23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu, Canang dan Sekolah | Catatan Lomba Teater Rai Srimben di Singaraja

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
March 27, 2022
in Esai
Ibu, Canang dan Sekolah | Catatan  Lomba Teater Rai Srimben di Singaraja

tim teater SMP Negeri 1 Sukasada

Catatan Sutradara:

 “Tiang nak ten uning, Gus!”

“Pokoknya tiang serahkan sama Gus saja!”

“Tiang percaya sama, Gus!”

Kurang lebih itu perkataan yang paling saya ingat ketika pertama kali diminta menjadi pelatih untuk lomba Teater se-Buleleng Tingkat SMP. Perkataan tersebut menjadi sangat berbekas karena entah kenapa kepercayaan diri saya saat itu seketika naik, terlebih lagi pada kata terakhir tersebut. Dan memang, terselip sedikit soal bagaimana sifat seseorang yang mengucapkan kata tersebut.

Dalam pengalaman saya, agak jarang seseorang langsung mengucapkan kata tersebut tanpa sebuah ‘pembukaan’ terlebih dahulu. Rasanya, caranya berucap seperti bagian akhir naskah Rai Srimben ini saja dimana Srimben memberikan petuah bagi Soekarno sebelum dan sesudah memproklamasikan Indonesia.

Ini kali pertama saya menjadi pelatih untuk teater SMP. Sebelumnya memang kebanyakan SMA dan Mahasiswa. Tentu, ada beberapa hal yang menjadi pembeda, yang paling utama tentulah tingkat pemahaman pada sesuatu. Misalnya ketika saya bertanya apa itu kesedihan, kecenderungan anak SMA akan menjawab ‘chat saya tidak dibalas tapi dia online’ atau ‘Ngeliat si dia jalan sama sahabat sendiri’.

Intinya soal cinta atau gairah anak muda. Sedangkan anak SMP biasanya masih seputaran uang yang hilang di kelas, tidak kebagian nasi di kantin, kuota habis saat main game dan lain-lain. Setidaknya itu yang menjadi pikiran awal saya karena masa SMP saya begitu. Namun, ketika saya lontarkan pertanyaan apa itu kesedihan, jawabannya malah seperti anak SMA. Ini membuat saya sedikit tertawa dan terdiam. Setidaknya satu hal sudah pasti, saya akan lebih nyaman bicara. Kalau mahasiswa? Emmm ‘2 centang biru’

Naskah Kemuliaan Ibu Nyoman Rai Srimben karya Kadek Sonia Piscayanti, kurang lebih menceritakan tentang kisah hidup Nyoman Rai Srimben dari kecil sampai akhirnya Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Ada hal yang cukup menarik, ketika saya tanya pada siswa-siswa apakah mereka tau siapa Rai Srimben, jawabannya tidak tau. Saya cukup beruntung sudah lebih dulu tau, karena kalau tidak, entah apa yang akan saya sampaikan pada siswa-siswa. Barangkali ini salah satu upaya yang bagus untuk mengenalkan siapa Rai Srimben kepada siswa SMP dan mungkin khalayak umum. Tidak banyak yang tau jika Rai Srimben itu adalah ibunda dari Soekarno. Untuk hal ini, panitia penyelenggara patut diberi apresiasi.

Sejak awal saya memang memikirkan soal seberapa cocok  konsep teater yang biasa saya lakukan terhadap pemahaman konsep anak SMP. Tapi setelah melihat naskah lebih detail dan mengingat kembali pementasan terkait Rai Srimben yang pernah saya lakoni, saya menyadari naskah ini memang akan sangat mudah diterima. Jadi konsep secara umum saya anggap selesai. Tinggal menambahkan detail-detail, pemahaman keaktoran, vokal dan hal-hal dasar lainnya.

Kenapa Patung Bung Karno di Buleleng Menunjuk ke Timur? Jawabannya Bisa Puitis dan Bisa Logis

Di Tengah-tengah proses latihan, saat ada adegan membuat canang, salah seorang guru berkata

“Kalau jaman dulu, ngga gitu canangnya, Gus!”

“Gini bentuknya!”

Beliau mengucapkan hal tersebut sembari menunjukkan pada saya bagaimana bentuk canang yang dimaksud. Saat itu juga saya menyadari keterbatasan saya. Saya hidup bukan di masa Rai Srimben, sehingga pemahaman saya terhadap canang, banten, adat dan lain-lain tidak bisa dijadikan sumber utama.

Karena itulah, saya menyerahkan detail-detail artistik pada guru-guru yang lebih senior. Saya percaya pasti akan lebih baik dibanding saya merasa tau soal apa itu canang. Bahkan sampai ke hal sekecil soal bagaimana orang membawa penarek dan pajegan  pun mereka perhatikan. Saya tidak bisa lebih melebarkan senyum lagi. 

Banyak muncul detail-detail artistik lainnya yang saya yakin saya tidak akan kepikiran. Pabuan sebagai contoh. Dari yang diceritakan, pabuan biasanya digunakan sebagai penolak bala dan cukup diletakkan di depan tikar saja. Tentu detail artistik ini saya pakai. Keberuntungan lainnya adalah soal artistik-artistik yang memang perlu seorang anak Seni Rupa dan kebetulan di sekolah ini ada. Begitu pula dengan penyanyi, pemain gitar dan pelatih tari, semuanya ada. Maka sekarang tinggal konsep lebih detail.

Kembali pada naskah, saya merasa ada sekian detail-detail yang memang tidak tertulis di neben teks namun tertulis di dialog. Sebagai contoh, misalnya dalam dialog berkata “Di sini ribut”, logikanya tentu ada bunyi atau keributankan? Namun pada neben teks tidak tertulis apa-apa sama sekali. Karena itulah, saya harus cukup jeli pada detail-detail semacam ini dan saya dapatkan beberapa detail. Selain memperhatikan detail itu, saya juga kerap bertanya pada siswa-siswa apakah mereka paham apa yang mereka lakukan dalam beberapa adegan.

Saya tidak ingin membuat konsep yang bagi saya keren tapi tidak dipahami sama sekali oleh siswa-siswa. Adegan-adegan saya buat mudah dipahami, misalnya soal penanda bahwa waktu telah berlalu sekian tahun, bahwa mimpi bisa dibuat dengan cara yang saya tunjukkan. Begitu pula pada keaktoran, jangan terpaku pada nama dan umur tokoh karena tidak semua orang yang berumur sama bersifat dan berpostur sama.

Soal musik saya buat live musik karena saya memang ingin menjadikan pementasan ini pementasan yang memanfaatkan warga sekolahnya. Terlebih lagi dari panitia memang mengijinkan untuk musik live dan pemainnya yang penting dari kalangan sekolah (tidak harus siswa).

Soekarno Lahir dari Drama Cinta Jawa-Bali yang Romantis

Iya saya tau  musik yang paling umum dipakai untuk ini adalah musik gong. Tapi saya putuskan untuk memakai gitar yang mengikuti not gong. Soal ini, saya sempat diajari oleh senior saya perbedaan not Do Re Mi dengan not gong terletak pada satu not saja, jadi jika saya memainkan gitar dengan berusaha mengikuti not gong tersebut, berarti saya ‘memainkan’ gong bukan?

Demikianlah yang saya konsepkan pada pementasan ini. Soal siapa Ibu yang mengucapkan kata tersebut, apa detail-detail yang saya temukan, apa artistik yang perlu anak seni rupa untuk dibuat, bagaimana konsep dasar saya (mimpi, keaktoran dll) dan bagaimana gitar yang berusaha mengikuti not gong, baiknya disaksikan dan dilihat saja sendiri. Jika dilihat dari jadwal, saya dan warga SMP ini mendapatkan kesempatan pentas pada tanggal 28 Maret jam 20.20 malam. Maka saksikanlah jika ada pertanyaan dan rasa penasaran yang tertinggal di pembaca. Terima kasih, salam budaya.

Catatan Pemusik :

“Jangan Samakan Musik dalam Band dengan Musik dalam Teater”

Dalam dua bulan terakhir saya sebagai pemain gitar mendapatkan dua tawaran untuk mengiringi pementasan teater. Dalam pandangan saya sebagai seorang pemain gitar di sebuah band, saya kira mengiringi teater lebih mudah dari pada memainkan lagu dalam sebuah band. Dalam bayangan saya sendiri jika ingin membuat suasana sedih, ya saya carikan nada yang minor dan tempo yang lambat dan kalau ingin suasana bahagia, tinggal carikan not mayor.

Dan ternyata setelah memulai latihan bersama pemain dan sutradara, saya baru sadar tidak semua not atau nada bisa digunakan pada suasana tertentu di dalam suatu adegan. Musik dalam dalam band itu terpaku pada tempo,bar, dan variasi chord. Namun di dalam pementasan teater ternyata musik itu harus mengalah pada suasana dan emosional di suatu adegan. Disitu saya tersadar bahwa sebagai pengiring khususnya di pementasan teater, saya harus bisa menahan diri untuk mengikuti bagaimana arahan sutradara.

Pada tahun ini saya diberi  kesempatan untuk mengiringi teater SMP Negeri 1 Sukasada, yang merupakan sekolah saya dulu. Saya selalu bersedia untuk memberikan yang terbaik kepada sekolah saya ini, selama masih bisa melakukannya. Seni peran juga menjadi hal yang saya minati. Suatu kehormatan jika bisa berkontribusi dalam pementasan teater kali ini, bersama adik-adik siswa dan guru-guru juga.

Saya merasa tim teater SMP Negeri 1 Sukasada saat ini sangat solid dan terasa kebersamaannya. Berlatih dari nol sampai dengan saya sadar begitu cepat progres para siswa dalam memahami arahan sutradara sampai sekarang mereka sudah meresapi betul peran yang mereka lakonkan. Sebagai pemain musik saya berharap akan ada banyak kolaborasi antara teater dan musik, serta bisa saling berbagi pengalaman dan pengetahuan antar pelaku seni.

Catatan Pemimpin Produksi


“Menikmati Riuh Melelahkan”

Perintah adalah perintah, keputusan mengikuti lomba teater adalah mutlak milik kepala sekolah. Saya tahu anak-anak disini kurang mau tampil, malu di atas panggung, dan berani hanya saat ramai di belakang. Pesimis itu realistis, tapi memutuskan untuk optimis adalah sebuah ide untuk menjaga nama sekolah tetap eksis.

Siang hari keputusan pimpinan saya ambil, sore hari saya rancang support system untuk meringankan beban besar ini. Bingung harus mencari sang ahli lakon dan panggung teater, bukan ranah saya untuk mengarahkan anak-anak berakting memerankan peran. Tak lama kemudian, muncul nama disarankan seorang teman. Saya hubungi…

            “…saya siap pak.”

            “…ini crew yang saya butuhkan.”

            “...ini properti yang kita butuhkan.”

Riuhnya dimulai, lelahnya tentu menunggu. Januari dimulai dengan merekrut anak-anak yang mau bergabung. Di luar dugaan, 50 anak bersedia menjadi bagian teater. Umpama membuat candi dalam semalam, teater yang tak pernah ada disini terpaksa ada dengan anak-anak yang tentu buta akting dan bagaimana cara blocking. Januari latihan mengenal apa itu teater, apa itu dialog, membaca naskah, gesture, ekspresi, dan sejuta istilah teater lain yang menyusahkan.

Februari harus terhenti sementara, pandemi jadi bagian saya tetap bisa memimpin produksi ini. Menghentikan total bukan pilihan saya setelah berbincang dengan sutradara. Anak-anak baru saja mulai kenal teater, baru mulai masuk ke naskah, baru mulai memahami bagaimana peran masing-masing. Februari, latihan menjadi direnggangkan. Beberapa kali mulai berani memainkan gelaran gladi yang tak pernah bersih, masih kotor disana-sini. Produksi banyak tekanan karena kemampuan anak-anak memang tidak semuanya seperti smartphone dengan spesifikasi level dewa, masih ada buffering dan crash data.

Maret keputusan lomba kami dapatkan memaksa lari kami lebih kencang dan lebih bertenaga. Latihan semakin rutin dengan penekanan pada setiap babak lakonnya. Tim produksi mulai bekerja dengan semangat. Tim kostum mencari pakaian entah di pelosok pulau ini, tim properti saya paksa membuat artistik yang realistis dan fantastis, original dengan bahan seadanya. Tim lampu dan bagian elektrik lainnya digenjot untuk mendukung apa yang menjadi keinginan sutradara. Tim konsumsi dan kerohanian yang tak henti membuat nyaman perut dan rohani saya.

Lelah yang terakumulasi di akhir bulan ini akan segera cair.

Benar, kami siap tampil dengan gaya realistis kami.

Sutradara berbuat maksimal dan total.

Semua tim bekerja sama untuk pementasan yang mengesankan.

Lalu, apakah melelahkan?. Ya tentu, produksi ini riuh. Banyak riak kecil di sekitarnya. Pikiran dan fisik pasti lelah. Tapi, apakah tidak bisa dinikmati?. Ya tentu, produksi ini nikmat. Saya bisa menyadari banyak pembelajaran di dalamnya. Bersama anak-anak dan orang dewasa di sekitar, saya yakin saya orang yang masih belum ada apa-apanya.

Ya sudahlah, riuh ini melelahkan, dinikmati saja. [T]

Tags: bulelengBung KarnoLomba Teater BulelengLomba Teater Kisah Ibunda Bung KarnoTaman Bung Karno BulelengTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kadang di Belakang, di Depan Kadang-Kadang | Catatan Mahima March March March dari Layar Belakang

Next Post

Ikonografi Men Bajra yang Bertugas Mengundang Memedi

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Ikonografi Men Bajra yang Bertugas Mengundang Memedi

Ikonografi Men Bajra yang Bertugas Mengundang Memedi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co