14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Liang-Liang | Cerpen Ayu Sugiharti Pratiwi

Ayu Sugiharti Pratiwi by Ayu Sugiharti Pratiwi
August 21, 2021
in Cerpen
Liang-Liang | Cerpen Ayu Sugiharti Pratiwi

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Bli, tyang rela kalau Bli harus mencari istri baru demi mencari sentana, penerus keluarga ini. Tapi diolas, Bli, ceraikan tyang. Tyang tidak sanggup dimadu, Bli”

Sore itu Gede Adi tengah ngopi di pondok sambil terngiang kata-kata Ni Luh Sekar. Sepanjang malam, setiap hari. Pedih hati Gede mendengar curahan hati istrinya. Tak sanggup ia menjawab kala itu. Matanya sudah lebih dulu membentuk kolam kecil yang siap mengalir apabila diberi celah sedikit saja.

Teringat ketika pertama kali ia jatuh cinta pada Ni Luh Sekar. Istrinya itu adalah anak seorang polisi. Bapaknya sering dipindahtugaskan ke daerah-daerah pelosok seperti Papua dan Sumbawa. Iluh dulu bersekolah dasar yang sama dengan Gede Adi. Mereka berada di desa yang sama tapi lain banjar. Namun ketika kelas 4 SD ibu Ni Luh meninggal dunia karena sakit menahun, yang Ni Luh sendiri tidak paham apa sakitnya.

Beberapa bulan kemudian bapaknya berangkat ke Papua, diajaknya Ni Luh bersamanya. Ni Luh adalah anak satu-satunya. Tanpa ibu dan keluarga lainnya, Ni Luh dan ayahnya tinggal di Papua hingga ia kelas 3 SMP. Lalu Ni Luh melanjutkan SMA di Sumbawa. Ia terpaksa tumbuh besar tanpa adat Bali, ayahnya terlalu sibuk dengan urusan negara hingga lupa memupuk jati diri Ni Luh dengan adat dan budaya Bali. Hanya Puja Tri Sandya yang ia pelajari ketika kelas satu sekolah dasar dan bahasa Bali menjadi pengingat bahwa ia adalah orang Bali, orang Hindu.

Namun ketika akan menginjak kelas tiga SMA, kakek Ni Luh meninggal dunia. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, bapaknya harus kembali ke Bali. Tanah kelahirannya memanggil.

Tujuh tahun sudah Ni Luh dan bapaknya tak pernah pulang. Entah dendam apa pada Bali, hingga bapaknya selalu enggan untuk pulang.

***

Akhirnya Ni Luh pulang. Menghirup aroma Bali. Mengingat kampung halamannya. Ia menikah dengan Gede, lelaki di kampung yang ia cintai.

Dan yang paling membahagiakan adalah kakeknya memiliki pondok, dimana ia bisa berkebun dan menanam banyak tanaman yang ia inginkan. Ia ingin mengabdikan seluruh hidupnya pada rerumputan dan harum tanah setelah hujan. Di Sumbawa Ni Luh banyak bercocok tanam bersama sebuah yayasan pecinta tanaman di sana. Ia kerap menjadi sukarelawan membantu warga berkebun di lahan kering.

Namun saat ini Ni Luh Sekar terpaksa harus menanggalkan ambisinya untuk mengelola kebun yang indah dari tangannya sendiri. Dokter Heryawan, dokter kandungannya berkata bahwa Ni Luh tidak boleh terlalu lelah dan stres karena kondisi badannya yang mudah lelah dan rahimnya yang lemah.

Ni Luh sempat protes dan berkata pada suaminya.

“Justru dengan berkebunlah aku tidak stres. Hanya dengan menyentuh tanah pikiranku menjadi jernih. Bli tahu kan tentang itu?”

“Lalu bagaimana dengan lelahnya? Kau akan pingsan jika di bawah matahari terlalu lama.”

“Aku akan mengenakan topi, Bli”

“Ni Luh sayangku, akuilah jika setiap pulang dari pondok kau akan kelelahan. Belum lagi mengurus rumah kita dan memasak. Kau selalu enggan bercinta!”

“Baiklah, tapi jika tyang tidak ke pondok. Apa yang bisa dikerjakan di rumah selain mencuci dan memasak?”

“Cukup kerjakan pekerjaan rumah yang sederhana saja, biarkan Meme membantu yang lainnya”

“Dan membiarkan orang-orang bergunjing tentang tyang yang malas dan tidak berguna?”

“Ni Luh, apa yang kau katakan? Semua orang tahu kau bukan pemalas dan berhentilah berkata dirimu tidak berguna!”

“Aku memang tidak berguna, Bli, tak pernah ada yang mengandalkanku di rumah ini. Aku hanya dianggap milu-milu bawang di sini. Aku adalah orang paling tidak tahu apa-apa di sini!”

“Siapa berkata begitu?”

“Siapapun bisa melihat semua itu, Bli. Mereka selalu mengacuhkanku hanya karena tyang tidak bisa mejejahitan dan tidak mengerti tentang adat di sini!”

Gede ingin menepis ucapan Ni Luh tapi ia sadar bahwa itu benar. Ia mengerti betapa pedihnya kehidupan Ni Luh semenjak mereka menikah. Apalagi ketika sudah dua tahun berlalu dan buah hati yang diharapkan tidak segera mengunjungi rahimnya. Sudah berapa balian ia kunjungi, entah berapa kali ia dan Ni Luh melukat, akupuntur, pijit perut, semi bayi tabung, ah apalah itu yang orang katakan supaya memiliki anak ia lakukan bahkan diminta minum darah lindung pun ia lakoni asalkan buah hati itu segera ada di dekapannya. Namun apa daya, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha tapi keputusan tetap di tangan Tuhan.

Ni Luh memalingkan wajahnya, ia menangis dalam diam. Ni Luh memang begitu. Menangis diam-diam adalah keahliannya. Tak pernah Gede memergokinya menangis meraung-raung layaknya wanita lain. Ia lebih senang bersembunyi bersama kesedihannya. Gede menenangkan hati kecilnya dan juga air matanya yang siap merebak kapan saja. Ia mendekap istrinya dari belakang. Ia tak sanggup berkata-kata tapi pelukannya dan gemuruh di dadanya telah berkata banyak betapa ia tak kalah kalutnya seperti Ni Luh.

***

Malam selalu menyimpan rahasia. Ia akan memeluk mimpi-mimpimu dan membiarkan langit membingkai indah di dindingnya bersama bintang-bintang. Berbeda dengan pagi yang ajaib ini. Ni Luh terbangun dengan hati yang lapang dan membiarkan ciumannya mendarat manis di dagu Gede yang berjambang. Ia mulai memasak sarapan dengan sedikit bersenandung. Aroma magis serbuk kopi utara yang diseduh air panas menggoda hidung Gede untuk beranjak ke dapur. Di meja dapur yang hanya bisa memuat dua orang itu sudah tersaji ayam ungkep dan telur orak-arik toge kesukaan Gede, tak lupa secangkir kopi yang Gede duga akan semanis senyuman Ni Luh pagi ini.

Gede tidak bertanya banyak tentang perasaan Ni Luh pagi ini setelah kemarin malam. Ia ingin membiarkannya menjadi semacam misteri. Ia merasa berhak mendapatkan pelangi setelah diamuk badai semalam.

“Bli De. Minggu lalu tyang bertemu Men Della. Ia mengajak tyang untuk ikut pijit saraf di dekat rumahnya. Mungkin bisa membantu menaikkan imun sistem tyange, Bli!” Mata Ni Luh berbinar.

Gede kerap terpesona tiap cara Ni Luh menyampaikan sesuatu. Raut apapun yang Ni Luh gunakan akan membuat Gede jatuh cinta berkali-kali.

“Jika Iluh menginginkan begitu, Bli akan manut saja. Asalkan Iluh sesemangat dan sebahagia ini!”

“Tyang yakin Liang akan datang, Bli, Ratu Betare akan mesurya. Tyang akan menanti tapi tidak dengan berdiam diri. Tyang akan berusaha semasih bisa. Semalam tyang berpikir, bagaimana cara Tuhan membantu hambanya yang tidak berusaha!”

Ceramah Ni Luh membuat Gede ingin menitikkan air matanya haru. Ia lantas memeluk istri terkasihnya itu.

“Astungkara Luh, astungkara!”

“Tuhan akan mengabulkan permintaan kita kan nggih, Bli?”

“Iya Luh, tidak cepat, tidak lambat tapi tepat waktu Luh!”

“Bli. tyang juga tidak akan ke pondok lagi. Tyang akan berkebun di rumah saja. Sebelum lelah, tyang akan berhenti dan beristirahat!”

“Bli akan membantu Iluh tiap hari Sabtu dan Minggu. Ayo kita membuat kebun mungil yang cantik di sini, Luh!”

“Ayo, Bli”

Lesung pipit Ni Luh yang menempel manis di pipinya membuat Gede ingin menangis di dalam hatinya.

“Maafkan Bli, Luh”

Gede merasa Ni Luh paling bahagia dan paling cantik ketika ia bergelut dengan tanah dan tanaman. Wajahnya selalu cerah dan berbinar ketika bibit yang ia tanam mulai menampakkan tunas. Ia akan langsung berseru, “Bli lihat, kangkungku mulai tumbuh”. Atau “Bli, lihat! Timunku sudah berbuah!” Bahkan terkadang, “Bli, lihat! Bayamku dimakan ulat”

Hal-hal kecil semacam itu saja sudah bisa membahagiakan Iluh. Ni Luh orang yang mudah bersyukur dalam hidupnya. Namun sejak menjalani perjalanan suci untuk mendapatkan buah hati, jiwanya mudah kacau dan sensitif. Gede sangat menyesal Iluh harus melalui semua ini.

***

Ni Luh, jika anak adalah satu-satunya sumber kebahagiaan dalam sebuah pernikahan, lalu perasaan apa yang kurasakan ini ketika kulihat kau di pelukan di saat malam yang dingin? Kemudian kau sebut apa rasa ketika sore yang melelahkan ini, kau usap keringatku dengan senyum manismu? Perasaan apa ini ketika ku begitu ingin segera pulang dan mencumbumu hanya agar kau tahu betapa besar cintaku padamu.

Jujur saja, tanpa memiliki anak kandung pun rasanya aku sudah sangat bahagia, Luh. Asalkan hidup bersamamu, Luh. Mungkin ini kesannya berlebihan, tapi bahkan ke neraka sekalipun tak mengapa, jika itu berarti bersamamu. Aku ikut.

Terkadang ingin aku mengajak Ni Luh untuk mengadopsi anak di panti asuhan, jika memiliki anak hanya untuk meneruskan silsilah keluarga ini. Tapi kuurungkan niatku untuk menyampaikannya kepadamu, Luh. Karena aku tahu persis bagaimana dirimu sangat mendambakan buah hati yang wajahnya seperti dirimu dengan perangai semacam diriku, begitu juga sebaliknya.

Jika memiliki seorang anak adalah sebuah anugerah, namun kenapa ketika kita tidak memilikinya masyarakat seakan mengubahnya menjadi kutukan? Ini sungguh tidak adil bukan. Karena bukan kita yang menentukan tentang punya atau tidak punya. Jika ingin menghina dan menghujat kenapa tidak pada Tuhan saja? Bukankah semua ini terjadi atas campur tangan Nya?

***

Ni Luh Sekar menggelung rapi rambut pekatnya. Ia memulas tipis pemerah bibir dan seharusnya siap berangkat metulung ke rumah Pan Darna yang istrinya meninggal tiga hari yang lalu. Tapi ia malah menghela nafas enggan beranjak dari hadapan cermin. Lama ia memandang bayangnya di cermin. Matanya menyiratkan betapa ia merasa lelah berada di masyarakat yang tidak pernah berhenti berbicara seenaknya. Terkadang ia letih harus berdusta di depan suaminya bahwa ia baik-baik saja ketika mereka berkata yang tidak-tidak. Terkadang ia ingin melarikan diri dari semua ini. Rasanya semua ini takkan kunjung selesai.

Andai saja cintanya pada Gede tidak sebesar ini, mungkin sudah lama ia ingin bercerai. Sejak menikah, ia tak pernah berani menggoda teman-temannya untuk segera menikah. Pernikahan itu berat. Apalagi kalau bersama pasangan yang salah. Sebaiknya tidak usah menikah. Membujang seumur hidup lebih baik daripada harus menderita di pelaminan.

“Kenapa Luh? Kenapa belum berangkat?”

“Tidak apa-apa, Bli, ini sudah akan berangkat!” Senyum simpulnya membuat ia sedih, ia sangat benci berbohong pada suaminya.

Jika pagi adalah milik para istri maka malam hari adalah waktunya para suami berkumpul an megebagan di rumah Pan Darna.

“Gede, kau lengeh sekali. Kenapa tidak kau hamili saja Ni Luh terlebih dahulu, baru kau nikahi dia. Kan takkan lama menunggu buah hati!”

Merahlah telinga Gede Adi mendengar kata-kata orang seperti itu.

“Benar kata Pan Surya, bukankah hal semacam itu sudah biasa di jaman ini?”

“Andai Men Ratni tidak hamil waktu itu, tentu aku tidak akan menikahinya. Padahal saat itu aku baru saja metunangan dengan Luh Tari, kembang banjar sebelah.” Itu kata Pan Ratni tanpa malu-malu sambil menyesap kopinya.

“Aku menikahi Ni Luh Sekar karena cinta, tidak seperti kalian!” Gede Adi setengah geram, ia menjaga kepalannya tetap di tempatnya.

“Dengar itu Pan Surya dan Pan Wati, haha ha. Apa itu cinta Gede?!” Pan Ratni tertawa terbahak-bahak dibarengi dengan yang lainnya

Sudah kuduga, berbicara tentang cinta di sini terdengar omong kosong.

Malam itu, Ni Luh Sekar tiba-tiba tersentak dari tidurnya yang pulas. Ia dibangunkan oleh kepalanya yang berputar-putar hebat lalu ia merasakan mual yang luar biasa. Gede Adi belum pulang juga. Ni Luh pelan-pelan memaksakan badannya yang tiba-tiba lemah dan ia ambruk di depan pintu kamarnya. Malam itu ia tak sengaja telah menelan sebuah jiwa.

Ni Luh Sekar terbangun di tempat tidur yang tak asing. Rupanya malam itu ia dilarikan ke dokter Wayan, dokter desa ini. Rasa mual masih terasa di bibirnya tapi pusing kepalanya tidak sehebat tadi malam. Gede Adi tengah tertidur pulas di tangan kanannya. Ia mempelajari wajah suaminya. Wajah yang sangat ingin ia pandang seumur hidupnya. Ia tidak mengerti mengapa rasa cintanya selalu membuncah dan membesar di tiap harinya. Apakah semua orang merasakan hal ini ketika menjumpai kekasih mereka?

Ayam berkokok nyaring sekali, merobek mimpi Gede Adi dan ia mendapati istrinya tengah memandanginya.

“Ni Luh…” Gede Adi tersenyum, tak kuasa menahan rasa syukurnya bahwa makhluk yang selalu ia puja setelah Tuhan masih bersamanya.

“Bli Gede…Tyang kenapa, Bli?”

“Iluh, sayangku, kamu akan segera menjadi ibu. Ibunya Liang,” kata Gede sambil ia mengelus pelan perut istrinya. “Sudah tiga minggu Luh!”

“Bli!” Ni Luh menangis haru campur bahagia

“Iya Luh, dan Bli adalah bapaknya. Kita akan menjadi orang tua Putu Liang, Luh!” [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Mencari Mareta | Cerpen Agus Wiratama

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Kehancuran Keluarga Sri Krishna dalam Kakawin Mausala Parwa

Next Post

Goenawan Mohamad: Benahi Ekosistem Kepenulisan, Bukan Sekadar Beri Penghargaan

Ayu Sugiharti Pratiwi

Ayu Sugiharti Pratiwi

Lahir di Singaraja. Penulis, pemain teater, guru. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Goenawan Mohamad: Benahi Ekosistem Kepenulisan, Bukan Sekadar Beri Penghargaan

Goenawan Mohamad: Benahi Ekosistem Kepenulisan, Bukan Sekadar Beri Penghargaan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co