24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
October 3, 2021
in Khas
Bubur Ayam Pak Karya, Legenda Kuliner dari Kota Singaraja

Pak Karya dan bubur ayamnya

Bubur ayam Pak Karya, mungkin saja sudah tidak asing terdengar di telinga para penikmat kuliner bubur ayam di Kota Singaraja. Bubur Ayam hasil racikan Pak Karya ini tidak hanya enak, tapi juga bisa menghipnotis pikiran para orang tua masa kini untuk mengenang kembali masa muda mereka di tahun 1970-an, misalnya mengenang kembali nostalgia menikmati jalanan malam di Kota Singaraja ketika dunia berlum dipenuhi internet.

Kamis, 1 Oktober 2021, sepulang dari kantor, sekira pukul 5 sore, saya melintas di Jalan Ahmad Yani Singaraja. Tiba-tiba di pikiran terlintas keinginan untuk menikmati bubur ayam Pak Karya, lalu kendaraan saya arahkan ke Jalan Parkit, di Kawasan Dewi Sartika Utara. Di sudut Jalan Parkit itulah Pak Karya berjualan.   

Keinginan untuk menikmati bubur ayam Pak Karya sudah terbersit sejak beberapa hari lalu, dan hari itu baru kesampaian. Maklum saja, beberapa kali saya selalu gagal menikmati nikmatnya bubur ayam ini, gara-gara Pak Karya sempat tutup beberapa waktu lalu karena harus mengikuti upacara adat di kampungnya.

Dari kejauhan saya melihat beberapa sepeda motor terparkir, mereka antre dengan rapi hanya untuk bisa mencicipi bubur ayam legenda ini. Pak Karya saat itu ditemani oleh anak nomor enamnya, yang bernama Kadek Alit, pria yang berusia 29 tahun.

Terlihat Kadek Alit sangat telaten melayani para pengunjung yang dating. Pria ini sebelumnya pernah bekerja di beberapa distro di Bali Utara, tapi kemudian memutuskan untuk ikut membantu bapaknya, karena kedepannya dia ingin melanjutkan usaha keluarga yang sudah dirintis sejak era tahun 70-an itu.

Pak Karya nampaknya saat itu sedang sibuk melayani beberapa pelanggan, salah satunya adalah Wayan Pasek, warga Desa Gitgit, yang rela menempuh jarak berkilo-kilo hanya untuk menikmati bubur ayam di warung milik Pak Karya.

 “Saya dari Gitgit, turun hanya untuk bisa menikmati bubur ayam ini. Dari sekian warung bubur ayam, hanya di sini yang pas dengan selera saya,” kata Wayan Pasek.

Setelah melayani beberapa pembeli sebelumnya, giliran saya dihampiri Pak Karya.  Saya  sudah duduk menunggu di kursi panjangnya beberapa menit sebelumnya.

“Bapak, buburnya makan di sini atau dibungkus?” Tanya Pak Karya.

 “Makan di sini, Pak,” sahut saya.

Kadek Alit, anak Pak Karya, menyela, “Minumnnya apa, Bli?”

“Nggih, tiang sudah bawa air,” jawab saya sambil menunjukkan satu botol air mineral, bekal saya selama di kantor.

Pak Karya kemudian menyiapkan bubur untuk saya. Diambilnya beberapa sendok bubur dari dalam panci besar yang ada di rombong putihnya. Kepulan asap hangat membumbung dari dalam panci.

 “Diisi kacang kedelai, Pak,” tanyanya sambil tangannya memegang mangkon berisi bubur.

 “Silahkan, Pak, pokoknya yang terbaik!” jawab saya.

Pak Karya menyiapkan bubur untuk pelanggan

Pak Karya nampak meracik bubur itu dengan cekatan, di atas semangkuk bubur itu, ditaburkannya kacang kedelai goreng, dilanjutkan dengan taburan bawang goreng ditambah lagi dengan potongan daun seledri serta diakhiri oleh taburan daging ayam yang sudah di-sitsit atau disuir.

Setelah selesai meracik, Pak Karya menghampiri saya. Hidung saya langsung mencium aroma bubur ayam yang sangat menggugah selera.

Pak Karya lantas mempersilahkan saya untuk menikmatinya, tak lupa dia memberikan saya sambal dan kecap dengan merk legendaris di Bali, Cap Meliwis. Orang menyebutkan kecap meliwis.

Saya bertanya, “Kenapa memakai kecap meliwis, Pak?”

Pak Karya menjawab, “Pernah saya coba ganti ke kecap yang lain, karena saat itu habis, ada pelanggan yang mengeluh, cita rasa buburnya berubah, makanya saya ganti lagi ke kecap meliwis. Sudah dari awal buka warung saya menggunakan kecap ini, rasa bubur ini sudah menyatu dengan rasa kecapnya!”

Cerita Lengkap Pak Karya

Saya menikmati sendok demi sendok bubur hangat itu, perlahan saya rasakan, rasa bubur ini memang khas, rasanya yang lembut, dan juga teksturnya medium, tidak terlalu encer, tidak terlalu kental. Ini membuat saya sangat menikmatinya. Terlebih menikmati bubur ini dengan bakso goreng, menjadikannya lebih mantap, belum lagi rasa sambalnya, nendang dan maknyos, keringat saya mengucur dibuatnya.

Suasana nampak sudah sedikit lengang, Pak Karya duduk di sebelah rombongnya, sambil menikmati suara radio kecil yang dia gantung di sisi warungnya. Memang sejak dulu, dia selalu berjualan dengan ditemani radio transistor.

Suasana lengang ini kesempatan yang baik untuk bisa mengulik lebih dalam lagi cerita menarik di balik perjalanan pria berusia 70 tahun ini.

Bubur Pak Karya yang khas

Sebelumnya saya memperkenalkan diri kepada Pak Karya, dan menyampaikan niatan untuk mencatatkan kisah perjalanan Pak Karya dalam membangun usahanya. Pak Karya sangat senang. Bahkan dia berujar bahwa saya satu-satunya orang yang mendapatan cerita lengkap dari kisah perjalannya. Walaupun dulu pernah usahanya diliput oleh stasiun TV swasta ternama di Bali, namun kisahnya saat itu tidak lengkap.

Tentu kesediaan Pak Karya ini adalah kehormatan bagi saya, sebagai seorang penulis amatir.

Awalnya Tukang masak di Toko Reflek

Pak Karya merupakan pria kelahiran Tirta Gangga, Karangasem. Awalnya tidak pernah terbesit niat untuk jualan bubur ayam, namun jalan hidup seakan mengarahkan dia untuk jadi penjual bubur.

Suatu hari dia mendapatkan kesempatan untuk bekerja menjadi tukang masak di Toko Reflek, sebuah toko perlengkapan kamera dan segala produk turunannya, yang sangat nge-hits di era 60 sampai 70-an di Singaraja. Karena tugasnya selalu di dapur, Pak Karya mendapatkan kesempatan untuk mengetahui beraneka resep yang diberikan oleh sang pemilik toko, yang kebetulan juga berasal dari keluarga keturunan Tionghoa.

Kerja sebagai tukang masak sangat dia syukuri karena selain mendapatkan pengetahun memasak, dia juga bisa mendapatkan nilai etos kerja dari orang keturunan Tionghoa yang terkenal sangat ulet dan tekun dalam menjalankan usaha.

Dengan keterampilan dan pengalamannya, akhhirnya di awal tahun 1970-an, Pak Karya memberanikan  diri untuk membuka usaha Warung Bubur Ayam. Dia menceritakan, dalam perjalannya dari tahun 70-an sampai sekarang, sudah beberapa kali pindah-pindah tempat.

Pernah jualan Jalan Diponogoro, sempat juga depan Pasar Mumbul, lalu di depan Hotel Sentral, kemudian depan Radio RKPD, hingga terakhir di Jalan Parkit. Sudah tak terhitung, berapa kali dia mengganti rombongnya.

Tempat jualan Pak Karya di Jalan Parkit, Singaraja

Saya berusaha terus mendorong Pak Karya untuk merajut kembali memori-memori indah masa lalunya, dan dia terus bercerita dengan sangat antusias.

Cerita pun berlanjut. Pada era 1970-an, banyak anak muda dari berbagai penjuru kota menjadikan warung Pak Karya sebagai tempat nongkrong, tidak hanya pemuda dari sekitaran kota, namun juga pemuda yang berasal dari desa, salah satunya Desa Banyuatis.

“Bahkan karena saking cintanya dengan rasa bubur Pak Karya, anak-anak muda itu rela harus mencuci sendiri mangkoknya untuk bisa dilayani oleh Pak Karya,” kata Pak Karya.. Wajah Pak Karya sangat berbinar mengingat kisah itu, dengan senyumnya yang sangat khas.

Sehari Pak Karya memproduksi dan menghabiskan sekitar 40 mangkok bubur atau satu panci besar. Pada saat sedang laris-larisnya, tidak sedikit pelanggan yang harus gigit jari karena terlambat dating dan tak mendapatkan bubur. Namun dia tetap konsisten, tidak pernah membuat bubur lebih dari satu panci.

“Rejeki sudah ada yang atur, kualitas lebih penting dari kuantitas,” katanya.

Setiap hari dia buka dari jam setengah lima sore sampai habis, maksimal buka sampai jam 10 malam. Harga satu mangkuk bubur ayam Pak Karya dibandrol dengan harga Rp.10.000. Harga yang benar-benar terjangkau.

Menjelang petang, satu persatu pelanggan kembali berdatangan. Saya memesan kembali bubur untuk saya berikan kepada keluarga yang sedang menunggu di rumah. Jam sudah menunjukan pukul 18.30 Wita, saya akhirnya pamit pulang kepada Pak Karya. Pak Karya, lantas meminta saya untuk berkunjung lagi, dan sejak saat itu saya langsung menawarkan diri sebagai pelanggan setianya, Pak Karya’pun tersenyum.[T]

Tags: buburkulinerSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satu Keluarga Telah Lengkap | Cerpen Bulan Nurguna

Next Post

Olah Kulit Kopi Demi Industri Kopi yang Zero Waste

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Olah Kulit Kopi Demi Industri Kopi yang Zero Waste

Olah Kulit Kopi Demi Industri Kopi yang Zero Waste

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co