2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
March 26, 2020
in Esai
Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Pandemi COVID-19 memberikan efek samping tak langsung bagi berbagai kalangan masyarakat. Ekonomi mati karena sebagian besar kantor/usaha non-esensial ditutup. Karyawan diputus kontrak karena tidak adanya konsumen. Masyarakat panik akan terpapar penyakit yang menyebar cepat, sehingga mulai terjadi krisis barang pokok kesehatan seperti masker dan hand sanitizer serta naiknya harga kebutuhan sehari-hari. Seandainya lockdown diberlakukan dengan durasi yang relatif panjang, kesehatan psikis masyarakat akan menjadi hal yang akan dikhawatirkan selanjutnya.

Namun demikian, tak sedikit kalangan yang merenungkan berbagai dampak positif dari krisis kesehatan ini. Bill Gates menyerukan bahwa pandemi global ini mengingatkan kita akan berbagai pelajaran penting yang sering terlupakan dan kini tergantung kita apakah akan belajar dari krisis ini atau tidak. Berikut di antaranya adalah efek riak positif yang dapat diambil dari pandemi dunia ini.

Yang paling mendasar, semakin banyak orang sadar akan common hygiene seperti mencuci tangan dengan sabun dan tidak menyentuh wajah. Hal ini menyebabkan berkurangnya infeksi penyakit akibat kuman, bakteri dan virus.  Contohnya, kasus flu di Jepang berkurang sekitar 14 juta kasus dibandingkan tahun lalu untuk periode hingga bulan Maret.

COVID-19 mengingatkan kita bahwa alam sebenarnya sedang sakit dan perlu disembuhkan. Berkurangnya mobilisasi publik secara drastis baik darat, laut ataupun udara membantu mengurangi emisi karbon dioksida. Contohnya di Cina, emisi CO2 turun 25% atau sekitar 200 juta ton dibandingkan tahun lalu per bulan Maret. Di Venezia, Italia, air tampak lebih jernih dari sebelumnya karena tidak ada lagi aktivitas masyarakat setempat setelah lockdown nasional yang sedang terjadi di Italia. Cina secara permanen mengilegalkan konsumsi hewan liar karena ada isu bahwa asal usul menyebarnya coronavirus berawal dari konsumsi hewan liar di Wuhan. Sehingga, beberapa spesies langka seperti trenggiling, yang biasa dikonsumsi di Cina dapat terjaga dari kepunahan.

Saat penulisan artikel ini, 1/5 wilayah di Bumi sedang melakukan lockdown. Hal ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap hubungan keluarga masyarakat yang melakukan lockdown. Di masa normal, kita terkadang terlalu memfokuskan diri dengan dunia masing-masing; pekerjaan, sekolah, tugas, dan lain sebagainya. Masa lockdown memberikan momentum bagi masyarakat untuk lebih mendekatkan diri dengan anggota keluarganya. Masa ini memberikan kesempatan bagi kita untuk semakin mempererat hubungan keluarga.

Di tahun 1971, John Lennon hanya dapat berimajinasi bagaimana seandainya negara, agama, rasa kepemilikan, surga dan neraka tidak ada. Saat ini, segala imajinasinya seakan menjadi nyata. Pemerintah dunia bahu membahu melupakan label negara, agama, ras dan lainnya untuk melawan musuh bersama ini. Kita tidak tahu hingga kapan rasa ‘amnesia’ atas konsep negara, agama, golongan politik, ras, budaya, akan bertahan. Yang jelas saat ini kerjasama global antar negara semakin erat.

Cina memberikan bantuan APD kepada Indonesia, Rusia mengirimkan dokter ke Italia, peneliti dari semua negara saling berbagi informasi untuk menciptakan vaksin dan obat bagi penyakit baru ini. Semenjak hangatnya isu pandemi ini, secara spontan dan serentak segala omongan dan argumen bersubyek agama, politik, korupsi, wilayah kekuasaan, ras, etnis, budaya terdiam membisu. Semua orang sadar bahwa memperdebatkan isu-isu dengan subyek tersebut tidak akan membawa kita ke arah kemajuan, namun justru menunjukkan bahwa umat manusia belum seberadab yang dipikirkan. Wabah ini mengingatkan kita atas subyek yang paling esensial; kemanusiaan.

COVID-19 menyadarkan pemangku jabatan untuk memikirkan kembali alokasi dana negara. Setelah ditemukannya vaksin untuk SARS ketika mewabah di tahun 2003, pendanaan untuk penelitian lebih lanjut dipangkas dan beberapa negara seperti AS, Cina, Iran, dan Rusia mengalihkan dana untuk penelitian nuklir dan teknologi perang. Ketika wabah COVID-19 terjadi sekarang tak sedikit kalangan yang mulai menganggap bahwa pemangkasan dana penelitian tersebut menjadi cikal bakal lambatnya penanganan wabah Corona saat ini. Beberapa tahun lalu Bill Gates menunjukkan kekhawatirannya akan epidemi yang bisa muncul karena kita tidak cukup mendanai pembuatan sistem untuk menghentikan epidemi di masa depan. Akhirnya, epidemi tersebut terjadi sekarang.

Masyarakat kini juga mulai menghargai hal-hal yang dulunya dianggap sepele. Masker, sabun tangan, hand sanitizer, air dan komoditas kesehatan lainnya sekarang bernilai lebih tinggi dibandingkan emas, berlian, mobil mewah ataupun rumah mewah. Wabah saat ini menyadarkan kita bahwa segala bentuk kemewahan tidak akan membuat kita lebih hebat dibandingkan orang lain.

Di masa ini manusia mulai mengingat kembali satu keterampilan dasar yang telah dimiliki manusia sejak diciptakan: cinta dan kasih. Banyak orang mulai sadar untuk saling berbagi. Sejumlah kalangan membagikan masker, hand sanitizer dan vitamin gratis bagi masyarakat yang kurang mampu karena mereka sadar bahwa kesehatan satu orang akan berdampak bagi orang lainnya.

Pada masa krisis ini manusia disadarkan bahwa butterfly effect benar-benar ada. Kita semua terhubung dari satu ujung Bumi hingga ujung lainnya secara tidak langsung. Apa yang dilakukan satu orang di belahan Bumi satu memiliki dampak signifikan bagi orang di belahan Bumi lainnya.  Kita pun mulai mengerti bahwa keegoisan hanya akan memperburuk keadaan. Sebisa mungkin tetaplah lakukan hal yang berdampak positif bagi masyarakat umum, tidak hanya diri sendiri.

Kita sebagai makhluk spiritual juga dapat belajar bahwa hidup kita lebih dari apa yang kita pahami. Kadang kita tidak mempedulikan hal-hal kecil di sekitar kita dan menerima segala kenyamanan hidup begitu saja, seakan semua kenyamanan tersebut adalah hak asasi kita. Lihat sekarang yang ‘membunuh’ kita adalah virus, benda kecil tak terlihat yang mungkin kita selama ini anggap sepele. Kita juga menyadari bahwa hidup sangatlah singkat dan tujuan mutlak kita di dunia adalah untuk membantu satu sama lain dan untuk memberikan dampak positif bagi orang lain. Kita tidaklah terlahir sekadar untuk membahagiakan diri sendiri. Justru sering kali sebenarnya kebahagiaan datang ketika kita tahu kita telah berkontribusi bagi kebahagiaan atau kepentingan orang lain.

Pada akhirnya, wabah ini bisa jadi merupakan akhir dari peradaban atau bisa juga merupakan awal dari peradaban yang baru; dunia yang lebih beradab, lebih waras dan dengan ego manusia yang berkurang. Dunia baru, yang membuat kita mengesampingkan kepentingan pribadi, mengesampingkan segala perbedaan dan dunia yang kita wariskan kepada anak cucu kita yang jauh lebih baik dibandingkan dunia yang kita huni saat ini. Sekali lagi, semua hal dapat dilihat dari berbagai sisi. COVID-19 bisa kita lihat melalui kacamata suram dan gelap, tapi bisa juga kita pandang melalui jendela cerah yang penuh dengan harapan akan dunia yang lebih baik. Semoga krisis ini segera berlalu dan kita dapat menuju peradaban yang lebih baik. Salam damai.[T]

Tags: agamacovid 19John Lennonnegara
Share205TweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Next Post

Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Merdeka Belajar ala "English Corner" di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co