23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Mpu Tal by Mpu Tal
March 27, 2020
in Esai
Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Salah satu ogoh-ogoh di Kota Denpasar (Foto: AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Begitu rapuhkah Ogoh-ogoh dibanding sesuatu yang tak tampak (Covid-19) yang tidak bisa kita prediksi?

Ogoh-ogoh adalah lambang Bhuta Kala. Ogoh-ogoh adalah wujud dari imajinasi estetik orang Bali terhadap Bhuta-Kala yang hanya bisa diangankan.

Sekarang ketika Bhuta-Kala mengejawantah menjadi nyata sebagai Covid-19, imajinasi estetik (Ogoh-ogoh) harus menepi diam tidak diarak kita kunci di Balai Banjar.

Kenapa?

Karena yang dihayalkan telah hadir sebagai kuasa alam tiada terhalang sedang melalap dunia. Begitulah nasihat dalam lontar-lontar kuno peninggalan leluhur Bali: Bhuta-Kala mengejawantah dalam berbagai penyakit yang disebut dengan mrana, gering, gerubug, bah bedeg, sasab — berbagai wabah yang pernah menyerang pulau Bali.

Ogoh-ogoh bukan seni biasa. Ogoh-ogoh adalah seni memprediksi masa depan.

Masa depan apa yang diprediksi Ogoh-ogoh?

Bahwa ada berbagai ancaman berbagai Bhuta-Kala (mara-bahaya-bencana-ancaman penyakit-wabah-dstnya) yang bisa datang ke dunia kita. Ada berbagai ancaman horor yang bisa menjelma menjadi kenyataan.

Lewat seni Ogoh-ogoh orang Bali diajak melihat imajinasi dan memprediksi bahwa Bhuta-Kala bisa hadir dalam berbagai bentuk horor dan ancaman nyata dunia.

Pelajarannya: Agar kita siaga kalau kekuatan energi alam semesta yang tidak tampak itu turun menjadi penyakit dan ancaman kehidupan. Agar kita siaga dengan berbagai bentuk horor dan ancaman kemanusiaan yang bisa terjadi kapan saja.

Sudahkah kita siap ketika Ogoh-ogoh (imajinasi Bhuta-Kala) yang kita arak dalam pawai itu tiba-tiba menjelma dan menyerang manusia?

Semenjak tahun 1983 — semenjak ada Festival Ogoh-ogoh — telah dibuat ribuan Ogoh-ogoh dibuat dan diarak. Artinya ada ribuan imajinasi Bhuta-Kala telah diprediksi dalam berbagai bentuk dan ekspresi oleh orang Bali. Ribuan ancaman marabahaya telah diimajinasikan oleh masyarakat dan anak-anak banjar.

Seharusnya sekarang kita harus siap.

Siap?

Ya, seharus kita telah siap melihat dan menghadapi bahwa kekuatan Bhuta-Kala yang imajiner hadir ke muka bumi. Sekarang yang imajiner itu hadir sebagai virus: Covid-19.

Ogoh-ogoh telah mengajari anak-anak banjar bahwa apa yang diarak dalam pawai adalah kekuatan Bhuta-Kala yang harus diantisipasi dengan bijak dan penuh nalar.

Semua pemuda Bali yang lahir setelah tahun 1983 adalah “Generasi Ogoh-Ogoh.” Generasi Ogoh-ogoh ini adalah generasi berani. Generasi yang telah belajar bahwa imajinasi manusia tentang Bhuta-Kala beragam dan bisa dirayakan.

Bhuta-Kala bukan hanya ditakuti, tapi diimajinasikan dan wujudkan, diarak dalam pawai, dan kemudian kita “somya” (lebur kembali kembali ke alamnya). Artinya: Dibuat untuk diantisipasi.

Sepantasnya berani gagah dan nalar untuk tabah dan bijak menyikapi Bhuta-Kala yang kini mengejawantah menjadi Covid-19.

Bagaimana bijak menyikapi Bhuta-Kala yang mengejawantah?

Satu caranya yang ampuh mengurangi korban: Memberi waktu Sang Bhuta-Kala berlalu.

Dukung dan beri dukungan para petugas medis dan pelaksana tugas yang merawat korban. Selebihnya harus berdiam diri dan sabar menunggu sampai Sang Bhuta-Kala benar-benar berlalu. Sabar sampai benar-benar aman.

— Bayangkan saja sekarang ribuan Ogoh-ogoh yang telah dibuat semenjak tahun 1983 itu bangkit dan berjalan di jalanan menguasai jalanan di penjuru Bali, bahkan penjuru dunia.

— Bayangkan Ogoh-ogoh di masa lalu itu bernyawa dan bergerak di alam tak tampak dan siapa yang menghalangi terseruduk dan terserang Coronavirus.

— Bayangkan ribuan Ogoh-ogoh dengan segala senjata dan segala kuasa Bhuta-Kala mengamuk menguasai jalan.

— Bayangkan mereka haus dan lapar. Mencari mangsa dan tumbal. Bayangkan mereka meminta korban nyawa manusia yang harus ditadah jadi tetadahan.

— Bayangkan Ogoh-ogoh berbisik: “Ini adalah waktuku. Beri aku waktu berjalan. Siap saja yang tidak minggir dari jalan dan keramaian akan aku tadah (cabut nyawanya sebagai tumbal)”.

— Bayangkan Ogoh-ogoh berbisik: “Manusia yang berdiam diri di rumah akan selamat. Manusia yang masih berkeliaran di jalan berarti menantangku. Akan kutadah (kumakan) siapa yang berkeliaran, termasuk orang tua, anak, dan teman-teman dekatnya yang tidak menghentikan dan melarangnya untuk tidak keluar ke jalan menantangku.”

LOGIKANYA:

Ketika sedang berlangsung pawai Ogoh-ogoh lewat, maka kita sebagai pejalan kaki harus menepi. Biarkan dulu lewat semua Ogoh-ogoh sampai pawai usai dan benar-benar selesai.

Jika pawai Ogoh-ogoh sedang berjalan, kita sok menantang dan mau lewat dengan mobil kita atau kendaraan kita, pasti kepala kita dikepluk banjar. Pasti kita diteriaki dan beresiko diadili anak-anak banjar.

Begitulah. Sekarang terjadi pawai Ogoh-ogoh niskala. Sekarang Ogoh-ogoh niskala berjalan di jalanan menguasai jalanan niskala.

Kita harus menepi. Kita harus bakti. Kita harus lapang hati. Karena apa yang kita imajinasikan secara estetik dan budaya bukan sekedar imajinasi biasa. Ogoh-ogoh adalah imajinasi gaib yang memang sungguh betul-betul gaib. Ada dan bisa mengejawantah menjadi mrana-wabah-sasab menyakit menular yang bisa merubuhkan dunia.

Ketika Ogoh-ogoh yang kita imajinasikan secara budaya dan religi di Bali hadir ke alam nyata, artinya kepercayaan dan agama yang kita anut benar-benar keramat, bukan sekedar mitos. Kita harus bijak menepi dan merenung bahwa realitas Ogoh-ogoh telah hadir dan meminta jalan. Kitalah sekarang yang bijak minggir ke tepi dan menepi mengurung diri dalam rumah.

Ogoh-ogoh sesungguhnya tidak kalah oleh Covid-19. Tapi Covid-19 sesungguhnya adalah Ogoh-ogoh yang sesungguhnya. Hadir ke dunia berpawai menguasai panggung dunia, menguasai jalanan dunia, kita harus minggir menepi.

Ogoh-ogoh sesungguhnya tidak kalah oleh Covid-19, tapi Nyepi kali ini, Nyepi tahun ini Ida tedun ke mercapada (beliau menjelma ke dunia kasat mata) — tendun mangreh manadi virus (turun ke dunia menjelma dalam wajah horor tak kasat mata sebagai virus).

Sesungguhnya sekarang “Ogoh-ogoh niskala” sedang ngelawang (pentas keliling) keliling dunia. Ida memargi (Beliau berjalan dan menguasai jalanan). Kita harus melakukan brata menarik diri tidak keluar, amati lelungan, sampai waktunya selesai Ida usan ngelawang (Beliau usai pentas keliling). Kita harus sabar mengurung diri menunggu sampai beberapa waktu ke depan.

Kita belum tahu kapan ida kasomya (beliau dikembalikan ke alam nir/nis/tiada tampak). Kita belum ketemu diwasa (hari-waktu-momentum) kapan beliau amor kembali ke alam nis.

Sebelum waktu somya (kembalikan ke alam nir/nis) tiba, kita harus mawas diri dan mengurung diri.

Siapa yang berkeliaran di saat beliau memargi (berjalan) akan tersandung. Siapa yang liar keluar yang kesandung Bhuta-Kala. Janjinya siapa teguh brata mengurung diri yang selamat. [T]

Tags: covid 19ogoh-ogohvirus corona
Share62TweetSendShareSend
Previous Post

Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Next Post

Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Mpu Tal

Mpu Tal

berdiam di Wanāśrama.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co