23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudah Sampaikah di Tujuan?

Manik Sukadana by Manik Sukadana
February 2, 2021
in Esai
Sudah Sampaikah di Tujuan?

Manik Sukadana/Teater Kalangan

Secara spesifikasi personal, barang kali saya yang paling lemah di antara kawan-kawan di Teater Kalangan. Jika diibaratkan sebuah laptop, saya mungkin masih menggunakan prosesor pentium di kubu biru atau athlon di kubu merah dengan ram 2 gb di mode 32 bit/x86 — spesifikasi yang sangat jadul untuk tahun 2021. Semua itu menjadi semacam pemberi rasa was-was yang selalu terbit.

Dengan demikian, capaian dalam pengembangan diri penting untuk didalami. Ini bukan seperti ekstra pada jenjang sekolah melainkan “pengembangan diri” dalam artian harfiah. Memberikan ruang diri untuk terpilah dan terisi dengan segala hal. Belajar pada tingkat yang paling dasar. Mungkin yang paling dasar, memilih makan, berpakaian, cara tertawa, mengolah rasa, berkomunikasi kepada orang secara pribadi maupun publik. Mengapa semua itu penting? Ya, karena kadang kala orang lain juga menganggap hal-hal kecil itu menjadi dasar pemberian label kepada orang yang dikenalnya, terutama bagi orang yang baru saya kenal. Itu lumrah.

Ok, cukup pembukaannya. Izinkan saya untuk memulai bayangan “pengembangan diri” itu. Bagi saya, tidak ada sikap, konsep, alergi, suka-tidak suka, dan perbuatan yang tidak memiliki asal muasal. Disadari atau tanpa disadari, tiap orang berkenalan dengan ingatan yang terekam pada diri yang akhirnya terus ikut bersamanya. Hal-hal itu seperti teka-teki yang menyenangkan bagi saya pikirkan.

Saya suka penasaran terhadap riwayat sebuah pertemuan, tiap perjalanan orang, pilihan setiap orang terhadap sesuatu. Tidak hanya itu, saya sering juga takjub dengan kesempatan-kesempatan pertemuan dan hadiah yang mereka atau yang saya alami. Siapa yang mengendalikan atau dikendalikan, atau malah menjadi keduanya. Seperti Forrest Gump, tiap kisah orang adalah spesifik dan penuh jalan yang mengarah kepada ruang isian. Tiap perjalanan itu unik dan sangat berarti bagi pribadi masing-masing.

Mengenai jalan, ingatan saya selalu mengarah kepada salah satu bagian dari wawancara Brian Rose dalam London Real-nya bersama Dandapani. Oleh gurunya, Dandapani diberikan pesan bahwa “tidak ada hidup yang lebih baik daripada dapat mengetahui diri senfiri, jalan yang mesti dilalui, dan tujuan akhirnya.” — ini terjemahan bebas ke bahasa Indonesia. Barangkali sedikit klise, tapi hal itu sering terlintas di pikiran saya.   

Apa yang menjadi ukuran atas spesifikasi diri itu? Segala yang hal baik dan tidak baik? Barangkali. Semua itu seperti saling bersinggungan dan saling muncul dan surut. Pada proses kesadaran yang lambat itu, satu per satu hal-hal yang kurang berkenan terbuka dan memperlihatkan diri.

Sebagai orang yang — lebih sering “introvert”, berada pada kerumunan kadang terasa menyulitkan. Kesempatan yang diberikan oleh alam untuk merantau ke Denpasar menjadi langkah penting pada pendobrakan personalitas itu. Semua itu bagi saya adalah berkah. Peta kekurangan atas spesifikasi diri itu pasang-surut. Peta itu mesti diselusuri dan dihapal.

Celakanya, pada usia yang tidak kanak-kanak ini, rasanya memang tidak ada kompromi untuk masih memiliki sifat yang tidak “berkenan” di mata orang banyak. Kepada waktu, kebutuhan dasar, keinginan, kewajiban, cara bersosial dan kepada batas-batas diri. Maka, jalan sepi seperti yang saya bayangkan beberapa tahun lalu sepertinya hanya sebagian kecil dari penelusuran atas pemahaman terhadap diri. Ada lagi pintasan-pintasan lain. Hal itu mirip pada proses menulis dalam diskusi-diskusi dengan teman-teman saya bahwa tiap penulis, tiap dirilah yang berperan besar penting untuk karyanya.

Ketika menjadi pembicara dalam Workshop pada serangkaian Siar Siur Kalangan, saya sadar akan kekurangmahiran dan ketidaksiapan diri berkomunikasi dan menentukan kerja kekaryaan. Pada kesempatan itu saya mulai merumuskan bagaimana sebenarnya saya secara pribadi mengolah input-an menjadi suatu produk tulisan (khusus untuk puisi). Poin penting untuk saya ingat bahwa tiap karya harus ada maksud, harapan, dan asa.

Kembali pada interview dari Dandapani tersebut, dia juga bercerita bahwa “tidak ada perjalanan yang tidak berujung.” Kapankah kita membuka suatu perjalanan tanpa adanya tujuan? Ketika keluar pasti ada yang akan dituju dan dicari: beli es campur di warung tipat tahu, beli deterjen di swalayan, atau pergi ke cafe untuk bertemu seseorang. Jadi maksud, harapan, dan asa bagi saya kini menjadi beberapa muara dalam berkarya.

Hal itu juga menjadi pengingat bahwa tidak ada usaha yang tidak ada tujuannya, tanpa menginginkan hasil. Ya memang bahwa tiap orang harus menelan pengalaman sebanyak-banyaknya tanpa pamrih. Namun, pada tahun tahun ini, saya mencoba memilah segala informasi dan teknik yang selama ini menghantui pikiran.

Pada beberapa tahun terakhir di Teater Kalangan, saya lebih banyak mendapat tugas bagian di luar panggung. Dan saya sadar bahwa sepertinya panggung bukan bagian/isian untuk hidup ini. Saya  bekerja pada porsi bidang-bidang yang berkaitan dengan komputer/digital: teks, visual mapupun audio.

Semua itu ada sebab. Saya memang suka mencoba banyak software komputer. Dari sekian perjalanan itu, banyak hal dari pengunaan keseharian komputer (laptop) yang saya coba pelajari. Tidak sedikit pula yang hanya menjadi selintas lalu atau sekadar tahu saja tanpa adanya tujuan/hasil. Hal itulah pula yang kini menjadi titik singgah masalah.

Maka dari itu, saya mulai menerima ide bahwa perjalanan tanpa tujuan mirip seperti pengetahuan (kumpulan informasi) tanpa produk. Benarkah saya sudah melangkah atau berkembang? Bagi banyak orang, produk adalah indikator penentu capaian itu. Jika benar semuanya berjalan lancar, harusnya sudah ada produk dari informasi-informasi yang sudah dikumpulkan. Hal itu yang kini menjadi dilema: harus ada hasil jadi yang berguna dari pengetahuan itu.

Karya lain yang mesti saya landaskan atas tujuan adalah seri novel. Karya ini memang saya “paksakan” harus dirampungkan selama beberapa tahun yang akan datang. Tanpa saya sadari, novel itu menjadi semacam wadah bahan-bahan percakapan diri yang belum teramu. Dan kadang malahan saya yang belajar dari tokoh-tokoh yang saya ciptakan. 

Apakah karya-karya itu nantinya dapat menjadi tujuan akhir? Bagi saya bisa ya, tidak, di tengah-tengah, atau tidak ketiganya. Mari tunggu 2022 mendatang, untuk melihat hasilnya. Terima kasih. [T]

CATATAN AWAL TAHUN TEATER KALANGAN 2021

Jong Santiasa Putra

Lagi Belajar di Kelas

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekologisme Batur | Menjajaki Awal Mula Peradaban

Next Post

Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Manik Sukadana

Manik Sukadana

Bergaul di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan. Menulis puisi, cerpen dan esai. Kini menjadi desainer di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co