2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekologisme Batur | Menjajaki Awal Mula Peradaban

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 2, 2021
in Ulasan
Ekologisme Batur | Menjajaki Awal Mula Peradaban

Buku Ekologisme Batur

Akan selalu menarik buat saya ketika “terjebak” dalam diskusi yang membicarakan soal Bali. Iya, Bali merupakan pulau kecil diapit dua pulau serta luasnya lautan dengan berbagai daya tariknya yang orang-orang sebut sebagai tradisi dan budaya. Meski kecil, Bali sangat kaya akan local genius yang menarik untuk dikuliti satu persatu—bisa jadi setelah menguliti tradisi dan budaya akan muncul kesimpulan yang (mungkin) sejatinya sudah ditinggalkan sejak lama. Dan wacana ini yang akhirnya saya temukan dalam sebuah buku berjudul “Ekologisme Batur”— layaknya girangnya Monkey D. Luffy yang menemukan harta karun One Piece, seperti itulah girangnya saya melihat wacana-wacana tandingan yang disuguhkan oleh penulis.

Ekologisme Batur yang lahir akhir tahun 2020 (Desember 2020) diterbitkan oleh Penerbit Mahima—penerbit yang bermarkas di Bali Utara. Buku ini merupakan kumpulan dari 18 essai yang ditulis oleh IK Eriadi Ariana atau Jero Penyarikan Duuran Batur. Pilihan untuk menjadikan lukisan dari Nengah Sujena yang bertajuk Filosofi Menanam menjadi pilihan yang tepat untuk menggambarkan isi dari substansi yang dibawakan oleh penulis melalui “Ekologisme Batur”.

Saya yang kebetulan berada dalam satu generasi bersama Jero sedikit banyaknya merasakan keresahan yang serupa. Resah akan kelestarian alam, pemahaman makna dari berbagai ritus, serta kehidupan masyarakat yang dengan massif bergeser dari tempatnya. Bedanya, saya lebih tertarik ke arah sosial politik, sedangkan Jero lebih kepada tradisi, adat dan budaya.

Melalui Ekologisme Batur, penulis berhasil mentransformasikan berbagai informasi ke imaji pembaca. Bukan sembarang informasi, informasi yang ditampilkan berupa data prasasti, teks-teks kuno, sampai ingatan-ingatan masa lalu leluhur yang umumnya sulit dicerna oleh orang awam seperti saya. Keberhasilan ini tentu memudahkan pembaca dalam memahami maksud dari penulis, berhasil pula dalam memahami keresahan dari penulis.

Setelah membaca Ekologisme Batur (meski hanya sekali), saya merasa diajak untuk mengenal berbagai kebiasaan, ritus, juga sejarah dari komunitas adat tempat penulis tinggal. Peradaban pegunungan yang berdasarkan teks-teks kuno juga dikatakan sebagai awal mula peradaban manusia Bali. Dituliskan dalam essai yang berjudul “Sarjana Pertama” (hal. 114) Bhatara Brahma ditugaskan untuk menciptakan manusia utama dan ia memilih melakukan tugasnya di Kawasan Tampurhyang (Kawasan Kintamani kini). Tentu ada alasan kenapa Kawasan ini dipilih untuk mencipta manusia utama sebagai penerima ajaran Weda. Apakah Kawasan Tampurhyang memiliki nilai-nilai luhur soal peradaban dan pendidikan? Silakan baca sendiri.

Selain berhasil menggambarkan bahwa kawasan Kintamani merupakan kawasan penting peradaban Bali—juga disebutkan bahwa Kintamani merupakan yang sejak dulu dikenal sebagai pusat pengembangan pendidikan. Keberadaan Pasraman Widya Sinarata menjadi bukti sejarah bahwa pendidikan menjadi yang utama, khususnya dalam menurunkan informasi terkait tradisi dan budaya. Pendidikan yang berlangsung selama 6 bulan penuh dengan peserta didik kisaran siswa SD sampai SMP ini mengisyaratkan bahwa pendidikan—pengetahuan tradisi dan budaya wajib ditanamkan sejak usia dini. Jikalau tidak, putusnya informasi terkait esensi pelaksanaan tradisi dan budaya akan membayangi generas-generasi berikutnya.

Seperti yang saya katakan di awal tadi, menariknya buku ini karena terdapat berbagai wacana tandingan untuk berbagai cerita bahkan kepercayaan yang sudah dianggap final di tengah masyarakat Bali. Wacana tandingan tersebut bisa kalian temukan pada 5 essai yang masing-masing berjudul Jejak Persahabatan Purba (hal. 30), Ruang Berkumpul “Sekala-Niskala” (hal. 37), Mayadenawa dan Narasi Air dari Hulu ke Hilir (hal. 75), Mayadenawa Tattwa (hal. 84), dan Dari Balik Taring Mayadenawa (hal. 90). Bagaimana penulis mempertanyakan tren tetua-tetua hari ini yang seakan doyan dengan penyeragaman konsep desa adat dan Tri Kahyangan. Lalu bagaimana penulis mempertanyakan kembali entitas sesungguhnya yang dipuja pada Pura Desa. Serta bagaimana cerita Mayadenawa yang beredar luas di masyarakat berhasil menciptakan tafsir tunggal seakan tidak mengizinkan tafsir lain untuk menggugat tafsir final tersebut. Penulis mampu mengajak untuk menangguhkan kembali tafsir-tafsir tunggal yang sudah beredar di masyarakat. “Menyerang” tafsir tunggal dengan berbagai pertanyaan, dibarengi pula dengan memaparkan berbagai kemungkinan yang sesungguhnya bisa terjadi.

Berhasil Menimbulkan Pertanyaan Baru

Tentu banyak informasi yang berhasil saya rengkuh dari membaca Ekologisme Batur. Kalau kata seorang kawan, membaca Ekologisme Batur sama saja dengan berkenalan kepada penulisnya—Jero Penyarikan Duuran Batur. Namun, berbagai pertanyaan berhasil muncul secara bergantian dalam pikiran saya pasca membaca Ekologisme Batur. Sebelum masuk ke substansi pertanyaan yang ingin saya kemukakan, tentu penulis harus kembali menyempurnakan beberapa kesalahan ketik dan juga beberapa kalimat yang ‘rasanya’ agak sulit dimengerti oleh pembaca (terutama buat saya).

Pertanyaan muncul setelah saya membaca essai yang berjudul “Dua Gadis Suci Penjaga Titik Suci”. Dalam essai ini dihadirkan penjelasan soal struktur Dane Sareng Nem yang merupakan ujung tombak pemerintahan adat di Desa Batur. Dalam struktur ini terdapat dua sosok yang dipercaya untuk memimpin segala bentuk upacara di Desa Batur, mereka adalah Jero Balian Mekalihan. Seperti yang juga sudah dijelaskan oleh penulis bahwa Jero yang mengemban tugas terpilih melalui upacara Nyanjan. Sebuah ritus yang agaknya sulit dijelaskan secara ilmiah atau logika. Pertanyaan yang muncul dalam kepala saya adalah mengapa Jero Balian Mekalihan harus mengorbankan Grehasta Asrama demi melayani umat? Apakah dengan mengorbankan masa Grehasta sosok Jero Balian Mekalihan dianggap suci? Rasanya ada penjelasan yang lebih komperehensif kenapa hal ini dipercaya dan dijalani oleh komunitas adat Batur.

Sebagai “Juru Bicara” dan juga putra daerah, tentu Jero Penyarikan Duuran Batur bisa memberikan jawaban atas pertanyaan sekaligus keresahan yang saya rasakan setelah membaca Ekologisme Batur. Anggap saja ini sebagai tanggung jawabmu sebagai penulis ya Jero, hehe. [T]


BACA ULASAN BUKU LAIN DARI TEDDY

BACA ULASAN LAIN BUKU “EKOLOGISME BATUR”

Buku Ekologisme Batur

Ekologisme Batur | Kenakalan Berpikir Jero Penyarikan Duuran Batur

Tags: BaturBukuresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya Prasi

Next Post

Sudah Sampaikah di Tujuan?

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Sudah Sampaikah di Tujuan?

Sudah Sampaikah di Tujuan?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co