23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Liang-Liang | Cerpen Ayu Sugiharti Pratiwi

Ayu Ugie Pratiwi by Ayu Ugie Pratiwi
August 21, 2021
in Cerpen
Liang-Liang | Cerpen Ayu Sugiharti Pratiwi

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Bli, tyang rela kalau Bli harus mencari istri baru demi mencari sentana, penerus keluarga ini. Tapi diolas, Bli, ceraikan tyang. Tyang tidak sanggup dimadu, Bli”

Sore itu Gede Adi tengah ngopi di pondok sambil terngiang kata-kata Ni Luh Sekar. Sepanjang malam, setiap hari. Pedih hati Gede mendengar curahan hati istrinya. Tak sanggup ia menjawab kala itu. Matanya sudah lebih dulu membentuk kolam kecil yang siap mengalir apabila diberi celah sedikit saja.

Teringat ketika pertama kali ia jatuh cinta pada Ni Luh Sekar. Istrinya itu adalah anak seorang polisi. Bapaknya sering dipindahtugaskan ke daerah-daerah pelosok seperti Papua dan Sumbawa. Iluh dulu bersekolah dasar yang sama dengan Gede Adi. Mereka berada di desa yang sama tapi lain banjar. Namun ketika kelas 4 SD ibu Ni Luh meninggal dunia karena sakit menahun, yang Ni Luh sendiri tidak paham apa sakitnya.

Beberapa bulan kemudian bapaknya berangkat ke Papua, diajaknya Ni Luh bersamanya. Ni Luh adalah anak satu-satunya. Tanpa ibu dan keluarga lainnya, Ni Luh dan ayahnya tinggal di Papua hingga ia kelas 3 SMP. Lalu Ni Luh melanjutkan SMA di Sumbawa. Ia terpaksa tumbuh besar tanpa adat Bali, ayahnya terlalu sibuk dengan urusan negara hingga lupa memupuk jati diri Ni Luh dengan adat dan budaya Bali. Hanya Puja Tri Sandya yang ia pelajari ketika kelas satu sekolah dasar dan bahasa Bali menjadi pengingat bahwa ia adalah orang Bali, orang Hindu.

Namun ketika akan menginjak kelas tiga SMA, kakek Ni Luh meninggal dunia. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, bapaknya harus kembali ke Bali. Tanah kelahirannya memanggil.

Tujuh tahun sudah Ni Luh dan bapaknya tak pernah pulang. Entah dendam apa pada Bali, hingga bapaknya selalu enggan untuk pulang.

***

Akhirnya Ni Luh pulang. Menghirup aroma Bali. Mengingat kampung halamannya. Ia menikah dengan Gede, lelaki di kampung yang ia cintai.

Dan yang paling membahagiakan adalah kakeknya memiliki pondok, dimana ia bisa berkebun dan menanam banyak tanaman yang ia inginkan. Ia ingin mengabdikan seluruh hidupnya pada rerumputan dan harum tanah setelah hujan. Di Sumbawa Ni Luh banyak bercocok tanam bersama sebuah yayasan pecinta tanaman di sana. Ia kerap menjadi sukarelawan membantu warga berkebun di lahan kering.

Namun saat ini Ni Luh Sekar terpaksa harus menanggalkan ambisinya untuk mengelola kebun yang indah dari tangannya sendiri. Dokter Heryawan, dokter kandungannya berkata bahwa Ni Luh tidak boleh terlalu lelah dan stres karena kondisi badannya yang mudah lelah dan rahimnya yang lemah.

Ni Luh sempat protes dan berkata pada suaminya.

“Justru dengan berkebunlah aku tidak stres. Hanya dengan menyentuh tanah pikiranku menjadi jernih. Bli tahu kan tentang itu?”

“Lalu bagaimana dengan lelahnya? Kau akan pingsan jika di bawah matahari terlalu lama.”

“Aku akan mengenakan topi, Bli”

“Ni Luh sayangku, akuilah jika setiap pulang dari pondok kau akan kelelahan. Belum lagi mengurus rumah kita dan memasak. Kau selalu enggan bercinta!”

“Baiklah, tapi jika tyang tidak ke pondok. Apa yang bisa dikerjakan di rumah selain mencuci dan memasak?”

“Cukup kerjakan pekerjaan rumah yang sederhana saja, biarkan Meme membantu yang lainnya”

“Dan membiarkan orang-orang bergunjing tentang tyang yang malas dan tidak berguna?”

“Ni Luh, apa yang kau katakan? Semua orang tahu kau bukan pemalas dan berhentilah berkata dirimu tidak berguna!”

“Aku memang tidak berguna, Bli, tak pernah ada yang mengandalkanku di rumah ini. Aku hanya dianggap milu-milu bawang di sini. Aku adalah orang paling tidak tahu apa-apa di sini!”

“Siapa berkata begitu?”

“Siapapun bisa melihat semua itu, Bli. Mereka selalu mengacuhkanku hanya karena tyang tidak bisa mejejahitan dan tidak mengerti tentang adat di sini!”

Gede ingin menepis ucapan Ni Luh tapi ia sadar bahwa itu benar. Ia mengerti betapa pedihnya kehidupan Ni Luh semenjak mereka menikah. Apalagi ketika sudah dua tahun berlalu dan buah hati yang diharapkan tidak segera mengunjungi rahimnya. Sudah berapa balian ia kunjungi, entah berapa kali ia dan Ni Luh melukat, akupuntur, pijit perut, semi bayi tabung, ah apalah itu yang orang katakan supaya memiliki anak ia lakukan bahkan diminta minum darah lindung pun ia lakoni asalkan buah hati itu segera ada di dekapannya. Namun apa daya, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha tapi keputusan tetap di tangan Tuhan.

Ni Luh memalingkan wajahnya, ia menangis dalam diam. Ni Luh memang begitu. Menangis diam-diam adalah keahliannya. Tak pernah Gede memergokinya menangis meraung-raung layaknya wanita lain. Ia lebih senang bersembunyi bersama kesedihannya. Gede menenangkan hati kecilnya dan juga air matanya yang siap merebak kapan saja. Ia mendekap istrinya dari belakang. Ia tak sanggup berkata-kata tapi pelukannya dan gemuruh di dadanya telah berkata banyak betapa ia tak kalah kalutnya seperti Ni Luh.

***

Malam selalu menyimpan rahasia. Ia akan memeluk mimpi-mimpimu dan membiarkan langit membingkai indah di dindingnya bersama bintang-bintang. Berbeda dengan pagi yang ajaib ini. Ni Luh terbangun dengan hati yang lapang dan membiarkan ciumannya mendarat manis di dagu Gede yang berjambang. Ia mulai memasak sarapan dengan sedikit bersenandung. Aroma magis serbuk kopi utara yang diseduh air panas menggoda hidung Gede untuk beranjak ke dapur. Di meja dapur yang hanya bisa memuat dua orang itu sudah tersaji ayam ungkep dan telur orak-arik toge kesukaan Gede, tak lupa secangkir kopi yang Gede duga akan semanis senyuman Ni Luh pagi ini.

Gede tidak bertanya banyak tentang perasaan Ni Luh pagi ini setelah kemarin malam. Ia ingin membiarkannya menjadi semacam misteri. Ia merasa berhak mendapatkan pelangi setelah diamuk badai semalam.

“Bli De. Minggu lalu tyang bertemu Men Della. Ia mengajak tyang untuk ikut pijit saraf di dekat rumahnya. Mungkin bisa membantu menaikkan imun sistem tyange, Bli!” Mata Ni Luh berbinar.

Gede kerap terpesona tiap cara Ni Luh menyampaikan sesuatu. Raut apapun yang Ni Luh gunakan akan membuat Gede jatuh cinta berkali-kali.

“Jika Iluh menginginkan begitu, Bli akan manut saja. Asalkan Iluh sesemangat dan sebahagia ini!”

“Tyang yakin Liang akan datang, Bli, Ratu Betare akan mesurya. Tyang akan menanti tapi tidak dengan berdiam diri. Tyang akan berusaha semasih bisa. Semalam tyang berpikir, bagaimana cara Tuhan membantu hambanya yang tidak berusaha!”

Ceramah Ni Luh membuat Gede ingin menitikkan air matanya haru. Ia lantas memeluk istri terkasihnya itu.

“Astungkara Luh, astungkara!”

“Tuhan akan mengabulkan permintaan kita kan nggih, Bli?”

“Iya Luh, tidak cepat, tidak lambat tapi tepat waktu Luh!”

“Bli. tyang juga tidak akan ke pondok lagi. Tyang akan berkebun di rumah saja. Sebelum lelah, tyang akan berhenti dan beristirahat!”

“Bli akan membantu Iluh tiap hari Sabtu dan Minggu. Ayo kita membuat kebun mungil yang cantik di sini, Luh!”

“Ayo, Bli”

Lesung pipit Ni Luh yang menempel manis di pipinya membuat Gede ingin menangis di dalam hatinya.

“Maafkan Bli, Luh”

Gede merasa Ni Luh paling bahagia dan paling cantik ketika ia bergelut dengan tanah dan tanaman. Wajahnya selalu cerah dan berbinar ketika bibit yang ia tanam mulai menampakkan tunas. Ia akan langsung berseru, “Bli lihat, kangkungku mulai tumbuh”. Atau “Bli, lihat! Timunku sudah berbuah!” Bahkan terkadang, “Bli, lihat! Bayamku dimakan ulat”

Hal-hal kecil semacam itu saja sudah bisa membahagiakan Iluh. Ni Luh orang yang mudah bersyukur dalam hidupnya. Namun sejak menjalani perjalanan suci untuk mendapatkan buah hati, jiwanya mudah kacau dan sensitif. Gede sangat menyesal Iluh harus melalui semua ini.

***

Ni Luh, jika anak adalah satu-satunya sumber kebahagiaan dalam sebuah pernikahan, lalu perasaan apa yang kurasakan ini ketika kulihat kau di pelukan di saat malam yang dingin? Kemudian kau sebut apa rasa ketika sore yang melelahkan ini, kau usap keringatku dengan senyum manismu? Perasaan apa ini ketika ku begitu ingin segera pulang dan mencumbumu hanya agar kau tahu betapa besar cintaku padamu.

Jujur saja, tanpa memiliki anak kandung pun rasanya aku sudah sangat bahagia, Luh. Asalkan hidup bersamamu, Luh. Mungkin ini kesannya berlebihan, tapi bahkan ke neraka sekalipun tak mengapa, jika itu berarti bersamamu. Aku ikut.

Terkadang ingin aku mengajak Ni Luh untuk mengadopsi anak di panti asuhan, jika memiliki anak hanya untuk meneruskan silsilah keluarga ini. Tapi kuurungkan niatku untuk menyampaikannya kepadamu, Luh. Karena aku tahu persis bagaimana dirimu sangat mendambakan buah hati yang wajahnya seperti dirimu dengan perangai semacam diriku, begitu juga sebaliknya.

Jika memiliki seorang anak adalah sebuah anugerah, namun kenapa ketika kita tidak memilikinya masyarakat seakan mengubahnya menjadi kutukan? Ini sungguh tidak adil bukan. Karena bukan kita yang menentukan tentang punya atau tidak punya. Jika ingin menghina dan menghujat kenapa tidak pada Tuhan saja? Bukankah semua ini terjadi atas campur tangan Nya?

***

Ni Luh Sekar menggelung rapi rambut pekatnya. Ia memulas tipis pemerah bibir dan seharusnya siap berangkat metulung ke rumah Pan Darna yang istrinya meninggal tiga hari yang lalu. Tapi ia malah menghela nafas enggan beranjak dari hadapan cermin. Lama ia memandang bayangnya di cermin. Matanya menyiratkan betapa ia merasa lelah berada di masyarakat yang tidak pernah berhenti berbicara seenaknya. Terkadang ia letih harus berdusta di depan suaminya bahwa ia baik-baik saja ketika mereka berkata yang tidak-tidak. Terkadang ia ingin melarikan diri dari semua ini. Rasanya semua ini takkan kunjung selesai.

Andai saja cintanya pada Gede tidak sebesar ini, mungkin sudah lama ia ingin bercerai. Sejak menikah, ia tak pernah berani menggoda teman-temannya untuk segera menikah. Pernikahan itu berat. Apalagi kalau bersama pasangan yang salah. Sebaiknya tidak usah menikah. Membujang seumur hidup lebih baik daripada harus menderita di pelaminan.

“Kenapa Luh? Kenapa belum berangkat?”

“Tidak apa-apa, Bli, ini sudah akan berangkat!” Senyum simpulnya membuat ia sedih, ia sangat benci berbohong pada suaminya.

Jika pagi adalah milik para istri maka malam hari adalah waktunya para suami berkumpul an megebagan di rumah Pan Darna.

“Gede, kau lengeh sekali. Kenapa tidak kau hamili saja Ni Luh terlebih dahulu, baru kau nikahi dia. Kan takkan lama menunggu buah hati!”

Merahlah telinga Gede Adi mendengar kata-kata orang seperti itu.

“Benar kata Pan Surya, bukankah hal semacam itu sudah biasa di jaman ini?”

“Andai Men Ratni tidak hamil waktu itu, tentu aku tidak akan menikahinya. Padahal saat itu aku baru saja metunangan dengan Luh Tari, kembang banjar sebelah.” Itu kata Pan Ratni tanpa malu-malu sambil menyesap kopinya.

“Aku menikahi Ni Luh Sekar karena cinta, tidak seperti kalian!” Gede Adi setengah geram, ia menjaga kepalannya tetap di tempatnya.

“Dengar itu Pan Surya dan Pan Wati, haha ha. Apa itu cinta Gede?!” Pan Ratni tertawa terbahak-bahak dibarengi dengan yang lainnya

Sudah kuduga, berbicara tentang cinta di sini terdengar omong kosong.

Malam itu, Ni Luh Sekar tiba-tiba tersentak dari tidurnya yang pulas. Ia dibangunkan oleh kepalanya yang berputar-putar hebat lalu ia merasakan mual yang luar biasa. Gede Adi belum pulang juga. Ni Luh pelan-pelan memaksakan badannya yang tiba-tiba lemah dan ia ambruk di depan pintu kamarnya. Malam itu ia tak sengaja telah menelan sebuah jiwa.

Ni Luh Sekar terbangun di tempat tidur yang tak asing. Rupanya malam itu ia dilarikan ke dokter Wayan, dokter desa ini. Rasa mual masih terasa di bibirnya tapi pusing kepalanya tidak sehebat tadi malam. Gede Adi tengah tertidur pulas di tangan kanannya. Ia mempelajari wajah suaminya. Wajah yang sangat ingin ia pandang seumur hidupnya. Ia tidak mengerti mengapa rasa cintanya selalu membuncah dan membesar di tiap harinya. Apakah semua orang merasakan hal ini ketika menjumpai kekasih mereka?

Ayam berkokok nyaring sekali, merobek mimpi Gede Adi dan ia mendapati istrinya tengah memandanginya.

“Ni Luh…” Gede Adi tersenyum, tak kuasa menahan rasa syukurnya bahwa makhluk yang selalu ia puja setelah Tuhan masih bersamanya.

“Bli Gede…Tyang kenapa, Bli?”

“Iluh, sayangku, kamu akan segera menjadi ibu. Ibunya Liang,” kata Gede sambil ia mengelus pelan perut istrinya. “Sudah tiga minggu Luh!”

“Bli!” Ni Luh menangis haru campur bahagia

“Iya Luh, dan Bli adalah bapaknya. Kita akan menjadi orang tua Putu Liang, Luh!” [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Kehancuran Keluarga Sri Krishna dalam Kakawin Mausala Parwa

Next Post

Goenawan Mohamad: Benahi Ekosistem Kepenulisan, Bukan Sekadar Beri Penghargaan

Ayu Ugie Pratiwi

Ayu Ugie Pratiwi

Lahir di Singaraja, tinggal di Tabanan. IG: @ayuugiepratiwi

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Goenawan Mohamad: Benahi Ekosistem Kepenulisan, Bukan Sekadar Beri Penghargaan

Goenawan Mohamad: Benahi Ekosistem Kepenulisan, Bukan Sekadar Beri Penghargaan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co