama kali berhasil mencoba Sarwa Pireng, dan mendengar tangis bayi, Tun?”

Sukantun mengangguk, memicingkan mata. “Apa hubungannya dengan Ni Rentit lenyap?”

“Itu tangis bayi kesebelas yang dibuang di dusun kita, orok terakhir yang dicampakkan, dan dikubur di Bukit Jambul. Ni Rentit bilang ia harus pergi, tapi tak tahu ke mana. Ia juga bilang tak usah dicari. Jika saatnya kembali, ia datang sendiri.”

“Kapan kira-kira ia akan datang, Gan?”

“Dia muncul kalau ada jabang bayi dibuang. Di Bukit Jambul tak ada lagi arwah bayi harus dirawat, semua sudah punya rumah baru. Sekarang Bukit Jambul tempat yang hampa, palus atau lingga tak lagi bertuah sampai ada lagi orok dikubur di sana. Semua pasangan pemohon bayi itu akan pulang sia-sia. Begitu Ni Rentit bicara padaku sebelum dia pergi.”

Sukantun terpana. Pantas dia tak mendengar tangis bayi ketika tadi malam mencoba aji Sarwa Pireng di kaki Bukit Jambul. Cuma omongan pohon-pohon dan semak yang ia tangkap. Kepada Gancang, Sukantun lalu menyampaikan hasrat yang diam-diam ia pendam: mengubur di Bukit Jambul orok-orok yang dibuang, atau janin aborsi dari manapun. Kemudian silakan pasangan-pasangan tanpa anak datang memohon, agar diberi keturunan yang mulia.  Siapa tahu kelak ada yang jadi menteri atau presiden berwibawa, bersih, jujur, dan tidak korupsi.

“Bukankah orok Ken Arok dibuang ibunya sebelum dipungut Lembong, dirawat Bango Samparan dan diasuh Lohgawe? Ia pendiri Singasari dan menurunkan raja-raja Majapahit,” bisik Sukantun.

Giliran Gancang kini terpana. [T]


[i] banjar : dusun

[ii] bendu guru piduka : upacara adat mohon maaf.

[iii] krama : warga

[iv] palus: berasal dari phallus, penis ketika ereksi.

[v] lingga : tanda kelaki-lakian Dewa Siwa, lambang kesuburan.

_____

Baca cerpen lain…

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal Batas : Percakapan dengan Pebri Irawan

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Nyanyian Sepasang Mata

Gde Aryantha Soethama

Gde Aryantha Soethama

Dikenal sebagai wartawan kawakan, penulis esai dan cerpen. Bukunya Bolak Balik Bali ditetapkan sebagai buku nonfiksi terbaik oleh Pusat Bahasa (2006). Kumpulan cerpennya Mandi Api meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2006). Tahun 2016 diberi penghargaan Kesetiaan Berkarya oleh Kompas.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Nyanyian Sepasang Mata

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Nyanyian Sepasang Mata

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co