23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pustaka Ekspresi, Janji Hati Made Sugianto pada Sastra Bali Modern

I Putu Supartika by I Putu Supartika
July 13, 2021
in Khas
Pustaka Ekspresi, Janji Hati Made Sugianto pada Sastra Bali Modern

Made Sugianto

Seandainya tahun itu dari 2008 langsung melompat ke tahun 2010 tanpa melewati tahun 2009, tentu tak akan lahir penerbit Pustaka Ekspresi yang konsen menerbitkan karya sastra Bali modern (SBM). Penerbit ini lahir dari tangan usil penulis, wartawan, tokoh pemuda Kukuh, yang kini menjabat perbekel Desa Kukuh, Marga, Tabanan yakni I Made Sugianto. Kelahiran penerbit ini diawali dengan perjumpaannya dengan seorang penulis leak Tabanan, IGP Bawa Samar Gantang tahun 2008 lalu.

Ketika itu, ia bertemu Samar Gantang di RS Tabanan dan dari obrolan mereka, Samar Gantang mengaku belum memiliki buku SBM, padahal karyanya sudah sangat banyak dan tersebar di media. Beberapa hari kemudian, dengan pongahnya Sugianto mendatangi kediaman Samar Gantang dan meminta kliping koran dan beberapa karya cerpen tulis tangan yang belum diketik. Untunglah Samar Gantang berbaik hati dan memberikannya pada Sugianto. Di rumah, Sugianto mengetik ulang naskah tersebut untuk dimuat di Majalah Pustaka Ekspresi yang diasuhnya saat itu. Selesai mengetik, muncullah keinginan menjadikannya sebuah buku.

Atas saran dari penulis Gde Aryantha Soethama, Sugianto mencetak naskah itu dengan printer standar dan juga kertas standar di rumahnya. Karena prosesnya cukup lama, ia pun sampai harus begadang. Sementara untuk sampulnya ia cetak di tukang cetak yang sekaligus tempat penjilidan dan lahirlah buku berjudul Jangkrik Maenci karya IGP Bawa Samar Gantang dengan nama penerbit Pustaka Ekspresi tahun 2009.

Ada hal unik yang mengiringi lahirnya buku pertama ini, dimana biaya untuk cetak sampul buku Rp 3 ribu, biaya jilid Rp 5 ribu perbuku, dan ia menjualnya dengan harga Rp 10 ribu perbuku. Pikirnya, buku bahasa Bali ketika itu sulit terjual sehingga harganya harus terjangkau. Karena dari pengalamannya saat berkunjung ke toko buku, harga buku berbahasa Bali berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 12 ribu, maka ia memilih harga di tengah-tengah saja dengan harapan ada yang membeli karena harganya terjangkau. Walaupun tak bisa balik modal dan malahan rugi, namun Sugianto menganggap itu panggilan hati dan setia melanjutkan penerbitannya sebagai janji hati.

Dengan mencantumkan alamat penerbit dan nomor telepon, Sugianto iseng memasarkan hasil cetakannya ke Toko Buku Berata di Jalan Kartini, dekat RSUD Wangaya, Denpasar. Umpan yang dipasang pun berhasil, karena beberapa waktu kemudian ada seseorang yang meneleponnya dan ingin menerbitkan buku di Pustaka Ekspresi. Maka terbitlah buku kedua tentang pariwisata dan buku itu sangat laku karena memang dicetak terbatas.

Selepas itu, Sugianto mulai mengembara mencari naskah yang bisa diterbitkan utamanya naskah SBM. Bertemulah ia dengan pendekar-pendekar sastra dari Bali timur. Pertama ia bertemu penyair almarhum I Wayan Arthawa dan dari pertemuan ini ia mengenal banyak sastrawan Bali Timur. Wayan Arthawa saat itu menerbitkan buku puisi Sandiwara Bulan Sabit sebanyak 500 eksemplar dan sangat laku.

Sugianto kemudian diajak bertemu sastrawan IDK Raka Kusuma dan di sana kebetulan ada IBW Widiasa Keniten dan almarhum I Nyoman Tusthi Eddy. Mulailah ia bersiasat untuk memperkenalkan penerbitan yang dirintisnya. Usahanya tak sia-sia dan sejak saat itu Pustaka Ekspresi pun mulai dilirik berkat bantuan ‘promosi’ dari pendekar sastra di Bali timur. Salah satunya oleh IDK Raka Kusuma yang mengarahkan penulis-penulis SBM untuk merapat ke Pustaka Ekspresi.

Untuk meningkatkan kualitas buku yang diterbitkannya, Sugianto mencari percetakan yang bisa diajak kerjasama dan bisa mencetak dalam jumlah terbatas. Di Google ia menemukan satu percetakan dan ia menghubunginya. Awalnya percetakan itu tak mau diajak kerjasama. Ia pun melakukan negosiasi dengan memaparkan keadaan yang sebenarnya dan berhasil mengetuk hati percetakan itu, sehingga negosiasi diakhir dengan kata: sepakat.

Penerbitan yang awalnya difokuskan untuk menerbitkan karya berbahasa Bali, belakangan juga membantu penerbitan karya sastra berbahasa Indonesia. Beberapa penulis sastra Indonesia kenamaan Bali menerbitkan karyanya di sana, sebut saja Wayan Jengki Sunarta hingga Ngurah Parsua. Dalam perkembangannya, penerbit ini tak hanya mengambil segmen sastra, juga mengambil banyak segmen mulai dari pariwisata, pertanian, kuliner, bahkan spiritual.

Penamaan Pustaka Ekspresi ternyata tak lepas dari pengaruh penulis favorit dari Made Sugianto sendiri yakni Wayan Suardika. Ia sering membaca karya Suardika di Anita Cemerlang dan mulai mengagumi sosoknya termasuk mengikuti jejaknya. Ketika Suardika membuat Wacana Bali, Sugianto ikut membuat Wacana Bali Tabanan yang bertahan selama satu tahun. Suardika membuat Majalah Suardi, Sugianto ikut membuat Majalah Ekspresi. Dan ketika lahir Pustaka Suardi, Sugianto mengikutinya dengan membuat Pustaka Ekspresi yang tetap eksis hingga saat ini.

Di masa-masa awal menerbitkan buku, Pustaka Ekspresi belum memiliki logo dan hanya menggunakan tulisan saja sebagai nama penerbit pada setiap buku yang diterbitkan. Kemudian ia meminta bantuan kepada kenalannya di Facebook, Jero Alit Bangah yang lihai dalam menggambar. Mereka pun bertemu di bale tajuk, di rumah Sugianto dan Jero Alit Bangah diminta membuatkannya logo dengan gambar pis bolong. Ketika menggambar pis bolong, seperti sebuah kode alam, tiba-tiba ada cicak yang jatuh. Peka dengan kode itu, Sugianto pun meminta agar pis bolong itu diisi dengan gambar cicak. Bagi Sugianto, pis bolong bermakna tawar menawar yang fleksibel sementara cicak melambangkan kaweruhan.

Selama penerbit ini bertumbuh, Sugianto memiliki komitmen untuk membantu penulis SBM dalam menerbitkan buku. Setiap tahunnya, setidaknya ia membantu menerbitkan dua buku SBM dengan kantongnya sendiri. Ia menyisihkan sedikit hasil penjualan bukunya yang tak seberapa dan kebanyakan digratiskan, untuk membantu kelahiran buku SBM itu.

Dalam perkembangan selanjutnya, ia pun memutuskan untuk membuat sayembara Gerip Maurip agar bisa membantu penulis SBM dalam lingkup yang lebih luas. Lewat sayembara yang dimulai tahun 2017 ini, dipilih dua karya terbaik berupa kumpulan cerpen atau novel dan kumpulan puisi atau prosa liris yang akan diterbitkan.

Sebelum bernama Gerip Maurip, ia ingin menamai sayembara ini Gerip Sastra. Namun saat berkunjung ke rumah penulis Nyoman Manda, diperlihatkan kepadanya buku puisi Bali setebal seribu lebih halaman yang berjudul Gerip Maurip Ngridip Makedip. Dari sanalah, ia mendapat inspirasi dan Gerip Sastra berubah menjadi Gerip Maurip dengan harapan sayembara ini tetap berkelanjutan.

Ada yang spesial dalam perjalanan penerbit ini ketika IBW Widiasa Keniten menerbitkan buku Sandal Jepit. Saat itu, untuk mencetak buku masih dilakukan dengan menggunakan printer manual di rumahnya. Oleh IBW Widiasa Keniten, buku itu digunakan sebagai bahan lomba dan akhirnya bisa dibawa ke beberapa negara mulai dari Belanda hingga Jerman.

Sebagai sebuah janji hati, Sugianto berupaya agar penerbit ini tetap bisa membantu penerbitan buku SBM. Kadang ia pernah memaksa seseorang untuk ikut menulis dalam bahasa Bali dan menjadikannya buku dan ia berjanji membantu penerbitan buku itu. Pemaksaan itu pun berbuah manis, karena yang dipaksa ketagihan menulis dalam bahasa Bali.

Kini, dalam setahun Pusata Ekspresi bisa menerbitkan 5 hingga 10 judul buku SBM. Dan hampir setiap tahun, buku terbitan penerbit berlogo pis bolong cekcek ini menyabet penghargaan bergengsi untuk sastra daerah khususnya SBM yakni Hadiah Sastera Rancage. Atas kegigihannya pula, Pustaka Ekspresi mengantarkan Sugianto meraih Hadiah Sastera Rancage dalam bidang jasa tahun 2012 yang kemudian disusul untuk karya tahun 2013 lewat novelnya yang berjudul Sentana. [T]

BACA JUGA:

Carma Citrawati, Ide Menulis Itu Datang dari Drama Korea
  • Carma Citrawati, Ide Menulis Itu Datang dari Drama Korea
Sosok Alit Juliartha di Mata Darma Putra, dari Salah Menyebut Nama hingga Kukuh pada Idealisme
  • Sosok Alit Juliartha di Mata Darma Putra, dari Salah Menyebut Nama hingga Kukuh pada Idealisme
Putra Ariawan | Menelan Permen Karet, Berobat Lewat Sastra Bali Modern
  • Putra Ariawan | Menelan Permen Karet, Berobat Lewat Sastra Bali Modern
Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan
  • Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan
Komang Adnyana | Membunuh “Writer Block” dengan Mem-Bali-kan Sastra Dunia
  • Komang Adnyana | Membunuh “Writer Block” dengan Mem-Bali-kan Sastra Dunia
Tags: Made SugiantoPustaka Ekspresisastrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mereka Wana Jnana | Dari Gelaran Bali Kandarupa

Next Post

Pak Brenyit Sang Penunggu Sampah | “Berkantor” di Depan Kuburan Desa Panji

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Pak Brenyit Sang Penunggu Sampah | “Berkantor” di Depan Kuburan Desa Panji

Pak Brenyit Sang Penunggu Sampah | “Berkantor” di Depan Kuburan Desa Panji

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co