2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sembahyang di Pura, “Makemit” di Penginapan | Pengamatan atas Fenomena Baru “Matirta Yatra” di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
May 31, 2021
in Opini
Sembahyang di Pura, “Makemit” di Penginapan | Pengamatan atas Fenomena Baru “Matirta Yatra” di Nusa Penida

Areal Pura Dalem Ped, titik makemit I paling favorit. Foto: sailingstonetravel.com

Sebelum bisnis penginapan merebak di Nusa Penida (NP), para patirta yatra (pamedek) yang datang ke NP melakukan aktivitas sembahyang di pura dan sekaligus “menghabiskan malam” (makemit I) di salah satu titik pura yang ditetapkan. Namun, belakangan ada tren pergeseran “menghabiskan malam” (makemit II) oleh pamedek dari pura ke penginapan. Sembahyangnya di pura, tetapi makemit-nya (baca: menghabiskan malam) di penginapan.

Fenomena tren “menghabiskan malam” alias makemit II (saya sebut makna sampingan-lah) ini tampak signifikan setidaknya dari 3 tahun yang lalu. Kemudian, tampak lebih menggejala justru ketika pariwisata NP tersendat oleh pandemi Covid-19. Para pengusaha yang nihil dari kunjungan tamu mancanegara, berlomba-lomba menjaring pamedek untuk makemit II di penginapan miliknya.

Strategi penjaringan pamedek tersebut tampaknya tidak luput dari upaya pebisnis penginapan untuk tetap bertahan. Bertahan di tengah situasi yang sangat sulit seperti sekarang. Karena itu, mereka pun bersaing menawarkan harga penginapan yang sesuai dengan kondisi ekonomi pamedek plus berbau corona. Bayangkan, cukup Rp 200-an ribu per malam, pamedek dapat menikmati penginapan bagus bahkan sudah termasuk fasilitas kolam. Wah, Anda pasti tertarik, bukan?

“Ya, daripada kosong melompong. Lebih baik berisi, walaupun harga tidak rasional,” mungkin teori keadaan inilah yang menyebabkan para pebisnis penginapan berlomba-lomba banting harga demi mendapatkan pemasukan. Setidaknya, mungkin untuk menutupi biaya operasional penginapan.

Kondisi ini jelas menguntungkan para pamedek yang menginap di NP. Tidak hanya membuat nyaman, praktis, tetapi sekaligus solusi bagi pamedek agar terhindar dari kerumunan jika makemit di satu titik pura. Jadi, penginapan memisahkan potensi kerumunan antara rombongan pamedek satu dengan yang lainnya di satu titik pura.

Karena itu, tren makemit II kian mendulang dukungan sekarang. Para pamedek di NP kian dimanjakan dengan tawaran paket tirta yatra oleh travel, komplit dengan transportasi, konsumsi dan akomodasi penginapan—tentu dengan harga yang sangat terjangkau.

Yang tidak memilih paketan, bisa memilih pengusaha transportasi secara freeland baik individual maupun kelompok lewat jejaring sosial. Bahkan, ada juga yang memilih  datang langsung ke NP. Karena di pelabuhan NP, mereka pasti akan disambut oleh para pengusaha transportasi—yang siap mengantarkan ke beberapa titik pura dan sekaligus siap mencarikan penginapan.

Situasi ini tentu berbeda dengan zaman sebelumnya yakni tahun 2015 ke bawah. Zaman ketika pariwisata belum menggeliat di NP. Tidak ada bisnis penginapan. Para pamedek yang datang ke NP harus makemit di salah satu titik pura.

Mereka memanfaatkan areal pura (wantilan, bale gong, bale pawaregan, dan lain-lainnya) sebagai tempat menghabiskan malam seadanya—dengan cara duduk-duduk, rebahan dan tidur-tiduran beralaskan tikar atau karpet. Sesekali diganggu nyamuk dan desiran angin malam—yang tentu saja tak senyaman di penginapan.

Prediksi Makemit II

Ayo, mau pilih mana? Makemit I atau makemit II? Hampir pasti opsi kedua-lah. Jangankan kalangan milenial, para orang tua pun akan lebih cenderung memilih makemit di penginapan. Inilah mungkin yang disebut dinamika realita. Fasilitas penginapan ada. Ekonomi pamedek juga mendukung. Ya, muncullah tren makemit II.

Saya berkeyakinan bahwa tren makemit II ini akan semakin eksis karena menguntungkan pamedek dan terutama para pebisnis di NP. Pamedek mendapatkan kenyamanan dan sekaligus menciptakan efek “pelebaran perburuan uang” di NP. 

Selain pelancong mancanegara dan domestik, pamedek juga ikut meramaikan pergerakan perekonomian masyarakat NP. Jika sebelumnya pamedek hanya menggairahkan sektor transportasi laut, tranportasi darat, dan kuliner—maka sekarang sektor bisnis penginapan juga ikut merasakan sirkulasi keuangan dari pamedek.

Karena menguntungkan banyak pihak, tren makemit II ini kemungkinan akan semakin kukuh di masa depan. Lalu, bagaimana nasib tradisi makemit I oleh pamedek yang datang ke NP? Akankah tradisi makemit I menjadi pudar?

Semuanya sangat tergantung dari para pamedek itu sendiri. Kalau semua pamedek memilih tren makemit II, maka tamatlah riwayat tradisi makemit I. Para pamedek yang “memuja” kenyamanan, instanisasi dan kepraktisan akan klop memilih makemit II.

Jika lebih terlena, maka bisa jadi ke depan para pamedek datang ke NP dengan tangan kosong. Mungkin tidak perlu repot-repot membawa sesaji (banten aturan/ persembahan), pejati dan canang sari karena sudah disediakan oleh travel atau pamedek bisa membeli di dekat lokasi pura. Ke depan lagi, para pamedek mungkin saja tidak perlu membawa setelan pakaian sembahyang. Karena bisa saja, suatu saat nanti ada jasa yang menyewakan paketan pakaian sembahyang di NP. Jadi, para pamedek cukup membawa uang saja. Praktis, bukan?

Kemudian, jangan tanya lagi tradisi makemit I. Kemungkinan tak populer dan dianggap tidak penting lagi. Yang penting sudah melakukan persembahyangan dan berkesempatan berfoto ria untuk diunggah di medsos sebagai status pembuktian diri.

Ketika makemit I semakin terabaikan, maka totalitas spiritual pamedek menjadi berbeda (terasa sedikit hambar). Pura akan dianggap sebagai semacam persinggahan. Persinggahan untuk menggelar ritual persembahyangan biasa. Kurang ada ikatan batin, rasa memiliki, dan penghormatan terhadap aspek historis atau mitologi dari pura yang dikunjungi.

Kurangnya ikatan batin, rasa memiliki dan penghormatan aspek historis dari pamedek ini setidaknya berpengaruh terhadap kedalaman rasa bakti, rasa hormat dan kekhusyukan sang pamedek. Lewat makemit I, rasa-rasa itu mungkin bisa diejawantahkan. Karena lewat aktivitas makemit I, kedekatan fisik itu nyata. Di tambah waktu kontemplasi (merenung) juga cukup panjang.

Jika dioptimalkan, bisa jadi waktu makemit I ini akan menjadi semacam media berkomunikasi batin dengan lingkungan sekitar pura dan Ida yang melinggih di pura. Pada beberapa orang, mungkin mereka mendapatkan pengalaman spiritual yang berharga ini, tetapi sulit dijelaskan dengan ilmiah.

Karena itu, saya berkeyakinan bahwa kelompok pendukung makemit I masih ada. Hanya saja jumlahnya tak sebanyak pendukung makemit II. Tidak masalah. Sedikit atau banyak, pilih opsi satu atau kedua—semua tergantung mindset dan keyakinan kita. Kita tidak bermaksud mencari menang atau kalah. Yang terpenting, kedua realitas tersebut mesti dihargai.

Jadi, memang sangat berisiko ketika daerah tujuan spiritual terdampak pariwisata. Sektor pariwisata ikut-ikutan memengaruhi aktivitas spiritual baik secara langsung maupun tak langsung. Saya tidak tahu apakah situasi ini yang disebut pariwisata spiritual. Berwisata sambil berspiritual atau berspiritual sambil berwisata? Semuanya tergantung kita. Saya pikir belum ada regulasi yang mengatur persoalan ini.

Soal bobot wisata dan spiritual sangat tergantung selera personal atau kelompok tertentu. Apakah lebih ditonjolkan aspek wisatanya? Aspek spiritualnya? Atau bisa jadi berimbang. Tidak masalah.

Begitu juga dengan pilihan makemit I atau makemit II. Semua tergantung personal atau kelompok tertentu. Namun, yang jelas pahala (hasil) pengalaman spiritualnya akan dirasakan secara individual dan subjektif. [T]

Tags: Nusa PenidaPariwisataSpiritualtirtayatra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan

Next Post

Kopi Kultura, Hortikultur, dan Sebuah Taman di Halaman Belakang

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Kopi Kultura, Hortikultur, dan Sebuah Taman di Halaman Belakang

Kopi Kultura, Hortikultur, dan Sebuah Taman di Halaman Belakang

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co