13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Santi Dewi by Santi Dewi
April 12, 2022
in Khas
Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Pentas Teater Kampus Seribu Jendela di Surakarta | Foto-foto: Dok TKSJ Undiksha

Memperingati Hari Teater Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 27 Maret, Teater Kampus Seribu Jendela mendapat kesempatan langka untuk pentas ke Taman Budaya Surakarta, Jawa Tengah. Di sana, saya dan teman-teman dibuat haru oleh antusiasnya penonton. Apresiasi penonton sangat besar, apresiasi yang belum pernah kami rasakan sebelumnya ketika pentas di Bali.

***

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha saat pentas di Surakarta

Setelah mendapat kabar bahwa ada undangan pentas dari Surakarta dalam rangka memperingati Hari Teater Sedunia, saya cukup dibuat terhentak sekaligus berbunga-bunga dalam hati. Mendapat kesempatan untuk pentas ke luar Bali bagai mendapat durian runtuh yang harus dan tidak boleh kami lewati.

Maka ketika kabar bahagia itu datang pada tanggal 27 Februari 2022 lalu, saya dan teman-teman di Teater Kampus Seribu Jendela langsung berunding dan memutuskan untuk mengambil kesempatan emas ini.

Acara perayaan Hari Teater Sedunia yang diselenggarakan oleh Omah Kreatif ARTurah di Wisma Seni, Taman Budaya, Surakarta dengan tajuk SalaHaTeDu ini mengusung bentuk festival.

Ada berbagai macam kegiatan yang hadir mewarnai acara yang digelar dari tanggal 23-26 Maret 2022 ini, seperti; workshop, sarasehan, pertunjukan, pembacaan karya sastra, orasi budaya penghargaan seniman, lomba pantomim, lomba pembacaan puisi, lomba musikalisasi puisi, pameran instalasi & foto pertunjukkan, serta bazar kuliner & merch.

Ketika informasi detail acara telah kami dapat dari panitia penyelenggara, kami segera membentuk peran kerja. Dari sekian banyak anggota yang ada, 12 orang akhirnya dipilih untuk berangkat mewakili Teater Kampus Seribu Jendela.

Kami membagi diri dengan peran yang harus dipertanggungjawabkan masing-masing. Saya sebagai pimpinan produksi, Dian Ayu Lestari sebagai sutradara, dan sisa 10 lainnya menjadi aktor yang diperankan oleh Indra Putra, Gitari Paramita, Mirah Krisna Devi, Dayu Pradnya, Musti Ariantini, Desy Antari, Agus Prebawa, Pandu Wardana, Yoga Sentana, dan Anggun Sentyawati.

Bima Hidup Lagi, Teater Mandiri Hidup Terus | Dari Pentas “GERR” di Festival Seni Bali Jani

Kami mementaskan naskah berjudul “Jero Ketut, Tom Jerry, dan Kisah-Kisah Seumpamanya” karya Manik Sukadana. Naskah ini sebenarnya pernah kami garap di tahun 2019. Saat itu, saya dan teman-teman angkatan saya di Teater Kampus Seribu Jendela berencana mengikuti acara FESTAMASIO yang diselenggarakan di Medan.

Tetapi sayangnya, saat itu, karena satu dan lain hal, takdir belum mengijinkan kami untuk pentas ke luar Bali. Proses latihan pun kami tempuh 9 bulan lamanya saat itu. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk mementaskan garapan itu keliling Bali. Banyak kritik dan saran kami terima dari para pegiat teater, seniman, maupun penikmat yang menonton.

Mempertimbangkan bahwa ini adalah kali pertama kami pentas ke luar Bali, tentunya kami ingin menampilkan yang terbaik yang kami bisa. Dengan sisa waktu yang singkat, dan menimbang garapan-garapan yang pernah kami buat, akhirnya kami memutuskan untuk membawakan kembali pentas yang pernah kami garap di 2019 tersebut yang kami rasa paling matang prosesnya dibanding pementasan lain yang pernah kami garap. Lalu berbagai kritik dan saran yang kami terima dulu akhirnya kami jadikan bahan pertimbangan ulang untuk coba kami perbaiki lagi dalam pementasan kali ini.

Proses latihan pun berjalan selama kurang lebih 3 minggu yang intens dilakukan setiap hari. Kami juga membuat schedule dan target adegan yang harus dicapai di tiap harinya karena waktu yang tersisa harus dimanfaatkan dengan baik.

Bahkan di beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan, latihan kami lakukan dari sore hingga pagi buta. Hingga taman kota tempat latihan kami berubah menjadi sesunyi kuburan. Tantangan soal ketubuhan aktor maupun adegan adalah salah satu hal yang cukup jatuh bangun kami lakukan dalam proses pencarian ini. Sehingga, kami pun selalu meminta tanggapan dan kritik kepada siapa saja yang datang melihat selama proses latihan berlangsung.

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha saat pentas di Surakarta

Akhirnya pada tanggal 25 Maret, hari yang cukup challenging terutama bagi saya dan Dian Ayu, di mana pada hari dan jam yang bersamaan, kami harus bergulat dengan jadwal pribadi lain yang tak kalah pentingnya dengan jadwal keberangkatan ke Surakarta. Di jam yang sama dengan jam keberangkatan,

Dian Ayu juga harus mengikuti acara wisudanya, dan saya harus bertaruh diri di hadapan para pembimbing dan dosen penguji. Beruntunglah kami berdua, bus dan teman-teman lain masih setia menunggu kami di kampus. Sayangnya, Dian Ayu harus naik bis dengan wajah cemong sisa make-up wisuda, dan bayangan laptop serta wajah dosen seperti masih melayang-layang di depan wajah saya. Wkwkwk…

Kami berangkat melalui jalur darat dan laut yang ditempuh kurang lebih 16 jam perjalanan dengan bus. Dari pelabuhan Gilimanuk, kami langsung bertolak menuju Jogja dan sampai pada pagi buta di besok harinya. Kami melipir ke Kopi Klotok untuk sarapan. Tentu saja, kami mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mencuri waktu agar tidak kelewatan mencicipi yang fenomenal dan yang khas itu. Setelahnya, barulah kami menuju tempat tujuan utama yaitu Wisma Seni, Taman Budaya, Jawa Tengah.

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Kami disambut oleh teman-teman panitia yang ramah dan hangat, ada Mas Turah Hananto dan Mas Dody Eskha Aquinas yang sudah kontak dengan saya dari jauh-jauh hari. Ada juga Mbak Bijah, LO kami yang selalu sigap membantu dan setia menemani.

Kami mendapat tempat menginap yang nyaman. Sebuah kamar luas dengan beberapa ranjang yang cukup, bahkan lebih dari cukup untuk menampung 12 orang yang membawa banyak printilan barang dan properti yang kami bawa dari Bali. Jadwal pementasan kami pukul 19.30 WIB, lalu setelah beristirahat sebentar, di sore harinya, kami pun melakukan cek panggung.

Saat mendekati jam pentas, saat telah bersiap dengan kostum dan make-up, sayangnya hujan turun cukup deras. Akhirnya setelah berkordinasi dengan panitia, kami memutuskan untuk pindah ke panggung lain, ke sebuah wantilan. Karena memang panggung yang sebenarnya diagendakan untuk kami adalah panggung terbuka yang tidak memiliki atap.

Kami pun segera mengatur blocking di panggung yang baru. Setelah semuanya clear, para aktor bersiap di posisi, saya diam di bagian lighting untuk mengatur lampu, Dian Ayu di bagian sound, dan MC pun memulai acara. Syukurnya, pementasan kami berjalan lancar.

Meski resiko besar dengan tidak menggunakan mic sama sekali terpaksa kami ambil karena setting panggung satu dan panggung lainnya berbeda. Terlebih lagi, kami telah mensetting mic di panggung sebelumnya yang barangkali memiliki sistem berbeda dengan sound di panggung yang baru. Biarpun pada akhirnya para aktor hanya bermain dengan modal suara saja, ada hal menarik dan mengharukan yang saya lihat ketika pentas di Surakarta ini.

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha saat pentas di Surakarta

Banyak penonton yang hadir saat itu. Sisi kanan, kiri, dan depan panggung semua penuh dipadati para penikmat dari berbagai kalangan. Saya yang mengatur lighting di depan panggung, yang berada di belakang para penonton, sungguh dibuat takjub sekaligus tak menyangka bahwa penonton yang datang akan sebanjir itu.

Awalnya saya berekspetasi bahwa yang datang barangkali para penikmat teater saja, namun ternyata keramaian di hadapan saya benar nyata adanya. Mungkin beberapa dari mereka hanya datang untuk plesiran saja, tapi sungguh apresiasi mereka sangat tinggi. Tak pernah saya lihat penonton teater seramai dan sekhusyuk itu sebelumnya.

Bahkan, saat seorang dari kami menonton pentas selanjutnya dan barangkali sempat berbicara cukup keras, salah seorang penonton menoleh ke hadapannya, seolah menegur untuk tidak ribut karena pementasan sedang berlangsung.

Setelah penampilan kami usai, apresiasi juga datang dari beberapa teman dan panitia. Namun di samping kelancaran pentas yang kami syukuri, ada sebuah keberuntungan yang kami rasakan saat mengetahui bahwa kami mendapat jadwal yang sama dengan Teater Jiwa dari Jakarta dan Teater Payung Hitam dari Bandung yang tampil setelah kami.

Barangkali dewi fortuna memang sedang memberkati, sehingga kami bisa menyaksikan langsung penampilan Teater Jiwa dan Teater Payung Hitam yang entah kapan lagi bisa live kami saksikan jika tidak dalam kesempatan ini. Setelah menonton Teater Jiwa dan Teater Payung Hitam, kami menyadari bahwa PR soal kematangan tubuh dan eksplorasi panggung masih perlu kami gali. Momen ini memang penting bagi kami untuk melihat seberapa jauh kelompok lain berjalan, dan merefleksi ulang yang ada di dalam dan di luar diri kami.

Teaterisu #2 | Feminisme, Mitos, dan Panggung Perempuan

Keberuntungan lain kami adalah pertemuan dengan Slamet Rahardjo, seorang aktor dan sutradara terkenal Indonesia. Dalam obrolan singkat kami bersama beliau saat itu, setelah mengetahui kami dari Bali, beliau mengatakan pada kami bahwa ruh kesenian yang orang Bali pegang adalah tradisi dan budayanya. Sehingga menjaga dan tetap memasukkan nilai-nilai tradisi orang Bali menjadi hal penting yang dapat diolah dalam teater.

Di usia yang tak lagi muda, beliau terlihat tetap bersemangat bahkan tetap mengingatkan sesuatu tentang jati diri yang kadang tidak kami maknai secara sadar. Sungguh sebuah keberuntungan bisa bertemu beliau secara langsung.

Setelah acara usai, kami menikmati berbagai kuliner yang ada. Banyak stand makanan dan merchandise yang tersedia di festival tersebut. Suasana seperti itu memang sukses membuat kami larut dalam obrolan-obrolan seru sekaligus sukses buat kami jajan terus, hehe.

Di tempat makan yang memang disediakan panitia, kami juga nongkrong dan belajar bahasa daerah satu sama lain dengan teman-teman panitia di Surakarta. Kami belajar bahasa jawa pada mereka, mereka belajar bahasa bali pada kami. Obrolan ngarul ngidul pun sukses membuat perut kami sakit karena tertawa. Kami banyak bercerita dan berfoto ria sebagai kenangan.

Besok harinya di tanggal 27 Maret, kami pun pulang dan berpamitan dengan semua teman-teman di Surakarta. Namun sebelum menuju tempat bus menjemput, lagi-lagi kami memanfaatkan kesempatan langka ini untuk pergi ke beberapa destinasi. Kami mampir ke Pasar Klewer untuk membeli buah tangan dan hunting buku di Sriwedari. Jadilah barang bawaan kami tambah banyak saat pulang, wkwkwk.

Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Kami menempuh kurang lebih 16 jam perjalanan lagi menuju Bali. Dan sesampainya di Bali, kami langsung berpisah dan pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat dan menebus lelah untuk 4 hari perjalanan yang panjang.

Entah bagaimana saya ungkap rasa syukur atas kesempatan yang saya dan teman-teman Teater Kampus Seribu Jendela dapatkan. Perjalanan berharga ini bukan hanya kesempatan pentas semata bagi kami, tapi lebih dari itu semua, kami kembali merenungi apa yang sudah kami lewati dan merancang segala hal ke depan lebih baik, untuk kelompok, maupun diri kami sebagai manusia.

Semoga waktu senantiasa mempertemukan kita pada kesempatan-kesempatan baik lainnya. [T]

Tags: Hari Teater SeduniaSurakartaTeaterTeater Kampus Seribu Jendela
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Next Post

Balap Motor Pantai di Jembrana, Dibubarkan atau Sekalian Dijadikan Atraksi Wisata?

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails
Next Post
Balap Motor Pantai di Jembrana, Dibubarkan atau Sekalian Dijadikan Atraksi Wisata?

Balap Motor Pantai di Jembrana, Dibubarkan atau Sekalian Dijadikan Atraksi Wisata?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co