2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kontribusi Paus Besar yang Terabaikan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
June 5, 2021
in Opini
Kontribusi Paus Besar yang Terabaikan

Paus Biru

Setiap orang butuh udara segar selama dia hidup. Banyak yang tidak menyadari asal dari udara ini. Kebanyakan orang hanya menganggap sudah sepert ini keadaanya. Dianggap bahwa udara segar itu didapat secara cuma-cuma. Di balik udara segar yang vital untuk kita bernafas, ada peran organisme lain yang sering diabaikan. Peran organisme ini jauh lebih penting dari yang disangka.

Lebih dari separuh oksigen yang ada di bumi dan  dihirup manusia berasal dari lautan. Lautan menghasilkan oksigen dan menyerap gas rumah kaca dengan proses pembuatan makanan oleh phytoplankton (ganggang laut) dengan memanfaatkan sinar matahari dan nutrient (fotosintesis) sama seperti tanaman di daratan.

Nutrient yang didapat ganggang berasal dari air di bawah permukaan yang naik ke atas, membawa nutrient ke tempat yang terjangkau cahaya matahari sehingga ganggang terus berfotosintesis. Phytoplankton ini merupakan dasar dari ekosistem laut. Mahluk ini menjadi makanan bagi plankton yang kemudian memberikan energi pada ikan kecil dan invertebrata berukuran serupa di lautan.

Dua golongan hewan laut ini merupakan sumber kehidupan bagi spesies spesies hewan laut yang kita makan sehari hari mulai dari tuna, tongkol, sarden, cumi cumi dan lain lain. Lalu ada spesies spesies hewan besar yang punya peran vital dalam kehidupan phytoplankton yaitu paus paus besar seperti paus biru, paus bungkuk, paus bergigi dan semua paus lain yang hidup di samudera.

Nutrient pada laut berbeda-beda sesuai dengan kedalamannya. Semakin dalam, semakin kaya, sedangkan semakin dekat permukaan semakin miskin. Hal ini berlaku di lautan tropis dan subtropis. Di dua kawasan lautan itu, ganggang mendapat asupan nutrisi dengan bantuan paus. Ini berlangsung selama puluhan juta tahun dan phytoplankton berevolusi dengannya bersama sama.

Bagi yang pernah mengamati paus di lautan, dapat melihat pancuran air yang keluar dari hidung paus saat bibirnya muncul ke permukaan. Setiap hari, paus-paus itu menyelam ke dasar laut hingga kedalaman 1000 meter untuk mencari makanan. Saat akan naik ke permukaan laut untuk bernafas, seekor paus mendorong laut yang kaya nutrient ke permukaan. Ini merangsang phytoplankton untuk berfotosintesis di lautan yang miskin nutrient seperti laut tropis karena tidak terdapat  angin kencang yang mendorong air dalam laut ke atas. Oksigen dihasilkan berkat ini dan gas rumah kaca diserap oleh phytoplankton.

Setiap individu paus dapat dikatakan membudidayakan makanannya sendiri karena setiap hari merangsang pertumbuhan populasi ganggang laut dengan perilaku ini yang membuat lalu populasi plankton dan ikan kecil meningkat  selanjutnya menjadi makanan oleh paus dan spesies lain. Kemudian saat mengeluarkan sisa makanan, kotoran itu memberikan nutrient tambahan kepada alga.

Jadi kontribusi paus besar pada udara yang kita hidup dan makanan yang kita makan luar biasa penting. Paus merupakan spesies kunci di lautan yang mana jika ia punah, ekosistem laut akan terganggu dan semakin miskin. Ganggang laut akan menurun populasinya karena tidak mendapat asupan nutrient dari dasar laut ataupun permukaan laut dengan peran paus.  Ikan sarden dan tongkol yang memakan plankton dan ikan kecil serta menjadi makanan rakyat Indonesia telah hidup selama jutaan tahun bersama paus di lautan tidak dapat diprediksi nasibnya saat paus paus besar punah.

Meski paus-paus ini telah berkontribusi pada udara untuk pernafasan  dan makanan untuk nutrisi bagi manusia, nasibnya amat tragis. Obsesi mengejar pertumbuhan ekonomi dimana setiap barang harus terus dikonsumsi dan dijual dalam waktu yang secepat-cepatnya, dan bertujuan meraih laba jangka pendek dengan mengorbakan planet bumi termasuk satwa liar adalah pemicu utama sampah plastik dan perikanan industri yang memusnahkan biota laut.

Paus Sperm

Perusahaan produsen plastik mendesain barang yang paling murah dan cepat dibuang supaya orang-orang membeli lagi.  Kadang kadang kita mendengar atau mungkin pernah melihat langsung paus yang mati terdampar, dan saat dibedah terdapat sampah plastik. Plastik yang ditelan oleh organisme menyumbat sistem pencernaan sehingga makanan tidak tercerna dan menyebabkan mati kelaparan.

Di Bali dan bagian selatan Pulau Jawa,  sampah plastik yang mengalir ke laut, berakhir di samudera Hindia tempat paus berenang. Sampah plastik ini secara tidak langsung mengurangi produksi oksigen dan plankton di lautan karena nutrient yang tersalurkan ke permukaan berkurang. 

Ancaman kedua yaitu, perikanan industri yang menggunakan jaring raksasa amat besar dan panjangnya mencapai satu kilometer yang mana sering membuat paus besar tersangkut jaring dan mati terjerat. Jaring raksasa itu ditujukan untuk menangkap ikan-ikan yang bernilai komersial dan dihidangkan di meja makan setiap hari.

Selain paus yang terjerat oleh jaring itu adalah lumba lumba, burung laut, dan penyu. Hampir dua per lima tangkapan ini dibuang kembali ke laut karena tidak bernilai komersial dan mati sia-sia. Begitulah boros dan rusaknya sistem perikanan industri ini. Bahkan dengan sertifikat makanan laut berkelanjutan yang katanya ramah untuk lumba lumba dan paus, tidak menjamin hal tersebut.

Jaring pukat dan peralatan penangkapan ikan yang sudah dianggap rusak dibuang begitu saja ke laut, dan ini menyumbang hampir setengah dari total sampah plastik di lautan. Jadi di balik lezatnya makanan laut yang disantap saat pesta atau acara tertentu, ada mahluk berharga dengan peran vital bagi manusia yang tercekik oleh pukat karena semakin terlilit olehnya saat berenang semakin cepat untuk membebaskan diri dan berakhir mengenaskan di dasar laut yang gelap.

Untuk mengobati lingkungan laut yang sedang sakit ini, setiap orang dan lembaga harus melakukan tiga hal yaitu mengurangi, menggunakan kembali atau mendaur ulang. Langkah darurat yang harus segera diambil adalah dirikan pengolahan sampah yang ramah lingkungan (bukan pembakaran).

Sampah plastik yang ada harus dipilah , lalu dibersihkan kemudian digolongkan berdasarkan kegunaannya. Sebagian botol, alat makan, mangkuk, dan piring dapat digunakan kembali setelah dibersihkan dan diwarnai hingga seperti baru kembali. Plastik yang hancur atau berasal dari mainan dapat didaur ulang menjadi produk baru. Berusaha mencoba mengurangi belanja produk yang tidak dibutuhkan serta tidak membuang barang plastik yang masih berfungsi dengan layak.

Kemudian tiap industri pengolahan plastik harus membuat produk plastik itu dapat digunakan kembali dalam jangka waktu lama yang kemudian didaur ulang setelah melewati jangka waktu tersebut. Ini akan mengurangi produksi plastik. Industri yang dimiliki swasta hampir mustahil melakukan ini karena prioritasnya adalah laba jangka pendek dengan pengeluaran terkecil yang mana ia akan cenderung membuat plastik sekali pakai dan sulit hingga tidak dapat didaur ulang sehingga dibuang.

Oleh karena itu warga dan daerah bekerja sama mendirikan dan mengelola pabrik ini untuk memenuhi kebutuhan daerah itu. Warga membuat keputusan langsung produk yang dibuat dan bahan baku yang dipilih berdasarkan daya tahan, daya guna dan kemudahan daur ulang demi integritas lingkungan.

Untuk perikanan, perluas hak komunitas untuk mengelola wilayah tersebut. Mereka dapat menjadi penjaga kelestarian laut. Pada ekosistem laut yang begitu parah terdegradasi karena dikeruk oleh pukat penangkap ikan yang merusak dasar laut dan wilayah dimana biota laut amat sedikit, diberlakukan larangan untuk aktivitas apapun di situ seperti penangkapan ikan dan penambangan selama beberapa tahun sampai pulih kembali.

Kemudian negara negara konsumen ikan dari Eropa, Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat harus berhenti mensubsidi perikanan industri yang merusak ini. Semakin sedikit hasil laut yang diperoleh memaksa orang beralih ke sistem budidaya.   Setengah dari makanan laut yang beredar sekarang berasal dari pembudidayaan. Kita harus sikapi ini dengan hati hati karena dampak yang ditimbulkan.

Dalam film Seaspiracy, untuk mendapatkan satu kilogram daging salmon dibutuhkan beberapa kilogram ikan kecil untuk makanan salmon yang mana ditangkap dengan kapal pukat  serta berpotensi menjerat paus. Ini tetap saja menghidupkan sistem perikanan industri yang merusak itu. Kegemaran menyantap udang memicu perluasan pertambakan udang di Asia yang merusak hutan bakau dimana ini menghancurkan perlindungan warga pesisir dari tsunami dan gelombang laut saat musim angin siklon. Orientasi dari tambak ini adalah ekspor untuk modal uang di atas kelestarian lingkungan.

Sebagian besar biota laut yang dibudidayakan itu adalah karnivora yang membutuhkan protein hewani. serangga dan hama tanaman layak diteliti sebagai makanan alternatif biota ini  untuk mengurangi penangkapan ikan kecil dengan kapal pukat. Perikanan di dekat pantai mempunyai masalah serius karena lautnya dangkal sehingga kotorannya dekat dengan ikan dan laut tidak mencuci tubuh ikan, yang memudahkan parasite menginfeksinya. 

Untuk memperkecil kotoran yang menumpuk, dan memudahkan penyebaran parasite, pembudidayaan ikan laut dilakukan di laut lepas dengan kedalaman di 15 meter atau lebih (lepas pantai)  karena arus laut yang mengalir cepat  akan mencuci tubuh ikan dari parasite dan limbah tersebar luas di laut sehingga cepat larut.   Kemudian , hutan bakau berfungsi sebagai tempat perawatan ikan dan udang, doronglah pembudidayaan ikan dan udang yang benar benar cocok dengan ekosistem bakau seperti bandeng dengan tetap menjaga kelestariannya dan pengolahan limbah yang memadai. [T]

Sumber:

  • Monbiot, George. Why whale poo matters. 12 December 2014. https://www.theguardian.com/environment/georgemonbiot/2014/dec/12/how-whale-poo-is-connected-to-climate-and-our-lives. Diakses tanggal 2 Juni 2021
  • Moniot, George.2015. How Whale Changes Climate. https://www.youtube.com/watch?v=M18HxXve3CM. Directed by SustainableHuman
  • Andersen, Kip.2021. Seaspiracy. Britain. A.U.M. Films Disrupt Studios.89 Minute
Tags: alamIkan PauslautlingkunganPaus Birupecinta alam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suatu Senja di Pantai Batu Belig, Seorang Perempuan dan 50 Anjing

Next Post

Yennu Ariendra dalam “A-Z Sampai Tuntas” | Identitas dan Ekosistem dalam Skena yang Blur

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Yennu Ariendra dalam “A-Z Sampai Tuntas” | Identitas dan Ekosistem dalam Skena yang Blur

Yennu Ariendra dalam “A-Z Sampai Tuntas” | Identitas dan Ekosistem dalam Skena yang Blur

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co