22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
March 26, 2020
in Esai
Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Pandemi COVID-19 memberikan efek samping tak langsung bagi berbagai kalangan masyarakat. Ekonomi mati karena sebagian besar kantor/usaha non-esensial ditutup. Karyawan diputus kontrak karena tidak adanya konsumen. Masyarakat panik akan terpapar penyakit yang menyebar cepat, sehingga mulai terjadi krisis barang pokok kesehatan seperti masker dan hand sanitizer serta naiknya harga kebutuhan sehari-hari. Seandainya lockdown diberlakukan dengan durasi yang relatif panjang, kesehatan psikis masyarakat akan menjadi hal yang akan dikhawatirkan selanjutnya.

Namun demikian, tak sedikit kalangan yang merenungkan berbagai dampak positif dari krisis kesehatan ini. Bill Gates menyerukan bahwa pandemi global ini mengingatkan kita akan berbagai pelajaran penting yang sering terlupakan dan kini tergantung kita apakah akan belajar dari krisis ini atau tidak. Berikut di antaranya adalah efek riak positif yang dapat diambil dari pandemi dunia ini.

Yang paling mendasar, semakin banyak orang sadar akan common hygiene seperti mencuci tangan dengan sabun dan tidak menyentuh wajah. Hal ini menyebabkan berkurangnya infeksi penyakit akibat kuman, bakteri dan virus.  Contohnya, kasus flu di Jepang berkurang sekitar 14 juta kasus dibandingkan tahun lalu untuk periode hingga bulan Maret.

COVID-19 mengingatkan kita bahwa alam sebenarnya sedang sakit dan perlu disembuhkan. Berkurangnya mobilisasi publik secara drastis baik darat, laut ataupun udara membantu mengurangi emisi karbon dioksida. Contohnya di Cina, emisi CO2 turun 25% atau sekitar 200 juta ton dibandingkan tahun lalu per bulan Maret. Di Venezia, Italia, air tampak lebih jernih dari sebelumnya karena tidak ada lagi aktivitas masyarakat setempat setelah lockdown nasional yang sedang terjadi di Italia. Cina secara permanen mengilegalkan konsumsi hewan liar karena ada isu bahwa asal usul menyebarnya coronavirus berawal dari konsumsi hewan liar di Wuhan. Sehingga, beberapa spesies langka seperti trenggiling, yang biasa dikonsumsi di Cina dapat terjaga dari kepunahan.

Saat penulisan artikel ini, 1/5 wilayah di Bumi sedang melakukan lockdown. Hal ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap hubungan keluarga masyarakat yang melakukan lockdown. Di masa normal, kita terkadang terlalu memfokuskan diri dengan dunia masing-masing; pekerjaan, sekolah, tugas, dan lain sebagainya. Masa lockdown memberikan momentum bagi masyarakat untuk lebih mendekatkan diri dengan anggota keluarganya. Masa ini memberikan kesempatan bagi kita untuk semakin mempererat hubungan keluarga.

Di tahun 1971, John Lennon hanya dapat berimajinasi bagaimana seandainya negara, agama, rasa kepemilikan, surga dan neraka tidak ada. Saat ini, segala imajinasinya seakan menjadi nyata. Pemerintah dunia bahu membahu melupakan label negara, agama, ras dan lainnya untuk melawan musuh bersama ini. Kita tidak tahu hingga kapan rasa ‘amnesia’ atas konsep negara, agama, golongan politik, ras, budaya, akan bertahan. Yang jelas saat ini kerjasama global antar negara semakin erat.

Cina memberikan bantuan APD kepada Indonesia, Rusia mengirimkan dokter ke Italia, peneliti dari semua negara saling berbagi informasi untuk menciptakan vaksin dan obat bagi penyakit baru ini. Semenjak hangatnya isu pandemi ini, secara spontan dan serentak segala omongan dan argumen bersubyek agama, politik, korupsi, wilayah kekuasaan, ras, etnis, budaya terdiam membisu. Semua orang sadar bahwa memperdebatkan isu-isu dengan subyek tersebut tidak akan membawa kita ke arah kemajuan, namun justru menunjukkan bahwa umat manusia belum seberadab yang dipikirkan. Wabah ini mengingatkan kita atas subyek yang paling esensial; kemanusiaan.

COVID-19 menyadarkan pemangku jabatan untuk memikirkan kembali alokasi dana negara. Setelah ditemukannya vaksin untuk SARS ketika mewabah di tahun 2003, pendanaan untuk penelitian lebih lanjut dipangkas dan beberapa negara seperti AS, Cina, Iran, dan Rusia mengalihkan dana untuk penelitian nuklir dan teknologi perang. Ketika wabah COVID-19 terjadi sekarang tak sedikit kalangan yang mulai menganggap bahwa pemangkasan dana penelitian tersebut menjadi cikal bakal lambatnya penanganan wabah Corona saat ini. Beberapa tahun lalu Bill Gates menunjukkan kekhawatirannya akan epidemi yang bisa muncul karena kita tidak cukup mendanai pembuatan sistem untuk menghentikan epidemi di masa depan. Akhirnya, epidemi tersebut terjadi sekarang.

Masyarakat kini juga mulai menghargai hal-hal yang dulunya dianggap sepele. Masker, sabun tangan, hand sanitizer, air dan komoditas kesehatan lainnya sekarang bernilai lebih tinggi dibandingkan emas, berlian, mobil mewah ataupun rumah mewah. Wabah saat ini menyadarkan kita bahwa segala bentuk kemewahan tidak akan membuat kita lebih hebat dibandingkan orang lain.

Di masa ini manusia mulai mengingat kembali satu keterampilan dasar yang telah dimiliki manusia sejak diciptakan: cinta dan kasih. Banyak orang mulai sadar untuk saling berbagi. Sejumlah kalangan membagikan masker, hand sanitizer dan vitamin gratis bagi masyarakat yang kurang mampu karena mereka sadar bahwa kesehatan satu orang akan berdampak bagi orang lainnya.

Pada masa krisis ini manusia disadarkan bahwa butterfly effect benar-benar ada. Kita semua terhubung dari satu ujung Bumi hingga ujung lainnya secara tidak langsung. Apa yang dilakukan satu orang di belahan Bumi satu memiliki dampak signifikan bagi orang di belahan Bumi lainnya.  Kita pun mulai mengerti bahwa keegoisan hanya akan memperburuk keadaan. Sebisa mungkin tetaplah lakukan hal yang berdampak positif bagi masyarakat umum, tidak hanya diri sendiri.

Kita sebagai makhluk spiritual juga dapat belajar bahwa hidup kita lebih dari apa yang kita pahami. Kadang kita tidak mempedulikan hal-hal kecil di sekitar kita dan menerima segala kenyamanan hidup begitu saja, seakan semua kenyamanan tersebut adalah hak asasi kita. Lihat sekarang yang ‘membunuh’ kita adalah virus, benda kecil tak terlihat yang mungkin kita selama ini anggap sepele. Kita juga menyadari bahwa hidup sangatlah singkat dan tujuan mutlak kita di dunia adalah untuk membantu satu sama lain dan untuk memberikan dampak positif bagi orang lain. Kita tidaklah terlahir sekadar untuk membahagiakan diri sendiri. Justru sering kali sebenarnya kebahagiaan datang ketika kita tahu kita telah berkontribusi bagi kebahagiaan atau kepentingan orang lain.

Pada akhirnya, wabah ini bisa jadi merupakan akhir dari peradaban atau bisa juga merupakan awal dari peradaban yang baru; dunia yang lebih beradab, lebih waras dan dengan ego manusia yang berkurang. Dunia baru, yang membuat kita mengesampingkan kepentingan pribadi, mengesampingkan segala perbedaan dan dunia yang kita wariskan kepada anak cucu kita yang jauh lebih baik dibandingkan dunia yang kita huni saat ini. Sekali lagi, semua hal dapat dilihat dari berbagai sisi. COVID-19 bisa kita lihat melalui kacamata suram dan gelap, tapi bisa juga kita pandang melalui jendela cerah yang penuh dengan harapan akan dunia yang lebih baik. Semoga krisis ini segera berlalu dan kita dapat menuju peradaban yang lebih baik. Salam damai.[T]

Tags: agamacovid 19John Lennonnegara
Share205TweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Next Post

Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Merdeka Belajar ala "English Corner" di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co