24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudah Sampaikah di Tujuan?

Manik Sukadana by Manik Sukadana
February 2, 2021
in Esai
Sudah Sampaikah di Tujuan?

Manik Sukadana/Teater Kalangan

Secara spesifikasi personal, barang kali saya yang paling lemah di antara kawan-kawan di Teater Kalangan. Jika diibaratkan sebuah laptop, saya mungkin masih menggunakan prosesor pentium di kubu biru atau athlon di kubu merah dengan ram 2 gb di mode 32 bit/x86 — spesifikasi yang sangat jadul untuk tahun 2021. Semua itu menjadi semacam pemberi rasa was-was yang selalu terbit.

Dengan demikian, capaian dalam pengembangan diri penting untuk didalami. Ini bukan seperti ekstra pada jenjang sekolah melainkan “pengembangan diri” dalam artian harfiah. Memberikan ruang diri untuk terpilah dan terisi dengan segala hal. Belajar pada tingkat yang paling dasar. Mungkin yang paling dasar, memilih makan, berpakaian, cara tertawa, mengolah rasa, berkomunikasi kepada orang secara pribadi maupun publik. Mengapa semua itu penting? Ya, karena kadang kala orang lain juga menganggap hal-hal kecil itu menjadi dasar pemberian label kepada orang yang dikenalnya, terutama bagi orang yang baru saya kenal. Itu lumrah.

Ok, cukup pembukaannya. Izinkan saya untuk memulai bayangan “pengembangan diri” itu. Bagi saya, tidak ada sikap, konsep, alergi, suka-tidak suka, dan perbuatan yang tidak memiliki asal muasal. Disadari atau tanpa disadari, tiap orang berkenalan dengan ingatan yang terekam pada diri yang akhirnya terus ikut bersamanya. Hal-hal itu seperti teka-teki yang menyenangkan bagi saya pikirkan.

Saya suka penasaran terhadap riwayat sebuah pertemuan, tiap perjalanan orang, pilihan setiap orang terhadap sesuatu. Tidak hanya itu, saya sering juga takjub dengan kesempatan-kesempatan pertemuan dan hadiah yang mereka atau yang saya alami. Siapa yang mengendalikan atau dikendalikan, atau malah menjadi keduanya. Seperti Forrest Gump, tiap kisah orang adalah spesifik dan penuh jalan yang mengarah kepada ruang isian. Tiap perjalanan itu unik dan sangat berarti bagi pribadi masing-masing.

Mengenai jalan, ingatan saya selalu mengarah kepada salah satu bagian dari wawancara Brian Rose dalam London Real-nya bersama Dandapani. Oleh gurunya, Dandapani diberikan pesan bahwa “tidak ada hidup yang lebih baik daripada dapat mengetahui diri senfiri, jalan yang mesti dilalui, dan tujuan akhirnya.” — ini terjemahan bebas ke bahasa Indonesia. Barangkali sedikit klise, tapi hal itu sering terlintas di pikiran saya.   

Apa yang menjadi ukuran atas spesifikasi diri itu? Segala yang hal baik dan tidak baik? Barangkali. Semua itu seperti saling bersinggungan dan saling muncul dan surut. Pada proses kesadaran yang lambat itu, satu per satu hal-hal yang kurang berkenan terbuka dan memperlihatkan diri.

Sebagai orang yang — lebih sering “introvert”, berada pada kerumunan kadang terasa menyulitkan. Kesempatan yang diberikan oleh alam untuk merantau ke Denpasar menjadi langkah penting pada pendobrakan personalitas itu. Semua itu bagi saya adalah berkah. Peta kekurangan atas spesifikasi diri itu pasang-surut. Peta itu mesti diselusuri dan dihapal.

Celakanya, pada usia yang tidak kanak-kanak ini, rasanya memang tidak ada kompromi untuk masih memiliki sifat yang tidak “berkenan” di mata orang banyak. Kepada waktu, kebutuhan dasar, keinginan, kewajiban, cara bersosial dan kepada batas-batas diri. Maka, jalan sepi seperti yang saya bayangkan beberapa tahun lalu sepertinya hanya sebagian kecil dari penelusuran atas pemahaman terhadap diri. Ada lagi pintasan-pintasan lain. Hal itu mirip pada proses menulis dalam diskusi-diskusi dengan teman-teman saya bahwa tiap penulis, tiap dirilah yang berperan besar penting untuk karyanya.

Ketika menjadi pembicara dalam Workshop pada serangkaian Siar Siur Kalangan, saya sadar akan kekurangmahiran dan ketidaksiapan diri berkomunikasi dan menentukan kerja kekaryaan. Pada kesempatan itu saya mulai merumuskan bagaimana sebenarnya saya secara pribadi mengolah input-an menjadi suatu produk tulisan (khusus untuk puisi). Poin penting untuk saya ingat bahwa tiap karya harus ada maksud, harapan, dan asa.

Kembali pada interview dari Dandapani tersebut, dia juga bercerita bahwa “tidak ada perjalanan yang tidak berujung.” Kapankah kita membuka suatu perjalanan tanpa adanya tujuan? Ketika keluar pasti ada yang akan dituju dan dicari: beli es campur di warung tipat tahu, beli deterjen di swalayan, atau pergi ke cafe untuk bertemu seseorang. Jadi maksud, harapan, dan asa bagi saya kini menjadi beberapa muara dalam berkarya.

Hal itu juga menjadi pengingat bahwa tidak ada usaha yang tidak ada tujuannya, tanpa menginginkan hasil. Ya memang bahwa tiap orang harus menelan pengalaman sebanyak-banyaknya tanpa pamrih. Namun, pada tahun tahun ini, saya mencoba memilah segala informasi dan teknik yang selama ini menghantui pikiran.

Pada beberapa tahun terakhir di Teater Kalangan, saya lebih banyak mendapat tugas bagian di luar panggung. Dan saya sadar bahwa sepertinya panggung bukan bagian/isian untuk hidup ini. Saya  bekerja pada porsi bidang-bidang yang berkaitan dengan komputer/digital: teks, visual mapupun audio.

Semua itu ada sebab. Saya memang suka mencoba banyak software komputer. Dari sekian perjalanan itu, banyak hal dari pengunaan keseharian komputer (laptop) yang saya coba pelajari. Tidak sedikit pula yang hanya menjadi selintas lalu atau sekadar tahu saja tanpa adanya tujuan/hasil. Hal itulah pula yang kini menjadi titik singgah masalah.

Maka dari itu, saya mulai menerima ide bahwa perjalanan tanpa tujuan mirip seperti pengetahuan (kumpulan informasi) tanpa produk. Benarkah saya sudah melangkah atau berkembang? Bagi banyak orang, produk adalah indikator penentu capaian itu. Jika benar semuanya berjalan lancar, harusnya sudah ada produk dari informasi-informasi yang sudah dikumpulkan. Hal itu yang kini menjadi dilema: harus ada hasil jadi yang berguna dari pengetahuan itu.

Karya lain yang mesti saya landaskan atas tujuan adalah seri novel. Karya ini memang saya “paksakan” harus dirampungkan selama beberapa tahun yang akan datang. Tanpa saya sadari, novel itu menjadi semacam wadah bahan-bahan percakapan diri yang belum teramu. Dan kadang malahan saya yang belajar dari tokoh-tokoh yang saya ciptakan. 

Apakah karya-karya itu nantinya dapat menjadi tujuan akhir? Bagi saya bisa ya, tidak, di tengah-tengah, atau tidak ketiganya. Mari tunggu 2022 mendatang, untuk melihat hasilnya. Terima kasih. [T]

CATATAN AWAL TAHUN TEATER KALANGAN 2021

Jong Santiasa Putra

Lagi Belajar di Kelas

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekologisme Batur | Menjajaki Awal Mula Peradaban

Next Post

Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Manik Sukadana

Manik Sukadana

Bergaul di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan. Menulis puisi, cerpen dan esai. Kini menjadi desainer di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co