24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Balap Motor Pantai di Jembrana, Dibubarkan atau Sekalian Dijadikan Atraksi Wisata?

Satria Aditya by Satria Aditya
April 12, 2022
in Esai
Balap Motor Pantai di Jembrana, Dibubarkan atau Sekalian Dijadikan Atraksi Wisata?

Foto ilustrasi dari youtube

Senja sudah menampakkan warna dan auranya di tepian pantai. Air laut pasang surut tak terlalu tinggi. Pun beberapa orang yang lalu-lalang di bibir pantai dengan motornya yang siap untuk dipacu.

Orang-orang berkerumun saat motor pertama dihidupkan. Suara dentuman knalpot terdengar seakan balapan dengan debur ombak. Motor itu lantas melaju dari arah barat ke timur, jaraknya sekitar 100 meter. Lalu dengan suara knalpot yang khas, motor itu kembali lagi ke barat.

Begitu juga motor kedua. Mereka saling memacu motornya sampai pada titik mereka berdua berada sejajar dan saling tatap. Siap mengenali satu sama lain, seperti petarung yang ingin menerkam musuhnya.

Orang-orang berkerumun dari garis start sampai finish di timur. Dentuman knalpot saling beradu seperti bebarungan yang tak pernah gentar. Orang-orang saling menyalakan lampu gawai mereka agar menerangi para pembalap itu.

Kedua motor tak berhenti mengeluarkan asap dari mesin sampai knalpot karena percikan air pantai yang terkadang mengenai salah satu motor itu. Sampai akhirnya, mereka siap menerkam garis finish, beradu siapa yang paling tercepat.

Warung Ena Ena di Jembrana | Buka Saat Pandemi, Agar Semua Bisa Kenyang…

Puluhan bahkan sampai ratusan orang menonton walaupaun tak ada tempat duduk. Mereka bersorak ketika jagoannya menang. Setelah itu, dari timur lampu-lampu bertebaran seperti nelayan-nelayan yang siap menjala ikan.

Demikianlah pemandangan balap motor di tepi pantai di kawasan Jembrana, pada suatu senja yang indah, pada suatu hari yang biasa-biasa saja.

Ditonton, Dibubarkan

Balap pantai sebenarnya adalah balapan motor (liar, tentu saja) yang sengaja dan khusus untuk laga balap di pantai saja. Tak sembarang pantai yang bisa digunakan untuk balapan ini. Ternyata, pantai yang dipilih adalah pantai yang pasirnya lebih keras ketika diinjak atau dilalui kendaraan. Bisanya, pantai-pantai di Bali berpasir cukup gembur dari bibir pantai hingga menyentuh air laut yang pasang-surut.

Tetapi, di Bali Barat terkhusunya di Jembrana pantai di sana kebanyakan berpasir agak keras dan lebih padat. Bibir pantainyapun bisa dikatakan cukup luas. Pun jika bermain bola di sana akan bisa menyamakan dengan satu lapangan bola yang sesungguhnya.

Bahkan ketika ada sebuah pertandingan balap yang mempertaruhkan motor yang dikenal paling disegani akan sangat banyak penonton yang ada pada pertandingan tersebut. Bahkan jika ada sebuah tempat duduk pentonton seperti di sirkuit Mandalika mungkin saja bisa penuh tanpa celah.

Penonton itu ada dari berbagai kalangan. Anak muda, orangtua yang memang menyukai balap sampai pemancing yang sengaja ikut menonton sambil memancing di dekat area balap tersebut.

Festival Seni Pelajar Jembrana, Ekspresi Anak Muda Negaroa

Di Jembrana sendiri, spot yang paling bagus untuk balap pantai ini adalah di kawasan pantai sekitaran Pura Rambut Siwi. Karena di sana pasir pantai cukup padat jika dilalui kendaraan dan lebih bagus jika memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi.

Jika kawan-kawan pembaca mengetahui pantai Rambut Siwi dan pernah ke sana, pasti tidak akan awam jika setiap sore ada suara motor yang bisa dibilang cukup keras di sebelah timur Pura Rambut Siwi. Spot balapan ini sangat jauh dari keramaian pantai untuk orang bermain-main ke pantai. Pelaku balap pantai ini juga tampak memikirkan keselamatan diri sendiri dan orang lain agar tak ada kejadian yang tak diinginkan.

Nah, mengenai motor apa yang dipakai saat balapan juga diperhitungkan. Bukan sembrangan motor yang bisa dipakai balapan di pantai. Jika salah, tak memungkiri akan terjadi kerusakan pada motor dan kepala pengendara itu sendiri.

Sepeda motor yang digunakan untuk balap ini biasanya bermesin dengan kapasitas silinder 110cc hingga bisa lebih besar. Kata salah seorang bengkel yang sering menangani sepeda motor untuk balap pantai, sepeda motor ini di-setting dengan setelan pantai. Sangat berbeda dari pada balapan di aspal.

Bisa jadi sepeda motor yang digunakan untuk balap pantai ini di-setting agar lebih ringan dipacu ketika balapan di pantai. Itu juga tergantung dari joki atau pengendera yang akan mengendarai motor tersebut. Biasanya, orang yang membawa motor yang akan digunakan untuk balapan ini bukan pemilik dari motor itu, tambah ia.

Jembrana, Pusat Dunia yang Tak Pernah Selesai

Masalah ban juga sangat diperhitungkan. Ban balap pantai dan balap di aspal jauh sangat berbeda. Ketika biasanya balap di aspal menggunakan ban yang memiliki cetakan di bagian depan dan halus di bagian belakang berbeda dengan balapan di pantai. Balapan di pantai lebih cenderung menggunakan ban yang meiliki cetakan di bagian depan dan belakang. ukurannyapun juga berbeda dari balapan di aspal.

Sebagai perbedaan ukuran, ban yang digunakan untuk balap aspal memiliki ukuran yang cenderung lebih kecil dari diameter ban normal. Tetapi, untuk balap pantai ban depan memiliki diameter lebih kecil dan ban belakang memiliki diameter yang sedikit lebih kecil dari ban normal. Diameter ban yang dipakai adalah 70/80 dan 50/90 dan bisa lebih besar. Maslah ban bukan hal yang tak penting diperhatikan. Semakin pas dan kecil ban, kecepatan motor akan lebih kencang.

Nah, walaupun balapan ini tergolong unik karena diadakan di pantai tetapi balapan pantai ini masih bisa digolongkan ke balapan liar. Beberapa kali ada berita, balapan liar di pantai itu dibubarkan polisi. Pembubaran itu tentu saja wajar, karena balapan itu dianggap membahayakan jiwa, dan dianggap mengganggu kawasan wisata.

Cari Solusi, Bukan Emosi

Balapan motor di pantai ini memang unik. Di satu sisi banyak ditonton orang, di sisi lain dianggap terlarang dan berbahaya. Selain itu, balapan liar ini bahkan kerap dianggap berbahaya bagi orang yang berwisata ke pantai itu.

Dengan fenomena seperti itu, seharusnya dicari jalan keluar, sama-sama membuat senang, sama menguntungkan, sama-sama tidak berbahaya. Dicari solusinya, bukan hanya ditanggapi secara emosi. Di satu sisi memang banyak yang mengakui bahwa balapan itu berbahaya, di sisi lain, oleh banyak warga juga, balapan itu juga dianggap sebagai atraksi wisata.

Para anak muda, para pelaku balapan di pantai itu, di sisi yang berbeda juga sedang mengekspresikan diri mereka. Mereka seperti haus akan aksi petualangan, terutama di bidang otomotif. Dengan begitu, sayang sebenarnya jika balap di pantai tak diperhatikan secara lebih cermat.

Jika dipikir-pikir, balapan ini bisa menjadi sebuah daya tarik wisata khas untuk Kabuapten Jembrana. Jika dikelola dengan baik, balap pantai itu bisa mengundang orang-orang untuk bisa berkunjung ke Jembrana, selain mereka datang untuk mengenal budaya dan beberapa kekhasan dari Jembrana.

Kesenian Modern dan Eksperimen Sanggar Uyah Lengis| Catatan Festival Dusun Hari ke-2

Walaupun sudah ada beberapa sirkuit yang digunakan untuk balap offroad tetapi untuk balap drag bisa dikatakan tak ada di Jembarana. Jika pun ada balap yang resmi, pasti akan menutup jalan umum. Misalnya, acara balapan resmi di atas aspal biasa memilih tempat di belakang kantor bupati Jembrana.

Jika arena pantai dengan pasir yang cukup padat itu digunakan sebagai sirkuit, lalu balapan diatur secara resmi, diawasi baik-baik dengan ketentuan yang juga resmi, serta pembalap yang benar-benar sudah teruji, maka bukan tidak mungkin hanya Jembrana yang bakal punya atraksi wisata dengan sirkuit yang tiada dua. Itu memang pekerjaan sulit, tapi sebaiknya dirancang agar tak sibuk membubarkan terus-menerus.

Meski misalnya tak ada katagori balap pantai dalam nomenklatur olahraga, balapan itu bisa saja disebut sebagai atraksi wisata. Atau lambat-laun, mungkin saja akan tercipta Persatuan Olaharaga Balap Motor Pantai se-Indonesia. Jika ada voli pantai, kenapa tak mungkin ada balap pantai.   

Para penghobi dan pelaku balapan ini sebenarnya sangat berharap ada sebuah sirkuit untuk balapan secara resmi dan tanpa dikejar-kejar aparat. Mereka balapan liar karena tak adanya fasilitas yang bisa digunakan untuk merealisasikan hobi mereka. Jadi, jika dikejar-kejar terus, mereka mungkin tak akan kapok-kapok. Sebaiknya serap aspirasi mereka, atur, dan awasi dengan baik. [T]

Tags: atraksi wisatabalap motorjembranaotomotifpariwisata jembrana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Next Post

Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe

Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co