6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korona, Belajar di Rumah, dan Matinya Belajar Hapalan

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
April 8, 2020
in Opini
Korona, Belajar di Rumah, dan Matinya Belajar Hapalan

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Banyak peristiwa menarik terjadi dalam dunia pendidikan ketika pemerintah memutuskan agar para siswa belajar di rumah guna memutus penyebaran Virus Korona. Tatkala pada sekolah-sekolah diumumkan jika pembelajaran akan dilakukan di rumah masing-masing, pekik girang dan raut wajah sukacita tampak dari sebagian besar siswa. Kendatipun esok harinya banyak siswa yang kecewa sebab mereka tidak benar-benar libur. Tugas datang bertumpuk-tumpuk dari masing-masing guru untuk diselesaikan dalam waktu tertentu.

Masalah lainnya adalah sebagian siswa baru menyadari jika belajar di rumah berarti tidak ada uang jajan dan kesedihanpun bertambah. Sementara masalah baru juga membebani banyak orangtua. Selain penghasilan yang seret akibat pembatasan sosial, anak-anak mereka meminta dibelikan smartphone dengan Random Access Memory (RAM) berkapasitas besar, alasannya ketika terjadi intekasi dengan gurunya secara daring (dalam jaringan) agar lebih lancar. Bahkan di desa-desa orangtua siswa prasejahtera menyebut dirinya telah pasrah jika seandainya anak-anaknya harus berhenti sekolah karena tidak mampu membeli smartphone.

 Orangtua yang berkemampuan membelikan anaknya smartphonepun tidak lekas bebas dari gangguan. Anak-anaknya berkali-kali berteriak meminta bantuan untuk menjawab tugas yang dikirimkan gurunya secara online. Begitulah, seluruh anggota keluarga terkadang turut berembug dan menunda pekerjaan lainnya hanya untuk menjawab soal yang tidak bisa dipecahkan oleh seorang siswa. Bahkan ada orangtua siswa yang menuntut jika guru harus membuat video mengenai suatu materi untuk kemudian dikirim kepada siswa atau mengajar secara live lewat aplikasi sejenis zoom  maupun cara lainnya, bukan malah menyulitkan orangtua rumah. Siswa yang lebih cerdas memilih mencari jawaban di google.

Lucunya  dalam beberapa kejadian deskripsi di google ternyata berbeda dengan kunci jawaban yang dipegang sang guru. Siswa maupun orangtuanya harus berlapang dada menerima kunci jawaban yang tak terbantahkan itu. Seorang dosen bergelar Doktor mengumpat karena sang anak salah dalam menjawab soal yang diberikan gurunya. Padahal dirinya mengaku pernah membaca sendiri dokumen sejarah yang berkaitan dengan soal yang dijawab buah hatinya itu, ia menambahkan bila di googlepun tersurat demikian. Pembelajaran di rumah sering mengentarakan keotoriteran oknum guru, ketidakluasan wawasan, serta cara mengajarnya yang cenderung menganggap siswa sebagai save deposit box.

Cara mengajar bercorak verbalis begitu lumrah terutama sebelum reformasi. Guru menyuruh anak didiknya untuk menghapal nama presiden, wakil presiden, menteri-menteri, jaksa agung, gubernur, bupati, dan sebagainya. Murid yang tidak hapal tentu akan diberikan sanksi. Memang cara mengajar yang menempatkan siswa hanya sebagai objek pembelajaran yang tidak berdaya telah lama ditentang.

Nyatanya masih ditemui guru sepuh hingga guru muda yang belum sanggup meninggalkan ‘romansa’ pembelajaran hapalan itu. Bukan sesuatu yang mustahil mereka yang tidak menyukai cara belajar dengan hapalan malah mengajar dengan cara yang sama ketika menjadi guru. Sebabnya tentu karena kurangnya kreativitas untuk mengembangkan materi, daripada menyusahkan diri membaca banyak buku mereka memilih mengandalkan soal-soal yang telah dilengkapi kunci jawaban. Sedangkan yang lainnya hanya membaca paparan materi baku dengan minimnya analisis. Terbukti manusia paling hebatpun dari masa hapal menghapal akan dikahahkan oleh mereka yang tidak terlalu hebat pada masa pembelajaran pemaknaan.

Seorang dosen senior yang dikagumi karena pada ‘era mesin ketik’ telah mampu menuntaskan studi doktoralnya di luar negeri tiba-tiba termenung  di teras kampus tempatnya mengajar selepas memberikan ujian akhir. Dosen-dosen yang lebih mudapun memberanikan diri untuk bertanya mengenai masalah yang telah mengganggu seniornya itu. Sang dosen sepuh menjelaskan jika semua mahasiswanya dapat menjawab soal-soal ujian yang tidak pernah dirubahnya sejak bertahun-tahun dengan sangat sempurna.

Dosen sepuh ini punya dua dugaan, pertama mahasiswanya mendapat bocoran dari kakak tingkatnya, kedua mereka sesungguhnya cerdas hanya saja tidak pernah aktif di kelas. Tampaknya untuk dugaan yang kedua dosen ini masih ragu-ragu. Dosen-dosen yang lebih mudapun segera paham bila kesempurnaan jawaban mahasiswa itu bersumber dari mesin pencari di internet. Hanya saja mereka merasa sungkan mengemukakan kepada seniornya

Ellen J. Langer (2008) dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mindful Learning, Membongkar 7 Mitos Pembelajaran yang Menyesatkan menganalogikan cerita Hansel dan Gretel dengan bahaya cara belajar hapalan. Hansel dan Gretel merupakan kakak beradik yang hidup pada suatu negeri yang tengah dilanda kelaparan, oleh karenanya mereka berupaya dibuang oleh kedua orangtuanya guna mengurangi beban makan keluarga. Pada upaya pembuangan pertama Hansel berhasil menuntun adiknya dari dalam hutan  untuk kembali ke rumah dengan mengikuti sebaran kerikil yang telah ditabur sedemikian rupa ketika mereka berangkat.

Melihat kedua anaknya kembali, ayah dan ibunya berencana untuk membawa mereka ke dalam hutan yang lebih dalam lagi keesokan harinya. Mendengar rencana itu, Hansel bermaksud mengumpulkan kerikil sebagaimana yang dilakukannya pada hari sebelumnya ketika kedua orangtuanya telah tertidur. Celakanya sang ibu telah mengunci pintu kamarnya sehingga Hansel tidak dapat melakukan apapun.

Keesokan harinya sebelum berangkat ke hutan Hansel dan adiknya menerima sedikit potongan roti sebagai bekal. Hansel kemudian memecah-mecah roti bekalnya dan membuangnya secara teratur pada tempat-tempat perhentian. Ketika malam tiba, Hansel berjalan dari tempat pembuangan dan berharap masih dapat menemukan potongan-potongan roti yang telah ditebarnya. Sayangnya potongan-potongan roti itu sudah tidak tersisa, habis dimakan oleh burung-burung penghuni hutan. Hansel dan Gretel berjalan berhari-hari dan tidak menemukan petunjuk untuk kembali ke rumah.

Sebagaimana kerikil yang diganti dengan roti, hapalan tidak mempunyai banyak kontrol dalam situasi baru. Seorang siswa boleh saja memiliki kemampuan menghapal yang mengagumkan untuk mengingat barisan kata secara teratur tanpa ada satupun yang terlewatkan, namun ketika diberikan bacaan baru kemampuan menghapal yang hebat itu tidak akan banyak menolong. Lebih jauh Langer mengatakan jika menghapal adalah strategi untuk menyerap materi yang tidak memiliki arti personal. Acapkali pendidikan hanya memberikan paket informasi yang sebagian besar bebas konteks kepada siswa, bahkan ketika konteks tersedia cara informasi dipresentasikan juga masih mendorong proses mindless.

Begitulah paket informasi yang tertutup diterima sebagai fakta, fakta-fakta kemudian diterima sebagai kebenaran mutlak untuk dipelajari sebagaimana adanya, dihapalkan, serta hanya meninggalkan sedikit alasan untuk berpikir tentang fakta-fakta tersebut. Akibatnya hanya sedikit peluang suatu informasi dapat melahirkan pemikiran konseptual atau dipikirkan kembali dalam konteks baru. Metode-metode yang lebih efektif ketimbang keharusan menghapal hanya digunakan secara terbatas terutama oleh siswa-siswa pada tingkat yang lebih tinggi kendatipun banyak siswa yang masih menderita kerugian tersembunyi dari cara belajar yang masih familiar itu.

Para guru yang masih terbawa ‘romantisme’ cara mengajar verbalisme tentu demikian khawatir jika saat Ulangan Umum dilaksanakan di rumah terlebih diberikan waktu menjawab hingga satu minggu lamanya contek mencontek akan terjadi. Murid-murid pintar berpeluang besar ‘ditodong’ oleh kawan-kawannya yang malas belajar dan jawaban bisa beredar dengan cepat melalui bantuan internet, terutama untuk jenis soal pilihan ganda. Soal berjenis uraianpun masih bisa dicontek dengan apa yang dalam dunia siswa lumrah sebagai ATM (amati, tiru, dan modifikasi), kendatipun jenis soal ini masih memiliki harapan untuk merangsang kemampuan analisis siswa.

Kelemahan soal uraian yang dikerjakan di rumah adalah terlibatnya pihak lain yang mengaburkan kemampuan asli siswa. Kecurigaan semacam ini sangat perlu, sebab ada gejala ketika diberlakukan belajar di rumah banyak orang terdekat yang dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas oleh siswa. Memang ada guru yang tidak peduli dengan tindakan jiplak menjiplak dari Ulangan Umum di rumah, asalkan tugasnya menjadi lebih mudah. Banyak pula yang menjadikan Ulangan Umum hanya sebagai formalitas dan nilai ditentukan dari proses pembelajaran sebelumnya (sebelum himbauan belajar di rumah). Kendatipun demikian cara penilaian semacam ini tidak efektif karena berpeluang mengabaikan dinamika kurva belajar, bahwa daya serap siswa dapat naik turun pada masing-masing materi.

Guna mengatasi kecurangan atau kekaburan dalam menilai siswa, para guru yang mengajar dari jarak jauh harus memiliki strategi tertentu seperti melakukan ujian dengan memberikan pertanyaan secara live sehingga kemampuan asli siswa akan terlihat dari jawaban yang meluncur langsung dari bibirnya. Atau bila ada hambatan teknologi maupun ujian live memerlukan waktu yang panjang mengingat banyaknya jumlah siswa guru mesti membuat soal analisis dengan sedikit mungkin peluang tereduksinya gambaran kemampuan asli siswa.

Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah pemberian tugas di rumah diupayakan tidak menyediakan kesempatan bagi siswa untuk melalaikan jam belajar. Seringkali siswa bermain sejak pagi hingga sore hari dan hanya berhenti untuk mengirim tugas hasil menyontek atau dibuatkan orang lain. Tentu saja semua tantangan itu tidak bisa dimenangkan dari pembelajaran yang mengandalkan hapalan.  [T]

Tags: belajar di rumahcovid 19Pendidikan
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal “Social Distancing”, “Physical Distancing” dan Pembatasan Sosial Berskala Besar

Next Post

Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post
Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co