3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Poh Lembongan, Mangga Khas Nusa Penida — Riwayatmu Kini

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
July 9, 2020
in Opini
Poh Lembongan, Mangga Khas Nusa Penida — Riwayatmu Kini

Mangga Gedong Gincu, Mirip Poh Lembongan. Sumber foto: Tribunnews.com

Nusa Penida (NP) memiliki mangga yang khas. Orang NP lumrah menyebutnya dengan nama poh (mangga) lembongan. Sementara, orang Bali daratan menyebutnya dengan nama poh nusa. Dibandingkan dengan varietas mangga nusa lainnya, mangga lembongan lebih diminati di pasaran. Sekitar tahun 2000-an ke bawah, mangga ini pernah mengalami kejayaan. Setidaknya, mangga lembongan mampu menembus pasaran terutama di Klungkung daratan. Namun, belakangan suplai buah mangga Lembongan ke Bali daratan kian berkurang signifikan.

Entah apa penyebabnya. Bisa jadi karena pasokan mangga di NP terlalu melimpah. Sedangkan, distribusi (pengiriman) buah mangga ke Bali daratan sangat minim. Kondisi ini jelas merugikan para pengepul. Karena itu, mereka (para pengepul) tidak berani membeli mangga dalam jumlah (stok) yang banyak. Sebagai tindakan preventif, mereka akhirnya membatasi diri dalam pembelian mangga-mangga yang ada di NP termasuk mangga lembongan.

Kasus pendistribusian berkaitan erat dengan moda transportasi laut, penghubung pulau NP dengan Bali daratan. Artinya, keberadaan transportasi laut NP masih dianggap belum optimal sehingga pendistribusian mengalami kendala (lambat). Kendala pendistribusian sangat berisiko terhadap stok buah mangga yang dibeli oleh pengepul, karena mangga riskan mengalami pembusukan.

Dugaan lain, mungkin keberadaan mangga-mangga unggulan lainnya seperti manalagi, arumanis, madu dll. bertumbuh di NP. Jangan-jangan keberadaan mangga-mangga unggulan itu turut memberikan andil menggeser posisi mangga lembongan. Pasar tampaknya lebih merespon mangga-mangga unggulan ini dibandingkan dengan mangga lembongan. Padahal, secara kualitas mangga lembongan tidak kalah dengan mangga-mangga unggulan tersebut.

Secara fisik, mangga lembongan menyerupai mangga Gedong Gincu. Bulat dengan lekukan sedikit. Berukuran sedang, tidak terlalu kecil atau besar. Memiliki kulit yang tipis, daging buahnya berwarna kuning dan bertekstur agak kenyal dengan kandungan air yang banyak. Jika dimakan dalam kondisi matang sekali, rasanya manis total. Namun, dalam kondisi matang sedang, rasa manisnya bercampur dengan rasa asem sedikit.

Ketika masih mentah, mangga lembongan berwarna hijau dan memiliki beberapa bintik kecil berwarna putih pada permukaan kulitnya. Saat matang sedang, permukaan kulitnya berubah menjadi orange muda. Warna orange berubah lebih tua jika mangga lembongan dalam kondisi matang tua. Pada saat inilah, mangga lembongan mengeluarkan aroma harum. Sementara, kematangan mangga Gedong Gincu ditandai dengan warna gradasi kuning dan merah.

Dengan tampilan cantik dan kualitas yang tak beda jauh dengan mangga-mangga unggulan lainnya, semestinya mangga lembongan tetap eksis dan dapat bersaing di pasaran. Akan tetapi, kondisi di lapangan justru menunjukkan kenyataan yang berbeda. Semakin ke depan, nasib mangga lembongan seolah-olah berada diambang mengkhawatirkan.

Reaksi pasar sangat lesu. Jikalaupun pasar merespon, harga mangga lembongan jauh di bawah harapan. Dari dulu hingga sekarang, pengepul membeli mangga lembongan (di NP) dengan sistem transaksi tradisional yaitu menggunakan sistem angka 200 “nyaruk”. Mangga lembongan dihitung bijiannya sebanyak 200 butir dari berbagai ukuran (besar, sedang, dan kecil). Harga sekarang berkisar Rp 30.000 hingga Rp 50.000. Jika panen mendahului (buah mangga matang masih langka), maka harga di pasaran menjadi tinggi yaitu Rp 50.000 per 200 butir mangga lembongan. Namun, pas musim panen per 200 butir dihargai Rp 30.000. Anda mungkin geleng-geleng kepala, bukan?

Pasalnya, proses memanen dan penjualan tergolong cukup rumit. Mangga lembongan termasuk jenis mangga yang memiliki pohon yang sangat tinggi, lebih dari 5 m. Tidak cukup memetik buahnya dari atas permukaan tanah. Kita perlu memanjat pohonnya untuk mendapatkan buahnya. Belum lagi, rata-rata pohon mangga lembongan disenangi oleh serangga sumangah (sejenis semut merah).

Pemanen berjuang memetik buah mangga dengan sumbul, sambil berjuang mengatasi rasa sakit akibat gigitan sumangah. Sumbul merupakan alat panen yang terbuat dari bambu (galah) panjang. Pada ujungnya, ada semacam mulut sumbul dilengkapi dengan gigi 2-3 yang agak renggang. Kerenggangan ini bertujuan untuk menghimpit ujung tangkai mangga sehingga memudahkan lepas dari tangkainya. Sementara itu, di ujung samping hingga ke belakang dilengkapi dengan anyaman sejenis keranjang kecil—agar buah tidak jatuh ke tanah sehingga tidak lecet dan tidak cepat mengalami pembusukan.

Harga Rp 30.000- Rp 50.000 juga termasuk ongkos kirim. Setelah dipetik, petanilah (penjual) yang mengangkut mangga lembongan ke tempat pengepul atau langsung dibawa ke pasar. Jadi, harga tersebut sudah terhitung biaya petik dan ongkos kirim. Pembeli tinggal menerima bersih di tempatnya.

Meski tergolong murah, petani tetap semangat menjual kalau ada permintaan atau penawaran. Celakanya, seringkali ketika panen mangga tiba, tidak ada seorang pun yang membeli (menawar) mangga lembongan. Pengepul bungkam. Pembeli umum juga tak merespon. Cerita ini sudah biasa terjadi hampir setiap tahun di NP. Lantas, apa yang dilakukan oleh petani di NP?

Mangga-mangga itu dibiarkan jatuh berguguran ke tanah dan menjadi pesta bagi binatang-binatang seperti lalat, kupu-kupu, ulat, bekicot, muring dan lain sebagainya. Biasanya, para binatang tersebut berpesta menindaklanjuti mangga hasil gigitan dari para kelelawar. Para kelelawar berpesta buah mangga pada malam hari—namun tidak sempat menghabisi buah mangga itu karena terburu jatuh ke tanah.

Keesokan paginya, buah mangga hasil gigitan para kelelawar itulah yang menjadi incaran para binatang lainnya. Sebab, gigitan kelelawar itu sudah merobek dan menembus daging buah mangga. Hal inilah yang memudahkan para binatang lain untuk langsung memakan dagingnya.  

Bagaimana dengan buah mangga yang jatuh tetapi masih utuh (cuma lecet)? Para petani memungut dan mengumpulkannya untuk pakan tambahan ternak seperti ayam, babi, dan sapi. Pemberian mangga kepada ternak ayam dan babi dengan cara dikupas terlebih dahulu. Sementara, pemberian kepada ternak sapi biasanya dalam kondisi utuh. Si sapi langsung menelan utuh dengan batunya. Beberapa menit kemudian, si sapi mengeluarkan batu-batu mangga itu kembali melalui mulutnya.

Jika memiliki ternak terbatas, maka banyak buah mangga lembongan terbuang percuma. Para petani membiarkan mangga lembongan itu tergeletak, membusuk dan menyatu dengan tanah.

Mengoptimalkan Pemberdayaan Mangga Lembongan (Nusa)

Mangga lembongan sudah menjadi ikon bagi NP sejak lama. Namun, siapa sangka ternyata pemanfaatannya masih belum optimal. Cerita-cerita pembiaran dan pembuangan mangga ini mungkin sudah menjadi kisah klasik. Berlangsung bertahun-tahun. Namun, hingga kini belum ada solusi efektif untuk pemanfaatan mangga lembongan dengan optimal.

Kasus pembiaran atau pembuangan terhadap mangga lembongan tetap terbuka terulang pada tahun-tahun mendatang. Karena setahu saya, belum pernah saya dengar ada olahan buah mangga menjadi makanan atau minuman di NP. Selama ini, mangga hanya dikonsumsi langsung oleh masyarakat NP.

Model konsumsi tradisional ini jelas tidak sebanding dengan jumlah mangga yang ada di NP. Pasalnya, NP memiliki varietas mangga tidak hanya lembongan. NP memiliki varietas mangga lainnya seperti mangga golek, gedang, ijo, dodol, gender rasa, pelom dan varian lainnya. Di antara varietas mangga nusa, keberadaan mangga lembongan memang paling mendominasi di NP.

Berbeda mungkin ceritanya, jika buah mangga (terutama mangga lembongan) di NP diolah menjadi berbagai olahan kreatif. Misalnya, krupuk mangga, manisan, minuman, dan lain sebagainya. Bisa jadi, kan?

Kemudian, hasil olahan dipromosikan baik secara manual maupun lewat medsos. Promosi ini tentu penting, apalagi sebagai produk pemula. Jadi, pembeli tinggal pesan lewat online atau langsung mendatangi tempat-tempat yang menyediakan produk. Kalau bisa, produk-produk olahan mangga khas nusa itu dibranding.

Sasaran paling menjanjikan mungkin menjadi oleh-oleh khas NP. Sangat memungkinkan. Ya, karena NP sudah menjadi daerah pariwisata. Apalagi, tingkat kunjungan pelancong ke NP cukup tinggi. Ada peluang. Tinggal bagaimana membuat produk olahan mangga nusa yang berkualitas dan menyentuh selera pasar. Mungkin tidak beda jauh dengan olahan apel malang misalnya (krupuk apel Malang dan minuman sari apel Malang). Setiap orang bertamasya ke Malang, setidak-setidaknya mereka pulang membawa krupuk apel atau minuman sari apel.

Saya pikir NP bisa meniru Malang misalnya. Pelancong tidak hanya menikmati objek wisata Malang, tetapi sekaligus digiring berbelanja oleh-oleh khas Malang. Begitu juga dengan NP. Para pelancong tidak hanya menikmati keindahan geografi NP, tetapi juga berbelanja oleh-oleh khas NP yaitu olahan mangga terutama mangga lembongan.

Jika pengolahan mangga ini diformat dalam bentuk usaha, setidaknya akan menciptakan lapangan pekerjaan baru, menyelamatkan ekonomi para petani di NP dan sekaligus memberdayakan buah mangga yang terbuang percuma setiap tahunnya.

Saya pikir para pebisnis di NP sudah memikirkan hal ini. Mungkin, mereka sedang berhitung biaya produksi, pemasaran, distribusi dan lain sebagainya. Siapa tahu suatu saat nanti ada pebisnis milenial yang bisa mewujudkan hal itu, sehingga bisnis di NP menjadi semakin meriah. Harapannya, dapat mendongkrak perekonomian di NP. Jadi, tidak melulu soal bisnis akomodasi penginapan saja.

Alangkah eloknya jika sektor pariwisata dan bisnis olahan makanan/ minuman saling bergandengan, terutama yang bahan bakunya tersedia di alam NP. Dalam konteks ini, mangga lembongan. Masyarakat berbisnis, sambil melestarikan ikon mangga khas NP.

Di samping pengoptimalan olahan kreatif, kendala pendistribusian penting pula dicarikan jalan keluar—agar pendistribusian mangga lembongan ke Bali daratan dapat berjalan lebih lancar. Sehingga, para pengepul dapat membeli mangga nusa dalam jumlah yang lebih banyak. Kelancaran pendistribusian ini diharapkan dapat menjaga nilai mangga nusa (lembongan). Minimal ada tawaran dari pengepul untuk terus membeli mangga nusa, sehingga kasus pembiaran dan pembuangan mangga kian dapat diminalisasikan.

Ya, mungkin kuantitas moda transportasi laut terutama untuk mengangkut barang (termasuk mangga) mesti dimaksimalkan. Setidaknya, frekuensi trip penyeberangan dioptimalkan lagi. Jika masih belum maksimal, mungkin keberadaan perahu khusus mengangkut barang mesti diadakan lagi. Tentu dengan biaya yang terjangkau, sehingga saling mensupport. Bisnis transportasi laut dapat bertumbuh, bisnis mangga khas NP juga dapat berkembang dan ekonomi para petani tetap hidup.

Untuk kesehatan transaksi, mungkin model pembelian pengepul dapat diadaptasikan sehingga tidak terlalu merugikan petani. Misalnya, kurangi bermain sistem angka 200 nyaruk. Mungkin lebih bijak dengan sistem kiloan misalnya. Pasti lebih murah dengan harga di pasar Bali daratan. Akan tetapi, permainan sistem kiloan dirasakan lebih objektif.

Kita berharap realisasi pengolahan kreatif mangga nusa dapat terwujud, pendistribusiannya lebih lancar dan sistem transaksinya lebih modern sehingga mangga lembongan (nusa) tidak hanya tinggal cerita. Jangan sampai poh lembongan menjadi abadi dalam sebuah nama penginapan “Poh Manis Lembongan”. Akan tetapi, tetap real eksis dalam segala perubahan yang melanda NP. Semoga! [T]

Tags: buah lokalfloraNusa Penida
Share188TweetSendShareSend
Previous Post

Buda Kliwon Sinta di Gunung Lebah Ubud

Next Post

Lima Pameran Seni yang Paling Berkesan di Bali

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Lima Pameran Seni yang Paling Berkesan di Bali

Lima Pameran Seni yang Paling Berkesan di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co