2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudah Sampaikah di Tujuan?

Manik Sukadana by Manik Sukadana
February 2, 2021
in Esai
Sudah Sampaikah di Tujuan?

Manik Sukadana/Teater Kalangan

Secara spesifikasi personal, barang kali saya yang paling lemah di antara kawan-kawan di Teater Kalangan. Jika diibaratkan sebuah laptop, saya mungkin masih menggunakan prosesor pentium di kubu biru atau athlon di kubu merah dengan ram 2 gb di mode 32 bit/x86 — spesifikasi yang sangat jadul untuk tahun 2021. Semua itu menjadi semacam pemberi rasa was-was yang selalu terbit.

Dengan demikian, capaian dalam pengembangan diri penting untuk didalami. Ini bukan seperti ekstra pada jenjang sekolah melainkan “pengembangan diri” dalam artian harfiah. Memberikan ruang diri untuk terpilah dan terisi dengan segala hal. Belajar pada tingkat yang paling dasar. Mungkin yang paling dasar, memilih makan, berpakaian, cara tertawa, mengolah rasa, berkomunikasi kepada orang secara pribadi maupun publik. Mengapa semua itu penting? Ya, karena kadang kala orang lain juga menganggap hal-hal kecil itu menjadi dasar pemberian label kepada orang yang dikenalnya, terutama bagi orang yang baru saya kenal. Itu lumrah.

Ok, cukup pembukaannya. Izinkan saya untuk memulai bayangan “pengembangan diri” itu. Bagi saya, tidak ada sikap, konsep, alergi, suka-tidak suka, dan perbuatan yang tidak memiliki asal muasal. Disadari atau tanpa disadari, tiap orang berkenalan dengan ingatan yang terekam pada diri yang akhirnya terus ikut bersamanya. Hal-hal itu seperti teka-teki yang menyenangkan bagi saya pikirkan.

Saya suka penasaran terhadap riwayat sebuah pertemuan, tiap perjalanan orang, pilihan setiap orang terhadap sesuatu. Tidak hanya itu, saya sering juga takjub dengan kesempatan-kesempatan pertemuan dan hadiah yang mereka atau yang saya alami. Siapa yang mengendalikan atau dikendalikan, atau malah menjadi keduanya. Seperti Forrest Gump, tiap kisah orang adalah spesifik dan penuh jalan yang mengarah kepada ruang isian. Tiap perjalanan itu unik dan sangat berarti bagi pribadi masing-masing.

Mengenai jalan, ingatan saya selalu mengarah kepada salah satu bagian dari wawancara Brian Rose dalam London Real-nya bersama Dandapani. Oleh gurunya, Dandapani diberikan pesan bahwa “tidak ada hidup yang lebih baik daripada dapat mengetahui diri senfiri, jalan yang mesti dilalui, dan tujuan akhirnya.” — ini terjemahan bebas ke bahasa Indonesia. Barangkali sedikit klise, tapi hal itu sering terlintas di pikiran saya.   

Apa yang menjadi ukuran atas spesifikasi diri itu? Segala yang hal baik dan tidak baik? Barangkali. Semua itu seperti saling bersinggungan dan saling muncul dan surut. Pada proses kesadaran yang lambat itu, satu per satu hal-hal yang kurang berkenan terbuka dan memperlihatkan diri.

Sebagai orang yang — lebih sering “introvert”, berada pada kerumunan kadang terasa menyulitkan. Kesempatan yang diberikan oleh alam untuk merantau ke Denpasar menjadi langkah penting pada pendobrakan personalitas itu. Semua itu bagi saya adalah berkah. Peta kekurangan atas spesifikasi diri itu pasang-surut. Peta itu mesti diselusuri dan dihapal.

Celakanya, pada usia yang tidak kanak-kanak ini, rasanya memang tidak ada kompromi untuk masih memiliki sifat yang tidak “berkenan” di mata orang banyak. Kepada waktu, kebutuhan dasar, keinginan, kewajiban, cara bersosial dan kepada batas-batas diri. Maka, jalan sepi seperti yang saya bayangkan beberapa tahun lalu sepertinya hanya sebagian kecil dari penelusuran atas pemahaman terhadap diri. Ada lagi pintasan-pintasan lain. Hal itu mirip pada proses menulis dalam diskusi-diskusi dengan teman-teman saya bahwa tiap penulis, tiap dirilah yang berperan besar penting untuk karyanya.

Ketika menjadi pembicara dalam Workshop pada serangkaian Siar Siur Kalangan, saya sadar akan kekurangmahiran dan ketidaksiapan diri berkomunikasi dan menentukan kerja kekaryaan. Pada kesempatan itu saya mulai merumuskan bagaimana sebenarnya saya secara pribadi mengolah input-an menjadi suatu produk tulisan (khusus untuk puisi). Poin penting untuk saya ingat bahwa tiap karya harus ada maksud, harapan, dan asa.

Kembali pada interview dari Dandapani tersebut, dia juga bercerita bahwa “tidak ada perjalanan yang tidak berujung.” Kapankah kita membuka suatu perjalanan tanpa adanya tujuan? Ketika keluar pasti ada yang akan dituju dan dicari: beli es campur di warung tipat tahu, beli deterjen di swalayan, atau pergi ke cafe untuk bertemu seseorang. Jadi maksud, harapan, dan asa bagi saya kini menjadi beberapa muara dalam berkarya.

Hal itu juga menjadi pengingat bahwa tidak ada usaha yang tidak ada tujuannya, tanpa menginginkan hasil. Ya memang bahwa tiap orang harus menelan pengalaman sebanyak-banyaknya tanpa pamrih. Namun, pada tahun tahun ini, saya mencoba memilah segala informasi dan teknik yang selama ini menghantui pikiran.

Pada beberapa tahun terakhir di Teater Kalangan, saya lebih banyak mendapat tugas bagian di luar panggung. Dan saya sadar bahwa sepertinya panggung bukan bagian/isian untuk hidup ini. Saya  bekerja pada porsi bidang-bidang yang berkaitan dengan komputer/digital: teks, visual mapupun audio.

Semua itu ada sebab. Saya memang suka mencoba banyak software komputer. Dari sekian perjalanan itu, banyak hal dari pengunaan keseharian komputer (laptop) yang saya coba pelajari. Tidak sedikit pula yang hanya menjadi selintas lalu atau sekadar tahu saja tanpa adanya tujuan/hasil. Hal itulah pula yang kini menjadi titik singgah masalah.

Maka dari itu, saya mulai menerima ide bahwa perjalanan tanpa tujuan mirip seperti pengetahuan (kumpulan informasi) tanpa produk. Benarkah saya sudah melangkah atau berkembang? Bagi banyak orang, produk adalah indikator penentu capaian itu. Jika benar semuanya berjalan lancar, harusnya sudah ada produk dari informasi-informasi yang sudah dikumpulkan. Hal itu yang kini menjadi dilema: harus ada hasil jadi yang berguna dari pengetahuan itu.

Karya lain yang mesti saya landaskan atas tujuan adalah seri novel. Karya ini memang saya “paksakan” harus dirampungkan selama beberapa tahun yang akan datang. Tanpa saya sadari, novel itu menjadi semacam wadah bahan-bahan percakapan diri yang belum teramu. Dan kadang malahan saya yang belajar dari tokoh-tokoh yang saya ciptakan. 

Apakah karya-karya itu nantinya dapat menjadi tujuan akhir? Bagi saya bisa ya, tidak, di tengah-tengah, atau tidak ketiganya. Mari tunggu 2022 mendatang, untuk melihat hasilnya. Terima kasih. [T]

CATATAN AWAL TAHUN TEATER KALANGAN 2021

Jong Santiasa Putra

Lagi Belajar di Kelas

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekologisme Batur | Menjajaki Awal Mula Peradaban

Next Post

Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Manik Sukadana

Manik Sukadana

Bergaul di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan. Menulis puisi, cerpen dan esai. Kini menjadi desainer di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co