2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Mpu Tal by Mpu Tal
March 27, 2020
in Esai
Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Salah satu ogoh-ogoh di Kota Denpasar (Foto: AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Begitu rapuhkah Ogoh-ogoh dibanding sesuatu yang tak tampak (Covid-19) yang tidak bisa kita prediksi?

Ogoh-ogoh adalah lambang Bhuta Kala. Ogoh-ogoh adalah wujud dari imajinasi estetik orang Bali terhadap Bhuta-Kala yang hanya bisa diangankan.

Sekarang ketika Bhuta-Kala mengejawantah menjadi nyata sebagai Covid-19, imajinasi estetik (Ogoh-ogoh) harus menepi diam tidak diarak kita kunci di Balai Banjar.

Kenapa?

Karena yang dihayalkan telah hadir sebagai kuasa alam tiada terhalang sedang melalap dunia. Begitulah nasihat dalam lontar-lontar kuno peninggalan leluhur Bali: Bhuta-Kala mengejawantah dalam berbagai penyakit yang disebut dengan mrana, gering, gerubug, bah bedeg, sasab — berbagai wabah yang pernah menyerang pulau Bali.

Ogoh-ogoh bukan seni biasa. Ogoh-ogoh adalah seni memprediksi masa depan.

Masa depan apa yang diprediksi Ogoh-ogoh?

Bahwa ada berbagai ancaman berbagai Bhuta-Kala (mara-bahaya-bencana-ancaman penyakit-wabah-dstnya) yang bisa datang ke dunia kita. Ada berbagai ancaman horor yang bisa menjelma menjadi kenyataan.

Lewat seni Ogoh-ogoh orang Bali diajak melihat imajinasi dan memprediksi bahwa Bhuta-Kala bisa hadir dalam berbagai bentuk horor dan ancaman nyata dunia.

Pelajarannya: Agar kita siaga kalau kekuatan energi alam semesta yang tidak tampak itu turun menjadi penyakit dan ancaman kehidupan. Agar kita siaga dengan berbagai bentuk horor dan ancaman kemanusiaan yang bisa terjadi kapan saja.

Sudahkah kita siap ketika Ogoh-ogoh (imajinasi Bhuta-Kala) yang kita arak dalam pawai itu tiba-tiba menjelma dan menyerang manusia?

Semenjak tahun 1983 — semenjak ada Festival Ogoh-ogoh — telah dibuat ribuan Ogoh-ogoh dibuat dan diarak. Artinya ada ribuan imajinasi Bhuta-Kala telah diprediksi dalam berbagai bentuk dan ekspresi oleh orang Bali. Ribuan ancaman marabahaya telah diimajinasikan oleh masyarakat dan anak-anak banjar.

Seharusnya sekarang kita harus siap.

Siap?

Ya, seharus kita telah siap melihat dan menghadapi bahwa kekuatan Bhuta-Kala yang imajiner hadir ke muka bumi. Sekarang yang imajiner itu hadir sebagai virus: Covid-19.

Ogoh-ogoh telah mengajari anak-anak banjar bahwa apa yang diarak dalam pawai adalah kekuatan Bhuta-Kala yang harus diantisipasi dengan bijak dan penuh nalar.

Semua pemuda Bali yang lahir setelah tahun 1983 adalah “Generasi Ogoh-Ogoh.” Generasi Ogoh-ogoh ini adalah generasi berani. Generasi yang telah belajar bahwa imajinasi manusia tentang Bhuta-Kala beragam dan bisa dirayakan.

Bhuta-Kala bukan hanya ditakuti, tapi diimajinasikan dan wujudkan, diarak dalam pawai, dan kemudian kita “somya” (lebur kembali kembali ke alamnya). Artinya: Dibuat untuk diantisipasi.

Sepantasnya berani gagah dan nalar untuk tabah dan bijak menyikapi Bhuta-Kala yang kini mengejawantah menjadi Covid-19.

Bagaimana bijak menyikapi Bhuta-Kala yang mengejawantah?

Satu caranya yang ampuh mengurangi korban: Memberi waktu Sang Bhuta-Kala berlalu.

Dukung dan beri dukungan para petugas medis dan pelaksana tugas yang merawat korban. Selebihnya harus berdiam diri dan sabar menunggu sampai Sang Bhuta-Kala benar-benar berlalu. Sabar sampai benar-benar aman.

— Bayangkan saja sekarang ribuan Ogoh-ogoh yang telah dibuat semenjak tahun 1983 itu bangkit dan berjalan di jalanan menguasai jalanan di penjuru Bali, bahkan penjuru dunia.

— Bayangkan Ogoh-ogoh di masa lalu itu bernyawa dan bergerak di alam tak tampak dan siapa yang menghalangi terseruduk dan terserang Coronavirus.

— Bayangkan ribuan Ogoh-ogoh dengan segala senjata dan segala kuasa Bhuta-Kala mengamuk menguasai jalan.

— Bayangkan mereka haus dan lapar. Mencari mangsa dan tumbal. Bayangkan mereka meminta korban nyawa manusia yang harus ditadah jadi tetadahan.

— Bayangkan Ogoh-ogoh berbisik: “Ini adalah waktuku. Beri aku waktu berjalan. Siap saja yang tidak minggir dari jalan dan keramaian akan aku tadah (cabut nyawanya sebagai tumbal)”.

— Bayangkan Ogoh-ogoh berbisik: “Manusia yang berdiam diri di rumah akan selamat. Manusia yang masih berkeliaran di jalan berarti menantangku. Akan kutadah (kumakan) siapa yang berkeliaran, termasuk orang tua, anak, dan teman-teman dekatnya yang tidak menghentikan dan melarangnya untuk tidak keluar ke jalan menantangku.”

LOGIKANYA:

Ketika sedang berlangsung pawai Ogoh-ogoh lewat, maka kita sebagai pejalan kaki harus menepi. Biarkan dulu lewat semua Ogoh-ogoh sampai pawai usai dan benar-benar selesai.

Jika pawai Ogoh-ogoh sedang berjalan, kita sok menantang dan mau lewat dengan mobil kita atau kendaraan kita, pasti kepala kita dikepluk banjar. Pasti kita diteriaki dan beresiko diadili anak-anak banjar.

Begitulah. Sekarang terjadi pawai Ogoh-ogoh niskala. Sekarang Ogoh-ogoh niskala berjalan di jalanan menguasai jalanan niskala.

Kita harus menepi. Kita harus bakti. Kita harus lapang hati. Karena apa yang kita imajinasikan secara estetik dan budaya bukan sekedar imajinasi biasa. Ogoh-ogoh adalah imajinasi gaib yang memang sungguh betul-betul gaib. Ada dan bisa mengejawantah menjadi mrana-wabah-sasab menyakit menular yang bisa merubuhkan dunia.

Ketika Ogoh-ogoh yang kita imajinasikan secara budaya dan religi di Bali hadir ke alam nyata, artinya kepercayaan dan agama yang kita anut benar-benar keramat, bukan sekedar mitos. Kita harus bijak menepi dan merenung bahwa realitas Ogoh-ogoh telah hadir dan meminta jalan. Kitalah sekarang yang bijak minggir ke tepi dan menepi mengurung diri dalam rumah.

Ogoh-ogoh sesungguhnya tidak kalah oleh Covid-19. Tapi Covid-19 sesungguhnya adalah Ogoh-ogoh yang sesungguhnya. Hadir ke dunia berpawai menguasai panggung dunia, menguasai jalanan dunia, kita harus minggir menepi.

Ogoh-ogoh sesungguhnya tidak kalah oleh Covid-19, tapi Nyepi kali ini, Nyepi tahun ini Ida tedun ke mercapada (beliau menjelma ke dunia kasat mata) — tendun mangreh manadi virus (turun ke dunia menjelma dalam wajah horor tak kasat mata sebagai virus).

Sesungguhnya sekarang “Ogoh-ogoh niskala” sedang ngelawang (pentas keliling) keliling dunia. Ida memargi (Beliau berjalan dan menguasai jalanan). Kita harus melakukan brata menarik diri tidak keluar, amati lelungan, sampai waktunya selesai Ida usan ngelawang (Beliau usai pentas keliling). Kita harus sabar mengurung diri menunggu sampai beberapa waktu ke depan.

Kita belum tahu kapan ida kasomya (beliau dikembalikan ke alam nir/nis/tiada tampak). Kita belum ketemu diwasa (hari-waktu-momentum) kapan beliau amor kembali ke alam nis.

Sebelum waktu somya (kembalikan ke alam nir/nis) tiba, kita harus mawas diri dan mengurung diri.

Siapa yang berkeliaran di saat beliau memargi (berjalan) akan tersandung. Siapa yang liar keluar yang kesandung Bhuta-Kala. Janjinya siapa teguh brata mengurung diri yang selamat. [T]

Tags: covid 19ogoh-ogohvirus corona
Share62TweetSendShareSend
Previous Post

Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Next Post

Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Mpu Tal

Mpu Tal

berdiam di Wanāśrama.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co