7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agus Terburu-buru, Anies Khas Akademisi, Ahok Seperti Bukan Ahok

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
February 2, 2018
in Opini

Ist

MENARIK untuk menelisik debat kandidat calon gubernur DKI Jakarta 2017-2022 lebih dalam. Yang mereka katakan sesungguhnya menggambarkan isi kepala, rekam jejak, dan mungkin juga pembenaran tentang rentetan masa lalu negatif masing-masing.

Namun, apapun itu, faktanya mereka sedang berjualan retorika. Entah retorika yang kelak akan terlaksana, ataupun hanya bualan yang tidak berujung. Kembali ke pepatah kuno, waktu. Iya, hanya waktu yang bisa menjawab muara dari semua retorika pada malam debat itu.

Berjualan untuk mendapat simpati pemilih. Layaknya pedagang di toko elektronik, tidak jarang menawarkan barang yang sesungguhnya tidak mereka miliki. Dengan harapan pembeli akan memilih barang lain jika tujuan utama tidak ada. Yang penting pembeli datang dulu. Ini terjadi karena persaingan pasar yang kian ketat. Pun yang terjadi pada debat yang disiarkan TV nasional, 13 Januari 2017, malam itu. Mirip.

Saya mulai dengan Agus. Agus, meskipun pendatang baru di dunia yang katanya licik ini, memerlihatkan kualitasnya sebagai salah satu mantan prajurit terbaik TNI. Bagi saya, dia mampu menjelaskan program dengan cukup baik walaupun pada awalnya terkesan cukup grogi. Juga sedikit malu. Tertangkap kamera beberapa kali Agus memperbaiki bagian bawah baju hitamnya. Gestur malu.

Gayanya mirip ayahnya. Gerakan tangan. Hanya saja pada beberapa segmen, Agus terkesan terburu-buru. Wajar saja, mungkin karena ini debat pertamanya. Namun saya salut, gaya bicara sembari tersenyum, itu susah dimiliki orang. Selain itu, mungkin juga dia ingin memerlihatkan tiga gelar doktornya dengan beberapa kali menggunakan istilah dengan bahasa Inggris. Jumlah pastinya saya lupa, yang jelas ada beberapa.

Sekarang pasangannya Agus, Silvy. Awalnya saya berpikir dia di sana hanya menemani Agus duduk, karena cuma Agus yang menjawab pertanyaan Ira Koesno. Waktu berlanjut, segmen berganti, Silvy pun berdiri dan berbicara. Gaya bicaranya lamban, ciri khas orator wanita. Seperti Megawati dan Ibu pasangan calon gubernurnya. Tentu dalam hal ini jangan disamakan dengan Najwa Shihab. Nanti jadi tidak sebanding.

Menurut saya dia berbicara sambil berpikir, belum berbicara mengalir. Mungkin berusaha mengimbangi Agus yang berapi-api. Silvy mencoba tenang, namun berlebihan. Penggunaan waktunya menjadi tidak efisien sehingga banyak pertanyaan yang tidak menemukan jawaban. Bahkan Anies sempat menyerang dengan kalimat “Jawaban Ibu menarik, namun tidak nyambung.”

Ahok-Djarot. Di awal saya melihat seperti bukan Ahok yang berdebat. Seperti menahan diri. Ada yang coba dia tahan, mungkin luapan emosinya. Ya, selama ini dia terkenal emosional. Hal ini mudah kentara karena kebiasaan orang sulit diubah. Sebelum kasus Pulau Seribu tentunya. Namun, Ahok tetap Ahok. Dia santai. Berbicara teknis. Tentu, menyampaikan yang sudah dia kerjakan. Ini keunggulan petahana. Di saat calon lain masih berbicara, dia sudah bekerja. Sekaligus menjadi kelemahan utama. Menjadi ladang serang calon lain.

Di tengah perjalanan debat, Ahok mulai menjadi Ahok. Seperti mesin diesel yang mulai panas. Mulai menyerang. Menyerang kanan-kiri. Dia menerapkan prinsip pertahanan terbaik itu menyerang. Mungkin karena sebelumnya dia diserang dari kanan-kiri pula. Dalam hal ini saya melihat Ahok belajar. Belajar menjadi pribadi yang lebih menahan diri.

Djarot juga tenang. Pun berbicara teknis. Wajar saja, dia mantan walikota. Hanya saja Djarot memang begitu sejak dulu. Tidak terkesan menahan diri seperti Ahok. Djarot melakukan blunder pada segmen ke-2. Dia seharusnya memberikan tanggapan, mengkritisi, atau mengadu program, bukan bertanya.

Bagi saya, itu cukup membuang kesempatan. Menyebabkan keunggulan programnya tidak muncul. Di situ Djarot keliru. Ini seharusnya dapat menjadi bahan serangan balik bagi pasangan calon lain. Tetapi Djarot patut bersyukur, lawannya tidak membahas hal tersebut lebih dalam. Hanya Agus yang sedikit menyindir.

Sekarang Anies-Sandi. Anies tidak asing bagi saya. Gaya bicaranya khas, gesturnya tenang. Pemilihan dan permainan diksi yang handal. Melahirkan kata-kata yang enak di telinga. Contoh: kami tidak memerangi orang miskin, kami memerangi kemiskinan. Permainan diksinya bermakna.

Itu memang keunggulan Anies dari dua pasangan lain. Tata bahasa terstruktur, khas akademisi. Wajar, dia mantan rektor. Dari sudut pandang retorika, saya menempatkan Anies di urutan pertama. Sayangnya, hal itu juga menjadi ladang serang. Terutama oleh Ahok. Terlalu teoritis bagi Ahok. Ciri khas dosen di kampus, tambah Ahok

Sandi menjadi peserta debat yang paling aman kemarin malam menurut saya. Datar saja. Sebagai pendatang baru, seperti Agus, dia dapat dikatakan cukup sukses untuk debat kemarin malam. Jawabannya cukup mengena. Pembawaannya santai. Tidak ingin kalah saing, dia sempat menyerang Djarot saat membahas topik lapangan pekerjaan dan kewirausahaan. Tentu dia cukup percaya diri, karena dia berlatar belakang pelaku usaha. Sandi dapat mengimbangi Anies. Anies akademisi, Sandi praktisi.

Kalau diperhatikan, ketiga pasangan calon memiliki gestur dan kesibukan berbeda ketika mendengarkan pasangan calon lain berbicara. Agus-Silvy sibuk berdiskusi dan menulis beberapa catatan kecil. Entah untuk memersiapkan jawaban atau sanggahan. Mungkin juga menyiapkan beberapa hal yang harus disampaikan. Yang jelas, mereka berdiskusi serius sembari memainkan beberapa kertas kecil yang saya duga isinya kata kunci.

Ahok-Djarot lebih asik memainkan ponsel pintar di atas meja mereka. Mungkin untuk akses internet mencari data sebagai bahan bicara. Sembari tertawa kecil. Dugaan saya, mereka menertawai hal yang dibicarakan pasangan calon lain yang mereka sudah lakukan atau sudah mereka dapatkan sanggahannya. Mereka terlihat santai, beberapa kali Djarot berbisik ke Ahok. Mengesankan mereka cukup dekat.

Hal berbeda terjadi pada Anies-Sandi. Pasangan ini serius mendengarkan jawaban pasangan calon lain. Beberapa kali Sandi tertangkap kamera menggelengkan kepala, tanda ketidaksetujuan dengan jawaban calon lain. Anies memerhatikan dengan serius, sembari memainkan bibir. Ya, ini ciri khas Anies. Simpulannya, dalam hal ini bagi saya Ahok-Djarot paling santai mengikuti debat.

Bukan debat kalau tidak saling serang. Bahkan pada bagian ini, debat akan menarik bagi para pemirsanya. Hal ini pun terjadi pada malam debat itu. Seru. Serangannya halus, menyindir, tentunya tentang kekurangan masa lalu. Bagi saya manusiawi, karena manusia tidak bisa mengritik masa depan.

Bantuan langsung sementara yang disampaikan Agus menjadi bahan pertama. Ahok menyampaikan bahwa program itu kurang mendidik. Dia pun berargumen besaran Rp. 400.000 per bulan kalau mau diberikan besarannya terlalu kecil.

“Kami memberikan lebih dari itu, hanya saja non-tunai”, kata Ahok.

Agus menepis, bahwa program ini amanat konstitusi. Pemerintah membantu rakyat miskin dan sifatnya hanya sementara.

Beberapa saat setelahnya, Anies mengambil momentum menyerang karena mendapatkan kesempatan menjawab paling akhir. Bagi Anies, kalau Agus menyiapkan ikannya, Ahok menyiapkan kailnya, Anies akan menyiapkan kolamnya. Pemikiran yang lebih luas karena kail tidak akan berguna kalau tidak ada ikan, dan ikan tidak akan hidup tanpa kolam. Anies membuat kolamnya. Katanya.

Tentang penggusuran. Ahok konsisten melakukan relokasi bagi penduduk yang tinggal di pinggir sungai untuk normalisasi sungai. Begitu pula yang tinggal di kolong jembatan. “Akan disiapkan rumah susun dulu, baru kemudian direlokasi”, kata Ahok.

Jawaban itu juga digunakan sebagai pertahanan oleh Ahok dari serangan dua pasangan calon lain yang mengangapnya tidak manusiawi. Anies agak malu-malu. Tidak tegas menyampaikan pro penggusuran atau tidak. Dia hanya menyatakan akan ada dialog dan musyawarah dengan warga. Hal ini berbahaya, jawaban Anies dalam hal ini abu-abu.

Kalau Agus, jelas, kontra penggusuran. Bagi dia tidak manusiawi menggusur penduduk yang sudah beberapa garis keturunan tinggal di tempat itu. Jawaban ini langsung menjadi ladang serang empuk oleh Ahok. Dia bilang akan jauh lebih tidak manusiawi ketika membiarkan rakyat salah (tinggal di tempat yang tidak semestinya) hanya karena kebutuhan pilkada.

Ada lagi, Anies mengungkit kontrak politik Ahok lima tahun lalu yang baginya janji semu, bahkan palsu. Ya, walaupun saat itu bukan Ahok-Djarot tetapi Jokowi-Ahok. Ahok menyerang balik dengan memermasalahkan penolakan kurikulum anti-narkoba. Ketika itu, Anies sebagai mendikbud. Padahal dalam debat itu, Anies dengan tegas menyatakan perang melawan narkoba.

Agus dan Anies juga secara bersama menyerang Ahok tentang kalahnya Pemda DKI Jakarta oleh masyarakat Bukit Duri di PTUN yang mengindikasikan Pemda DKI Jakarta (di bawah Ahok) melanggar hukum dalam melakukan penggusuran/relokasi.

Di sisi lain, saya membaca sesuatu yang janggal pada sesi terakhir debat itu. Ketika Agus dan Anies dengan tegas menyatakan bahwa mereka akan bekerja tuntas selama 5 tahun di Jakarta apabila terpilih sebagai gubernur dan tidak akan maju pada pemilihan presiden-wakil presiden 2019, Ahok justru diam. Dia memilih memberikan Djarot menjawab.

Walau Djarot menggunakan kata ganti “kami” (dia dan Ahok) siap bekerja tuntas, saya menduga Ahok sengaja melakukannya. Ini tetap misterius. Padahal bagi saya, statemen itu penting untuk meyakinkan pemilih, namun kenapa Ahok memberikan kesempatan pada Djarot untuk menjawabnya. Kita tunggu saja di 2019. (T)

Tags: Agus Harimurti YudhoyonoAhokAnies BaswedanDKI JakartaPilkada
Share174TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi yang Gagal Membuat Pembacanya Bahagia – Ulasan Buku Puisi Andy Sri Wahyudi

Next Post

Bintang Hujan yang Mekar Seperti Bunga Lily

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post

Bintang Hujan yang Mekar Seperti Bunga Lily

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co