7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

AS Kurnia by AS Kurnia
October 9, 2021
in Cerpen
Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

Ilustrasi tatkala.co | AS Kurnia

Dia membangunkan Rai, adik laki-lakiku yang terjatuh. Hari-hari selanjutnya dia menjadi tetanggaku. Keluargaku tinggal di kost-kostan. Satu pekarangan dengan tempat kostnya. Aku memanggilnya “Mas”, meski dia lebih pantas jadi kakekku. Usiaku 3 tahun ketika pertama kali mengenalnya sedangkan Rai berumur 1,5 tahun. Rambut Mas sudah memutih, terikat memanjang menyentuh punggung. Tubuhnya sangat kurus. Tiap hari dia keluar bersepeda. Aku hanya mendengar dia pergi ke Ubud ketika dia berpamitan ke bapakku. Saat dia di rumah, aku sering melihatnya menggambar. Mas memberiku buku dan alat gambar seperti pensil warna dan oil pastel. Saat mulai sekolah, lebih sering aku mendapatkan fasilitas tersebut. Aku dan Rai juga sering mendapat jajan.

Mas lebih perhatian padaku daripada Rai. Barangkali karena Rai sangat nakal. Sering mengganggu ketika Mas sedang menggambar. Mas kerap memarahinya. Meski sangat nakal, aku sangat menyayanginya. Ia adikku satu-satunya. Mas juga pernah memarahiku karena aku mengintip ketika dia sedang mandi. Entah, mengapa aku ingin melihatnya di kala mandi. Mungkin karena kebiasaanku mandi bersama Rai dan Bapak. Sesungguhnya aku ingin tahu, apakah dia seperti aku dan Ibu atau seperti Bapak dan Rai. Rambut Mas panjang seperti milik Ibu.  Mas bercerita, sewaktu kecil, aku pernah minta “cemen capi dan cate”. Dia bingung.   Aku tak ingat rasa permen sapi dan sate tersebut. Mas cuma berjanji membelikan tapi hingga kini tak pernah ditepati.

“Sinta kangen sama Mamak?” tanya Mas suatu ketika sambil mengusap kepalaku. Aku biasa memanggil ibuku: Mamak. Sudah 2 tahun ia meninggalkanku. Ibu bekerja di Turki.

“Kangen,” jawabku. Aku ingin menangis tapi airmataku tak mau keluar. Mungkin karena ada perasaan marah pada ibuku.

“Mamak kerja mencari uang agar Sinta dan Rai bisa sekolah dan menjadi pintar,” kata Mas menghiburku. Aku sedih. Sangat kangen sama Mamak. Sejak Mamak pergi, Bapak jadi kerepotan mengasuhku dan Rai. Apalagi kalau ada yang minta dibuatkan sate. Bapakku menerima pesanan jika ada yang membutuhkan sate. Sebelumnya, Ibu berdagang pakaian di pasar. Ketika dagangan tidak laku, Ibu membantu Bapak. Situasi semakin sulit saat pemesan sate semakin berkurang. Akhirnya Ibu berangkat ke Turki, bekerja sebagai terapis di Spa Center. Di usiaku yang baru 3,5 tahun, aku membiasakan mandi sendiri. Mencuci gelas atau piring  sehabis makan. Juga membantu menyapu lantai dengan tangkai sapu setinggi badanku. Meski awalnya jijik, cebok juga kulakukan sendiri. Hanya Rai yang masih perlu dibantu melakukan beberapa hal bahkan aku juga membantu menyuapinya. Dia masih terlalu kecil. Kenakalannya bisa jadi disebabkan oleh kepergian Ibu.

“Sinta!” Mas merentangkan kedua tangannya, memintaku menyambutnya. Aku menghampiri dan memeluknya erat. Kurasakan tulang-tulang tubuhnya menekanku. Dia amat kurus. Beda dengan tubuh ibuku yang mokoh, gemuk. Aku ingin menangis tapi kutahan. Airmataku mulai meleleh, dadaku tersengal. Mas mengusap punggungku, menyuruhku menangis.

 “Menangislah! Sinta kangen Mamak, kan?”

Aku terisak. Kutumpahkan tangisku. Airmata dan ingusku membasahi punggungnya. Sudah lama aku tak merasakan pelukan. Bapakku tak pernah lagi memelukku. Barangkali aku dianggap sudah besar atau karena dia terlalu sibuk. Dia lebih sering membelai ayam-ayam jagonya. Meskipun begitu, Bapak tak pernah telat memasak makanan untukku dan Rai. Di waktu subuh dia sudah ke pasar, belanja untuk kebutuhan makan kami. Aku dan Rai sangat kangen Mamak.

~~~

Rai memang bengal. Tubuhnya dirajahi tato, hampir memenuhi setengah badannya. Tiap hari mulutnya bau alkohol. Sering teman-temannya main ke rumah. Berjudi ceki sambil menenggak arak oplosan. Kalau sudah mabuk berat, mereka tidur di sembarang tempat. Di bale, di lantai, teras, di halaman, bahkan tengkurap di atas motornya. Bangunnya siang pula. Suatu saat dia pernah berurusan dengan polisi terkait kasus penjambretan turis. Adikku juga tergabung di sebuah “ormas” yang disegani. Sejak masuk ke “geng’ tersebut, tingkahnya semakin ugal-ugalan dan sok jagoan.

Aku tinggal di rumah dengan Rai. Rumah ini dikontrak Mamak. Turki lebih memilih kost di tempat lain. Dia tak betah di rumah. Hubungannya dengan Rai tak harmonis. Turki sangat rupawan. Sosoknya tinggi, hidungnya mancung. Tidak seperti hidungku yang pesek. Kuduga itu yang menyebabkan Rai tak menyukainya. Wajah Rai jelek, hidungnya pesek, jidatnya menonjol. Mas menjulukinya “si Panjul”. Itu juga yang menyebabkan Mas sebal padanya. Sudah jelek, bengal pula. Tidak sepertiku. Meski aku pesek dan tidak cantik, tetapi aku lucu dan menggemaskan, begitu menurut pengakuan Mas kepadaku.

Alasan lain kebencian Rai pada Turki, dia dianggap pembawa bencana di keluarga kami. Kepulangan Mamak dari Turki belasan tahun silam hanya sesaat menebar kebahagiaan. Mamak tidak hanya membawa uang banyak tapi juga membawa janin di perutnya yang membesar. Di Turki, janin pernah dicoba digugurkan. Rupanya Tuhan berkehendak lain, tak ingin ibuku terjerumus di kubangan dosa yang lebih dalam. Janin itu selamat. Ibuku memberinya nama: Nyoman Turki, anak ketiga yang lahir dari rahimnya. Orangtuaku akhirnya  bercerai. Bapak tinggal di Karangasem dengan istri barunya dan anak hasil perkawinan mereka. Jika kangen padanya, aku menyambanginya. Ibuku lebih sering kerja di luar negeri.

Suatu ketika aku bertemu kembali dengan Mas. Kami memang sudah tidak bertetangga lagi. Mas masih setia dengan sepeda bututnya yang diberi nama “si Putih” walau warna catnya bisa dibilang tidak putih lagi. Mas memang tergolong pemalas dalam urusan merawat sepeda dan membersihkan kamar. Ketika kami masih bertetangga, seingatku tak lebih dari tiga kali dia membersihkan sepeda dan kamarnya. Aku tak ingat, apakah dia pernah menjemur kasur dan bantal. Tiap hari aku ke studio Mas. Belajar melukis dan membantu membersihkan studio dan memasak. Terkadang lukisanku dijualkan olehnya. Entah dijual kepada siapa. Lumayan menambah bekal untuk memenuhi kebutuhanku.

Mas bukan pelukis terkenal atau pelukis yang karyanya jadi buruan para kolektor. Kondisi ekonominya tak stabil. Kalau tabungan menipis, kami hanya makan dengan lauk mie instant dan krupuk. Jika dia kehabisan uang, aku belanja menggunakan uangku untuk keperluan kami. Setelah dapat uang, Mas menggantinya. Tugasku juga membantu mendasari, memberi warna awal pada lukisannya. Istilah kerennya “artisan”. Tak ada yang bisa kubanggakan dari pekerjaan ini. Lain cerita jika sebagai artisan pelukis top. Meski kesejahteraan materi pas-pasan, aku bahagia kerja bersama Mas. Menjadi bagian dari proses berkeseniannya.

~~~

Terasa ada yang menindih tubuhku. Aku terjaga. Gus Arya dalam keadaan mabuk berat berada di atas tubuhku. Dia amat kuat menguasaiku. Aku ketakutan, tak mampu melawan. Dia anak orang kaya dan keluarganya sangat disegani di desanya. Dia juga anggota ormas sementara aku cuma anak rantau. Pertahananku runtuh. Malam itu hidupku serasa berakhir. Tidak! Bukan hanya malam itu. Malam yang lain, yang kemudian hari. Adikku sendiri menggagahiku. Rai berubah seperti setan. Rona mukanya merah padam. Entah apa yang dia minum malam itu. Perbuatan Rai sungguh dalam melukai hatiku. Adik yang kusayangi telah tega menistaku. Ingatanku pada Mas yang membuatku tegar.

Setelah kejadian-kejadian itu, aku bersikap biasa di hadapan Mas. Seolah tak terjadi sesuatu. Memang peristiwa itu bukan pengalaman pertama atau kedua persetubuhanku. Hubungan intim pertamaku kulakukan bersama Mas. Saat itu dia memintaku menjadi model setengah telanjang. Hanya bagian dada yang terbuka. Entah intuisi apa yang menggerakkannya saat menghampiriku dan yang kuingat aku pun hanya pasrah, seperti ketika dulu aku menghampiri saat dia merentangkan tangan. Hari-hari selanjutnya aku tinggal di studio Mas. Mengetahui aku tinggal di tempat Mas, Gus Arya sering berusaha menemuiku. Aku selalu menghindar tapi dia tetap bersikukuh mendatangiku. Suatu ketika Mas berkata padaku: “Aku tak melarangmu pacaran. Kau sudah dewasa. Sudah sewajarnya punya pasangan yang sama-sama muda.”

~~~

Gus Arya berkelit ketika kusampaikan bahwa sudah 2 bulan aku tak menstruasi. Dia malah menyuruhku untuk menguret janinku. Dia mengelak mengakui bahwa janinku adalah bakal anaknya. Dia menuding bakal anak yang kukandung adalah hasil persetubuhanku dengan Mas. Demi Tuhan, hanya sekali Mas menyetubuhiku. Selang kemudian hari, aku mendapat kabar bahwa Gus Arya ternyata sudah punya istri. Selingkuhannya bukan aku saja. Dia menggaet perempuan Jepang yang tengah membangun villa di pinggiran Ubud. Hubungan kami berakhir. Angan-angan masa depan yang sempat terajut di benakku pupus sudah. Anakku bakal lahir seperti Turki, anak haram Mamak. Lahir tanpa ayah.

“Anakmu mirip kamu. Aku jadi ingat pada waktu kau kecil. Hidungnya juga pesek. Mau cemen capi, nggak?” seloroh Mas terkekeh menimang putriku. Dia sangat menyayanginya. Kami bertiga hidup bahagia hingga Putu Melati berusia 4 tahun. Kebahagiaan itu tercabik pada suatu malam. Rai datang mencoba memeras Mas. Karena kemauannya ditolak, Rai menghunjamkan senjata tajam ke tubuh yang renta itu. Mas tumbang bersimbah darah dengan banyak luka belati. Jenazahnya dimakamkan di kampungnya di Jawa Tengah. Rai mendekam di penjara, menjalani hukuman 15 tahun. Peninggalan dari Mas yang kumiliki hanya 9 buah lukisan diriku sebagai model dengan berbagai pose. Cuma mimpi jika berharap lukisan-lukisan itu menjadi mahal setelah sang pelukis meninggal. Sudah lama ibuku tak berkirim kabar. Turki menyusul Ibu setahun lalu. Mamak pindah kerja ke Suriah. Perang berkecamuk hebat di sana. Kabar kematian senantiasa membayangiku.

“Sinta… Kerjaaa!” teriak Mami membuyarkan lamunanku. Pelangganku datang. Laki-laki renta berusia 80 tahunan. Rambut putihnya terikat memanjang menyentuh punggung. Di kamar, kami tidak bersetubuh. Dia hanya membuat sketsa-sketsa tubuh telanjangku. Dia pelukis. Aku tak peduli, terkenal atau tidak.

Bedulu, 11-1-2020

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tatapan Orang Kampung untuk yang Asing

Next Post

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

AS Kurnia

AS Kurnia

Pelukis dan Penulis. Lahir di Semarang, 1960 dan sejak tahun 1990 bermukim di Bali. Beberapa kali pameran tunggal dan banyak terlibat dalam pameran bersama. Pernah meraih Penghargaan Pertama "Kompetisi Pelukis Muda Indonesia" tahun 1989 yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Alliance Francaise. Menulis di Koran Jayakarta, Dharma, Kartika Minggu, Suara Merdeka, Jawa Pos, dan Tribun Bali.

Related Posts

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co