12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korona, Belajar di Rumah, dan Matinya Belajar Hapalan

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
April 8, 2020
in Opini
Korona, Belajar di Rumah, dan Matinya Belajar Hapalan

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Banyak peristiwa menarik terjadi dalam dunia pendidikan ketika pemerintah memutuskan agar para siswa belajar di rumah guna memutus penyebaran Virus Korona. Tatkala pada sekolah-sekolah diumumkan jika pembelajaran akan dilakukan di rumah masing-masing, pekik girang dan raut wajah sukacita tampak dari sebagian besar siswa. Kendatipun esok harinya banyak siswa yang kecewa sebab mereka tidak benar-benar libur. Tugas datang bertumpuk-tumpuk dari masing-masing guru untuk diselesaikan dalam waktu tertentu.

Masalah lainnya adalah sebagian siswa baru menyadari jika belajar di rumah berarti tidak ada uang jajan dan kesedihanpun bertambah. Sementara masalah baru juga membebani banyak orangtua. Selain penghasilan yang seret akibat pembatasan sosial, anak-anak mereka meminta dibelikan smartphone dengan Random Access Memory (RAM) berkapasitas besar, alasannya ketika terjadi intekasi dengan gurunya secara daring (dalam jaringan) agar lebih lancar. Bahkan di desa-desa orangtua siswa prasejahtera menyebut dirinya telah pasrah jika seandainya anak-anaknya harus berhenti sekolah karena tidak mampu membeli smartphone.

 Orangtua yang berkemampuan membelikan anaknya smartphonepun tidak lekas bebas dari gangguan. Anak-anaknya berkali-kali berteriak meminta bantuan untuk menjawab tugas yang dikirimkan gurunya secara online. Begitulah, seluruh anggota keluarga terkadang turut berembug dan menunda pekerjaan lainnya hanya untuk menjawab soal yang tidak bisa dipecahkan oleh seorang siswa. Bahkan ada orangtua siswa yang menuntut jika guru harus membuat video mengenai suatu materi untuk kemudian dikirim kepada siswa atau mengajar secara live lewat aplikasi sejenis zoom  maupun cara lainnya, bukan malah menyulitkan orangtua rumah. Siswa yang lebih cerdas memilih mencari jawaban di google.

Lucunya  dalam beberapa kejadian deskripsi di google ternyata berbeda dengan kunci jawaban yang dipegang sang guru. Siswa maupun orangtuanya harus berlapang dada menerima kunci jawaban yang tak terbantahkan itu. Seorang dosen bergelar Doktor mengumpat karena sang anak salah dalam menjawab soal yang diberikan gurunya. Padahal dirinya mengaku pernah membaca sendiri dokumen sejarah yang berkaitan dengan soal yang dijawab buah hatinya itu, ia menambahkan bila di googlepun tersurat demikian. Pembelajaran di rumah sering mengentarakan keotoriteran oknum guru, ketidakluasan wawasan, serta cara mengajarnya yang cenderung menganggap siswa sebagai save deposit box.

Cara mengajar bercorak verbalis begitu lumrah terutama sebelum reformasi. Guru menyuruh anak didiknya untuk menghapal nama presiden, wakil presiden, menteri-menteri, jaksa agung, gubernur, bupati, dan sebagainya. Murid yang tidak hapal tentu akan diberikan sanksi. Memang cara mengajar yang menempatkan siswa hanya sebagai objek pembelajaran yang tidak berdaya telah lama ditentang.

Nyatanya masih ditemui guru sepuh hingga guru muda yang belum sanggup meninggalkan ‘romansa’ pembelajaran hapalan itu. Bukan sesuatu yang mustahil mereka yang tidak menyukai cara belajar dengan hapalan malah mengajar dengan cara yang sama ketika menjadi guru. Sebabnya tentu karena kurangnya kreativitas untuk mengembangkan materi, daripada menyusahkan diri membaca banyak buku mereka memilih mengandalkan soal-soal yang telah dilengkapi kunci jawaban. Sedangkan yang lainnya hanya membaca paparan materi baku dengan minimnya analisis. Terbukti manusia paling hebatpun dari masa hapal menghapal akan dikahahkan oleh mereka yang tidak terlalu hebat pada masa pembelajaran pemaknaan.

Seorang dosen senior yang dikagumi karena pada ‘era mesin ketik’ telah mampu menuntaskan studi doktoralnya di luar negeri tiba-tiba termenung  di teras kampus tempatnya mengajar selepas memberikan ujian akhir. Dosen-dosen yang lebih mudapun memberanikan diri untuk bertanya mengenai masalah yang telah mengganggu seniornya itu. Sang dosen sepuh menjelaskan jika semua mahasiswanya dapat menjawab soal-soal ujian yang tidak pernah dirubahnya sejak bertahun-tahun dengan sangat sempurna.

Dosen sepuh ini punya dua dugaan, pertama mahasiswanya mendapat bocoran dari kakak tingkatnya, kedua mereka sesungguhnya cerdas hanya saja tidak pernah aktif di kelas. Tampaknya untuk dugaan yang kedua dosen ini masih ragu-ragu. Dosen-dosen yang lebih mudapun segera paham bila kesempurnaan jawaban mahasiswa itu bersumber dari mesin pencari di internet. Hanya saja mereka merasa sungkan mengemukakan kepada seniornya

Ellen J. Langer (2008) dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mindful Learning, Membongkar 7 Mitos Pembelajaran yang Menyesatkan menganalogikan cerita Hansel dan Gretel dengan bahaya cara belajar hapalan. Hansel dan Gretel merupakan kakak beradik yang hidup pada suatu negeri yang tengah dilanda kelaparan, oleh karenanya mereka berupaya dibuang oleh kedua orangtuanya guna mengurangi beban makan keluarga. Pada upaya pembuangan pertama Hansel berhasil menuntun adiknya dari dalam hutan  untuk kembali ke rumah dengan mengikuti sebaran kerikil yang telah ditabur sedemikian rupa ketika mereka berangkat.

Melihat kedua anaknya kembali, ayah dan ibunya berencana untuk membawa mereka ke dalam hutan yang lebih dalam lagi keesokan harinya. Mendengar rencana itu, Hansel bermaksud mengumpulkan kerikil sebagaimana yang dilakukannya pada hari sebelumnya ketika kedua orangtuanya telah tertidur. Celakanya sang ibu telah mengunci pintu kamarnya sehingga Hansel tidak dapat melakukan apapun.

Keesokan harinya sebelum berangkat ke hutan Hansel dan adiknya menerima sedikit potongan roti sebagai bekal. Hansel kemudian memecah-mecah roti bekalnya dan membuangnya secara teratur pada tempat-tempat perhentian. Ketika malam tiba, Hansel berjalan dari tempat pembuangan dan berharap masih dapat menemukan potongan-potongan roti yang telah ditebarnya. Sayangnya potongan-potongan roti itu sudah tidak tersisa, habis dimakan oleh burung-burung penghuni hutan. Hansel dan Gretel berjalan berhari-hari dan tidak menemukan petunjuk untuk kembali ke rumah.

Sebagaimana kerikil yang diganti dengan roti, hapalan tidak mempunyai banyak kontrol dalam situasi baru. Seorang siswa boleh saja memiliki kemampuan menghapal yang mengagumkan untuk mengingat barisan kata secara teratur tanpa ada satupun yang terlewatkan, namun ketika diberikan bacaan baru kemampuan menghapal yang hebat itu tidak akan banyak menolong. Lebih jauh Langer mengatakan jika menghapal adalah strategi untuk menyerap materi yang tidak memiliki arti personal. Acapkali pendidikan hanya memberikan paket informasi yang sebagian besar bebas konteks kepada siswa, bahkan ketika konteks tersedia cara informasi dipresentasikan juga masih mendorong proses mindless.

Begitulah paket informasi yang tertutup diterima sebagai fakta, fakta-fakta kemudian diterima sebagai kebenaran mutlak untuk dipelajari sebagaimana adanya, dihapalkan, serta hanya meninggalkan sedikit alasan untuk berpikir tentang fakta-fakta tersebut. Akibatnya hanya sedikit peluang suatu informasi dapat melahirkan pemikiran konseptual atau dipikirkan kembali dalam konteks baru. Metode-metode yang lebih efektif ketimbang keharusan menghapal hanya digunakan secara terbatas terutama oleh siswa-siswa pada tingkat yang lebih tinggi kendatipun banyak siswa yang masih menderita kerugian tersembunyi dari cara belajar yang masih familiar itu.

Para guru yang masih terbawa ‘romantisme’ cara mengajar verbalisme tentu demikian khawatir jika saat Ulangan Umum dilaksanakan di rumah terlebih diberikan waktu menjawab hingga satu minggu lamanya contek mencontek akan terjadi. Murid-murid pintar berpeluang besar ‘ditodong’ oleh kawan-kawannya yang malas belajar dan jawaban bisa beredar dengan cepat melalui bantuan internet, terutama untuk jenis soal pilihan ganda. Soal berjenis uraianpun masih bisa dicontek dengan apa yang dalam dunia siswa lumrah sebagai ATM (amati, tiru, dan modifikasi), kendatipun jenis soal ini masih memiliki harapan untuk merangsang kemampuan analisis siswa.

Kelemahan soal uraian yang dikerjakan di rumah adalah terlibatnya pihak lain yang mengaburkan kemampuan asli siswa. Kecurigaan semacam ini sangat perlu, sebab ada gejala ketika diberlakukan belajar di rumah banyak orang terdekat yang dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas oleh siswa. Memang ada guru yang tidak peduli dengan tindakan jiplak menjiplak dari Ulangan Umum di rumah, asalkan tugasnya menjadi lebih mudah. Banyak pula yang menjadikan Ulangan Umum hanya sebagai formalitas dan nilai ditentukan dari proses pembelajaran sebelumnya (sebelum himbauan belajar di rumah). Kendatipun demikian cara penilaian semacam ini tidak efektif karena berpeluang mengabaikan dinamika kurva belajar, bahwa daya serap siswa dapat naik turun pada masing-masing materi.

Guna mengatasi kecurangan atau kekaburan dalam menilai siswa, para guru yang mengajar dari jarak jauh harus memiliki strategi tertentu seperti melakukan ujian dengan memberikan pertanyaan secara live sehingga kemampuan asli siswa akan terlihat dari jawaban yang meluncur langsung dari bibirnya. Atau bila ada hambatan teknologi maupun ujian live memerlukan waktu yang panjang mengingat banyaknya jumlah siswa guru mesti membuat soal analisis dengan sedikit mungkin peluang tereduksinya gambaran kemampuan asli siswa.

Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah pemberian tugas di rumah diupayakan tidak menyediakan kesempatan bagi siswa untuk melalaikan jam belajar. Seringkali siswa bermain sejak pagi hingga sore hari dan hanya berhenti untuk mengirim tugas hasil menyontek atau dibuatkan orang lain. Tentu saja semua tantangan itu tidak bisa dimenangkan dari pembelajaran yang mengandalkan hapalan.  [T]

Tags: belajar di rumahcovid 19Pendidikan
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal “Social Distancing”, “Physical Distancing” dan Pembatasan Sosial Berskala Besar

Next Post

Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co