2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Jaswanto by Jaswanto
February 2, 2021
in Khas
Ada Sampah Plastik, Ada Kepedulian, Terciptalah Kaki Palsu dari Sampah Plastik

Made Sumanasa belajar berjalan menggunakan kaki palsu dari bahan sampah plastik

Kita mulai cerita ini dari Made Sumanasa (50), warga Kubutambahan, Buleleng, Bali. Oleh sebab yang tak diinginkannya, ia terpaksa menggunakan kaki palsu. Dan kaki palsu yang digunakannya bisa disebut sesuatu yang mengagumkan. Sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin jauh lebih mengagumkan daripada kaki Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi saat mencetak gol. Sesuatu yang lebih spektakuler daripada kaki iblisnya (diable jamble) Sanji dalam serial manga One Piece karya Eiichiro Oda.

Kaki palsu mungkin masih terdengar biasa. Tapi kaki palsu yang dikenakannya terbuat dari sampah plastik, bukan terbuat dari resin, fiber, atau katalis. Kaki palsu ini ia dapatkan dari Yayasan Kaki Kita Sukasada (YKKS).

Nah, proses panjang penciptaan kaki palsu ini — mulai dari niat baik untuk menciptakan hingga produksi berkualitas tinggi yang dihasilkannya – memang mengagumkan.

Untuk membuat satu kaki palsu, YKKS membutuhkan dua kilogram sampah palstik yang sudah dicacah. Sampah plastik yang dipakai pun tak sembarangan karena hanya botol plastik saja yang bisa digunakan.

YKKS merancang kaki palsu dari botol plastik itu disebabkan karena selama ini kaki palsu memiliki kisaran harga yang cukup mahal, sementara kebutuhan terhadap kaki palsu terbilang banyak. Di sisi lain, banyak penyandang disabilitas di Buleleng masih dalam usia produktif.

“Kami melihat di mana penyandang disabilitas kencing manis (diabetes) di Buleleng sebagian besar dengan ekonomi menengah. Sehingga hati kami terdorong untuk membantu mereka,” tutur I Made Aditiasthana, pendiri Yayasan Kaki Kita Sukasada.

Tentang kaki palsu yang digunakan Made Sumanasa punya riwayat yang cukup panjang. Lelaki itu awalnya menderita luka pada kaki karena diabetes. Aditiasthana-lah yang merawat Sumanasa sejak awal. Ketika masuk, dokter menyarankan amputasi. Sumanasa menolak dan stress. Tapi Aditiasthana berhasil membuat lelaki itu tenang dan paham.

Sumanasa pun bersedia kakinya dipotong. Dan Aditiasthana memberinya kaki palsu secara gratis. Kaki itu dipakai hingga sekarang, dan lelaki dari Kubutambahan itu pun bisa berjalan ke mana-mana seperti manusia lain.

I Made Aditiasthana, foto paling kanan

Bermula dari Kepedulian

Yayasan yang sudah berdiri sejak 2019 ini membandrol kaki palsu dari sampah plastik ini seharga 1 hingga 1,5 juta rupiah per buahnya. Harga ini masih lebih murah dibandingkan kaki palsu fiber-resin yang mencapai 6 juta rupiah bahkan lebih. Namun, khusus penyandang disabilitas yang tak mampu membelinya, yayasan akan memberikannya secara cuma-cuma⸺atau gratis, tanpa biaya sepeser pun.

“Pembuatan alat sekitar satu bulan, setelah itu kami akan masuk pada proses eksperimen karena produk ini sudah pernah ada yang buat di NTB, tapi tidak booming,” imbuhnya.

Penggunaan metode daur ulang limbah plastik untuk kaki palsu ini sebenarnya sudah mulai sejak 2004. Tetapi baru menemukan  momentumnya pada 2019 saat Yayasan Kaki Kita Sukasada resmi didirikan⸺dan berbadan hukum.

Seperti yang sudah disinggung di atas bahwa, pengolahan sampah plastik untuk kaki palsu ini berawal dari rasa kepedulian Adit terhadap penderita diabetes yang kakinya sampai diamputasi. Berdasarkan data dari Seksi Pelayanan Kesehatan Primer Kabupaten Buleleng, pada tahun 2018 penderita diabetes militus di Buleleng mencapai 4.493. Sedangkan pada tahun 2019 mengalami kenaikan hingga 15.399 penderita diabetes militus. Hal ini menjadikan penyakit tidak menular ini berada di urutan ketiga setelah hipertensi primer di urutan pertama dan ISPA di urutan kedua dari sepuluh besar Penyakit Kabupaten Buleleng.

Masyarakat penderita diabetes jika terluka pada bagian kaki, biasanya akan berujung pada amputasi. Mau tidak mau, bagi mereka yang kakinya diamputasi pasti memerlukan kaki palsu. Sedangkan harga kaki palsu di Tokopedia, misalnya, tak ada yang di bawah 2 juta. Seorang dokter spesialis fisik dan rehabilitasi Prof. Dr. dr Angela BM Tulaar, SpKFR(K) juga mengatakan bahwa harga kaki palsu atau prostetik sekitar 2 jutaan (detikhealth, 2019). “Tentu hal ini sangat memberatkan pasien penderita amputasi (khususnya diabet) yang kebanyakan berada di kelas menengah ke bawah,” ujar Adit.

Berawal dari masalah inilah Adit bersama seorang rekannya, Beni Ariadi⸺sang pembuat kaki palsu, sedangkan Adit hanya mengonsep⸺akhirnya fokus pada pembuatan kaki palsu dari sampah botol plastik.

Karena merasa memiliki visi-misi sama, yaitu rasa kepedulian, mereka berdua pada Oktober 2019 mendirikan Yayasan Kaki Kita Sukasada. Tak hanya memiliki program pembuatan kaki palsu saja, yayasan yang berlokasi di Jl. Pratu Mas No 7 ini, juga memiliki program perawatan untuk pasien kencing manis yang tidak mampu dan pemberdayaan penyandang difabel.

Belajar Peduli pada Aditiasthana

Di Pakistan kita mengenal sosok Abdul Sattar Edhi, pekerja sosial yang wafat 8 Juli 2016 lalu., yang  yang memulai kerja-kerja sosialnya dengan membuka toko obat kecil di samping rumahnya, yang meawarkan obat-obatan sederhana, berapa pun bayarannya. Tempat itu kini masih menjadi rumahnya, yang ditinggali juga oleh istri dan empat anaknya. “Saya kira itu kewajiban saya sebagai manusia,” kata Edhi mengenang langkah-langkah awalnya dulu. “Saya dapat pastikan bahwa pemerintah kami tidak akan mengurusi layanan-layanan sosial seperti itu.

Pada 1957, dia mendirikan Yayasan Edhi untuk menerima donasi dalam rangka membangun tenda-tenda rumah sakit bagi korban flu Hong Kong yang mengancam kala itu. Dari seorang pengusaha, dia memperoleh dana untuk membeli mobil ambulan yang dibawanya sendiri untuk menjemput orang-orang sakit. “Itulah pertama kalinya saya memperoleh kepercayaan yang bersar,” katanya.

Pada 1965, Edhi menikahi Bilquis Bano, seorang perawat di satu klinik miliknya. Dinahkodai Biquis, Yayasan Edhi lalu membangun rumah bersalin gratis dan membantu proses adopsi anak-anak yatim atau bayi-bayi “terbengkalai”. Mereka menyiapkan keranjang bayi di banyak tempat untuk siapa saja yang tak menghendaki bayinya. Mereka juga mengumumkan nomor telepon yang bisa dihubungi untuk tujuan yang sama, tanpa minta keterangan siapa sang ibu atau lainnya. Di samping kantornya ada ayunan bayi dan tulisan: “Jangan Bunuh Anakmu.”

Salah satu periode paling mengerikan bagi Edhi dan Balquis adalah perang 1965 antara India dan Pakistan, ketika Karachi dibom. Selain merawat mereka yang terluka dan sekarat, keduanya harus memandikan 45 mayat (Edhi yang laki-laki, Bilquis perempuan) dan menyiapkan pemakaman mereka. Dalam memoarnya, A Mirror to the Blind (1996), Edhi terang-terangan mengecam mereka yang merasa jijik dan terlalu suci untuk menyentuh tubuh orang-orang mati.

Pemerintah Pakistan wajib malu kepada Edhi dan yayasannya, karena yayasan itu kini merupakan organisasi layanan sosial terbesar di negara itu. Sejak didirikan, yayasan itu telah menampung sekitar 20.000 bayi yang ditelantarkan, merawat sekitar 50.000 anak yatim, dan melatih lebih dari 40.000 perawat. Dan yang paling Edhi kagumi: jumlah armada ambulansnya kini terbesar yang dijalankan organisasi non-pemerintah di dunia. Jika Anda ke Pakistan dan sekarat tanpa sejawat sama sekali, telpon saja Yayasan Edhi!

Tetapi ini bukan tentang Edhi. Ini tentang I Made Aditiasthana, sosok di balik terciptanya kaki palsu dari sampah plastik untuk para penderita diabetes yang kakinya sampai diamputasi. Adit (panggilan akrabnya), menyulap sampah plastik menjadi sesuatu yang luar biasa⸺dan tak terduga. Adit memang bukan Abdul Sattar Edhi, tapi apa yang dilakukannya sepertinya sama.. Seperti kata Edhi, “Saya kira itu kewajiban saya sebagai manusia.” Adit memiliki YKKS, Edhi memiliki Yayasan Edhi.

Kepedulian Adit seperti narasi Injil Lukas tentang orang Samaria yang murah hati (Luk. 10: 25-27). Seperti dikisahkan Yesus, orang Samaria memiliki sikap peduli terhadap sesama yang menderita. Sikap keberpihakan yang ditunjukan oleh orang Samaria ini amat berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh seorang imam dan seorang Lewi. Imam dan Lewi mengabaikan begitu saja orang yang sedang menderita di pinggir jalan. Mereka mengabaikan realitas penderitaan yang ada di hadapan mereka. Mereka lebih mementingkan ego pribadinya dan mengambil jalan untuk menghindar dan membiarkan sang korban yang tergeletak, bergulat dan bergelut dengan penderitaannya sendiri.

Tentu saja, Adit dengan YKKS-nya bukan termasuk orang yang ‘neurosis’ (suatu kondisi di mana orang berusaha melarikan diri dari dirinya sendiri) seperti kata Fritz Perls. Orang neurosis mengorbankan diri mereka sendiri untuk mengembangkan dirinya. Akibatnya, mereka merasa hampa, kering, dan tidak bermakna. Sedangkan YKKS tidak. YKKS berani untuk menjadi diri sendiri⸺karena itulah sumber kebahagiaan.

Seperti halnya Yayasan Edhi di Pakistan, YKKS yang didirikan Adit juga dikenal imparsial, tidak memihak kelompok mana pun. Mereka melayani semua orang tanpa pandang bulu, tanpa mendahulukan yang Hindu maupun yang Muslim, atau agama lainnya. Barangkali, bagi Adit maupun Edhi, agama mereka adalah mengabdi kepada kemanusiaan dan percaya bahwa semua agama di dunia punya dasar-dasar kepercayaan.

Pada diri Adit, kita menyaksikan contoh bagaimana agama yang benar, yang merupakan rahmat bagi siapa pun, dijalankan dengan baik. Dengan sendirinya tanpa pamrih dan kesombongan. Terima kasih, Adit. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sudah Sampaikah di Tujuan?

Next Post

5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng || Akibat Pandemi, Yang Nomor 4 Berubah

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng || Akibat Pandemi, Yang Nomor 4 Berubah

5 Hal Unik Pagerwesi di Buleleng || Akibat Pandemi, Yang Nomor 4 Berubah

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co