26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 12, 2022
in Esai
Gurat Memoar | Tutorial Aplikasi “Pengerusan” ala Seniman Kamasan

teknologi sederhana untuk menggerus yang umum dipakai oleh sangging-sangging kamasan.

Teman-teman di Gurat Institute sedang mengerjakan sebuah penelitian terkait dengan pengetahuan warna di Bali. Karena itu sejak minggu pertama di bulan November 2021 lalu, bersama mereka saya sering pulang-pergi ke Banjar Sangging di Kamasan, Klungkung, dan sekitarannya.

Tujuannya bukan untuk menikmati mie koples, kerupuk be, serombotan dan rujak bir yang terkenal di sana. Kalau pun itu jadi tujuan, katakanlah itu hanya tujuan kedua kami. Tujuan utamanya adalah untuk menyusuri data-data di Kamasan, lewat senimannya, tokoh-tokoh, maupun masyarakatnya.

Per Januari 2022 kami masih sering bolak-balik ke Klungkung, lebih sering lagi mampir ke studionya I Made Sesangka, pelukis asal Banjar Sangging Kamasan yang juga merupakan murid sekaligus menantu dari maestro I Nyoman Mandra. Lewat mengikuti proses berkarya Pak Dek (panggilan saya padanya), kami mencoba mengenali seni lukis Kamasan secara lebih dekat dan mencoba memahami pengetahuan-pengetahuan yang ada dibaliknya.

Gurat Memoar | Ida Bagus Sena, Pelukis yang Mengaku Bodoh, yang Memetik Pelajaran dari Mana-mana

Tulisan pendek ini adalah catatan atas pengamatan proses tersebut.

Catatan ini coba membahas dua kedatangan kami ke Kamasan, yakni Minggu 7 November 2021 dan Jumat tanggal 28 Januari 2022 dimana kami berkesempatan untuk mengamati proses ngerus yang merupakan salah satu tahap penting dalam pembuatan lukisan Kamasan.

Ngerus dalam bahasa Bali berarti menggosok, dalam lukis Kamasan ngerus berarti menghaluskan dan melicinkan permukaan kain kanvas menggunakan panas dari gesekan cangkang kerang bulih/ kerang kuwuk bermotif tutul (latin: Cypraea Tigris).

Tahap ngerus dalam lukis Kamasan biasanya dilakukan dua kali, yang pertama ‘ngerus bubuan’untuk menyiapkan kain sebelum disket atau ngreke. Sementara yang kedua, ‘ngerus warnaan’ setelah warna-warna selesai dipasang agar siap untuk dicawi.

Masing-masing proses ngerus itu dipraktekkan oleh I Wayan Suardita (produsen kanvas Kamasan) di dalam ruang dapur rumah yang juga difungsikan menjadi tempat menggerus kain, satunya lagi oleh Pak Dek Sesangka dengan menggunakan alat pengerusan yang ada di Sanggar Wasundari—sanggar lukis Kamasan yang dibangun oleh Nyoman Mandra dan kini dikelola oleh Pak Dek dan Istrinya, Ni Wayan Sri Wedari.

Foto: Teknologi sederhana untuk menggerus yang umum dipakai oleh sangging-sangging di Kamasan, Klungkung, Bali.

Apa yang terlihat dalam foto-foto di atas adalah teknologi sederhana untuk menggerus yang umum dipakai oleh sangging-sangging kamasan. Karena difungsikan untuk menggerus maka teknologi ini dinamai pengerusan.

Menurut penuturan Pak Dek, pengerusan ini dulu hampir dapat ditemui di tiap rumah sangging atau seniman Kamasan, namun hari-hari ini pengerusan maupun aktivitas mengerus itu hanya dapat ditemui di beberapa rumah yang masih memproduksi kanvas Kamasan, serta studio-studio seniman Kamasan yang mempunyai kebutuhan memberikan workshop atau pelatihan kepada orang-orang yang datang ke mereka untuk belajar melukis dengan stil Kamasan.

Bosan… Bosan… Bosan… Kami Mulai Bosan – [Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona]

Keluarga I Wayan Suardita dan Sanggar Wasundari adalah beberapa diantaranya yang masih menyediakan fasilitas pengerusandan biasanya sering dipinjam oleh para seniman Kamasan untuk menggerus lukisan.

Antara alat pengerus yang dipakai oleh I Wayan Suardita dan Pak Dek Sesangka, kita bisa melihat ada perbedaan pada bentuk pementalan (bambu untuk menekan kerang ke kain) yang dipakai. Apabila pementalan di Sanggar Suwandari hanya memanfaatkan satu bilah bambu, pementalan di dapur I Wayan Suardita dibuat dari dua bilah bambu yang diikat kencang dengan tali yang hampir menutupi seluruh bilah. Dibuat demikian mungkin menyesuaikan dengan fungsinya, karena pengerusan milik keluarga I Wayan Suardita biasanya hanya dipakai untuk menggerus kain kanvas yang baru selesai diberi tepung beras atau mubuhin.

Pengerusan ini juga digosok maju-mundur menggunakan dua tangan, sehingga terkesan menghasilkan kekuatan gosokan yang lebih kuat. Berbeda dengan teknik mengerus yang dipraktikkan oleh Pak Dek Sesangka, yakni menggunakan satu tangan dan tampak tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk menekan kerang ke kain.

Foto: Kami dari Gurat Institute di Banjar Sangging di Kamasan, Klungkung

Menurut Pak Dek pula, untuk menggerus lukisan-lukisan Kamasan yang berukuran kecil jarang dipergunakan pengerusan dengan pementalan, artinya yang diandalkan hanya cangkang kerang bulih dan tangan tukang gerusnya itu sendiri. Menurutnya hal tersebut untuk meminimalisir tekanan gesekan yang terlalu keras yang berisiko merusak kain.

Berdasarkan pengamatan atas dua proses ngerusyang diperlihatkan oleh I Wayan Suardita dan Pak Dek, maka komponen-komponen pembentuk alat pengerusan beserta fungsinya coba saya urai menjadi beberapa bagian, antara lain:

  1. Lambang (tiang bagian atas), fungsi utamanya sebagai penopang atau tempat memasang pementalan.
  2. Pementalan, satu paket komponen yang terdiri dari sebuah balok kayu yang pada bagian tengahnya dibuat sedikit berongga untuk tempat memasang bilah bambu sehingga menghasilkan tekanan kepada kerang bulih. Panjang pementelan menyesuaikan antara tinggi lambang, alas papan, dan tebal kerang bulih agar menghasilkan daya tekan dan gosok yang kuat.
  3. Kerang bulih, kerang yang dipakai untuk menggerus biasanya memiliki cangkang licin seperti jenis kerang kuwuk atau Cypraea Tigris.
  4. Papan, papan tebal yang permukaannya rata sebagai alas tempat membentang kain, biasanya papan berukuran memanjang mengingat arah gosokan dengan pengerusan ini dominan hanya maju-mundur.

Cara mengaplikasikan pengerusan ini sederhana. Selain syarat utamanya harus menggunakan kerang bulih, kunci untuk menyukseskan proses pengerusan ini juga terletak pada kain kanvasnya sendiri. Agar kain dinyatakan siap digerus maka kain harus dijemur terlebih dahulu untuk memastikan kain dan warna (pada tahap ngerus warnaan) telah benar-benar kering.

Biasanya jika tidak (cukup) dijemur dan langsung digerus, warna akan terangkat dan belobor, merusak bagian-bagian pada lukisan. Setelah dijemur, kain yang masih dalam keadaan hangat langsung dibentang diatas alas papan tebal, kemudian cangkang kerang yang telah dihubungkan ke bambu pementalan ditaruh diatas kain kanvas, selanjutnya cangkang digosokkan secara maju-mundur.

Kuta, Kita, Kini | Pameran Seni Rupa Kelompok Artheist

Tahap ngerus dalam lukis Kamasan sendiri biasanya terjadi sebanyak dua kali, ngerus pertama yakni pada tahap setelah mubuhin-sebelum ngreke disebut ‘ngerus bubuan’ berfungsi untuk membuat pori-pori kain terbuka agar warna dapat terserap dengan baik.

Sementara proses ngerus yang kedua pada tahap setelah ngewarnin disebut ‘ngerus warnaan’ berfungsi untuk melekatkan, merapatkan dan mengencangkan warna pada kain kanvas. Proses ngerus juga berfungsi untuk mempermudah pelukis ketika akan melanjutkan beberapa tahapan akhir seperti nyawi (kontur), nyocain (memberi warna merah pada bagian permata), dan meletik (memberi warna putih/highlight pada bagian gigi, kuku, ornamen).

Bagaimana untuk mengetahui dan mengukur hasil gerusan? Menurut Pak Dek Sesangka kita cukup menggunakan tangan untuk meraba tekstur kanvas apabila dirasa permukaan kain telah rata dan licin maka menandakan jalannya ujung kuas tidak akan tersangkut-sangkut. Selain meraba kanvas, biasanya permukaan kain yang sudah cukup digerus akan terlihat lebih mengkilap daripada yang belum digerus.

Semula kegiatan menggerus ini terlihat mudah dipraktikkan, namun setelah teman-teman di Gurat Institute sendiri mencoba mempraktikkan ngerus ini sepulang dari Kamasan barulah kami memahami betapa banyak usaha mulai tenaga dan fokus yang harus disiapkan oleh para sangging maupun para ‘tukang gerus’ pada tahapan ngerus ini.

Catatan singkat ini ingin mengapresiasi hal tersebut, terutama keluarga I Wayan Suardita di Banjar Sangging yang sampai saat ini masih melanggengkan pengetahuan membuat kanvas kamasan hingga mengerus ini secara turun temurun. [T]

Batubulan, Februari 2022

Tags: Desa KamasanGurat InstituteKlungkunglukisan kamasanSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karangan Bunga dari Pembajak Buku

Next Post

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co