23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sembahyang di Pura, “Makemit” di Penginapan | Pengamatan atas Fenomena Baru “Matirta Yatra” di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
May 31, 2021
in Opini
Sembahyang di Pura, “Makemit” di Penginapan | Pengamatan atas Fenomena Baru “Matirta Yatra” di Nusa Penida

Areal Pura Dalem Ped, titik makemit I paling favorit. Foto: sailingstonetravel.com

Sebelum bisnis penginapan merebak di Nusa Penida (NP), para patirta yatra (pamedek) yang datang ke NP melakukan aktivitas sembahyang di pura dan sekaligus “menghabiskan malam” (makemit I) di salah satu titik pura yang ditetapkan. Namun, belakangan ada tren pergeseran “menghabiskan malam” (makemit II) oleh pamedek dari pura ke penginapan. Sembahyangnya di pura, tetapi makemit-nya (baca: menghabiskan malam) di penginapan.

Fenomena tren “menghabiskan malam” alias makemit II (saya sebut makna sampingan-lah) ini tampak signifikan setidaknya dari 3 tahun yang lalu. Kemudian, tampak lebih menggejala justru ketika pariwisata NP tersendat oleh pandemi Covid-19. Para pengusaha yang nihil dari kunjungan tamu mancanegara, berlomba-lomba menjaring pamedek untuk makemit II di penginapan miliknya.

Strategi penjaringan pamedek tersebut tampaknya tidak luput dari upaya pebisnis penginapan untuk tetap bertahan. Bertahan di tengah situasi yang sangat sulit seperti sekarang. Karena itu, mereka pun bersaing menawarkan harga penginapan yang sesuai dengan kondisi ekonomi pamedek plus berbau corona. Bayangkan, cukup Rp 200-an ribu per malam, pamedek dapat menikmati penginapan bagus bahkan sudah termasuk fasilitas kolam. Wah, Anda pasti tertarik, bukan?

“Ya, daripada kosong melompong. Lebih baik berisi, walaupun harga tidak rasional,” mungkin teori keadaan inilah yang menyebabkan para pebisnis penginapan berlomba-lomba banting harga demi mendapatkan pemasukan. Setidaknya, mungkin untuk menutupi biaya operasional penginapan.

Kondisi ini jelas menguntungkan para pamedek yang menginap di NP. Tidak hanya membuat nyaman, praktis, tetapi sekaligus solusi bagi pamedek agar terhindar dari kerumunan jika makemit di satu titik pura. Jadi, penginapan memisahkan potensi kerumunan antara rombongan pamedek satu dengan yang lainnya di satu titik pura.

Karena itu, tren makemit II kian mendulang dukungan sekarang. Para pamedek di NP kian dimanjakan dengan tawaran paket tirta yatra oleh travel, komplit dengan transportasi, konsumsi dan akomodasi penginapan—tentu dengan harga yang sangat terjangkau.

Yang tidak memilih paketan, bisa memilih pengusaha transportasi secara freeland baik individual maupun kelompok lewat jejaring sosial. Bahkan, ada juga yang memilih  datang langsung ke NP. Karena di pelabuhan NP, mereka pasti akan disambut oleh para pengusaha transportasi—yang siap mengantarkan ke beberapa titik pura dan sekaligus siap mencarikan penginapan.

Situasi ini tentu berbeda dengan zaman sebelumnya yakni tahun 2015 ke bawah. Zaman ketika pariwisata belum menggeliat di NP. Tidak ada bisnis penginapan. Para pamedek yang datang ke NP harus makemit di salah satu titik pura.

Mereka memanfaatkan areal pura (wantilan, bale gong, bale pawaregan, dan lain-lainnya) sebagai tempat menghabiskan malam seadanya—dengan cara duduk-duduk, rebahan dan tidur-tiduran beralaskan tikar atau karpet. Sesekali diganggu nyamuk dan desiran angin malam—yang tentu saja tak senyaman di penginapan.

Prediksi Makemit II

Ayo, mau pilih mana? Makemit I atau makemit II? Hampir pasti opsi kedua-lah. Jangankan kalangan milenial, para orang tua pun akan lebih cenderung memilih makemit di penginapan. Inilah mungkin yang disebut dinamika realita. Fasilitas penginapan ada. Ekonomi pamedek juga mendukung. Ya, muncullah tren makemit II.

Saya berkeyakinan bahwa tren makemit II ini akan semakin eksis karena menguntungkan pamedek dan terutama para pebisnis di NP. Pamedek mendapatkan kenyamanan dan sekaligus menciptakan efek “pelebaran perburuan uang” di NP. 

Selain pelancong mancanegara dan domestik, pamedek juga ikut meramaikan pergerakan perekonomian masyarakat NP. Jika sebelumnya pamedek hanya menggairahkan sektor transportasi laut, tranportasi darat, dan kuliner—maka sekarang sektor bisnis penginapan juga ikut merasakan sirkulasi keuangan dari pamedek.

Karena menguntungkan banyak pihak, tren makemit II ini kemungkinan akan semakin kukuh di masa depan. Lalu, bagaimana nasib tradisi makemit I oleh pamedek yang datang ke NP? Akankah tradisi makemit I menjadi pudar?

Semuanya sangat tergantung dari para pamedek itu sendiri. Kalau semua pamedek memilih tren makemit II, maka tamatlah riwayat tradisi makemit I. Para pamedek yang “memuja” kenyamanan, instanisasi dan kepraktisan akan klop memilih makemit II.

Jika lebih terlena, maka bisa jadi ke depan para pamedek datang ke NP dengan tangan kosong. Mungkin tidak perlu repot-repot membawa sesaji (banten aturan/ persembahan), pejati dan canang sari karena sudah disediakan oleh travel atau pamedek bisa membeli di dekat lokasi pura. Ke depan lagi, para pamedek mungkin saja tidak perlu membawa setelan pakaian sembahyang. Karena bisa saja, suatu saat nanti ada jasa yang menyewakan paketan pakaian sembahyang di NP. Jadi, para pamedek cukup membawa uang saja. Praktis, bukan?

Kemudian, jangan tanya lagi tradisi makemit I. Kemungkinan tak populer dan dianggap tidak penting lagi. Yang penting sudah melakukan persembahyangan dan berkesempatan berfoto ria untuk diunggah di medsos sebagai status pembuktian diri.

Ketika makemit I semakin terabaikan, maka totalitas spiritual pamedek menjadi berbeda (terasa sedikit hambar). Pura akan dianggap sebagai semacam persinggahan. Persinggahan untuk menggelar ritual persembahyangan biasa. Kurang ada ikatan batin, rasa memiliki, dan penghormatan terhadap aspek historis atau mitologi dari pura yang dikunjungi.

Kurangnya ikatan batin, rasa memiliki dan penghormatan aspek historis dari pamedek ini setidaknya berpengaruh terhadap kedalaman rasa bakti, rasa hormat dan kekhusyukan sang pamedek. Lewat makemit I, rasa-rasa itu mungkin bisa diejawantahkan. Karena lewat aktivitas makemit I, kedekatan fisik itu nyata. Di tambah waktu kontemplasi (merenung) juga cukup panjang.

Jika dioptimalkan, bisa jadi waktu makemit I ini akan menjadi semacam media berkomunikasi batin dengan lingkungan sekitar pura dan Ida yang melinggih di pura. Pada beberapa orang, mungkin mereka mendapatkan pengalaman spiritual yang berharga ini, tetapi sulit dijelaskan dengan ilmiah.

Karena itu, saya berkeyakinan bahwa kelompok pendukung makemit I masih ada. Hanya saja jumlahnya tak sebanyak pendukung makemit II. Tidak masalah. Sedikit atau banyak, pilih opsi satu atau kedua—semua tergantung mindset dan keyakinan kita. Kita tidak bermaksud mencari menang atau kalah. Yang terpenting, kedua realitas tersebut mesti dihargai.

Jadi, memang sangat berisiko ketika daerah tujuan spiritual terdampak pariwisata. Sektor pariwisata ikut-ikutan memengaruhi aktivitas spiritual baik secara langsung maupun tak langsung. Saya tidak tahu apakah situasi ini yang disebut pariwisata spiritual. Berwisata sambil berspiritual atau berspiritual sambil berwisata? Semuanya tergantung kita. Saya pikir belum ada regulasi yang mengatur persoalan ini.

Soal bobot wisata dan spiritual sangat tergantung selera personal atau kelompok tertentu. Apakah lebih ditonjolkan aspek wisatanya? Aspek spiritualnya? Atau bisa jadi berimbang. Tidak masalah.

Begitu juga dengan pilihan makemit I atau makemit II. Semua tergantung personal atau kelompok tertentu. Namun, yang jelas pahala (hasil) pengalaman spiritualnya akan dirasakan secara individual dan subjektif. [T]

Tags: Nusa PenidaPariwisataSpiritualtirtayatra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan

Next Post

Kopi Kultura, Hortikultur, dan Sebuah Taman di Halaman Belakang

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post
Kopi Kultura, Hortikultur, dan Sebuah Taman di Halaman Belakang

Kopi Kultura, Hortikultur, dan Sebuah Taman di Halaman Belakang

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co