4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Santi Dewi by Santi Dewi
March 27, 2020
in Ulasan
Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Pentas Teater "Kaukah itu, Ibu" dari Teater Mahima dalam acara Mahima March March March 2020 [Foto: Komang Jayen]

Mahima March March March menjadi acara tahunan rutin yang diselenggarakan oleh Komunitas Mahima, Singaraja. Acara ini sebenarnya adalah momentum untuk memperingati hari berdirinya Komunitas Mahima atau dalam istilah kerennya sebut sajalah ulang tahun. Mahima March March March ini diselenggarakan tiga hari berturut-turut di bulan Maret dengan berbagai macam acara di setiap harinya. Ada pemutaran film, diskusi buku, diskusi sejarah, workshop, pentas musikalisasi puisi, talk show, pentas teater, dan acara-acara yang tidak terduga atau berubah-ubah di setiap tahunnya.

Di acara Mahima March March tahun 2020 ini, selain menjadi panitia, saya diberi kesempatan untuk turut andil dalam salah satu rangkaian acara sebagai suguhan opening. Berawal dari hari Ibu 22 Desember lalu, tulisan saya soal Ibu dimuat di Tatkala.co yang ternyata menarik perhatian Kadek Sonia Piscayanti. Seperti yang mungkin sudah teman-teman ketahui, selain menulis naskah & puisi, Kadek Sonia Piscayanti juga aktif mengangkat pentas teater soal perempuan & ibu. Maka dari itulah, beliau meminta izin kepada saya untuk menjadikan cerita hidup saya sebagai naskah monolog yang aktornya adalah saya sendiri.

Pentas Teater “Kaukah itu, Ibu” dari Teater Mahima dalam acara Mahima March March March 2020 [Foto: Komang Jayen]

Meskipun namanya monolog, namun saya tidak bermain sendiri. Lagi-lagi, ini adalah salah satu ciri khas teater Komunitas Mahima, yaitu teater perempuan. Ada tujuh perempuan lain yang turut mendukung pementasan ini dan tentunya memiliki peran yang sangat penting juga. Diantaranya adalah Gitari Paramitha, Dian Ayu, Indah Sriani, Erni Risma, Dewa Ayu Asri, Nindi Andika dan Widya Malini. Sebagai penulis naskah & sutradara, Kadek Sonia Piscayanti rupanya sudah mengatur naskahnya dengan matang. Agar tidak hanya saya yang mengambil alih seluruh pementasan, namun semua perempuan juga memiliki porsinya masing-masing untuk turut menyuarakan naskah.

Mahima March March March berlangsung tanggal 13-15 Maret 2020. Acara pertama adalah pentas saya dan teman-teman yang berjudul Kaukah Itu, Ibu? karya Kadek Sonia Piscayanti. Di hari pembukaan tersebut, saya tidak menyangka kalau penonton yang hadir akan seramai itu. Bahkan sangat serius. Ketika saya melihat beberapa orang dari pemerintahan Buleleng turut hadir untuk memeriahkan acara.

Sebagai penampilan opening, tentu saya dan teman-teman merasa semakin gugup. Namun siap tidak siap, gugup atau tidak, penampilan harus tetap berlangsung. Ketika pentas dimulai, keheningan penonton yang mengawali pentas kami akhirnya berakhir dengan tepuk tangan dari penonton. Syukur, usaha kami untuk membawakan pentas dengan maksimal berjalan lancar tanpa ada hambatan atau kesalahan.

Semua itu tentu tak luput dari sebuah proses. Namun saya tak mau mengatakan kalau kami sudah berhasil. Belum, tentu belum. Mungkin kata yang lebih tepat adalah lancar. Kami sudah membawakan pentas dengan lancar. Karena saya sendiri menyadari, masih ada banyak hal yang kurang ataupun perlu saya dan teman-teman gali lebih dalam. Terutama soal tubuh, perasaan dan jarak. Kami berlatih kurang lebih sebulan. Mengapa saya katakan kurang lebih? Sebab ada waktu latihan yang bolong-bolong karena kesibukan masing-masing. Di 1 minggu terakhir, barulah kami mantap latihan bersama untuk mengejar apa yang harus dikejar.

Di tengah proses latihan, Kadek Sonia Piscayanti memberitau saya. Bahwa katanya, saya terlalu jauh mengambil jarak dengan naskah, yang padahal itu adalah kisah hidup saya sendiri. Saya pun tidak menampiknya sebab saya juga merasakan. Saat latihan, bahkan saya bertanya pada diri sendiri, mengapa saya seolah menganggap naskah ini hanya sebagai naskah? Sehingga yang keluar saat itu hanyalah teks.

Namun inilah yang kemudian disadari oleh Kadek Sonia Piscayanti dan salah seorang partner saya, mereka mengatakan bahwa sebenarnya saya memang tidak pernah bersentuhan dengan kisah hidup saya sendiri. Kisah itu memang bagian hidup saya, namun tidak pernah saya rasakan. Sebab waktu kejadian itu terjadi, saya belum memiliki kesadaran penuh sebagai manusia. Saya tidak ingat dan belum tau apapun, sehingga pada akhirnya, saya memang tidak memiliki memory atau kenangan perasaan tentang kejadian tersebut.

Dari sana saya sadar, bahwa saya tidak boleh terlalu jauh mengambil jarak dengan naskah. Namun juga tidak boleh terlalu dekat. Tapi yang pas adalah di tengah-tengah. Terlebih lagi jika naskah tersebut adalah kisah hidup saya sendiri. Karena jika saya terlalu jauh mengambil jarak dengan naskah, seperti yang sudah dikatakan oleh Kadek Sonia Piscayanti, maka naskah hanyalah sebuah teks, tanpa perasaan, tanpa energy dan penonton tidak akan merasakan apa-apa. Namun jika saya terlalu dekat mengambil jarak dengan naskah, mungkin saya akan terlalu larut dan berpotensi untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya saya lakukan, misalnya menangis sampai gerong-gerong (tersedu-sedu). Tentu saja hal ini malah mengacaukan pementasan bukan?

Hal tersebut juga sempat ditanyakan oleh Kardian Narayana saat diskusi Teater Sebagai Gaya Hidup bersama saya & Kadek Sonia Piscayanti usai pementasan selesai, bahwa di manakah saya harus memposisikan diri dalam naskah? Maka dari itu, saya rasa yang paling tepat adalah di tengah-tengah. Semenjak diingatkan oleh Kadek Sonia Piscayanti saat proses latihan soal jarak dengan naskah tersebut, saya mulai mereflkesi ulang diri saya sendiri lagi.

Pentas Teater “Kaukah itu, Ibu” dari Teater Mahima dalam acara Mahima March March March 2020 [Foto: Komang Jayen]

Saya mencoba membangun perasaan yang tepat, berusaha menakar perasaan saya, dan memelihara ingatan-ingatan juga perasaan yang sudah saya jemput kembali dari masa lalu agar tidak terlalu jauh & tidak terlalu dekat. Mungkin hal ini juga yang menjadi tantangan teman-teman aktor ketika membawakan sebuah pementasan. Hal ini juga yang sering dikatakan oleh partner diskusi saya, bahwa memang yang paling sulit itu adalah yang “pas”. Saya akui itu memang sulit, mau tidak mau saya harus berusaha dan belajar untuk mencapainya.

Besok harinya usai pementasan, Kadek Sonia Piscayanti berkata pada saya, bahwa saat pentas kemarin saya sudah lebih baik dari sebelumnya. Katanya “lebih dapat”, begitu juga kata partner saya. Namun saya sendiri merasa masih belum puas, dan tentu saya tidak boleh puas.[T]

Tags: ibuKomunitas MahimaMahima March March March 2020PerempuanTeater
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Next Post

Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co