2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagi Belajar di Kelas

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 1, 2021
in Esai
Lagi Belajar di Kelas

Jong Santiasa Putra

Teeeeeet…teeeeeet….teeeeeet……teeeeeeet……teeeeeeet …..

(maaf pembaca, sekiranya beginilah bunyi bel sekolah saya dulu)

Bel berbunyi, tanda kami semua harus masuk kelas. Kami memilih tempat duduk kesukaan, saya tentu saja dekat jendela agar bisa melihat hal-hal yang terjadi di luar. Suma duduk di pojok belakang, dia suka mencatat tapi tidak suka berhadapan dengan guru, lain dengan Dedek Surya, yang paling rajin di antara kami, duduk di depan, tepat berhadapan dengan meja guru.

Iin dan Devy satu bangku (harus satu bangku) sebab mereka berdualah yang sering mengurus kami, jika sedang menjalankan suatu peristiwa produksi, mereka berdekatan agar mudah diskusi. Jecko masih sendiri memainkan tangannya di atas meja, sambil menunggu Agus yang kita tahu semua, pasti ketiduran dan lupa bangun pagi. Agus suka tidur mendekati pagi. Aguk sedang duduk sambil memainkan gadgetnya, nyecrolin jualan sepatu yang lagi diskon di awal tahun, dan Manik sedang asik di depan laptop, belajar teknik editing termuktahir zaman ini.

Guru itu masuk kelas

“Selamat pagi, apakah pagi selalu mendahului, sebelum kopi itu kami hidangkan?” kami bersembilan mengucapkan salam, sembari menunjuk segelas kopi di meja guru yang tengah mengepulkan asap.

“Terimakasih, ini buatan siapa?” tanya Guru itu

“Saya!” Manik angkat tangan

“Waaaah, kopi hitam tanpa gula, dicampur waktu yang bersembunyi di balik daun dadap ya, Nik?”

“Kira kira begitu, Guru!”

Seseorang masuk kelas, tergesa-gesa, sambil meminta maaf kepada Guru itu. Ia menjelaskan keterlambatannya karena mampir ke Dapur Prima, membeli kado untuk pacarnya. Di tangannya ia membawa bungkusan warna-warni, dari tempat ku duduk tampak kado itu dihiasi sepucuk bunga berwarna merah di bagian atasnya.

Yup, itu Agus.

“Aiiiiih Gus, masih saja kau itu membeli kado, realistis sedikitlah, itu hanya kesenangan yang tercecer di jalan-jalan lalu pulang terlupakan,” kata Suma setengah berteriak di bangku belakang, sembari mengorat-ngoret catatan di buku saku kesayangannya.

Kemudian Guru itu memulai pelajarannya, Biologi. Mengenai macam-macam bunga yang tumbuh di halaman sekolah, daun-daun yang bisa digunakan sebagai obat, serta tentang bagaimana tumbuhan hidup dan mempertahankan dirinya di alam liar. Guru itu panjang lebar menjelaskan bagaimana manusia sejatinya memiliki ego yang tinggi dalam mendomestifikasikan binatang dan tumbuhan.

Sebut saja Monstera yang belakangan ini ngetop di kalangan anak muda kita, akibat Pandemi, jenis tanaman ini menjadi primadona sebagai hobi yang cukup mahal. Monstera yang awalnya hidup di hutan, lalu karena keinginan manusia agar tumbuhan itu ada di rumahnya, di bawa pulang lah, lalu dikembangbiakan, bahkan disilangkan melalui berbagai eksperimen.

“Guru, saya ini hendak belajar teater, apa hubungannya dengan biologi, tidak ada gunanya menghafal nama bunga di halaman sekolah, belajar tubuh Butoh saja lah,” hardik Aguk ketika Guru itu sedang menjelaskan di depan kelas.

“Kau itu terlalu mengecilkan proyeksi Teater Guk, teater yang kau amini itu perlu dipertanyakan ulang, perlu digali lebih dalam,” sahut Suma dengan logat sok-sok bergaya teater.

“Iyaaaa Guuuuuuuuuuk, kitaaaa beluuuuuum sampai di manaaaa-manaaaa, jangan jumawaaaaaaaa, bulaaaan masiiiiiiiih jauh, guuuuuk,“ kata Agus yang beberapa waktu lalu usai menonton The Science of Fiction garapan Mas Yosep Anggi Noen

Sementara itu terlihat Jecko sudang menggambar daun Monstera di dinding kelas, dengan cat berwarna hitam, dengan ornamen sulur-sulur memanjang,, di antara belahan daun monstera. Ornamen khasnya itu menembus jendela, kemudian menggeliat ke dinding lainnya, secara beraturan namun tampak acak, gambar itu menjelma seorang lelaki yang menari di atas daun Monstera.

“Di daun ini, coba kamu perhatikan banyak sekali gurat-gurat yang menuju satu hilir. Guratan ini kemungkinan besar bisa kubentuk jadi partitur tubuhku saat menari, aku hendak menyimpan memori guratan itu ke dalam otot-otot tubuhku,” kata Jecko sembari menari patah-patah di atas meja.

“Kak Jecko, bisakah gerakan tubuhmu itu, aku rekam. Aku ingin mencatat kecenderungannya, lalu mengkatalogisasinya menjadi satuan ukuran dalam bangunan panggung yang ingin aku buat” kata Dedek yang ternyata dari tadi memperhatikan gerakan Jecko dengan seksama, sembari mencatata kemungkinan ruang yang bisa ia wujudkan.

Menuju 5 tahun saya belajar di Teater Kalangan, merupakan suatu pencapaian yang cukup mengejutkan. jika diibaratkan Teater Kalangan adalah suatu ilmu, kami sedang menyusun kurikulum, sampai saat ini pun belum ketemu bagaimana cara menyampaikannya secara lugas dan sistematis, sebab ilmu ini  sedang kami raba-raba bersama dengan berbagai cara pandang yang kami amini. Jika diibaratkan Teater Kalangan adalah sebuah warung kami sedang sibuk di dapur, memilih bahan premium, memilih alat-alat yang ideal, menata letak kompor, piring, dan lain sebagainya agar kerja kami ergonomis dan efisien.

Kami juga sedang bertengkar menyusun menu, serta bagaimana cara menyajikannya ke pelanggan. Pengibaratan yang saya katakan bukan berarti semua anggota Kalangan adalah orang yang baru belajar, sekali lagi bukan. Justru kawan-kawan saya ini sudah memiliki pisaunya masing-masing dalam estetikanya berkesenian. Maka dari itu susah sekali menyatukan pisau ini, eh atau jangan-jangan tidak perlu di satukan  ya ?.

“Guru, lalu bagaimana misalnya jika suatu tumbuhan tidak mampu beradaptasi, apa yang terjadi?” tanya Iin yang sedari tadi asik mencatat apa yang dikatakan Guru itu.

Guru itu menjelaskan bahwa tumbuhan itu sama saja dengan tubuh kita, yang sedang memakai pakaian. Pakaian itu ialah ruang tumbuh si tumbuhan, jika tubuh tumbuh maka pakaian yang digunakan harus sesuai dengan ruang gerak  tumbuhan itu.  Maka dari itu pakaian haruslah menyesuaikan bila perlu memiliki berbagai kemungkinan  yang tidak bisa ditebak, atau pakaian itu mempunyai support sistem yang bagus, dengan segala juangnya untuk menjaga tubuh agar tetap tumbuh dengan leluasa. Namun jika pakaian tidak mendukung, lingkungan yang tidak selaras dengan apa yang diperlukan tumbuhan, Maka tumbuhan akan mati, depresi.

“Lalu berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat baju yang serba siaga itu,” kata Devy yang sudah mulai menghitung biaya gono-gininya

Jika diibaratkan Teater Kalangan sebagai sebuah ruang, seperti baju itu, kami tengah berinvestasi jor-joran untuk menciptakan ruangan yang baik, bagi masa tumbuh yang menjanjikan. Investasi tenaga, waktu, uang dan juga segala upaya yang melingkupinya. Ruangan yang saya maksud bukan ruangan imajiner ya, melainkan sistem yang berjalan agar segala komponen dalam ruang itu terjaga ketahanannya. 

Berangkat dari premis itu, kami pun sepakat untuk membangun nyata ruang yang kami inginkan itu, salah satunya membentuk badan usaha jualan. Sebab roda produksi tidak akan bergerak jika aliran dana masih bergantung pada pihak ketiga, Tahun 2021 ini kami menatap teater sebagai dunia nyata, dunia yang bisa menghidupi kami secara  batin maupun lahiriah

Tidak dinyana Manik sudah menyodorkan desain baju Teater Kalangan, untuk dijual secara massive kepada publik.  Ia presentasi ke depan kelas menggantikan Guru itu.

“Ini logo kalangan dengan sebuah pohon yang tumbuh, desain ini berdasarkan interpretasiku terhadap pelajarannya Guru itu. Betul juga, kita semua ini pohon-pohon kecil yang ingin tumbuh berlebih, tapi semua butuh waktu, butuh ruang sendiri yang mapan, kita mulai dengan jualan baju ini ya” kata Manik menggebu.

“Kuang warnain dik don ne, Nik, jang di pinggir desain ne, logone kuang gede,” komentar Suma

“Siaaaaaaaap, Kak Maniiiiik,” kata Aguk sambil mengacungkan jempol berkali-kali.

“Inilaaaaah Manik, penyaiiiiir kitaa,” kata Agus.

“Aku ngikut aja, bagus!” kata Jecko

“Nanti dicetak di stella aja, Nik, pasti dapet diskon,” saran Devy

“Sistem ordernya aku yang urus,” ujar Iin

“Oooo gitu, kerjaanku apa dong,” sergah Dedek

Kira-kira begitulah kami bersembilan belajar dalam kurun waktu yang tidak ditentukan, ya namanya juga kelas, pasti ada yang naik kelas, ketinggalan kelas,  pindah kelas, dispen dan lain sebagainya. itu wajar

Pada 2021 yang kita harapkan baik-baik saja ini, tidak ada resolusi yang tercatat di desktop, tidak ada juga note-note muluk  kinerja untuk ke depan, yang ada adalah kerja nyata, kerja dalam batasan realitas. Teater bukan lagi semacam hobi yang bisa ditinggalkan jika masanya usai, lalu dimainkan lagi ketika musimnya datang. Bukan hobi melayangan yang muncul karena perhitungan musim angin. Teaterlah yang menggerakkan musim. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekologisme Batur | Kenakalan Berpikir Jero Penyarikan Duuran Batur

Next Post

Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya Prasi

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya  Prasi

Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya Prasi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co