2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 27, 2020
in Khas
Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Kegiatan penelitian lapangan Mata Kuliah Manajemen Pariwisata Program Studi Pendidikan Sejarah Undiksha di Desa Sidatapa, Banjar, Buleleng, Bali

Selama dua periode kepemimpinan Presiden Jokowi, pembangunan manusia dan pelestarian lingkungan tidak atau bukan menjadi prioritas. Sebagai gantinya, pemerintah lebih menekankan kepada pembangunan infrastruktur. Alasannya merujuk kepada selama kurang lebih 70-an tahun Indonesia merdeka, aneka fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, pasar, jalan, jembatan, bendungan, dan waduk masih kalah secara kuantitas dan kualitas dengan negara lain. Jangankan untuk bersaing secara global, di tingkat Asia Tenggara saja kita masih kalah dengan Singapura, Malaysia, Thailand bahkan Vietnam yang usianya lebih muda.

Untuk meraih legitimasi moral dari masyarakat Indonesia, dalam setiap pidatonya, Bapak Presiden Jokowi menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur yang menjadi agenda pemerintah mengandung unsur pancasila yakni sila ketiga dan sila kelima. Sila ketiga bermakna bahwa infrastruktur berfungsi menyatukan ragam sosial yang pernah tercabik-cabik dendam di masa lalu. Pertemuan ragam sosial yang diinisiasi oleh infrastruktur itu diharapkan bermuara pada sila kelima yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh sebab itu, akan menjadi dilema besar bagi bangsa besar seperti Indonesia dengan ribuan pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke hanya memiliki sedikit fasilitas publik.

Meski demikian, pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung dan otomatis menjadi corong misi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan nampaknya kurang memperhatikan etika lingkungan. Akibatnya, kita mengalami krisis lingkungan yang serius. Jika tidak segera disikapi dengan bijaksana, maka bukan tidak mungkin negeri yang diwariskan oleh pejuang di masa lalu melalui pengorbanan yang berdarah-darah ini tidak lagi nyaman untuk ditempati. Visi pemerintah untuk melaksanakan pembangunan infrastruktur namun tanpa didasari etika lingkungan yang memadai hanya akan menghasilkan kesejahteraan masyarakat yang semu dan berjangka pendek.

Sejalan dengan itu, bidang pembangunan manusia di mana pendidikan menjadi ujung tombaknya belum memperlihatkan gebrakan-gebrakan berarti yang mampu menstimulus kegairahan intelektual. Tenaga, waktu, dan materi lebih banyak dihabiskan untuk menghasilkan perdebatan ketimbang mengupayakan jalan alternatif. Pada akhirnya, jargon “revolusi mental” yang sempat viral saat itu terkesan hanya menjadi lip balm (pemanis bibir) semata.

Stagnasi, alih-alih kemunduran prestasi dunia pendidikan kita tergambar jelas dengan hasil survey sebuah lembaga internasional bernama The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang melakukan evaluasi terhadap kemampuan akademik para murid dari berbagai negara menggunakan sebuah sistem yakni Programme for International Student Asessment (PISA).

Berdasarkan laporan PISA terbaru yang hasilnya keluar pada hari Selasa 3 Desember 2019 didapati hasil bahwa skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 negara dari 77 negara. Skor matematika ada di peringkat 72 dari 78 negara, sedangkan skor sains ada di peringkat 70 dari 78. Tiga skor itu kompak menurun dibanding hasil tes PISA 2015. Dengan melihat gejala pembusukan alih-alih kemunduran pada sistem pendidikan kita yang dibuktikan dengan penurunan kompetensi peserta didik dari tahun ke tahun, nampaknya bidang pendidikan perlu segera mendapat perhatian yang serius dari pemerintah.

Di tengah keringnya narasi tentang pendidikan dan lingkungan, ditambah minimnya agen perubahan sosial yang mampu menjadi penggerak dan pembeda di masyarakat, Komunitas Belajar English Corner (ECOR) yang berlokasi di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar Buleleng Bali lahir sebagai sebuah gerakan belajar yang mampu memadumadankan kedua aspek itu.

Sejak didirikan pada 19 Januari 2019 atas inisiatif Bapak Wayan Ariawan, ECOR didedikasikan  memberikan pendidikan bahasa Inggris secara gratis, bersifat non profit. Di samping itu juga menumbuhkan sense of ecological self melalui kegiatan-kegiatan berdaya lingkungan. Terakhir, kehadiran ECOR merupakan respon terhadap penetapan Desa Sidatapa menjadi desa wisata di Kecamatan Banjar sejak tahun 2017.   

Sebelum berkembang menjadi sebuah komunitas belajar yang telah memiliki banyak cabang di seluruh Bali, proses awal pendirian ditempuh melalui jalan yang tidak mudah. Stigmatisasi sosial masyarakat yang terbentuk karena prosesualisasi sejarah dan lingkungan adalah persoalan rumit yang dihadapi. Sejak Majapahit menguasai Bali di tahun 1343 Masehi, warga Desa Sidatapa adalah salah satu dari sekian banyak desa pegunungan Bali yang menjadi pelopor penolakan penetrasi politik Jawa.

Mereka mewakili peradaban pra Majapahit, atau Bali Kuno yang hingga saat ini masih tetap dilestarikan terutama dalam tiga wujud kebudayaan, yakni mentifact, socialfact, dan artifact. Oleh karena letaknya di kawasan perbukitan sehingga menjadi benteng alami yang sulit ditembus musuh, di samping keahlian berperang yang dimiliki, menyebabkan usaha-usaha penetrasi Majapahit selalu mengalami kegagalan. Prosesualisasi historis itulah yang kemudian membentuk karakteristik warga Desa Sidatapa yang diperkuat dengan streotipisme dari masyarakat desa lain yang menganggapnya sebagai pribadi yang kaku, antisosial, tidak ramah, dan lekas marah.  Akibatnya warga Desa Sidatapa selalu menaruh curiga dengan sesuatu yang “asing”.

Namun,  melalui pendekatan persuasif yang dilakukan secara terus menerus, derajat penerimaan dan persepsi sosial masyarakat berubah. Pada akhirnya warga Desa Sidatapa mendukung sepenuhnya kehadiran Komunitas Belajar English Corner di desanya. Sebaliknya, kehadiran English Corner dengan aktivitas pendidikan dan gerakan lingkungan secara tidak langsung mencairkan stigma negatif yang selama ini dilabelkkan kepada warga Desa Sidatapa.

Bentuk dari dukungan itu misalkan dengan menyediakan tempat belajar bagi siswa-siswi komunitas, menjaga kenyamanan dan rasa aman bagi para tutor asing serta turis yang berkunjung ke desa. Beberapa warga desa bahkan menawarkan rumahnya untuk ditinggali para tutor asing yang berasal dari luar negeri. Dengan menciptakan rasa aman dan nyaman, turis  betah berada di desa. Di samping itu bisa menjadi ajang latihan bagi siswa binaan untuk mengaktualisasikan keterampilan berbahasa Inggrisnya.

Komunitas Belajar English Corner tidak memiliki gedung. Mereka belajar di mana saja. Halaman rumah penduduk, di balai desa, pelataran pura, pantai  bahkan di hutan atau kebun cengkeh. Pelayanan pendidikan diberikan tanpa memungut biaya sepeserpun. Para pengajar atau tutor bersifat relawan atau voluntir. Mereka yang menjadi tutor kadang tidak hanya menyumbangkan tenaga, waktu dan kecerdasannya, tetapi juga sebagian materinya untuk kelangsungan komunitas. Tutor bisa berasal darimana saja tergantung kesedian untuk mengabdi. Beberapa di antaranya bahkan berasal dari luar negeri seperti Jepang, Inggris, Skotlandia, Prancis, Spanyol, Belanda, Jerman dan beberapa negara Skandinavia.

Ada dua motif orang luar negeri berniat menjadi relawan tutor. Pertama menghabiskan liburan, kedua melakukan penelitian. Calon tutor baik lokal maupun asing mendaftar melalui dua laman web Desa Sidatapa yakni http://sidatapaenglishcorner.com dan http://baliagavillage.com yang dikelola langsung oleh pendirinya Bapak Wayan Ariawan. Alamat http://sidatapaenglishcorner.com membawahi 41 corner yang tersebar di seluruh Bali, sedangkan  alamat web http://baliagavillage.com memberikan gambaran informatif tentang 5 desa Bali kuno yakni SCTPB meliputi Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, dan Banyusri,

Terkait dengan model atau rujukan pedagogik, Komunitas Belajar English Corner tidak terikat kurikulum tertentu. Dalam teks ideal, ketika komunitas ini pertama kali digagas, anak-anak belajar tanpa kurikulum. Mereka belajar secara bebas dan mengalir sehingga diharapkan tidak terbebani oleh formalitas kurikulum pendidikan yang sudah didapatkan di sekolah. Terpenting anak-anak belajar bahasa asing yang sifatnya praktis dan komunikatif tanpa embel-embel grammar.

Meski disebutkan tanpa menjadikan kurikulum tertentu sebagai role model, amatan saya ketika mengunjungi komunitas ini pada bulan Oktober 2019 dalam rangka penelitian lapangan pada Mata Kuliah Manajemen Pariwisata Program Studi Pendidikan Sejarah Undiksha, dapat disimpulkan bahwa proses pengajaran mengadopsi konsep Catur Asrama.

Di India kita mengenal tokoh pendidikan Rabindranath Tagore yang mendirikan rumah belajar Santiniketan. Di Amerika Latin bergaung nama Paulo Freire yang namanya sering dicatut ketika berbicara pendidikan kritis. Di Indonesia kita mengenal salah satu tokoh dari Tiga Serangkai, Ki Hadjar Dewantoro yang mendirikan Taman Siswa. Lalu di Bali ada pola pengajaran yang mengadopsi pemikiran pada pustaka suci Hindu yang disebut Catur Asrama.

Pada beberapa kondisi, Catur Asrama kadang dilekatkan pula pada falsafah lokal Tri Hita Karana untuk menguatkan identitas kebalian. Adapun unsur-unsur penting dari Catur Asrama itu meliputi, pertama, brahmacari berarti pencarian ilmu pengetahuan yang diwujudkan dengan belajar mandiri. Kedua, grahasta bermakna hidup berumah tangga yang diwujudkan dengan belajar kelompok. Ketiga, wanaprasta berarti kontemplasi diri diwujudkan dengan evaluasi belajar. Keempat biksuka berarti lepas dari kehidupan duniawi yang diwujudkan dengan aktualisasi keterampilan berbahasa Inggris di hadapan turis.    

Dalam konteks pendidikan masa kini bermodalkan konsep Catur Asrama dipadukan dengan Filsafat Tri Hita Karana, ECOR telah lebih dulu melahirkan gagasan merdeka belajar dibanding ketika gagasan itu pertama kali digodok pasca Pilpres 2019 oleh struktur Kemendibud yang baru.

Beberapa tipe merdeka belajar yang diimplementasikan itu meliputi; Pertama, merdeka pikiran yaitu belajar bebas dan mengalir. Siswa tidak dituntut keberhasilan kognitif, psikomotorik dan afektif seperti yang diprasyaratkan oleh kurikulum negara. Teori dan latihan bersifat kontemplatif.  Kedua, merdeka biaya bahwa ide awal pendirian komunitas bersifat non profit yang dilandasi pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan pendidikan gratis bagi generasi muda. Terakhir, merdeka lingkungan bahwa aktivitas belajar yang dilakukan di ruang-ruang bebas itu tidak hanya menyentuh ranah intelektual, namun juga memberikan pemahaman visual tentang arti penting menjaga kelestarian lingkungan, misalnya diadakan kegiatan bersih pantai, gerakan menanam pohon, pelatihan ecobrick, mengumpulkan botol plastik dan lain-lain.

Gerakan kepemudaan seperti English Corner selayaknya mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah dan masyarakat. Mereka merupakan potret dari sebagian kecil pemuda kita yang gelisah melihat kondisi sosial di sekitarnya. Kegelisahan itulah yang menghidupkan dan mengaktifkan kreasi serta inovasi dalam dirinya sehingga bisa menjadi teladan bagi pemuda lain yang diharapkan mampu melahirkan gerakan serupa.   [T]      

Tags: bulelengDesa SidatapaPendidikanpendidikan merdekaSidatapa English Corner
Share206TweetSendShareSend
Previous Post

Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Next Post

Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co