14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagi Belajar di Kelas

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 1, 2021
in Esai
Lagi Belajar di Kelas

Jong Santiasa Putra

Teeeeeet…teeeeeet….teeeeeet……teeeeeeet……teeeeeeet …..

(maaf pembaca, sekiranya beginilah bunyi bel sekolah saya dulu)

Bel berbunyi, tanda kami semua harus masuk kelas. Kami memilih tempat duduk kesukaan, saya tentu saja dekat jendela agar bisa melihat hal-hal yang terjadi di luar. Suma duduk di pojok belakang, dia suka mencatat tapi tidak suka berhadapan dengan guru, lain dengan Dedek Surya, yang paling rajin di antara kami, duduk di depan, tepat berhadapan dengan meja guru.

Iin dan Devy satu bangku (harus satu bangku) sebab mereka berdualah yang sering mengurus kami, jika sedang menjalankan suatu peristiwa produksi, mereka berdekatan agar mudah diskusi. Jecko masih sendiri memainkan tangannya di atas meja, sambil menunggu Agus yang kita tahu semua, pasti ketiduran dan lupa bangun pagi. Agus suka tidur mendekati pagi. Aguk sedang duduk sambil memainkan gadgetnya, nyecrolin jualan sepatu yang lagi diskon di awal tahun, dan Manik sedang asik di depan laptop, belajar teknik editing termuktahir zaman ini.

Guru itu masuk kelas

“Selamat pagi, apakah pagi selalu mendahului, sebelum kopi itu kami hidangkan?” kami bersembilan mengucapkan salam, sembari menunjuk segelas kopi di meja guru yang tengah mengepulkan asap.

“Terimakasih, ini buatan siapa?” tanya Guru itu

“Saya!” Manik angkat tangan

“Waaaah, kopi hitam tanpa gula, dicampur waktu yang bersembunyi di balik daun dadap ya, Nik?”

“Kira kira begitu, Guru!”

Seseorang masuk kelas, tergesa-gesa, sambil meminta maaf kepada Guru itu. Ia menjelaskan keterlambatannya karena mampir ke Dapur Prima, membeli kado untuk pacarnya. Di tangannya ia membawa bungkusan warna-warni, dari tempat ku duduk tampak kado itu dihiasi sepucuk bunga berwarna merah di bagian atasnya.

Yup, itu Agus.

“Aiiiiih Gus, masih saja kau itu membeli kado, realistis sedikitlah, itu hanya kesenangan yang tercecer di jalan-jalan lalu pulang terlupakan,” kata Suma setengah berteriak di bangku belakang, sembari mengorat-ngoret catatan di buku saku kesayangannya.

Kemudian Guru itu memulai pelajarannya, Biologi. Mengenai macam-macam bunga yang tumbuh di halaman sekolah, daun-daun yang bisa digunakan sebagai obat, serta tentang bagaimana tumbuhan hidup dan mempertahankan dirinya di alam liar. Guru itu panjang lebar menjelaskan bagaimana manusia sejatinya memiliki ego yang tinggi dalam mendomestifikasikan binatang dan tumbuhan.

Sebut saja Monstera yang belakangan ini ngetop di kalangan anak muda kita, akibat Pandemi, jenis tanaman ini menjadi primadona sebagai hobi yang cukup mahal. Monstera yang awalnya hidup di hutan, lalu karena keinginan manusia agar tumbuhan itu ada di rumahnya, di bawa pulang lah, lalu dikembangbiakan, bahkan disilangkan melalui berbagai eksperimen.

“Guru, saya ini hendak belajar teater, apa hubungannya dengan biologi, tidak ada gunanya menghafal nama bunga di halaman sekolah, belajar tubuh Butoh saja lah,” hardik Aguk ketika Guru itu sedang menjelaskan di depan kelas.

“Kau itu terlalu mengecilkan proyeksi Teater Guk, teater yang kau amini itu perlu dipertanyakan ulang, perlu digali lebih dalam,” sahut Suma dengan logat sok-sok bergaya teater.

“Iyaaaa Guuuuuuuuuuk, kitaaaa beluuuuuum sampai di manaaaa-manaaaa, jangan jumawaaaaaaaa, bulaaaan masiiiiiiiih jauh, guuuuuk,“ kata Agus yang beberapa waktu lalu usai menonton The Science of Fiction garapan Mas Yosep Anggi Noen

Sementara itu terlihat Jecko sudang menggambar daun Monstera di dinding kelas, dengan cat berwarna hitam, dengan ornamen sulur-sulur memanjang,, di antara belahan daun monstera. Ornamen khasnya itu menembus jendela, kemudian menggeliat ke dinding lainnya, secara beraturan namun tampak acak, gambar itu menjelma seorang lelaki yang menari di atas daun Monstera.

“Di daun ini, coba kamu perhatikan banyak sekali gurat-gurat yang menuju satu hilir. Guratan ini kemungkinan besar bisa kubentuk jadi partitur tubuhku saat menari, aku hendak menyimpan memori guratan itu ke dalam otot-otot tubuhku,” kata Jecko sembari menari patah-patah di atas meja.

“Kak Jecko, bisakah gerakan tubuhmu itu, aku rekam. Aku ingin mencatat kecenderungannya, lalu mengkatalogisasinya menjadi satuan ukuran dalam bangunan panggung yang ingin aku buat” kata Dedek yang ternyata dari tadi memperhatikan gerakan Jecko dengan seksama, sembari mencatata kemungkinan ruang yang bisa ia wujudkan.

Menuju 5 tahun saya belajar di Teater Kalangan, merupakan suatu pencapaian yang cukup mengejutkan. jika diibaratkan Teater Kalangan adalah suatu ilmu, kami sedang menyusun kurikulum, sampai saat ini pun belum ketemu bagaimana cara menyampaikannya secara lugas dan sistematis, sebab ilmu ini  sedang kami raba-raba bersama dengan berbagai cara pandang yang kami amini. Jika diibaratkan Teater Kalangan adalah sebuah warung kami sedang sibuk di dapur, memilih bahan premium, memilih alat-alat yang ideal, menata letak kompor, piring, dan lain sebagainya agar kerja kami ergonomis dan efisien.

Kami juga sedang bertengkar menyusun menu, serta bagaimana cara menyajikannya ke pelanggan. Pengibaratan yang saya katakan bukan berarti semua anggota Kalangan adalah orang yang baru belajar, sekali lagi bukan. Justru kawan-kawan saya ini sudah memiliki pisaunya masing-masing dalam estetikanya berkesenian. Maka dari itu susah sekali menyatukan pisau ini, eh atau jangan-jangan tidak perlu di satukan  ya ?.

“Guru, lalu bagaimana misalnya jika suatu tumbuhan tidak mampu beradaptasi, apa yang terjadi?” tanya Iin yang sedari tadi asik mencatat apa yang dikatakan Guru itu.

Guru itu menjelaskan bahwa tumbuhan itu sama saja dengan tubuh kita, yang sedang memakai pakaian. Pakaian itu ialah ruang tumbuh si tumbuhan, jika tubuh tumbuh maka pakaian yang digunakan harus sesuai dengan ruang gerak  tumbuhan itu.  Maka dari itu pakaian haruslah menyesuaikan bila perlu memiliki berbagai kemungkinan  yang tidak bisa ditebak, atau pakaian itu mempunyai support sistem yang bagus, dengan segala juangnya untuk menjaga tubuh agar tetap tumbuh dengan leluasa. Namun jika pakaian tidak mendukung, lingkungan yang tidak selaras dengan apa yang diperlukan tumbuhan, Maka tumbuhan akan mati, depresi.

“Lalu berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat baju yang serba siaga itu,” kata Devy yang sudah mulai menghitung biaya gono-gininya

Jika diibaratkan Teater Kalangan sebagai sebuah ruang, seperti baju itu, kami tengah berinvestasi jor-joran untuk menciptakan ruangan yang baik, bagi masa tumbuh yang menjanjikan. Investasi tenaga, waktu, uang dan juga segala upaya yang melingkupinya. Ruangan yang saya maksud bukan ruangan imajiner ya, melainkan sistem yang berjalan agar segala komponen dalam ruang itu terjaga ketahanannya. 

Berangkat dari premis itu, kami pun sepakat untuk membangun nyata ruang yang kami inginkan itu, salah satunya membentuk badan usaha jualan. Sebab roda produksi tidak akan bergerak jika aliran dana masih bergantung pada pihak ketiga, Tahun 2021 ini kami menatap teater sebagai dunia nyata, dunia yang bisa menghidupi kami secara  batin maupun lahiriah

Tidak dinyana Manik sudah menyodorkan desain baju Teater Kalangan, untuk dijual secara massive kepada publik.  Ia presentasi ke depan kelas menggantikan Guru itu.

“Ini logo kalangan dengan sebuah pohon yang tumbuh, desain ini berdasarkan interpretasiku terhadap pelajarannya Guru itu. Betul juga, kita semua ini pohon-pohon kecil yang ingin tumbuh berlebih, tapi semua butuh waktu, butuh ruang sendiri yang mapan, kita mulai dengan jualan baju ini ya” kata Manik menggebu.

“Kuang warnain dik don ne, Nik, jang di pinggir desain ne, logone kuang gede,” komentar Suma

“Siaaaaaaaap, Kak Maniiiiik,” kata Aguk sambil mengacungkan jempol berkali-kali.

“Inilaaaaah Manik, penyaiiiiir kitaa,” kata Agus.

“Aku ngikut aja, bagus!” kata Jecko

“Nanti dicetak di stella aja, Nik, pasti dapet diskon,” saran Devy

“Sistem ordernya aku yang urus,” ujar Iin

“Oooo gitu, kerjaanku apa dong,” sergah Dedek

Kira-kira begitulah kami bersembilan belajar dalam kurun waktu yang tidak ditentukan, ya namanya juga kelas, pasti ada yang naik kelas, ketinggalan kelas,  pindah kelas, dispen dan lain sebagainya. itu wajar

Pada 2021 yang kita harapkan baik-baik saja ini, tidak ada resolusi yang tercatat di desktop, tidak ada juga note-note muluk  kinerja untuk ke depan, yang ada adalah kerja nyata, kerja dalam batasan realitas. Teater bukan lagi semacam hobi yang bisa ditinggalkan jika masanya usai, lalu dimainkan lagi ketika musimnya datang. Bukan hobi melayangan yang muncul karena perhitungan musim angin. Teaterlah yang menggerakkan musim. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekologisme Batur | Kenakalan Berpikir Jero Penyarikan Duuran Batur

Next Post

Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya Prasi

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya  Prasi

Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya Prasi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co