12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sembahyang di Pura, “Makemit” di Penginapan | Pengamatan atas Fenomena Baru “Matirta Yatra” di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
May 31, 2021
in Opini
Sembahyang di Pura, “Makemit” di Penginapan | Pengamatan atas Fenomena Baru “Matirta Yatra” di Nusa Penida

Areal Pura Dalem Ped, titik makemit I paling favorit. Foto: sailingstonetravel.com

Sebelum bisnis penginapan merebak di Nusa Penida (NP), para patirta yatra (pamedek) yang datang ke NP melakukan aktivitas sembahyang di pura dan sekaligus “menghabiskan malam” (makemit I) di salah satu titik pura yang ditetapkan. Namun, belakangan ada tren pergeseran “menghabiskan malam” (makemit II) oleh pamedek dari pura ke penginapan. Sembahyangnya di pura, tetapi makemit-nya (baca: menghabiskan malam) di penginapan.

Fenomena tren “menghabiskan malam” alias makemit II (saya sebut makna sampingan-lah) ini tampak signifikan setidaknya dari 3 tahun yang lalu. Kemudian, tampak lebih menggejala justru ketika pariwisata NP tersendat oleh pandemi Covid-19. Para pengusaha yang nihil dari kunjungan tamu mancanegara, berlomba-lomba menjaring pamedek untuk makemit II di penginapan miliknya.

Strategi penjaringan pamedek tersebut tampaknya tidak luput dari upaya pebisnis penginapan untuk tetap bertahan. Bertahan di tengah situasi yang sangat sulit seperti sekarang. Karena itu, mereka pun bersaing menawarkan harga penginapan yang sesuai dengan kondisi ekonomi pamedek plus berbau corona. Bayangkan, cukup Rp 200-an ribu per malam, pamedek dapat menikmati penginapan bagus bahkan sudah termasuk fasilitas kolam. Wah, Anda pasti tertarik, bukan?

“Ya, daripada kosong melompong. Lebih baik berisi, walaupun harga tidak rasional,” mungkin teori keadaan inilah yang menyebabkan para pebisnis penginapan berlomba-lomba banting harga demi mendapatkan pemasukan. Setidaknya, mungkin untuk menutupi biaya operasional penginapan.

Kondisi ini jelas menguntungkan para pamedek yang menginap di NP. Tidak hanya membuat nyaman, praktis, tetapi sekaligus solusi bagi pamedek agar terhindar dari kerumunan jika makemit di satu titik pura. Jadi, penginapan memisahkan potensi kerumunan antara rombongan pamedek satu dengan yang lainnya di satu titik pura.

Karena itu, tren makemit II kian mendulang dukungan sekarang. Para pamedek di NP kian dimanjakan dengan tawaran paket tirta yatra oleh travel, komplit dengan transportasi, konsumsi dan akomodasi penginapan—tentu dengan harga yang sangat terjangkau.

Yang tidak memilih paketan, bisa memilih pengusaha transportasi secara freeland baik individual maupun kelompok lewat jejaring sosial. Bahkan, ada juga yang memilih  datang langsung ke NP. Karena di pelabuhan NP, mereka pasti akan disambut oleh para pengusaha transportasi—yang siap mengantarkan ke beberapa titik pura dan sekaligus siap mencarikan penginapan.

Situasi ini tentu berbeda dengan zaman sebelumnya yakni tahun 2015 ke bawah. Zaman ketika pariwisata belum menggeliat di NP. Tidak ada bisnis penginapan. Para pamedek yang datang ke NP harus makemit di salah satu titik pura.

Mereka memanfaatkan areal pura (wantilan, bale gong, bale pawaregan, dan lain-lainnya) sebagai tempat menghabiskan malam seadanya—dengan cara duduk-duduk, rebahan dan tidur-tiduran beralaskan tikar atau karpet. Sesekali diganggu nyamuk dan desiran angin malam—yang tentu saja tak senyaman di penginapan.

Prediksi Makemit II

Ayo, mau pilih mana? Makemit I atau makemit II? Hampir pasti opsi kedua-lah. Jangankan kalangan milenial, para orang tua pun akan lebih cenderung memilih makemit di penginapan. Inilah mungkin yang disebut dinamika realita. Fasilitas penginapan ada. Ekonomi pamedek juga mendukung. Ya, muncullah tren makemit II.

Saya berkeyakinan bahwa tren makemit II ini akan semakin eksis karena menguntungkan pamedek dan terutama para pebisnis di NP. Pamedek mendapatkan kenyamanan dan sekaligus menciptakan efek “pelebaran perburuan uang” di NP. 

Selain pelancong mancanegara dan domestik, pamedek juga ikut meramaikan pergerakan perekonomian masyarakat NP. Jika sebelumnya pamedek hanya menggairahkan sektor transportasi laut, tranportasi darat, dan kuliner—maka sekarang sektor bisnis penginapan juga ikut merasakan sirkulasi keuangan dari pamedek.

Karena menguntungkan banyak pihak, tren makemit II ini kemungkinan akan semakin kukuh di masa depan. Lalu, bagaimana nasib tradisi makemit I oleh pamedek yang datang ke NP? Akankah tradisi makemit I menjadi pudar?

Semuanya sangat tergantung dari para pamedek itu sendiri. Kalau semua pamedek memilih tren makemit II, maka tamatlah riwayat tradisi makemit I. Para pamedek yang “memuja” kenyamanan, instanisasi dan kepraktisan akan klop memilih makemit II.

Jika lebih terlena, maka bisa jadi ke depan para pamedek datang ke NP dengan tangan kosong. Mungkin tidak perlu repot-repot membawa sesaji (banten aturan/ persembahan), pejati dan canang sari karena sudah disediakan oleh travel atau pamedek bisa membeli di dekat lokasi pura. Ke depan lagi, para pamedek mungkin saja tidak perlu membawa setelan pakaian sembahyang. Karena bisa saja, suatu saat nanti ada jasa yang menyewakan paketan pakaian sembahyang di NP. Jadi, para pamedek cukup membawa uang saja. Praktis, bukan?

Kemudian, jangan tanya lagi tradisi makemit I. Kemungkinan tak populer dan dianggap tidak penting lagi. Yang penting sudah melakukan persembahyangan dan berkesempatan berfoto ria untuk diunggah di medsos sebagai status pembuktian diri.

Ketika makemit I semakin terabaikan, maka totalitas spiritual pamedek menjadi berbeda (terasa sedikit hambar). Pura akan dianggap sebagai semacam persinggahan. Persinggahan untuk menggelar ritual persembahyangan biasa. Kurang ada ikatan batin, rasa memiliki, dan penghormatan terhadap aspek historis atau mitologi dari pura yang dikunjungi.

Kurangnya ikatan batin, rasa memiliki dan penghormatan aspek historis dari pamedek ini setidaknya berpengaruh terhadap kedalaman rasa bakti, rasa hormat dan kekhusyukan sang pamedek. Lewat makemit I, rasa-rasa itu mungkin bisa diejawantahkan. Karena lewat aktivitas makemit I, kedekatan fisik itu nyata. Di tambah waktu kontemplasi (merenung) juga cukup panjang.

Jika dioptimalkan, bisa jadi waktu makemit I ini akan menjadi semacam media berkomunikasi batin dengan lingkungan sekitar pura dan Ida yang melinggih di pura. Pada beberapa orang, mungkin mereka mendapatkan pengalaman spiritual yang berharga ini, tetapi sulit dijelaskan dengan ilmiah.

Karena itu, saya berkeyakinan bahwa kelompok pendukung makemit I masih ada. Hanya saja jumlahnya tak sebanyak pendukung makemit II. Tidak masalah. Sedikit atau banyak, pilih opsi satu atau kedua—semua tergantung mindset dan keyakinan kita. Kita tidak bermaksud mencari menang atau kalah. Yang terpenting, kedua realitas tersebut mesti dihargai.

Jadi, memang sangat berisiko ketika daerah tujuan spiritual terdampak pariwisata. Sektor pariwisata ikut-ikutan memengaruhi aktivitas spiritual baik secara langsung maupun tak langsung. Saya tidak tahu apakah situasi ini yang disebut pariwisata spiritual. Berwisata sambil berspiritual atau berspiritual sambil berwisata? Semuanya tergantung kita. Saya pikir belum ada regulasi yang mengatur persoalan ini.

Soal bobot wisata dan spiritual sangat tergantung selera personal atau kelompok tertentu. Apakah lebih ditonjolkan aspek wisatanya? Aspek spiritualnya? Atau bisa jadi berimbang. Tidak masalah.

Begitu juga dengan pilihan makemit I atau makemit II. Semua tergantung personal atau kelompok tertentu. Namun, yang jelas pahala (hasil) pengalaman spiritualnya akan dirasakan secara individual dan subjektif. [T]

Tags: Nusa PenidaPariwisataSpiritualtirtayatra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan

Next Post

Kopi Kultura, Hortikultur, dan Sebuah Taman di Halaman Belakang

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Kopi Kultura, Hortikultur, dan Sebuah Taman di Halaman Belakang

Kopi Kultura, Hortikultur, dan Sebuah Taman di Halaman Belakang

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co