23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumor Demo 4 November – Provokasi Media dan Jurnalisme Damai

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Sumber foto: Google

KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang Jakarta yang bertanya.

Tahu dari mana? Membaca berita dan melihat siaran televisi. Beberapa hari ini, media banyak memuat rumor “Demonstrasi 4 November” (D4N) 2016. Dampaknya kecemasan dan kekhawatiran teror berita begitu dahsyat. Kemungkinan ada 200.000-an massa dari seluruh Indonesia, mulai Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Itu juga masih rumor belum ada fakta.  

Bukankah tanggal itu tepat hari Jumat? Boleh dong ada rumor bukan demo tetapi “salat Jumat bersama” di Masjid Istiqlal. Jarang-jarang salat Jumat di masjid yang dibangun yang diprakarsai Bung Karno ini. Atau bagi warga dari daerah, kesempatan langka jamaah di masjid terbesar di Asia Tenggara ini. Setelah salat Jumat diwawancarai jurnalis TVRI tentang kesan salat Jumat di Masjid Istiqlal.  

Namun apa yang tertulis dan terlihat. Media mengungkap rumor ini sebagai perihal yang seolah sangat penting hingga genting. Betapa tidak, diamati dari judul-judul media baik online maupun cetak hingga televisi menayangkan “simulasi” pengamanan di mana-mana. Aparat berbaris seolah menghadang kerusuhan. Lalu memasang foto petugas keamanan berjaga di titik tertentu yang sebenarnya sehari-hari memang jaga di situ. Televisi menayangkan pasukan keamanan membawa senjata laras panjang. Pasukan tentara berkumpul. Menuliskan ibukota siaga satu, personel dari beberapa Mapolda ditarik ke ibukota, TNI siap kawal. TNI all out back up Polri.  

Pemilihan nasasumber tak kalah “hebatnya”. Wawancara petinggi polisi dan TNI, pejabat, elit politik, tokoh agama, tokoh masyarakat. The power of game dan konflik kepentingan yang diakomodasi dalam wadah jurnalisme perang. Tak kalah “panas” para politisi dan elit politik memberikan komentar rumor D4N saat diminta menanggapi. Komentarnya semakin memanaskan suasana.  

Bahkan ada yang menyebutkan presiden yang menjadi incaran D4N. Lebih ngeri lagi, rumor bakal ada disintegrasi bangsa, sebuah keadaan tidak bersatu padu, terpecah belah dan hilangnya keutuhan atau persatuan bangsa. Presiden pun turun tangan sowan datang ke rumah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kediaman Prabowo, Hambalang, Bogor, 31 Oktober 2016. Keduanya berkuda santai tetapi kabarnya membicarakan D4N.  

Genting, cemas, waswas iya tentunya. Ada yang bilang “Ini nanti akan terjadi kerusuhan.” “Demo ini mengarah isu SARA.” “Tutup saja kantor, toko.” “Ini ngomong soal agama.” “Ini tentang mayoritas dan minoritas.” D4N menjadi perbincangan di mana-mana. Media massa hingga media sosial (medsos) ramai dan menjadi trending topic. Meme-meme rumor ini beredar luas melalui berbagai platform.  

Teror, siapa meneror dan siapa yang diteror? “Paranoid” begitu kata Sirikit Syah. Kondisi media massa, para elit dan warga Jakarta yang tidak berdosa. Semuanya dicekam ketakutan berlebihan. Semua sepertinya akan menjadi dramatis.  

Dan ini ditangkap dengan “sempurna” oleh industri media. Menempatkannya di halaman depan. Apalagi madzab jurnalisme halaman depan penuh dengan dramatis paling digemari dan konon “paling laku dijual”.  

Ini seperti di awal abad 20 lalu Joseph Pulitzer ketika membuat keputusan. Waktu itu, baru saja membeli The New York Post. Pulitzer mengubah koran baik-baik dan sopan itu dengan apa yang disebutnya “front page journalism” (jurnalisme halaman depan), koran yang halaman depannya penuh warna, HL-nya berhuruf luar biasa besar dan tebal, fotonya bisa sepanjang lebar koran. Ini kontras dengan tradisi koran di AS waktu itu, yang berita penting atau tidak pentingnya tak ada bedanya.  

Celakanya, topik beritanya berupa rumor. Memang berita asalnya dari rumor tetapi harus dilanjutkan menjadi utuh sehingga tidak menimbulkan fakta yang tidak lengkap (premature facts).  

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti rumor pun cukup jelas (gunjingan)  yang berkembang dari mulut ke mulut. Sedangkan ilmu Komunikasi menyebutkan, rumor pada dasarnya merupakan hasil reinterpretasi dari interpretasi sebelumnya terhadap fakta yang tidak lengkap yang menyebar melalui komunikasi sosial. Bisa saja rumor menjadi unintentional rumors atau desas-desus yang muncul tanpa sengaja yang terjadi karena adanya ketidakjelasan keadaan atau ketidakpastian yang berlebihan.  

Maka, itu bisa terselesaikan dengan rumusan Allport dan Postman menanggulangi rumor bisa dilakukan secara preventif, yaitu memberikan informasi faktual yang terverifikasi. Atau juga melalui rumusannya “Hukum Dasar Rumor” dengan mengistilahkan golden hour yaitu waktu emas menangani rumor.  

Atau apakah ini lebih pada agenda setting seperti yang diungkapkan Maxwell C McCombs dan Donald L Shaw yang melakukan penelitian surat kabar di 1946 silam. Tentu, ini lebih baik karena agenda setting mengasumsikan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media pada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak.  

April 2001

Kondisi ini hampir mirip pada masa akhir April 2001. Tepatnya menjelang “Istighotsah NU” yang digelar 29 April atau sehari menjelang sidang DPR 30 April 2001. Waktu itu disebutkan Istighotsah diperkirakan akan dihadiri 200.000 orang dari berbagai daerah.  

Ada berita yang menuliskan akan ada Front Pembela Kebenaran (FPK) pendukung Gus Dur yang berangkat ke ibukota. Tetapi kemudian lebih banyak disebut Pasukan Berani Mati (PBM).  Media cenderung mengkonstruksikan PBM sebagai sosok yang menakutkan, garang, dan memiliki kekuatan luar biasa. Ada juga yang mendeskripsikan PBM dibekali jimat dan ilmu yang memiliki daya linuwih (melebihi orang biasa).  

Bukankah kalau di pesantren selain mengaji kitab kuning diajari pencak silat? Juga wiridan dan bacaan hizib, seperti hizib nashor. Biasa kan? Supaya ilustrasi dramatis, nanti kalau ada santri yang mengikuti ritual Telasan kenaikan sabuk diberitakan latihan tenaga dalam. Lebih-lebih dituduh isu santet.  

Media wawancara dengan pejabat, petinggi keamanan, politisi hingga diplomat dan keluarganya yang tinggal di Jakarta. Mereka dengan berikan pertanyaan yang kemudian membuat jawaban waswas dan cemas. Begitu juga petinggi kepolisian berkali-kali membuat pernyataan menjaga keamanan warga di Jakarta. Kepolisian waktu itu menyatakan mengerahkan setidaknya 42.000 personel untuk mengamankan Jakarta saat Istighotsah. Tentu efek berita tersebut menjadi teror. Kecemasan dan kekhawatiran bukan hanya bagi warga Jakarta tapi di daerah. Seolah-olah akan ada chaos, padahal masih rumor.  

MediaWatch waktu itu meneliti dan mencatat empat media atas judul, foto, grafis, diksi dan posisi berita rumor tersebut. Penelitian juga dilakukan di atas grafis atau foto dengan menggunakan dua variabel tanda sintagma dan paradigma yang merupakan cabang semiotik. Hasilnya, media cendrung menulis berita sifatnya provokatif. Mengabarkan PBM sebagai pasukan yang memang dibentuk untuk melawan siapa pun yang berusaha menjatuhkan Gus Dur.  

Pers memiliki hak memilih termasuk memilih narasumber dan berita apa yang layak dimuat. Jadi tidak haram, menulis berita mendinginkan suasana, bukan sekadar berita mengumbar dan mengkonsumsi fakta belaka. Media sudah selayaknya mengedepankan “Jurnalisme Damai” (Peace Journalism).  Berita-berita yang disajikan menyelesaikan konflik dan pertikaian, serta mendorong solusi konflik dengan prinsip win-win solution seperti yang ditulis teori dua pendukung jurnalisme damai Jake Lynch dan Annabel McGoldrick. Atau misalnya menempatkan fungsi pers dan kembali ke khittah Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. (T)  

Denpasar, 1 November 2016  

Tags: demojurnalismeteror
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Siapa Dalam Kotak Kosong Pilkada Buleleng? Politisi Hantu atau Kaum Golput

Next Post

Mengapa Ahok Tidak Menyentuh Pikiran Saya?

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Mengapa Ahok Tidak Menyentuh Pikiran Saya?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co