7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kontribusi Paus Besar yang Terabaikan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
June 5, 2021
in Opini
Kontribusi Paus Besar yang Terabaikan

Paus Biru

Setiap orang butuh udara segar selama dia hidup. Banyak yang tidak menyadari asal dari udara ini. Kebanyakan orang hanya menganggap sudah sepert ini keadaanya. Dianggap bahwa udara segar itu didapat secara cuma-cuma. Di balik udara segar yang vital untuk kita bernafas, ada peran organisme lain yang sering diabaikan. Peran organisme ini jauh lebih penting dari yang disangka.

Lebih dari separuh oksigen yang ada di bumi dan  dihirup manusia berasal dari lautan. Lautan menghasilkan oksigen dan menyerap gas rumah kaca dengan proses pembuatan makanan oleh phytoplankton (ganggang laut) dengan memanfaatkan sinar matahari dan nutrient (fotosintesis) sama seperti tanaman di daratan.

Nutrient yang didapat ganggang berasal dari air di bawah permukaan yang naik ke atas, membawa nutrient ke tempat yang terjangkau cahaya matahari sehingga ganggang terus berfotosintesis. Phytoplankton ini merupakan dasar dari ekosistem laut. Mahluk ini menjadi makanan bagi plankton yang kemudian memberikan energi pada ikan kecil dan invertebrata berukuran serupa di lautan.

Dua golongan hewan laut ini merupakan sumber kehidupan bagi spesies spesies hewan laut yang kita makan sehari hari mulai dari tuna, tongkol, sarden, cumi cumi dan lain lain. Lalu ada spesies spesies hewan besar yang punya peran vital dalam kehidupan phytoplankton yaitu paus paus besar seperti paus biru, paus bungkuk, paus bergigi dan semua paus lain yang hidup di samudera.

Nutrient pada laut berbeda-beda sesuai dengan kedalamannya. Semakin dalam, semakin kaya, sedangkan semakin dekat permukaan semakin miskin. Hal ini berlaku di lautan tropis dan subtropis. Di dua kawasan lautan itu, ganggang mendapat asupan nutrisi dengan bantuan paus. Ini berlangsung selama puluhan juta tahun dan phytoplankton berevolusi dengannya bersama sama.

Bagi yang pernah mengamati paus di lautan, dapat melihat pancuran air yang keluar dari hidung paus saat bibirnya muncul ke permukaan. Setiap hari, paus-paus itu menyelam ke dasar laut hingga kedalaman 1000 meter untuk mencari makanan. Saat akan naik ke permukaan laut untuk bernafas, seekor paus mendorong laut yang kaya nutrient ke permukaan. Ini merangsang phytoplankton untuk berfotosintesis di lautan yang miskin nutrient seperti laut tropis karena tidak terdapat  angin kencang yang mendorong air dalam laut ke atas. Oksigen dihasilkan berkat ini dan gas rumah kaca diserap oleh phytoplankton.

Setiap individu paus dapat dikatakan membudidayakan makanannya sendiri karena setiap hari merangsang pertumbuhan populasi ganggang laut dengan perilaku ini yang membuat lalu populasi plankton dan ikan kecil meningkat  selanjutnya menjadi makanan oleh paus dan spesies lain. Kemudian saat mengeluarkan sisa makanan, kotoran itu memberikan nutrient tambahan kepada alga.

Jadi kontribusi paus besar pada udara yang kita hidup dan makanan yang kita makan luar biasa penting. Paus merupakan spesies kunci di lautan yang mana jika ia punah, ekosistem laut akan terganggu dan semakin miskin. Ganggang laut akan menurun populasinya karena tidak mendapat asupan nutrient dari dasar laut ataupun permukaan laut dengan peran paus.  Ikan sarden dan tongkol yang memakan plankton dan ikan kecil serta menjadi makanan rakyat Indonesia telah hidup selama jutaan tahun bersama paus di lautan tidak dapat diprediksi nasibnya saat paus paus besar punah.

Meski paus-paus ini telah berkontribusi pada udara untuk pernafasan  dan makanan untuk nutrisi bagi manusia, nasibnya amat tragis. Obsesi mengejar pertumbuhan ekonomi dimana setiap barang harus terus dikonsumsi dan dijual dalam waktu yang secepat-cepatnya, dan bertujuan meraih laba jangka pendek dengan mengorbakan planet bumi termasuk satwa liar adalah pemicu utama sampah plastik dan perikanan industri yang memusnahkan biota laut.

Paus Sperm

Perusahaan produsen plastik mendesain barang yang paling murah dan cepat dibuang supaya orang-orang membeli lagi.  Kadang kadang kita mendengar atau mungkin pernah melihat langsung paus yang mati terdampar, dan saat dibedah terdapat sampah plastik. Plastik yang ditelan oleh organisme menyumbat sistem pencernaan sehingga makanan tidak tercerna dan menyebabkan mati kelaparan.

Di Bali dan bagian selatan Pulau Jawa,  sampah plastik yang mengalir ke laut, berakhir di samudera Hindia tempat paus berenang. Sampah plastik ini secara tidak langsung mengurangi produksi oksigen dan plankton di lautan karena nutrient yang tersalurkan ke permukaan berkurang. 

Ancaman kedua yaitu, perikanan industri yang menggunakan jaring raksasa amat besar dan panjangnya mencapai satu kilometer yang mana sering membuat paus besar tersangkut jaring dan mati terjerat. Jaring raksasa itu ditujukan untuk menangkap ikan-ikan yang bernilai komersial dan dihidangkan di meja makan setiap hari.

Selain paus yang terjerat oleh jaring itu adalah lumba lumba, burung laut, dan penyu. Hampir dua per lima tangkapan ini dibuang kembali ke laut karena tidak bernilai komersial dan mati sia-sia. Begitulah boros dan rusaknya sistem perikanan industri ini. Bahkan dengan sertifikat makanan laut berkelanjutan yang katanya ramah untuk lumba lumba dan paus, tidak menjamin hal tersebut.

Jaring pukat dan peralatan penangkapan ikan yang sudah dianggap rusak dibuang begitu saja ke laut, dan ini menyumbang hampir setengah dari total sampah plastik di lautan. Jadi di balik lezatnya makanan laut yang disantap saat pesta atau acara tertentu, ada mahluk berharga dengan peran vital bagi manusia yang tercekik oleh pukat karena semakin terlilit olehnya saat berenang semakin cepat untuk membebaskan diri dan berakhir mengenaskan di dasar laut yang gelap.

Untuk mengobati lingkungan laut yang sedang sakit ini, setiap orang dan lembaga harus melakukan tiga hal yaitu mengurangi, menggunakan kembali atau mendaur ulang. Langkah darurat yang harus segera diambil adalah dirikan pengolahan sampah yang ramah lingkungan (bukan pembakaran).

Sampah plastik yang ada harus dipilah , lalu dibersihkan kemudian digolongkan berdasarkan kegunaannya. Sebagian botol, alat makan, mangkuk, dan piring dapat digunakan kembali setelah dibersihkan dan diwarnai hingga seperti baru kembali. Plastik yang hancur atau berasal dari mainan dapat didaur ulang menjadi produk baru. Berusaha mencoba mengurangi belanja produk yang tidak dibutuhkan serta tidak membuang barang plastik yang masih berfungsi dengan layak.

Kemudian tiap industri pengolahan plastik harus membuat produk plastik itu dapat digunakan kembali dalam jangka waktu lama yang kemudian didaur ulang setelah melewati jangka waktu tersebut. Ini akan mengurangi produksi plastik. Industri yang dimiliki swasta hampir mustahil melakukan ini karena prioritasnya adalah laba jangka pendek dengan pengeluaran terkecil yang mana ia akan cenderung membuat plastik sekali pakai dan sulit hingga tidak dapat didaur ulang sehingga dibuang.

Oleh karena itu warga dan daerah bekerja sama mendirikan dan mengelola pabrik ini untuk memenuhi kebutuhan daerah itu. Warga membuat keputusan langsung produk yang dibuat dan bahan baku yang dipilih berdasarkan daya tahan, daya guna dan kemudahan daur ulang demi integritas lingkungan.

Untuk perikanan, perluas hak komunitas untuk mengelola wilayah tersebut. Mereka dapat menjadi penjaga kelestarian laut. Pada ekosistem laut yang begitu parah terdegradasi karena dikeruk oleh pukat penangkap ikan yang merusak dasar laut dan wilayah dimana biota laut amat sedikit, diberlakukan larangan untuk aktivitas apapun di situ seperti penangkapan ikan dan penambangan selama beberapa tahun sampai pulih kembali.

Kemudian negara negara konsumen ikan dari Eropa, Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat harus berhenti mensubsidi perikanan industri yang merusak ini. Semakin sedikit hasil laut yang diperoleh memaksa orang beralih ke sistem budidaya.   Setengah dari makanan laut yang beredar sekarang berasal dari pembudidayaan. Kita harus sikapi ini dengan hati hati karena dampak yang ditimbulkan.

Dalam film Seaspiracy, untuk mendapatkan satu kilogram daging salmon dibutuhkan beberapa kilogram ikan kecil untuk makanan salmon yang mana ditangkap dengan kapal pukat  serta berpotensi menjerat paus. Ini tetap saja menghidupkan sistem perikanan industri yang merusak itu. Kegemaran menyantap udang memicu perluasan pertambakan udang di Asia yang merusak hutan bakau dimana ini menghancurkan perlindungan warga pesisir dari tsunami dan gelombang laut saat musim angin siklon. Orientasi dari tambak ini adalah ekspor untuk modal uang di atas kelestarian lingkungan.

Sebagian besar biota laut yang dibudidayakan itu adalah karnivora yang membutuhkan protein hewani. serangga dan hama tanaman layak diteliti sebagai makanan alternatif biota ini  untuk mengurangi penangkapan ikan kecil dengan kapal pukat. Perikanan di dekat pantai mempunyai masalah serius karena lautnya dangkal sehingga kotorannya dekat dengan ikan dan laut tidak mencuci tubuh ikan, yang memudahkan parasite menginfeksinya. 

Untuk memperkecil kotoran yang menumpuk, dan memudahkan penyebaran parasite, pembudidayaan ikan laut dilakukan di laut lepas dengan kedalaman di 15 meter atau lebih (lepas pantai)  karena arus laut yang mengalir cepat  akan mencuci tubuh ikan dari parasite dan limbah tersebar luas di laut sehingga cepat larut.   Kemudian , hutan bakau berfungsi sebagai tempat perawatan ikan dan udang, doronglah pembudidayaan ikan dan udang yang benar benar cocok dengan ekosistem bakau seperti bandeng dengan tetap menjaga kelestariannya dan pengolahan limbah yang memadai. [T]

Sumber:

  • Monbiot, George. Why whale poo matters. 12 December 2014. https://www.theguardian.com/environment/georgemonbiot/2014/dec/12/how-whale-poo-is-connected-to-climate-and-our-lives. Diakses tanggal 2 Juni 2021
  • Moniot, George.2015. How Whale Changes Climate. https://www.youtube.com/watch?v=M18HxXve3CM. Directed by SustainableHuman
  • Andersen, Kip.2021. Seaspiracy. Britain. A.U.M. Films Disrupt Studios.89 Minute
Tags: alamIkan PauslautlingkunganPaus Birupecinta alam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suatu Senja di Pantai Batu Belig, Seorang Perempuan dan 50 Anjing

Next Post

Yennu Ariendra dalam “A-Z Sampai Tuntas” | Identitas dan Ekosistem dalam Skena yang Blur

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post
Yennu Ariendra dalam “A-Z Sampai Tuntas” | Identitas dan Ekosistem dalam Skena yang Blur

Yennu Ariendra dalam “A-Z Sampai Tuntas” | Identitas dan Ekosistem dalam Skena yang Blur

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co