23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Mpu Tal by Mpu Tal
March 27, 2020
in Esai
Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Salah satu ogoh-ogoh di Kota Denpasar (Foto: AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Begitu rapuhkah Ogoh-ogoh dibanding sesuatu yang tak tampak (Covid-19) yang tidak bisa kita prediksi?

Ogoh-ogoh adalah lambang Bhuta Kala. Ogoh-ogoh adalah wujud dari imajinasi estetik orang Bali terhadap Bhuta-Kala yang hanya bisa diangankan.

Sekarang ketika Bhuta-Kala mengejawantah menjadi nyata sebagai Covid-19, imajinasi estetik (Ogoh-ogoh) harus menepi diam tidak diarak kita kunci di Balai Banjar.

Kenapa?

Karena yang dihayalkan telah hadir sebagai kuasa alam tiada terhalang sedang melalap dunia. Begitulah nasihat dalam lontar-lontar kuno peninggalan leluhur Bali: Bhuta-Kala mengejawantah dalam berbagai penyakit yang disebut dengan mrana, gering, gerubug, bah bedeg, sasab — berbagai wabah yang pernah menyerang pulau Bali.

Ogoh-ogoh bukan seni biasa. Ogoh-ogoh adalah seni memprediksi masa depan.

Masa depan apa yang diprediksi Ogoh-ogoh?

Bahwa ada berbagai ancaman berbagai Bhuta-Kala (mara-bahaya-bencana-ancaman penyakit-wabah-dstnya) yang bisa datang ke dunia kita. Ada berbagai ancaman horor yang bisa menjelma menjadi kenyataan.

Lewat seni Ogoh-ogoh orang Bali diajak melihat imajinasi dan memprediksi bahwa Bhuta-Kala bisa hadir dalam berbagai bentuk horor dan ancaman nyata dunia.

Pelajarannya: Agar kita siaga kalau kekuatan energi alam semesta yang tidak tampak itu turun menjadi penyakit dan ancaman kehidupan. Agar kita siaga dengan berbagai bentuk horor dan ancaman kemanusiaan yang bisa terjadi kapan saja.

Sudahkah kita siap ketika Ogoh-ogoh (imajinasi Bhuta-Kala) yang kita arak dalam pawai itu tiba-tiba menjelma dan menyerang manusia?

Semenjak tahun 1983 — semenjak ada Festival Ogoh-ogoh — telah dibuat ribuan Ogoh-ogoh dibuat dan diarak. Artinya ada ribuan imajinasi Bhuta-Kala telah diprediksi dalam berbagai bentuk dan ekspresi oleh orang Bali. Ribuan ancaman marabahaya telah diimajinasikan oleh masyarakat dan anak-anak banjar.

Seharusnya sekarang kita harus siap.

Siap?

Ya, seharus kita telah siap melihat dan menghadapi bahwa kekuatan Bhuta-Kala yang imajiner hadir ke muka bumi. Sekarang yang imajiner itu hadir sebagai virus: Covid-19.

Ogoh-ogoh telah mengajari anak-anak banjar bahwa apa yang diarak dalam pawai adalah kekuatan Bhuta-Kala yang harus diantisipasi dengan bijak dan penuh nalar.

Semua pemuda Bali yang lahir setelah tahun 1983 adalah “Generasi Ogoh-Ogoh.” Generasi Ogoh-ogoh ini adalah generasi berani. Generasi yang telah belajar bahwa imajinasi manusia tentang Bhuta-Kala beragam dan bisa dirayakan.

Bhuta-Kala bukan hanya ditakuti, tapi diimajinasikan dan wujudkan, diarak dalam pawai, dan kemudian kita “somya” (lebur kembali kembali ke alamnya). Artinya: Dibuat untuk diantisipasi.

Sepantasnya berani gagah dan nalar untuk tabah dan bijak menyikapi Bhuta-Kala yang kini mengejawantah menjadi Covid-19.

Bagaimana bijak menyikapi Bhuta-Kala yang mengejawantah?

Satu caranya yang ampuh mengurangi korban: Memberi waktu Sang Bhuta-Kala berlalu.

Dukung dan beri dukungan para petugas medis dan pelaksana tugas yang merawat korban. Selebihnya harus berdiam diri dan sabar menunggu sampai Sang Bhuta-Kala benar-benar berlalu. Sabar sampai benar-benar aman.

— Bayangkan saja sekarang ribuan Ogoh-ogoh yang telah dibuat semenjak tahun 1983 itu bangkit dan berjalan di jalanan menguasai jalanan di penjuru Bali, bahkan penjuru dunia.

— Bayangkan Ogoh-ogoh di masa lalu itu bernyawa dan bergerak di alam tak tampak dan siapa yang menghalangi terseruduk dan terserang Coronavirus.

— Bayangkan ribuan Ogoh-ogoh dengan segala senjata dan segala kuasa Bhuta-Kala mengamuk menguasai jalan.

— Bayangkan mereka haus dan lapar. Mencari mangsa dan tumbal. Bayangkan mereka meminta korban nyawa manusia yang harus ditadah jadi tetadahan.

— Bayangkan Ogoh-ogoh berbisik: “Ini adalah waktuku. Beri aku waktu berjalan. Siap saja yang tidak minggir dari jalan dan keramaian akan aku tadah (cabut nyawanya sebagai tumbal)”.

— Bayangkan Ogoh-ogoh berbisik: “Manusia yang berdiam diri di rumah akan selamat. Manusia yang masih berkeliaran di jalan berarti menantangku. Akan kutadah (kumakan) siapa yang berkeliaran, termasuk orang tua, anak, dan teman-teman dekatnya yang tidak menghentikan dan melarangnya untuk tidak keluar ke jalan menantangku.”

LOGIKANYA:

Ketika sedang berlangsung pawai Ogoh-ogoh lewat, maka kita sebagai pejalan kaki harus menepi. Biarkan dulu lewat semua Ogoh-ogoh sampai pawai usai dan benar-benar selesai.

Jika pawai Ogoh-ogoh sedang berjalan, kita sok menantang dan mau lewat dengan mobil kita atau kendaraan kita, pasti kepala kita dikepluk banjar. Pasti kita diteriaki dan beresiko diadili anak-anak banjar.

Begitulah. Sekarang terjadi pawai Ogoh-ogoh niskala. Sekarang Ogoh-ogoh niskala berjalan di jalanan menguasai jalanan niskala.

Kita harus menepi. Kita harus bakti. Kita harus lapang hati. Karena apa yang kita imajinasikan secara estetik dan budaya bukan sekedar imajinasi biasa. Ogoh-ogoh adalah imajinasi gaib yang memang sungguh betul-betul gaib. Ada dan bisa mengejawantah menjadi mrana-wabah-sasab menyakit menular yang bisa merubuhkan dunia.

Ketika Ogoh-ogoh yang kita imajinasikan secara budaya dan religi di Bali hadir ke alam nyata, artinya kepercayaan dan agama yang kita anut benar-benar keramat, bukan sekedar mitos. Kita harus bijak menepi dan merenung bahwa realitas Ogoh-ogoh telah hadir dan meminta jalan. Kitalah sekarang yang bijak minggir ke tepi dan menepi mengurung diri dalam rumah.

Ogoh-ogoh sesungguhnya tidak kalah oleh Covid-19. Tapi Covid-19 sesungguhnya adalah Ogoh-ogoh yang sesungguhnya. Hadir ke dunia berpawai menguasai panggung dunia, menguasai jalanan dunia, kita harus minggir menepi.

Ogoh-ogoh sesungguhnya tidak kalah oleh Covid-19, tapi Nyepi kali ini, Nyepi tahun ini Ida tedun ke mercapada (beliau menjelma ke dunia kasat mata) — tendun mangreh manadi virus (turun ke dunia menjelma dalam wajah horor tak kasat mata sebagai virus).

Sesungguhnya sekarang “Ogoh-ogoh niskala” sedang ngelawang (pentas keliling) keliling dunia. Ida memargi (Beliau berjalan dan menguasai jalanan). Kita harus melakukan brata menarik diri tidak keluar, amati lelungan, sampai waktunya selesai Ida usan ngelawang (Beliau usai pentas keliling). Kita harus sabar mengurung diri menunggu sampai beberapa waktu ke depan.

Kita belum tahu kapan ida kasomya (beliau dikembalikan ke alam nir/nis/tiada tampak). Kita belum ketemu diwasa (hari-waktu-momentum) kapan beliau amor kembali ke alam nis.

Sebelum waktu somya (kembalikan ke alam nir/nis) tiba, kita harus mawas diri dan mengurung diri.

Siapa yang berkeliaran di saat beliau memargi (berjalan) akan tersandung. Siapa yang liar keluar yang kesandung Bhuta-Kala. Janjinya siapa teguh brata mengurung diri yang selamat. [T]

Tags: covid 19ogoh-ogohvirus corona
Share62TweetSendShareSend
Previous Post

Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Next Post

Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Mpu Tal

Mpu Tal

berdiam di Wanāśrama.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co