3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Santi Dewi by Santi Dewi
March 27, 2020
in Ulasan
Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Pentas Teater "Kaukah itu, Ibu" dari Teater Mahima dalam acara Mahima March March March 2020 [Foto: Komang Jayen]

Mahima March March March menjadi acara tahunan rutin yang diselenggarakan oleh Komunitas Mahima, Singaraja. Acara ini sebenarnya adalah momentum untuk memperingati hari berdirinya Komunitas Mahima atau dalam istilah kerennya sebut sajalah ulang tahun. Mahima March March March ini diselenggarakan tiga hari berturut-turut di bulan Maret dengan berbagai macam acara di setiap harinya. Ada pemutaran film, diskusi buku, diskusi sejarah, workshop, pentas musikalisasi puisi, talk show, pentas teater, dan acara-acara yang tidak terduga atau berubah-ubah di setiap tahunnya.

Di acara Mahima March March tahun 2020 ini, selain menjadi panitia, saya diberi kesempatan untuk turut andil dalam salah satu rangkaian acara sebagai suguhan opening. Berawal dari hari Ibu 22 Desember lalu, tulisan saya soal Ibu dimuat di Tatkala.co yang ternyata menarik perhatian Kadek Sonia Piscayanti. Seperti yang mungkin sudah teman-teman ketahui, selain menulis naskah & puisi, Kadek Sonia Piscayanti juga aktif mengangkat pentas teater soal perempuan & ibu. Maka dari itulah, beliau meminta izin kepada saya untuk menjadikan cerita hidup saya sebagai naskah monolog yang aktornya adalah saya sendiri.

Pentas Teater “Kaukah itu, Ibu” dari Teater Mahima dalam acara Mahima March March March 2020 [Foto: Komang Jayen]

Meskipun namanya monolog, namun saya tidak bermain sendiri. Lagi-lagi, ini adalah salah satu ciri khas teater Komunitas Mahima, yaitu teater perempuan. Ada tujuh perempuan lain yang turut mendukung pementasan ini dan tentunya memiliki peran yang sangat penting juga. Diantaranya adalah Gitari Paramitha, Dian Ayu, Indah Sriani, Erni Risma, Dewa Ayu Asri, Nindi Andika dan Widya Malini. Sebagai penulis naskah & sutradara, Kadek Sonia Piscayanti rupanya sudah mengatur naskahnya dengan matang. Agar tidak hanya saya yang mengambil alih seluruh pementasan, namun semua perempuan juga memiliki porsinya masing-masing untuk turut menyuarakan naskah.

Mahima March March March berlangsung tanggal 13-15 Maret 2020. Acara pertama adalah pentas saya dan teman-teman yang berjudul Kaukah Itu, Ibu? karya Kadek Sonia Piscayanti. Di hari pembukaan tersebut, saya tidak menyangka kalau penonton yang hadir akan seramai itu. Bahkan sangat serius. Ketika saya melihat beberapa orang dari pemerintahan Buleleng turut hadir untuk memeriahkan acara.

Sebagai penampilan opening, tentu saya dan teman-teman merasa semakin gugup. Namun siap tidak siap, gugup atau tidak, penampilan harus tetap berlangsung. Ketika pentas dimulai, keheningan penonton yang mengawali pentas kami akhirnya berakhir dengan tepuk tangan dari penonton. Syukur, usaha kami untuk membawakan pentas dengan maksimal berjalan lancar tanpa ada hambatan atau kesalahan.

Semua itu tentu tak luput dari sebuah proses. Namun saya tak mau mengatakan kalau kami sudah berhasil. Belum, tentu belum. Mungkin kata yang lebih tepat adalah lancar. Kami sudah membawakan pentas dengan lancar. Karena saya sendiri menyadari, masih ada banyak hal yang kurang ataupun perlu saya dan teman-teman gali lebih dalam. Terutama soal tubuh, perasaan dan jarak. Kami berlatih kurang lebih sebulan. Mengapa saya katakan kurang lebih? Sebab ada waktu latihan yang bolong-bolong karena kesibukan masing-masing. Di 1 minggu terakhir, barulah kami mantap latihan bersama untuk mengejar apa yang harus dikejar.

Di tengah proses latihan, Kadek Sonia Piscayanti memberitau saya. Bahwa katanya, saya terlalu jauh mengambil jarak dengan naskah, yang padahal itu adalah kisah hidup saya sendiri. Saya pun tidak menampiknya sebab saya juga merasakan. Saat latihan, bahkan saya bertanya pada diri sendiri, mengapa saya seolah menganggap naskah ini hanya sebagai naskah? Sehingga yang keluar saat itu hanyalah teks.

Namun inilah yang kemudian disadari oleh Kadek Sonia Piscayanti dan salah seorang partner saya, mereka mengatakan bahwa sebenarnya saya memang tidak pernah bersentuhan dengan kisah hidup saya sendiri. Kisah itu memang bagian hidup saya, namun tidak pernah saya rasakan. Sebab waktu kejadian itu terjadi, saya belum memiliki kesadaran penuh sebagai manusia. Saya tidak ingat dan belum tau apapun, sehingga pada akhirnya, saya memang tidak memiliki memory atau kenangan perasaan tentang kejadian tersebut.

Dari sana saya sadar, bahwa saya tidak boleh terlalu jauh mengambil jarak dengan naskah. Namun juga tidak boleh terlalu dekat. Tapi yang pas adalah di tengah-tengah. Terlebih lagi jika naskah tersebut adalah kisah hidup saya sendiri. Karena jika saya terlalu jauh mengambil jarak dengan naskah, seperti yang sudah dikatakan oleh Kadek Sonia Piscayanti, maka naskah hanyalah sebuah teks, tanpa perasaan, tanpa energy dan penonton tidak akan merasakan apa-apa. Namun jika saya terlalu dekat mengambil jarak dengan naskah, mungkin saya akan terlalu larut dan berpotensi untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya saya lakukan, misalnya menangis sampai gerong-gerong (tersedu-sedu). Tentu saja hal ini malah mengacaukan pementasan bukan?

Hal tersebut juga sempat ditanyakan oleh Kardian Narayana saat diskusi Teater Sebagai Gaya Hidup bersama saya & Kadek Sonia Piscayanti usai pementasan selesai, bahwa di manakah saya harus memposisikan diri dalam naskah? Maka dari itu, saya rasa yang paling tepat adalah di tengah-tengah. Semenjak diingatkan oleh Kadek Sonia Piscayanti saat proses latihan soal jarak dengan naskah tersebut, saya mulai mereflkesi ulang diri saya sendiri lagi.

Pentas Teater “Kaukah itu, Ibu” dari Teater Mahima dalam acara Mahima March March March 2020 [Foto: Komang Jayen]

Saya mencoba membangun perasaan yang tepat, berusaha menakar perasaan saya, dan memelihara ingatan-ingatan juga perasaan yang sudah saya jemput kembali dari masa lalu agar tidak terlalu jauh & tidak terlalu dekat. Mungkin hal ini juga yang menjadi tantangan teman-teman aktor ketika membawakan sebuah pementasan. Hal ini juga yang sering dikatakan oleh partner diskusi saya, bahwa memang yang paling sulit itu adalah yang “pas”. Saya akui itu memang sulit, mau tidak mau saya harus berusaha dan belajar untuk mencapainya.

Besok harinya usai pementasan, Kadek Sonia Piscayanti berkata pada saya, bahwa saat pentas kemarin saya sudah lebih baik dari sebelumnya. Katanya “lebih dapat”, begitu juga kata partner saya. Namun saya sendiri merasa masih belum puas, dan tentu saya tidak boleh puas.[T]

Tags: ibuKomunitas MahimaMahima March March March 2020PerempuanTeater
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Next Post

Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co