12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
March 26, 2020
in Esai
Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Pandemi COVID-19 memberikan efek samping tak langsung bagi berbagai kalangan masyarakat. Ekonomi mati karena sebagian besar kantor/usaha non-esensial ditutup. Karyawan diputus kontrak karena tidak adanya konsumen. Masyarakat panik akan terpapar penyakit yang menyebar cepat, sehingga mulai terjadi krisis barang pokok kesehatan seperti masker dan hand sanitizer serta naiknya harga kebutuhan sehari-hari. Seandainya lockdown diberlakukan dengan durasi yang relatif panjang, kesehatan psikis masyarakat akan menjadi hal yang akan dikhawatirkan selanjutnya.

Namun demikian, tak sedikit kalangan yang merenungkan berbagai dampak positif dari krisis kesehatan ini. Bill Gates menyerukan bahwa pandemi global ini mengingatkan kita akan berbagai pelajaran penting yang sering terlupakan dan kini tergantung kita apakah akan belajar dari krisis ini atau tidak. Berikut di antaranya adalah efek riak positif yang dapat diambil dari pandemi dunia ini.

Yang paling mendasar, semakin banyak orang sadar akan common hygiene seperti mencuci tangan dengan sabun dan tidak menyentuh wajah. Hal ini menyebabkan berkurangnya infeksi penyakit akibat kuman, bakteri dan virus.  Contohnya, kasus flu di Jepang berkurang sekitar 14 juta kasus dibandingkan tahun lalu untuk periode hingga bulan Maret.

COVID-19 mengingatkan kita bahwa alam sebenarnya sedang sakit dan perlu disembuhkan. Berkurangnya mobilisasi publik secara drastis baik darat, laut ataupun udara membantu mengurangi emisi karbon dioksida. Contohnya di Cina, emisi CO2 turun 25% atau sekitar 200 juta ton dibandingkan tahun lalu per bulan Maret. Di Venezia, Italia, air tampak lebih jernih dari sebelumnya karena tidak ada lagi aktivitas masyarakat setempat setelah lockdown nasional yang sedang terjadi di Italia. Cina secara permanen mengilegalkan konsumsi hewan liar karena ada isu bahwa asal usul menyebarnya coronavirus berawal dari konsumsi hewan liar di Wuhan. Sehingga, beberapa spesies langka seperti trenggiling, yang biasa dikonsumsi di Cina dapat terjaga dari kepunahan.

Saat penulisan artikel ini, 1/5 wilayah di Bumi sedang melakukan lockdown. Hal ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap hubungan keluarga masyarakat yang melakukan lockdown. Di masa normal, kita terkadang terlalu memfokuskan diri dengan dunia masing-masing; pekerjaan, sekolah, tugas, dan lain sebagainya. Masa lockdown memberikan momentum bagi masyarakat untuk lebih mendekatkan diri dengan anggota keluarganya. Masa ini memberikan kesempatan bagi kita untuk semakin mempererat hubungan keluarga.

Di tahun 1971, John Lennon hanya dapat berimajinasi bagaimana seandainya negara, agama, rasa kepemilikan, surga dan neraka tidak ada. Saat ini, segala imajinasinya seakan menjadi nyata. Pemerintah dunia bahu membahu melupakan label negara, agama, ras dan lainnya untuk melawan musuh bersama ini. Kita tidak tahu hingga kapan rasa ‘amnesia’ atas konsep negara, agama, golongan politik, ras, budaya, akan bertahan. Yang jelas saat ini kerjasama global antar negara semakin erat.

Cina memberikan bantuan APD kepada Indonesia, Rusia mengirimkan dokter ke Italia, peneliti dari semua negara saling berbagi informasi untuk menciptakan vaksin dan obat bagi penyakit baru ini. Semenjak hangatnya isu pandemi ini, secara spontan dan serentak segala omongan dan argumen bersubyek agama, politik, korupsi, wilayah kekuasaan, ras, etnis, budaya terdiam membisu. Semua orang sadar bahwa memperdebatkan isu-isu dengan subyek tersebut tidak akan membawa kita ke arah kemajuan, namun justru menunjukkan bahwa umat manusia belum seberadab yang dipikirkan. Wabah ini mengingatkan kita atas subyek yang paling esensial; kemanusiaan.

COVID-19 menyadarkan pemangku jabatan untuk memikirkan kembali alokasi dana negara. Setelah ditemukannya vaksin untuk SARS ketika mewabah di tahun 2003, pendanaan untuk penelitian lebih lanjut dipangkas dan beberapa negara seperti AS, Cina, Iran, dan Rusia mengalihkan dana untuk penelitian nuklir dan teknologi perang. Ketika wabah COVID-19 terjadi sekarang tak sedikit kalangan yang mulai menganggap bahwa pemangkasan dana penelitian tersebut menjadi cikal bakal lambatnya penanganan wabah Corona saat ini. Beberapa tahun lalu Bill Gates menunjukkan kekhawatirannya akan epidemi yang bisa muncul karena kita tidak cukup mendanai pembuatan sistem untuk menghentikan epidemi di masa depan. Akhirnya, epidemi tersebut terjadi sekarang.

Masyarakat kini juga mulai menghargai hal-hal yang dulunya dianggap sepele. Masker, sabun tangan, hand sanitizer, air dan komoditas kesehatan lainnya sekarang bernilai lebih tinggi dibandingkan emas, berlian, mobil mewah ataupun rumah mewah. Wabah saat ini menyadarkan kita bahwa segala bentuk kemewahan tidak akan membuat kita lebih hebat dibandingkan orang lain.

Di masa ini manusia mulai mengingat kembali satu keterampilan dasar yang telah dimiliki manusia sejak diciptakan: cinta dan kasih. Banyak orang mulai sadar untuk saling berbagi. Sejumlah kalangan membagikan masker, hand sanitizer dan vitamin gratis bagi masyarakat yang kurang mampu karena mereka sadar bahwa kesehatan satu orang akan berdampak bagi orang lainnya.

Pada masa krisis ini manusia disadarkan bahwa butterfly effect benar-benar ada. Kita semua terhubung dari satu ujung Bumi hingga ujung lainnya secara tidak langsung. Apa yang dilakukan satu orang di belahan Bumi satu memiliki dampak signifikan bagi orang di belahan Bumi lainnya.  Kita pun mulai mengerti bahwa keegoisan hanya akan memperburuk keadaan. Sebisa mungkin tetaplah lakukan hal yang berdampak positif bagi masyarakat umum, tidak hanya diri sendiri.

Kita sebagai makhluk spiritual juga dapat belajar bahwa hidup kita lebih dari apa yang kita pahami. Kadang kita tidak mempedulikan hal-hal kecil di sekitar kita dan menerima segala kenyamanan hidup begitu saja, seakan semua kenyamanan tersebut adalah hak asasi kita. Lihat sekarang yang ‘membunuh’ kita adalah virus, benda kecil tak terlihat yang mungkin kita selama ini anggap sepele. Kita juga menyadari bahwa hidup sangatlah singkat dan tujuan mutlak kita di dunia adalah untuk membantu satu sama lain dan untuk memberikan dampak positif bagi orang lain. Kita tidaklah terlahir sekadar untuk membahagiakan diri sendiri. Justru sering kali sebenarnya kebahagiaan datang ketika kita tahu kita telah berkontribusi bagi kebahagiaan atau kepentingan orang lain.

Pada akhirnya, wabah ini bisa jadi merupakan akhir dari peradaban atau bisa juga merupakan awal dari peradaban yang baru; dunia yang lebih beradab, lebih waras dan dengan ego manusia yang berkurang. Dunia baru, yang membuat kita mengesampingkan kepentingan pribadi, mengesampingkan segala perbedaan dan dunia yang kita wariskan kepada anak cucu kita yang jauh lebih baik dibandingkan dunia yang kita huni saat ini. Sekali lagi, semua hal dapat dilihat dari berbagai sisi. COVID-19 bisa kita lihat melalui kacamata suram dan gelap, tapi bisa juga kita pandang melalui jendela cerah yang penuh dengan harapan akan dunia yang lebih baik. Semoga krisis ini segera berlalu dan kita dapat menuju peradaban yang lebih baik. Salam damai.[T]

Tags: agamacovid 19John Lennonnegara
Share205TweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Next Post

Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Merdeka Belajar ala "English Corner" di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co