24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pustaka Ekspresi, Janji Hati Made Sugianto pada Sastra Bali Modern

I Putu Supartika by I Putu Supartika
July 13, 2021
in Khas
Pustaka Ekspresi, Janji Hati Made Sugianto pada Sastra Bali Modern

Made Sugianto

Seandainya tahun itu dari 2008 langsung melompat ke tahun 2010 tanpa melewati tahun 2009, tentu tak akan lahir penerbit Pustaka Ekspresi yang konsen menerbitkan karya sastra Bali modern (SBM). Penerbit ini lahir dari tangan usil penulis, wartawan, tokoh pemuda Kukuh, yang kini menjabat perbekel Desa Kukuh, Marga, Tabanan yakni I Made Sugianto. Kelahiran penerbit ini diawali dengan perjumpaannya dengan seorang penulis leak Tabanan, IGP Bawa Samar Gantang tahun 2008 lalu.

Ketika itu, ia bertemu Samar Gantang di RS Tabanan dan dari obrolan mereka, Samar Gantang mengaku belum memiliki buku SBM, padahal karyanya sudah sangat banyak dan tersebar di media. Beberapa hari kemudian, dengan pongahnya Sugianto mendatangi kediaman Samar Gantang dan meminta kliping koran dan beberapa karya cerpen tulis tangan yang belum diketik. Untunglah Samar Gantang berbaik hati dan memberikannya pada Sugianto. Di rumah, Sugianto mengetik ulang naskah tersebut untuk dimuat di Majalah Pustaka Ekspresi yang diasuhnya saat itu. Selesai mengetik, muncullah keinginan menjadikannya sebuah buku.

Atas saran dari penulis Gde Aryantha Soethama, Sugianto mencetak naskah itu dengan printer standar dan juga kertas standar di rumahnya. Karena prosesnya cukup lama, ia pun sampai harus begadang. Sementara untuk sampulnya ia cetak di tukang cetak yang sekaligus tempat penjilidan dan lahirlah buku berjudul Jangkrik Maenci karya IGP Bawa Samar Gantang dengan nama penerbit Pustaka Ekspresi tahun 2009.

Ada hal unik yang mengiringi lahirnya buku pertama ini, dimana biaya untuk cetak sampul buku Rp 3 ribu, biaya jilid Rp 5 ribu perbuku, dan ia menjualnya dengan harga Rp 10 ribu perbuku. Pikirnya, buku bahasa Bali ketika itu sulit terjual sehingga harganya harus terjangkau. Karena dari pengalamannya saat berkunjung ke toko buku, harga buku berbahasa Bali berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 12 ribu, maka ia memilih harga di tengah-tengah saja dengan harapan ada yang membeli karena harganya terjangkau. Walaupun tak bisa balik modal dan malahan rugi, namun Sugianto menganggap itu panggilan hati dan setia melanjutkan penerbitannya sebagai janji hati.

Dengan mencantumkan alamat penerbit dan nomor telepon, Sugianto iseng memasarkan hasil cetakannya ke Toko Buku Berata di Jalan Kartini, dekat RSUD Wangaya, Denpasar. Umpan yang dipasang pun berhasil, karena beberapa waktu kemudian ada seseorang yang meneleponnya dan ingin menerbitkan buku di Pustaka Ekspresi. Maka terbitlah buku kedua tentang pariwisata dan buku itu sangat laku karena memang dicetak terbatas.

Selepas itu, Sugianto mulai mengembara mencari naskah yang bisa diterbitkan utamanya naskah SBM. Bertemulah ia dengan pendekar-pendekar sastra dari Bali timur. Pertama ia bertemu penyair almarhum I Wayan Arthawa dan dari pertemuan ini ia mengenal banyak sastrawan Bali Timur. Wayan Arthawa saat itu menerbitkan buku puisi Sandiwara Bulan Sabit sebanyak 500 eksemplar dan sangat laku.

Sugianto kemudian diajak bertemu sastrawan IDK Raka Kusuma dan di sana kebetulan ada IBW Widiasa Keniten dan almarhum I Nyoman Tusthi Eddy. Mulailah ia bersiasat untuk memperkenalkan penerbitan yang dirintisnya. Usahanya tak sia-sia dan sejak saat itu Pustaka Ekspresi pun mulai dilirik berkat bantuan ‘promosi’ dari pendekar sastra di Bali timur. Salah satunya oleh IDK Raka Kusuma yang mengarahkan penulis-penulis SBM untuk merapat ke Pustaka Ekspresi.

Untuk meningkatkan kualitas buku yang diterbitkannya, Sugianto mencari percetakan yang bisa diajak kerjasama dan bisa mencetak dalam jumlah terbatas. Di Google ia menemukan satu percetakan dan ia menghubunginya. Awalnya percetakan itu tak mau diajak kerjasama. Ia pun melakukan negosiasi dengan memaparkan keadaan yang sebenarnya dan berhasil mengetuk hati percetakan itu, sehingga negosiasi diakhir dengan kata: sepakat.

Penerbitan yang awalnya difokuskan untuk menerbitkan karya berbahasa Bali, belakangan juga membantu penerbitan karya sastra berbahasa Indonesia. Beberapa penulis sastra Indonesia kenamaan Bali menerbitkan karyanya di sana, sebut saja Wayan Jengki Sunarta hingga Ngurah Parsua. Dalam perkembangannya, penerbit ini tak hanya mengambil segmen sastra, juga mengambil banyak segmen mulai dari pariwisata, pertanian, kuliner, bahkan spiritual.

Penamaan Pustaka Ekspresi ternyata tak lepas dari pengaruh penulis favorit dari Made Sugianto sendiri yakni Wayan Suardika. Ia sering membaca karya Suardika di Anita Cemerlang dan mulai mengagumi sosoknya termasuk mengikuti jejaknya. Ketika Suardika membuat Wacana Bali, Sugianto ikut membuat Wacana Bali Tabanan yang bertahan selama satu tahun. Suardika membuat Majalah Suardi, Sugianto ikut membuat Majalah Ekspresi. Dan ketika lahir Pustaka Suardi, Sugianto mengikutinya dengan membuat Pustaka Ekspresi yang tetap eksis hingga saat ini.

Di masa-masa awal menerbitkan buku, Pustaka Ekspresi belum memiliki logo dan hanya menggunakan tulisan saja sebagai nama penerbit pada setiap buku yang diterbitkan. Kemudian ia meminta bantuan kepada kenalannya di Facebook, Jero Alit Bangah yang lihai dalam menggambar. Mereka pun bertemu di bale tajuk, di rumah Sugianto dan Jero Alit Bangah diminta membuatkannya logo dengan gambar pis bolong. Ketika menggambar pis bolong, seperti sebuah kode alam, tiba-tiba ada cicak yang jatuh. Peka dengan kode itu, Sugianto pun meminta agar pis bolong itu diisi dengan gambar cicak. Bagi Sugianto, pis bolong bermakna tawar menawar yang fleksibel sementara cicak melambangkan kaweruhan.

Selama penerbit ini bertumbuh, Sugianto memiliki komitmen untuk membantu penulis SBM dalam menerbitkan buku. Setiap tahunnya, setidaknya ia membantu menerbitkan dua buku SBM dengan kantongnya sendiri. Ia menyisihkan sedikit hasil penjualan bukunya yang tak seberapa dan kebanyakan digratiskan, untuk membantu kelahiran buku SBM itu.

Dalam perkembangan selanjutnya, ia pun memutuskan untuk membuat sayembara Gerip Maurip agar bisa membantu penulis SBM dalam lingkup yang lebih luas. Lewat sayembara yang dimulai tahun 2017 ini, dipilih dua karya terbaik berupa kumpulan cerpen atau novel dan kumpulan puisi atau prosa liris yang akan diterbitkan.

Sebelum bernama Gerip Maurip, ia ingin menamai sayembara ini Gerip Sastra. Namun saat berkunjung ke rumah penulis Nyoman Manda, diperlihatkan kepadanya buku puisi Bali setebal seribu lebih halaman yang berjudul Gerip Maurip Ngridip Makedip. Dari sanalah, ia mendapat inspirasi dan Gerip Sastra berubah menjadi Gerip Maurip dengan harapan sayembara ini tetap berkelanjutan.

Ada yang spesial dalam perjalanan penerbit ini ketika IBW Widiasa Keniten menerbitkan buku Sandal Jepit. Saat itu, untuk mencetak buku masih dilakukan dengan menggunakan printer manual di rumahnya. Oleh IBW Widiasa Keniten, buku itu digunakan sebagai bahan lomba dan akhirnya bisa dibawa ke beberapa negara mulai dari Belanda hingga Jerman.

Sebagai sebuah janji hati, Sugianto berupaya agar penerbit ini tetap bisa membantu penerbitan buku SBM. Kadang ia pernah memaksa seseorang untuk ikut menulis dalam bahasa Bali dan menjadikannya buku dan ia berjanji membantu penerbitan buku itu. Pemaksaan itu pun berbuah manis, karena yang dipaksa ketagihan menulis dalam bahasa Bali.

Kini, dalam setahun Pusata Ekspresi bisa menerbitkan 5 hingga 10 judul buku SBM. Dan hampir setiap tahun, buku terbitan penerbit berlogo pis bolong cekcek ini menyabet penghargaan bergengsi untuk sastra daerah khususnya SBM yakni Hadiah Sastera Rancage. Atas kegigihannya pula, Pustaka Ekspresi mengantarkan Sugianto meraih Hadiah Sastera Rancage dalam bidang jasa tahun 2012 yang kemudian disusul untuk karya tahun 2013 lewat novelnya yang berjudul Sentana. [T]

BACA JUGA:

Carma Citrawati, Ide Menulis Itu Datang dari Drama Korea
  • Carma Citrawati, Ide Menulis Itu Datang dari Drama Korea
Sosok Alit Juliartha di Mata Darma Putra, dari Salah Menyebut Nama hingga Kukuh pada Idealisme
  • Sosok Alit Juliartha di Mata Darma Putra, dari Salah Menyebut Nama hingga Kukuh pada Idealisme
Putra Ariawan | Menelan Permen Karet, Berobat Lewat Sastra Bali Modern
  • Putra Ariawan | Menelan Permen Karet, Berobat Lewat Sastra Bali Modern
Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan
  • Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan
Komang Adnyana | Membunuh “Writer Block” dengan Mem-Bali-kan Sastra Dunia
  • Komang Adnyana | Membunuh “Writer Block” dengan Mem-Bali-kan Sastra Dunia
Tags: Made SugiantoPustaka Ekspresisastrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mereka Wana Jnana | Dari Gelaran Bali Kandarupa

Next Post

Pak Brenyit Sang Penunggu Sampah | “Berkantor” di Depan Kuburan Desa Panji

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Pak Brenyit Sang Penunggu Sampah | “Berkantor” di Depan Kuburan Desa Panji

Pak Brenyit Sang Penunggu Sampah | “Berkantor” di Depan Kuburan Desa Panji

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co