13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lukisan Senja | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Ni Wayan Sumiasih by Ni Wayan Sumiasih
June 6, 2022
in Cerpen
Lukisan Senja | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Penulis: Ni Wayan Sumiasih

 “Namaku Winda. Aku sedang  hamil! Kau kenal Aditya? Ia pacarku, dan sekarang aku sedang mengandung anaknya! Kudengar kau pacaran dengannya!”

Seketika mata gadis itu merah melotot seperti hendak menelan tubuhku yang terpaku. Mulutnya gemetar, tangan mengepal, dengan napas satu-satu, bahu terguncang, separuh bajunya basah oleh keringat dan air mata.

Matahari seolah berhenti menyapa. Kurasa jantungku meloncat dari jiwaku. Rohku pun berhenti mengalirkan nadi yang mencipta raga berdenyut. Ini yang namanya petir di siang bolong? Tubuhku tergetar, membeku menatap gadis yang berdiri di hadapanku.

Kupandang gadis di depanku. Wajah yang tak pernah kukenal. Aku baru bertemu dengannya hari ini. Namanya pun baru kuketahui saat ini, saat dia dengan suara lantang, berteriak melengking memperkenalkan dirinnya. Wajah kusut dan mata yang sembab, terlihat seperti menahan beban yang teramat berat.

Kulirik perutnya yang sudah membucit. Kutaksir gadis ini masih muda, mungkin   lebih muda usianya dariku sekitar dua tahun. Kulitnya putih bersih dan memiliki wajah yang cukup cantik. Rambut ikal sebahu terlhat indah walau  kusut tanpa disisir.

Mungkin bajunya pun tak terganti  seminggu. Ia terlihat sangat kumal. Ritual mandi mungkin menjadi hal yang aneh baginya. Bau tubuhnya agak mengusikku. Namun hal itu tak mengurangi gurat cantik wajahnya.

***

Ya, Aditya nama yang indah bagiku. Ia teman sekelas di satu SMA. Kami bertemu pertama kali saat pendaftaran di sekolah favorit di kotaku. Saat itu kami menunggu untuk daftar ulang di aula sekolah. Kami duduk berdekatan pada deretan bangku yang disediakan panita penerimaan siswa baru.  Dia mengulurkan tanganya.

”Perkenalkan namaku Aditya.”

Aku gelagapan karena aku tak menyangka kalau momen itu terjadi. Kutatap matanya. Wow, mata hitam bulat bening dengan senyumnya yang menawan. Kulitnya coklat bersih dengan tubuhnya yang atletis. Pasti gemar olah raga, pikirku. Dengan ragu kuulurkan tanganku,

”Dinda”

Gengamannya terasa hangat dan darahku berdesir. Jantungku berdebar karena tatapan matanya.

“Dinda, nama yang manis, semanis orangnya.”

Uup.. kuyakin pipiku merona merah saat mendengar celetukannya. Segera kutarik tanganku dari genggamannya. Belum sempat kutata rasaku, terdengar namaku dipanggil panitia

“Dinda Ayuningtyas.” Aku bergegas menuju meja panitia  tanpa menoleh padanya.

Aku berlari kecil menuju kelasku, semoga tidak terlambat. Kulirik jam tangan hadiah ulang tahunku  yang ke-18. Masih ada waktu 5  menit sampai terdengar bunyi bel sekolah. Ini hari pertamaku mulai sekolah lagi, setelah  liburan semester. Menggunakan seragam putih abu hanya  tinggal menghitung minggu. Ujian kelulusan tinggal beberapa bulan lagi.

Aku  menyusuri koridor. Terlihat beberapa foto siswa berprestasi yang terpajang dengan bangga atau mungkin dengan angkuh. Fotoku juga terbingkai di sana saat memenangkan lomba penulisan karya ilmiah tingkat Nasional.  Tuti dan Aditya mengapitku yang kala itu mengacungkan piala kemenangan. Bangga bisa mempersembahkan yang terbaik untuk sekolah tercinta.

Kami bertiga sahabat karib. Walau hobi kami berbeda, kami sering dipertemukan dalam kelompok belajar penulisan karya ilmiah. Kedekatan itu pun bertahan karena kami  satu kelas selama tiga tahun. Jadi, tiada hari tanpa kebersamaan yang kami lalui. Kebersamaan penuh cerita canda. Kadang terjadi pertengkaran kecil  yang lebih melekatkan kebersamaan kami.

Kutahu Aditya menaruh hati padaku, namun kutampik dengan halus. Perhatian, tingkah laku, dan sorot matanya, menyiratkan rasa sayang dan cinta yang didambakan setiap gadis di bumi ini.

Kujingkrakkan kaki seperti penari salsa. Sesekali kuputar tubuhku menirukan penari balet sambil bersenandung lagu Do Re Mi. Seekor kupu-kupu terbang menari mengitari dan mendahului langkahku. Desiran angin mengelus wajah, mengusap lenganku seolah menyambut dan mengucapkan salam.

Kubergegas menaiki tangga menuju ruang kelasku. Kelasku ada di lantai dua. Bel berbunyi saat langkah kakiku mencapai ruang kelas. Terdengar suara  di belakangku.

“Dasar penari!” Tangan Aditya mendekap pundakku dengan hangat.

Oups, langkahku terhenti.  Dadaku deg deggan. Ada rasa kangen yang membucah, yang ingin bergelayut di hatinya. Kerinduan mengalir di setiap aliran  nadi darahku. Tatapan, senyuman, dan suara yang selalu kurindu dalam diam. Tubuhku bergetar membeku.

”Semakin cantik,”  bisiknya dengan senyum dikulum melepas tangannya dari pundakku menuju bangkunya.

Duh Gusti, malunya aku. Ternyata dia di belakangku tanpa kusadari. Jadi dia melihat apa yang kulakukan? Ah, masa bodo. Sedari kecil aku suka menari, setiap ada acara ulang tahun sekolah, atau acara pelepasan siswa. Aku selalu terpilih. Aku paling suka menarikan tari Oleg Tamulilingan. Tarian ini sangat indah. Tarian yang melukiskan  gerak gerik seekor kumbang yang sedang bermain-main dan bermersa-mesraan dengan sekuntum bunga di sebuah taman. Tubuhku tinggi semampai, memiliki wajah yang putih bersih serta senyum yang manis mendukung gerakku menarikan tari Oleg Tamulilingan.

Belum sempat kuhempaskan tubuhku di kursi, Guru Wali  telah berdiri di kelas. Pertemuan  diisi dengan nasihat persiapan menghadapi ujian sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi.  Para guru berharap semua siswa lulus dengan nilai terbaik bahkan sempurna. Ocehan wali kelasku berlalu tanpa kuhiraukan. Pikiranku masih terbayang peristiwa pagi ini. Aditya tak pernah lelah mendekatiku. Kadang di saat tertentu aku nyerah, ingin membalas cintanya, selalu ada debaran halus menghampiri dadaku setiap beradu pandang.

Temanku Tuti menyenggolku, “Hai Din,  baru hari pertama sekolah dah melamun, bahaya lho  anak gadis pagi-pagi bengong, nanti ayam tetangga mati,” ledeknya.

Tuti temanku dari Sekolah Dasar,  sampai sekarang pun bisa satu sekolah  bahkan sekelas. Tuti suka bercanda. Kami selalu memeroleh ranking di kelas. Ia sangat suka basket. Tubuhnya yang tinggi langsing sangat mendukung hobinya. Bahkan saat ini dia menjadi team inti pemain basket. Walau hobi kami berbeda, namun di sisi lain, banyak hal sehati kami lakukan. Kulitnya agak coklat, mungkin karena sering di lapangan. Senyumnya manis dengan deretan giginya yang putih tersusun rapi. Aku hanya menatap dia sekilas tanpa peduli dengan ledekannya.

Bel sekolah berbunyi tiga kali. Itu pertanda pelajaran telah usai. Para siswa berhamburan keluar saling mendahului. Mungkin karena perut mereka minta diisi, sama seperti yang kurasakan.

“Din kau dijemput sopir?” tanya Tuti dengan napas terengah mengejarku.

“Kau kenapa sih, jalan seperti dikejar setan?” matanya tajam menatapku.

“Ya aku lari biar ngak ketemu dengan setan Aditya,” gumamku dalam hati. Entahlah aku hanya ingin menghindarinya. Aku takut dengan perasaan yang kurasa.

Terbayang di mataku, bagaimana kakakku Linda harus berhenti sekolah karena pacaran melewati batas, sehingga dia hamil. Ibuku pingsan saat guru BK datang ke rumahku untuk menanyakan keberadaan Linda yang sering alpa bahkan sudah tidak pernah datang ke sekolah. Saking sedihnya, ibuku sampai  opname beberapa bulan di Rumah Sakit karena penyakit jantungnya kambuh. Ayahku sangat marah dan terpukul karena peristiwa itu. Linda merupakan anak kesayangan, penerus harapannya untuk menjadi seorang pengacara. Sekarang harapan itu terbeban di pundakku. Segala gerakku diawasi dan dibatasi. Demi kebahagian orang tua, aku turuti keinginan mereka untuk tidak pacaran selama sekolah.

Akhirnya Ujian Sekolah telah terlewati, setelah sekian bulan terbenam dalam buku dan laptop yang melelahkan. Tinggal menunggu pengumuman hari kelulusan.

“Dinda, tunggu.” Terdengar suara yang tak asing ditelingaku. Aku menahan langkahku, Aditya berlari kecil menghampiriku. ”Kita ke kantin yuk, Din. Aku haus nih, lapar juga, belum sarapan.”

Belum sempat kujawab, ia menarik tanganku menuju kantin sekolah. Kantin tampak sepi karena belum jam istirahat. Kupilih kursi yang paling pojok, yang biasa kita gunakan bertiga kalau ada acara ritual ke kantin. Kali ini Tuti tidak ke sekolah karena ada upacara adat, begitu tadi isi suratnya untuk wali kelas.

Kualihkan pandanganku dari tatapan Aditya yang terlihat sangat serius. Aku gelagapan dengan tingkahnya. Ia memegang pipiku, agar menatapnya.

“Dinda, aku mau berkata serius padamu. Setelah ribuan hari kupendam rasa ini.”

Hatiku berdebar menunggu kalimat selanjutnya.

“Din, berikan aku kesempatan untuk menunjukkan  kalau aku serius denganmu. Aku sangat mencintaimu, tak perlu banyak kata, akan aku buktikan cintaku padamu.” Katanya sambil mengusap-usap punggung tanganku, lalu menaruhnya di dadanya. Aku kaget, darahku tersirap, menahan gejolak di dada. Jujur, aku pun mencintainya. Kuberanikan diri menatap bola bening matanya.

”Aditya, rasa kita sama, namun perjalanan kita masih jauh, banyak asa yang perlu kugenggam. Ada harapan yang mesti kudekap, berbagai  cerita yang mesti kuselami.”

Belum selesai kalimatku, Aditya langsung melompat, menarik tanganku dan memelukku sambil  berteriak kegirangan.

”Jadi kau menerima cintaku kan Din?” Aku hanya bisa mengganggukkan kepalaku sambil tersipu.

                      ***

Sekarang di hadapanku, seorang gadis bernama Winda, dengan perut buncit  menatapku dengan sorot tajam.

Kilatan mata Winda menyiratkan amarah luar biasa, penuh nafsu ingin merebut kembali yang sudah merasa menjadi haknya. Kutarik napas yang dalam, kutahan dan kuhembuskan perlahan. Berusaha kutenangkan diri. Kupersilakan Winda duduk.

“Duduklah, Winda, kita bicarakan dengan tenang!”

Dengan kasar dihempaskan tubuhnya di sofa. Kusuguhi dia air minum.

“Silakan minum dulu!”

Matanya masih merah menyala menahan marah yang belum reda. Diliriknya air yang kusuguhkan dengan penuh curiga. Bibirnya yang mungil menyeroscos berujar, kalau dia sudah pacaran dengan Aditya selama dua tahun, mulai dari kelas IX. Mereka satu desa. Bisa dikatakan masih ada hubungan kekerabatan. Jadi sekarang baru kelas X dan pacaran kebablasan. Pemecatan dari sekolah menakutkan baginya. Yang lebih dia cemaskan adalah apabila Aditya meninggalkannya. Tangisnya pecah sesenggukkan. Tubuhnya terguncang  dalam kepiluan. Aku elus rambutnya yang ikal, tangisnya semakin membuncah sambil memelukku dengan sangat erat. Aku bisikkan di telinganya.

”Percayalah, Aditya milikmu selamanya.”

Kutahan kelopak mataku, agar tiada butiran bening tumpah. Desir angin membelai-belai rambutku memelukku dalam lukisan senja. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: CerpenTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perang Ukraina, Tantangan Buat Indonesia

Next Post

Mari Menua Dengan Bahagia

Ni Wayan Sumiasih

Ni Wayan Sumiasih

Guru yang suka menulis

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Mari Menua Dengan Bahagia

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co