2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teaterisu #2 | Feminisme, Mitos, dan Panggung Perempuan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 16, 2021
in Esai
Teaterisu #2 | Feminisme, Mitos, dan Panggung Perempuan

Ilustrasi: potongan poster Diskusi bertema “Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin

Suatu kali, saya mendengar kisah bahwa sungai di suatu negara mendapat hak asasi; sungai tersebut berhak tetap mengalir, tetap bersih. Orang melanggar hak-hak sungai itu bila membuang sampah ke sana, salah satunya. Dalam perspektif antroposentris, alam adalah yang minor dan manusialah yang mayor, pusat, dan pemegang tunggal otoritas. Dan rupanya, diskusi pada Teaterisu #2, yang digelar secara daring oleh Penastri (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia), membuat jembatan antara informasi awal saya tersebut terhadap pandangan soal feminisme.

Teaterisu merupakan forum diskusi dwibulanan sepanjang 2021, dirancang sebagai ruang dialogis untuk mengurai permasalahan sekaligus potensi-potensi teater. Diskusi bertema “Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin: Feminisme dan Teater di Indonesia” ini berlangsung pada 30 April 2021 dengan dua orang pembicara: Intan Paramaditha, seorang penulis dan dosen kajian media dan film di Macquarie University, Sydney; yang terlibat dalam kerja-kerja budaya lintas disiplin berperspektif feminis, dan Tya Setiawati yang merupakan aktor, penulis lakon, dan sutradara pada Teater Sakata, Padang Panjang.

Diskusi ini dilatarbelakangi pemikiran bahwa, pada masa keemasan teater Indonesia, rentang 1968-1988, tak tercatat nama pegiat teater perempuan. Pada masa yang oleh Jakob Sumardjo disebut sebagai “zaman emas kedua teater Indonesia” ini setidaknya dipentaskan 102 lakon Indonesia, namun tak satu pun di antaranya ditulis perempuan atau tampil dengan sudut pandang perempuan. Kondisi ini masih berlanjut hingga masa bubarnya Orde Baru. Barulah setelah itu suara perempuan mulai terdengar di atas panggung teater Indonesia: mulanya samar, kian jelas, lalu memekik.

Poster Diskusi bertema “Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin

Kemunculan gerakan teater dengan perspketif feminis setidaknya dipengaruhi oleh gerakan-gerakan yang menyuarakan kesetaraan gender tersebut. Tetapi, pada perjalanannya, feminisme tidak hanya dibutuhkan perempuan, lelaki pun membutuhkannya, buruh, mahasiswa, alam, bahkan pekerja teater itu sendiri. Intan Paramaditha menjelaskan bahwa feminisme bukan perihal perempuan mesti setara dengan lelaki. “Kenapa lelaki yang dijadikan standar?” katanya.

Tetapi lebih luas dari itu, feminisme yang ia maksud adalah adanya relasi kuasa yang mesti dibicarakan. Hal ini persis menunjukkan bahwa feminisme juga memperhatikan perihal warna kulit, kelompok masyarakat, kaum mayor dan minor, kuat dan lemah, pusat dan daerah, dan sebagainya.

Hal ini mengingatkan saya pada konsep dekonstruksi Derrida, di mana—ketika melakukan pembacaan suatu teks—yang menerangkan bahwa seharusnya, yang minor pun mendapat ruang untuk berbicara. Barangkali dalam konteks pembacaan suatu teks, hal itu akan membuka cakrawala pembacaan realitas sehingga lebih luas hasilnya. Tetapi, dalam konteks ketimpangan, bukankah hal itu mestinya diputar, bahkan dijungkirbalikkan?

Satu hal dalam diskusi ini yang kemudian membuat saya tergelitik adalah ketika Intan Paramaditha menanggapi sebuah komentar dari peserta yang kurang lebih sebagai berikut: jangan-jangan perempuan tidak berteater karena dirinya sendiri, dan bukan karena orang lain atau masyarakat atau lelaki. Pernyataan peserta itu ditanggapi Intan dengan pertanyaan balik, “Apa itu diri?” Pertanyaan itu tak kurang merupakan sebuah permenungan atas konstruksi diri. Diri adalah sebuah konstruksi masyarakat, jalinan relasi-relasi, dan ketika bangunan itu telah mendarah-daging, maka kebiasaan yang paling kejam sekalipun seolah-olah adalah hal yang biasa-biasa saja, sebagaimana Vito Corleone dalam The Godfather dengan santai berkata, “Berikan ia penawaran yang tak bisa ditolak.”

Pada 28 Mei 2013, dalam “Musyawarah Buku” di Komunitas Salihara, hal serupa sempat diterangkan oleh F. Budi Hardiman atau akrab disapa Mas Frengki. Frengki menjelaskan konsep diri layaknya bawang. “Bawang, bila dikupas tidak memiliki inti, kosong, semua berupa kulit: manusia juga demikian, terdiri dari relasi-relasi,” ungkapnya dalam diskusi tersebut. Dalam konteks itu, Frengki memberi contoh nama-nama orang Bali yang terdiri dari nama-nama kelompok kelas masyarakat tertentu, urutan kelahiran, dan nama diri ada di belakang nama-nama itu.

Dalam kebiasaan orang Bali, lelaki akan dianggap lemah bila tunduk pada perempuan. Hal seperti ini tidak hanya diungkapkan oleh lelaki, perempuan pun turut berpegang pada jargon tersebut. Misalnya, seorang lelaki meninggalkan rumah, lalu membangun rumah baru karena si istri selalu berseberangan dengan mertua, dan lelaki akan mendapat cap buruk itu. Dalam masyarakat Bali khususnya, istilah “diembat perempuan” memiliki konotasi yang dua kali buruk: pertama, kehilangan kuasa, dan kedua, mencabut paksa tanggung jawab. Dan, dua hal itu bukan hanya menjadi masalah horizontal, tetapi juga vertikal.

Namun, perempuan Bali memiliki panggung utama yang tidak bisa digoyahkan. Pada sebuah upacara menjelang hari raya Nyepi, saya dan semua lelaki—yang gigi susunya telah tanggal—diupacarai. Semua laki-laki berdiri dan membuat setengah lingkaran. Di depan kami, telah disiapkan sarana upacara, dan laki-laki hanya menunggu perintah perempuan yang menjadi instruktur. Ibu-ibu ini memerintahkan kami: sesekali berputar, menelungkupkan tangan, dan sebagainya. Perempuan memiliki panggung dan lelaki tak berdaya dalam hal ini. Meski secara sederhana terlihat bahwa lelakilah yang utama, tetapi berhubung semua lelaki diupacarai dan perempuan pelakunya, tentu upacara tak akan berlangsung tanpa kehadiran perempuan, begitu juga laki-laki.

Para pembicara dalam Diskusi bertema “Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin

Sementara itu, Tya Setiawati mempertanyakan tentang mitos-mitos yang mesti ditanggung perempuan. Ia menceritakan bahwa, pada 2007, ia menginisiasi sebuah laboratorium teater dengan perspektif gender. Kegiatan di laboratorium itu melibatkan aktor, penata artistik, penata lighting, penata musik, dan pimpinan produksi yang semuanya perempuan.

Dalam makalahnya yang berjudul “Isu Gender di Panggung Teater Sakata”, Tya berkisah salah satu produksi dalam laboratoriumnya itu. “Bumi Perempuan merupakan upaya dekonstruksi atas makna (ke)perawan(an) dan menggugat citra seksualitas kecantikan perempuan dari perspektif maskulin; rambut panjang menderai, kulit putih, postur tinggi semampai, hidung mancung, dagu lancip dan tuntutan penampilan fisik sempurna lainnya. Dimainkan aktor perempuan dengan kepala plontos, menghadirkan setting dan hand property yang mewakili masyarakat agraris, seperti: hamparan sekam padi, tapian, belanga dan dua drum besar yang berfungsi sebagai alat musik sekaligus simbol ‘kekerasan’ yang memekik,” tulis Tya.

Saya sempat menengok isi meja hias perempuan, dan meja itu dipenuhi oleh alat-alat kecantikan. Seseorang bahkan pernah menceritakan kegiatannya pada saya: baru bangun, setelah mandi pagi, berkegiatan, mandi, hingga menjelang tidur, adalah waktunya memoles wajah, memperhatikan kecantikannya. Tentu hal ini tidak semata-mata hanya karena perempuan ingin seperti itu, tetapi ada suatu power yang membuatnya harus demikian.

Teater menjadi ruang yang strategis untuk mengungkapkan hal-hal semacam itu; di samping dalam perjalanannya, teater memerankan fungsi penting sebagai pertahanan masyarakat sipil terhadap segala bentuk represi. Lebih dari itu, teater memberi kemungkinan para pelaku dan penonton untuk mempertanyakan ulang mitos tersebut, sebagaimana Tya Setiawati dalam pertunjukkannya. Bagi saya, rambut perempuan yang dipelontos merupakan sebuah pemberontakan terhadap mitos dengan suara yang keras. Tidak jarang kita jumpai perempuan memotong pendek rambutnya, dan hal itu seolah ingin berbicara bahwa perempuan dengan tampilan seperti itu bukan pemegang jargon rambut adalah mahkota; sebagaimana diajekkan iklan dan masyarakatnya.

Teater dengan perspektif feminis setidaknya mesti memperhatikan dua hal: pertama, perempuan dalam teater itu sendiri, sebagaimana yang dilakukan Tya Setiawati dengan gerakan perempuannya; dan satu lagi adalah isu perempuan di luar panggung, dalam keseharian, dan konstruksi makna atas keperempuanan. Meski feminisme dapat dipandang dengan begitu luasnya, tetapi saya masih ingat akan satu ungkapan, “Semasih perempuan merasa terancam berjalan di trotoar, semasih perempuan tidak aman keluar malam-malam, selama itu pula isu tentangnya mesti dibicarakan.” [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Peed Aya” | Pawai PKB 2021 dengan Latar Air Terjun Kanto Lampo

Next Post

Dialog Kritis Pesona Tokoh Gajah Mada Lewat Eksotiknya Gili Menjangan

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Dialog Kritis Pesona Tokoh Gajah Mada Lewat Eksotiknya Gili Menjangan

Dialog Kritis Pesona Tokoh Gajah Mada Lewat Eksotiknya Gili Menjangan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co