2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Balap Motor Pantai di Jembrana, Dibubarkan atau Sekalian Dijadikan Atraksi Wisata?

Satria Aditya by Satria Aditya
April 12, 2022
in Esai
Balap Motor Pantai di Jembrana, Dibubarkan atau Sekalian Dijadikan Atraksi Wisata?

Foto ilustrasi dari youtube

Senja sudah menampakkan warna dan auranya di tepian pantai. Air laut pasang surut tak terlalu tinggi. Pun beberapa orang yang lalu-lalang di bibir pantai dengan motornya yang siap untuk dipacu.

Orang-orang berkerumun saat motor pertama dihidupkan. Suara dentuman knalpot terdengar seakan balapan dengan debur ombak. Motor itu lantas melaju dari arah barat ke timur, jaraknya sekitar 100 meter. Lalu dengan suara knalpot yang khas, motor itu kembali lagi ke barat.

Begitu juga motor kedua. Mereka saling memacu motornya sampai pada titik mereka berdua berada sejajar dan saling tatap. Siap mengenali satu sama lain, seperti petarung yang ingin menerkam musuhnya.

Orang-orang berkerumun dari garis start sampai finish di timur. Dentuman knalpot saling beradu seperti bebarungan yang tak pernah gentar. Orang-orang saling menyalakan lampu gawai mereka agar menerangi para pembalap itu.

Kedua motor tak berhenti mengeluarkan asap dari mesin sampai knalpot karena percikan air pantai yang terkadang mengenai salah satu motor itu. Sampai akhirnya, mereka siap menerkam garis finish, beradu siapa yang paling tercepat.

Warung Ena Ena di Jembrana | Buka Saat Pandemi, Agar Semua Bisa Kenyang…

Puluhan bahkan sampai ratusan orang menonton walaupaun tak ada tempat duduk. Mereka bersorak ketika jagoannya menang. Setelah itu, dari timur lampu-lampu bertebaran seperti nelayan-nelayan yang siap menjala ikan.

Demikianlah pemandangan balap motor di tepi pantai di kawasan Jembrana, pada suatu senja yang indah, pada suatu hari yang biasa-biasa saja.

Ditonton, Dibubarkan

Balap pantai sebenarnya adalah balapan motor (liar, tentu saja) yang sengaja dan khusus untuk laga balap di pantai saja. Tak sembarang pantai yang bisa digunakan untuk balapan ini. Ternyata, pantai yang dipilih adalah pantai yang pasirnya lebih keras ketika diinjak atau dilalui kendaraan. Bisanya, pantai-pantai di Bali berpasir cukup gembur dari bibir pantai hingga menyentuh air laut yang pasang-surut.

Tetapi, di Bali Barat terkhusunya di Jembrana pantai di sana kebanyakan berpasir agak keras dan lebih padat. Bibir pantainyapun bisa dikatakan cukup luas. Pun jika bermain bola di sana akan bisa menyamakan dengan satu lapangan bola yang sesungguhnya.

Bahkan ketika ada sebuah pertandingan balap yang mempertaruhkan motor yang dikenal paling disegani akan sangat banyak penonton yang ada pada pertandingan tersebut. Bahkan jika ada sebuah tempat duduk pentonton seperti di sirkuit Mandalika mungkin saja bisa penuh tanpa celah.

Penonton itu ada dari berbagai kalangan. Anak muda, orangtua yang memang menyukai balap sampai pemancing yang sengaja ikut menonton sambil memancing di dekat area balap tersebut.

Festival Seni Pelajar Jembrana, Ekspresi Anak Muda Negaroa

Di Jembrana sendiri, spot yang paling bagus untuk balap pantai ini adalah di kawasan pantai sekitaran Pura Rambut Siwi. Karena di sana pasir pantai cukup padat jika dilalui kendaraan dan lebih bagus jika memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi.

Jika kawan-kawan pembaca mengetahui pantai Rambut Siwi dan pernah ke sana, pasti tidak akan awam jika setiap sore ada suara motor yang bisa dibilang cukup keras di sebelah timur Pura Rambut Siwi. Spot balapan ini sangat jauh dari keramaian pantai untuk orang bermain-main ke pantai. Pelaku balap pantai ini juga tampak memikirkan keselamatan diri sendiri dan orang lain agar tak ada kejadian yang tak diinginkan.

Nah, mengenai motor apa yang dipakai saat balapan juga diperhitungkan. Bukan sembrangan motor yang bisa dipakai balapan di pantai. Jika salah, tak memungkiri akan terjadi kerusakan pada motor dan kepala pengendara itu sendiri.

Sepeda motor yang digunakan untuk balap ini biasanya bermesin dengan kapasitas silinder 110cc hingga bisa lebih besar. Kata salah seorang bengkel yang sering menangani sepeda motor untuk balap pantai, sepeda motor ini di-setting dengan setelan pantai. Sangat berbeda dari pada balapan di aspal.

Bisa jadi sepeda motor yang digunakan untuk balap pantai ini di-setting agar lebih ringan dipacu ketika balapan di pantai. Itu juga tergantung dari joki atau pengendera yang akan mengendarai motor tersebut. Biasanya, orang yang membawa motor yang akan digunakan untuk balapan ini bukan pemilik dari motor itu, tambah ia.

Jembrana, Pusat Dunia yang Tak Pernah Selesai

Masalah ban juga sangat diperhitungkan. Ban balap pantai dan balap di aspal jauh sangat berbeda. Ketika biasanya balap di aspal menggunakan ban yang memiliki cetakan di bagian depan dan halus di bagian belakang berbeda dengan balapan di pantai. Balapan di pantai lebih cenderung menggunakan ban yang meiliki cetakan di bagian depan dan belakang. ukurannyapun juga berbeda dari balapan di aspal.

Sebagai perbedaan ukuran, ban yang digunakan untuk balap aspal memiliki ukuran yang cenderung lebih kecil dari diameter ban normal. Tetapi, untuk balap pantai ban depan memiliki diameter lebih kecil dan ban belakang memiliki diameter yang sedikit lebih kecil dari ban normal. Diameter ban yang dipakai adalah 70/80 dan 50/90 dan bisa lebih besar. Maslah ban bukan hal yang tak penting diperhatikan. Semakin pas dan kecil ban, kecepatan motor akan lebih kencang.

Nah, walaupun balapan ini tergolong unik karena diadakan di pantai tetapi balapan pantai ini masih bisa digolongkan ke balapan liar. Beberapa kali ada berita, balapan liar di pantai itu dibubarkan polisi. Pembubaran itu tentu saja wajar, karena balapan itu dianggap membahayakan jiwa, dan dianggap mengganggu kawasan wisata.

Cari Solusi, Bukan Emosi

Balapan motor di pantai ini memang unik. Di satu sisi banyak ditonton orang, di sisi lain dianggap terlarang dan berbahaya. Selain itu, balapan liar ini bahkan kerap dianggap berbahaya bagi orang yang berwisata ke pantai itu.

Dengan fenomena seperti itu, seharusnya dicari jalan keluar, sama-sama membuat senang, sama menguntungkan, sama-sama tidak berbahaya. Dicari solusinya, bukan hanya ditanggapi secara emosi. Di satu sisi memang banyak yang mengakui bahwa balapan itu berbahaya, di sisi lain, oleh banyak warga juga, balapan itu juga dianggap sebagai atraksi wisata.

Para anak muda, para pelaku balapan di pantai itu, di sisi yang berbeda juga sedang mengekspresikan diri mereka. Mereka seperti haus akan aksi petualangan, terutama di bidang otomotif. Dengan begitu, sayang sebenarnya jika balap di pantai tak diperhatikan secara lebih cermat.

Jika dipikir-pikir, balapan ini bisa menjadi sebuah daya tarik wisata khas untuk Kabuapten Jembrana. Jika dikelola dengan baik, balap pantai itu bisa mengundang orang-orang untuk bisa berkunjung ke Jembrana, selain mereka datang untuk mengenal budaya dan beberapa kekhasan dari Jembrana.

Kesenian Modern dan Eksperimen Sanggar Uyah Lengis| Catatan Festival Dusun Hari ke-2

Walaupun sudah ada beberapa sirkuit yang digunakan untuk balap offroad tetapi untuk balap drag bisa dikatakan tak ada di Jembarana. Jika pun ada balap yang resmi, pasti akan menutup jalan umum. Misalnya, acara balapan resmi di atas aspal biasa memilih tempat di belakang kantor bupati Jembrana.

Jika arena pantai dengan pasir yang cukup padat itu digunakan sebagai sirkuit, lalu balapan diatur secara resmi, diawasi baik-baik dengan ketentuan yang juga resmi, serta pembalap yang benar-benar sudah teruji, maka bukan tidak mungkin hanya Jembrana yang bakal punya atraksi wisata dengan sirkuit yang tiada dua. Itu memang pekerjaan sulit, tapi sebaiknya dirancang agar tak sibuk membubarkan terus-menerus.

Meski misalnya tak ada katagori balap pantai dalam nomenklatur olahraga, balapan itu bisa saja disebut sebagai atraksi wisata. Atau lambat-laun, mungkin saja akan tercipta Persatuan Olaharaga Balap Motor Pantai se-Indonesia. Jika ada voli pantai, kenapa tak mungkin ada balap pantai.   

Para penghobi dan pelaku balapan ini sebenarnya sangat berharap ada sebuah sirkuit untuk balapan secara resmi dan tanpa dikejar-kejar aparat. Mereka balapan liar karena tak adanya fasilitas yang bisa digunakan untuk merealisasikan hobi mereka. Jadi, jika dikejar-kejar terus, mereka mungkin tak akan kapok-kapok. Sebaiknya serap aspirasi mereka, atur, dan awasi dengan baik. [T]

Tags: atraksi wisatabalap motorjembranaotomotifpariwisata jembrana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Next Post

Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe

Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co