23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Mpu Tal by Mpu Tal
March 27, 2020
in Esai
Apakah ogoh-ogoh Kalah Melawan Covid-19?

Salah satu ogoh-ogoh di Kota Denpasar (Foto: AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Begitu rapuhkah Ogoh-ogoh dibanding sesuatu yang tak tampak (Covid-19) yang tidak bisa kita prediksi?

Ogoh-ogoh adalah lambang Bhuta Kala. Ogoh-ogoh adalah wujud dari imajinasi estetik orang Bali terhadap Bhuta-Kala yang hanya bisa diangankan.

Sekarang ketika Bhuta-Kala mengejawantah menjadi nyata sebagai Covid-19, imajinasi estetik (Ogoh-ogoh) harus menepi diam tidak diarak kita kunci di Balai Banjar.

Kenapa?

Karena yang dihayalkan telah hadir sebagai kuasa alam tiada terhalang sedang melalap dunia. Begitulah nasihat dalam lontar-lontar kuno peninggalan leluhur Bali: Bhuta-Kala mengejawantah dalam berbagai penyakit yang disebut dengan mrana, gering, gerubug, bah bedeg, sasab — berbagai wabah yang pernah menyerang pulau Bali.

Ogoh-ogoh bukan seni biasa. Ogoh-ogoh adalah seni memprediksi masa depan.

Masa depan apa yang diprediksi Ogoh-ogoh?

Bahwa ada berbagai ancaman berbagai Bhuta-Kala (mara-bahaya-bencana-ancaman penyakit-wabah-dstnya) yang bisa datang ke dunia kita. Ada berbagai ancaman horor yang bisa menjelma menjadi kenyataan.

Lewat seni Ogoh-ogoh orang Bali diajak melihat imajinasi dan memprediksi bahwa Bhuta-Kala bisa hadir dalam berbagai bentuk horor dan ancaman nyata dunia.

Pelajarannya: Agar kita siaga kalau kekuatan energi alam semesta yang tidak tampak itu turun menjadi penyakit dan ancaman kehidupan. Agar kita siaga dengan berbagai bentuk horor dan ancaman kemanusiaan yang bisa terjadi kapan saja.

Sudahkah kita siap ketika Ogoh-ogoh (imajinasi Bhuta-Kala) yang kita arak dalam pawai itu tiba-tiba menjelma dan menyerang manusia?

Semenjak tahun 1983 — semenjak ada Festival Ogoh-ogoh — telah dibuat ribuan Ogoh-ogoh dibuat dan diarak. Artinya ada ribuan imajinasi Bhuta-Kala telah diprediksi dalam berbagai bentuk dan ekspresi oleh orang Bali. Ribuan ancaman marabahaya telah diimajinasikan oleh masyarakat dan anak-anak banjar.

Seharusnya sekarang kita harus siap.

Siap?

Ya, seharus kita telah siap melihat dan menghadapi bahwa kekuatan Bhuta-Kala yang imajiner hadir ke muka bumi. Sekarang yang imajiner itu hadir sebagai virus: Covid-19.

Ogoh-ogoh telah mengajari anak-anak banjar bahwa apa yang diarak dalam pawai adalah kekuatan Bhuta-Kala yang harus diantisipasi dengan bijak dan penuh nalar.

Semua pemuda Bali yang lahir setelah tahun 1983 adalah “Generasi Ogoh-Ogoh.” Generasi Ogoh-ogoh ini adalah generasi berani. Generasi yang telah belajar bahwa imajinasi manusia tentang Bhuta-Kala beragam dan bisa dirayakan.

Bhuta-Kala bukan hanya ditakuti, tapi diimajinasikan dan wujudkan, diarak dalam pawai, dan kemudian kita “somya” (lebur kembali kembali ke alamnya). Artinya: Dibuat untuk diantisipasi.

Sepantasnya berani gagah dan nalar untuk tabah dan bijak menyikapi Bhuta-Kala yang kini mengejawantah menjadi Covid-19.

Bagaimana bijak menyikapi Bhuta-Kala yang mengejawantah?

Satu caranya yang ampuh mengurangi korban: Memberi waktu Sang Bhuta-Kala berlalu.

Dukung dan beri dukungan para petugas medis dan pelaksana tugas yang merawat korban. Selebihnya harus berdiam diri dan sabar menunggu sampai Sang Bhuta-Kala benar-benar berlalu. Sabar sampai benar-benar aman.

— Bayangkan saja sekarang ribuan Ogoh-ogoh yang telah dibuat semenjak tahun 1983 itu bangkit dan berjalan di jalanan menguasai jalanan di penjuru Bali, bahkan penjuru dunia.

— Bayangkan Ogoh-ogoh di masa lalu itu bernyawa dan bergerak di alam tak tampak dan siapa yang menghalangi terseruduk dan terserang Coronavirus.

— Bayangkan ribuan Ogoh-ogoh dengan segala senjata dan segala kuasa Bhuta-Kala mengamuk menguasai jalan.

— Bayangkan mereka haus dan lapar. Mencari mangsa dan tumbal. Bayangkan mereka meminta korban nyawa manusia yang harus ditadah jadi tetadahan.

— Bayangkan Ogoh-ogoh berbisik: “Ini adalah waktuku. Beri aku waktu berjalan. Siap saja yang tidak minggir dari jalan dan keramaian akan aku tadah (cabut nyawanya sebagai tumbal)”.

— Bayangkan Ogoh-ogoh berbisik: “Manusia yang berdiam diri di rumah akan selamat. Manusia yang masih berkeliaran di jalan berarti menantangku. Akan kutadah (kumakan) siapa yang berkeliaran, termasuk orang tua, anak, dan teman-teman dekatnya yang tidak menghentikan dan melarangnya untuk tidak keluar ke jalan menantangku.”

LOGIKANYA:

Ketika sedang berlangsung pawai Ogoh-ogoh lewat, maka kita sebagai pejalan kaki harus menepi. Biarkan dulu lewat semua Ogoh-ogoh sampai pawai usai dan benar-benar selesai.

Jika pawai Ogoh-ogoh sedang berjalan, kita sok menantang dan mau lewat dengan mobil kita atau kendaraan kita, pasti kepala kita dikepluk banjar. Pasti kita diteriaki dan beresiko diadili anak-anak banjar.

Begitulah. Sekarang terjadi pawai Ogoh-ogoh niskala. Sekarang Ogoh-ogoh niskala berjalan di jalanan menguasai jalanan niskala.

Kita harus menepi. Kita harus bakti. Kita harus lapang hati. Karena apa yang kita imajinasikan secara estetik dan budaya bukan sekedar imajinasi biasa. Ogoh-ogoh adalah imajinasi gaib yang memang sungguh betul-betul gaib. Ada dan bisa mengejawantah menjadi mrana-wabah-sasab menyakit menular yang bisa merubuhkan dunia.

Ketika Ogoh-ogoh yang kita imajinasikan secara budaya dan religi di Bali hadir ke alam nyata, artinya kepercayaan dan agama yang kita anut benar-benar keramat, bukan sekedar mitos. Kita harus bijak menepi dan merenung bahwa realitas Ogoh-ogoh telah hadir dan meminta jalan. Kitalah sekarang yang bijak minggir ke tepi dan menepi mengurung diri dalam rumah.

Ogoh-ogoh sesungguhnya tidak kalah oleh Covid-19. Tapi Covid-19 sesungguhnya adalah Ogoh-ogoh yang sesungguhnya. Hadir ke dunia berpawai menguasai panggung dunia, menguasai jalanan dunia, kita harus minggir menepi.

Ogoh-ogoh sesungguhnya tidak kalah oleh Covid-19, tapi Nyepi kali ini, Nyepi tahun ini Ida tedun ke mercapada (beliau menjelma ke dunia kasat mata) — tendun mangreh manadi virus (turun ke dunia menjelma dalam wajah horor tak kasat mata sebagai virus).

Sesungguhnya sekarang “Ogoh-ogoh niskala” sedang ngelawang (pentas keliling) keliling dunia. Ida memargi (Beliau berjalan dan menguasai jalanan). Kita harus melakukan brata menarik diri tidak keluar, amati lelungan, sampai waktunya selesai Ida usan ngelawang (Beliau usai pentas keliling). Kita harus sabar mengurung diri menunggu sampai beberapa waktu ke depan.

Kita belum tahu kapan ida kasomya (beliau dikembalikan ke alam nir/nis/tiada tampak). Kita belum ketemu diwasa (hari-waktu-momentum) kapan beliau amor kembali ke alam nis.

Sebelum waktu somya (kembalikan ke alam nir/nis) tiba, kita harus mawas diri dan mengurung diri.

Siapa yang berkeliaran di saat beliau memargi (berjalan) akan tersandung. Siapa yang liar keluar yang kesandung Bhuta-Kala. Janjinya siapa teguh brata mengurung diri yang selamat. [T]

Tags: covid 19ogoh-ogohvirus corona
Share62TweetSendShareSend
Previous Post

Kaukah itu Aku? – [Catatan Teater “Kaukah itu, Ibu?” di Mahima March March March]

Next Post

Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Mpu Tal

Mpu Tal

berdiam di Wanāśrama.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Di “Teba” Ada “Butternut Squash”, Merambatlah Harapan dari Belakang Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co