24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korona, Belajar di Rumah, dan Matinya Belajar Hapalan

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
April 8, 2020
in Opini
Korona, Belajar di Rumah, dan Matinya Belajar Hapalan

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Banyak peristiwa menarik terjadi dalam dunia pendidikan ketika pemerintah memutuskan agar para siswa belajar di rumah guna memutus penyebaran Virus Korona. Tatkala pada sekolah-sekolah diumumkan jika pembelajaran akan dilakukan di rumah masing-masing, pekik girang dan raut wajah sukacita tampak dari sebagian besar siswa. Kendatipun esok harinya banyak siswa yang kecewa sebab mereka tidak benar-benar libur. Tugas datang bertumpuk-tumpuk dari masing-masing guru untuk diselesaikan dalam waktu tertentu.

Masalah lainnya adalah sebagian siswa baru menyadari jika belajar di rumah berarti tidak ada uang jajan dan kesedihanpun bertambah. Sementara masalah baru juga membebani banyak orangtua. Selain penghasilan yang seret akibat pembatasan sosial, anak-anak mereka meminta dibelikan smartphone dengan Random Access Memory (RAM) berkapasitas besar, alasannya ketika terjadi intekasi dengan gurunya secara daring (dalam jaringan) agar lebih lancar. Bahkan di desa-desa orangtua siswa prasejahtera menyebut dirinya telah pasrah jika seandainya anak-anaknya harus berhenti sekolah karena tidak mampu membeli smartphone.

 Orangtua yang berkemampuan membelikan anaknya smartphonepun tidak lekas bebas dari gangguan. Anak-anaknya berkali-kali berteriak meminta bantuan untuk menjawab tugas yang dikirimkan gurunya secara online. Begitulah, seluruh anggota keluarga terkadang turut berembug dan menunda pekerjaan lainnya hanya untuk menjawab soal yang tidak bisa dipecahkan oleh seorang siswa. Bahkan ada orangtua siswa yang menuntut jika guru harus membuat video mengenai suatu materi untuk kemudian dikirim kepada siswa atau mengajar secara live lewat aplikasi sejenis zoom  maupun cara lainnya, bukan malah menyulitkan orangtua rumah. Siswa yang lebih cerdas memilih mencari jawaban di google.

Lucunya  dalam beberapa kejadian deskripsi di google ternyata berbeda dengan kunci jawaban yang dipegang sang guru. Siswa maupun orangtuanya harus berlapang dada menerima kunci jawaban yang tak terbantahkan itu. Seorang dosen bergelar Doktor mengumpat karena sang anak salah dalam menjawab soal yang diberikan gurunya. Padahal dirinya mengaku pernah membaca sendiri dokumen sejarah yang berkaitan dengan soal yang dijawab buah hatinya itu, ia menambahkan bila di googlepun tersurat demikian. Pembelajaran di rumah sering mengentarakan keotoriteran oknum guru, ketidakluasan wawasan, serta cara mengajarnya yang cenderung menganggap siswa sebagai save deposit box.

Cara mengajar bercorak verbalis begitu lumrah terutama sebelum reformasi. Guru menyuruh anak didiknya untuk menghapal nama presiden, wakil presiden, menteri-menteri, jaksa agung, gubernur, bupati, dan sebagainya. Murid yang tidak hapal tentu akan diberikan sanksi. Memang cara mengajar yang menempatkan siswa hanya sebagai objek pembelajaran yang tidak berdaya telah lama ditentang.

Nyatanya masih ditemui guru sepuh hingga guru muda yang belum sanggup meninggalkan ‘romansa’ pembelajaran hapalan itu. Bukan sesuatu yang mustahil mereka yang tidak menyukai cara belajar dengan hapalan malah mengajar dengan cara yang sama ketika menjadi guru. Sebabnya tentu karena kurangnya kreativitas untuk mengembangkan materi, daripada menyusahkan diri membaca banyak buku mereka memilih mengandalkan soal-soal yang telah dilengkapi kunci jawaban. Sedangkan yang lainnya hanya membaca paparan materi baku dengan minimnya analisis. Terbukti manusia paling hebatpun dari masa hapal menghapal akan dikahahkan oleh mereka yang tidak terlalu hebat pada masa pembelajaran pemaknaan.

Seorang dosen senior yang dikagumi karena pada ‘era mesin ketik’ telah mampu menuntaskan studi doktoralnya di luar negeri tiba-tiba termenung  di teras kampus tempatnya mengajar selepas memberikan ujian akhir. Dosen-dosen yang lebih mudapun memberanikan diri untuk bertanya mengenai masalah yang telah mengganggu seniornya itu. Sang dosen sepuh menjelaskan jika semua mahasiswanya dapat menjawab soal-soal ujian yang tidak pernah dirubahnya sejak bertahun-tahun dengan sangat sempurna.

Dosen sepuh ini punya dua dugaan, pertama mahasiswanya mendapat bocoran dari kakak tingkatnya, kedua mereka sesungguhnya cerdas hanya saja tidak pernah aktif di kelas. Tampaknya untuk dugaan yang kedua dosen ini masih ragu-ragu. Dosen-dosen yang lebih mudapun segera paham bila kesempurnaan jawaban mahasiswa itu bersumber dari mesin pencari di internet. Hanya saja mereka merasa sungkan mengemukakan kepada seniornya

Ellen J. Langer (2008) dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mindful Learning, Membongkar 7 Mitos Pembelajaran yang Menyesatkan menganalogikan cerita Hansel dan Gretel dengan bahaya cara belajar hapalan. Hansel dan Gretel merupakan kakak beradik yang hidup pada suatu negeri yang tengah dilanda kelaparan, oleh karenanya mereka berupaya dibuang oleh kedua orangtuanya guna mengurangi beban makan keluarga. Pada upaya pembuangan pertama Hansel berhasil menuntun adiknya dari dalam hutan  untuk kembali ke rumah dengan mengikuti sebaran kerikil yang telah ditabur sedemikian rupa ketika mereka berangkat.

Melihat kedua anaknya kembali, ayah dan ibunya berencana untuk membawa mereka ke dalam hutan yang lebih dalam lagi keesokan harinya. Mendengar rencana itu, Hansel bermaksud mengumpulkan kerikil sebagaimana yang dilakukannya pada hari sebelumnya ketika kedua orangtuanya telah tertidur. Celakanya sang ibu telah mengunci pintu kamarnya sehingga Hansel tidak dapat melakukan apapun.

Keesokan harinya sebelum berangkat ke hutan Hansel dan adiknya menerima sedikit potongan roti sebagai bekal. Hansel kemudian memecah-mecah roti bekalnya dan membuangnya secara teratur pada tempat-tempat perhentian. Ketika malam tiba, Hansel berjalan dari tempat pembuangan dan berharap masih dapat menemukan potongan-potongan roti yang telah ditebarnya. Sayangnya potongan-potongan roti itu sudah tidak tersisa, habis dimakan oleh burung-burung penghuni hutan. Hansel dan Gretel berjalan berhari-hari dan tidak menemukan petunjuk untuk kembali ke rumah.

Sebagaimana kerikil yang diganti dengan roti, hapalan tidak mempunyai banyak kontrol dalam situasi baru. Seorang siswa boleh saja memiliki kemampuan menghapal yang mengagumkan untuk mengingat barisan kata secara teratur tanpa ada satupun yang terlewatkan, namun ketika diberikan bacaan baru kemampuan menghapal yang hebat itu tidak akan banyak menolong. Lebih jauh Langer mengatakan jika menghapal adalah strategi untuk menyerap materi yang tidak memiliki arti personal. Acapkali pendidikan hanya memberikan paket informasi yang sebagian besar bebas konteks kepada siswa, bahkan ketika konteks tersedia cara informasi dipresentasikan juga masih mendorong proses mindless.

Begitulah paket informasi yang tertutup diterima sebagai fakta, fakta-fakta kemudian diterima sebagai kebenaran mutlak untuk dipelajari sebagaimana adanya, dihapalkan, serta hanya meninggalkan sedikit alasan untuk berpikir tentang fakta-fakta tersebut. Akibatnya hanya sedikit peluang suatu informasi dapat melahirkan pemikiran konseptual atau dipikirkan kembali dalam konteks baru. Metode-metode yang lebih efektif ketimbang keharusan menghapal hanya digunakan secara terbatas terutama oleh siswa-siswa pada tingkat yang lebih tinggi kendatipun banyak siswa yang masih menderita kerugian tersembunyi dari cara belajar yang masih familiar itu.

Para guru yang masih terbawa ‘romantisme’ cara mengajar verbalisme tentu demikian khawatir jika saat Ulangan Umum dilaksanakan di rumah terlebih diberikan waktu menjawab hingga satu minggu lamanya contek mencontek akan terjadi. Murid-murid pintar berpeluang besar ‘ditodong’ oleh kawan-kawannya yang malas belajar dan jawaban bisa beredar dengan cepat melalui bantuan internet, terutama untuk jenis soal pilihan ganda. Soal berjenis uraianpun masih bisa dicontek dengan apa yang dalam dunia siswa lumrah sebagai ATM (amati, tiru, dan modifikasi), kendatipun jenis soal ini masih memiliki harapan untuk merangsang kemampuan analisis siswa.

Kelemahan soal uraian yang dikerjakan di rumah adalah terlibatnya pihak lain yang mengaburkan kemampuan asli siswa. Kecurigaan semacam ini sangat perlu, sebab ada gejala ketika diberlakukan belajar di rumah banyak orang terdekat yang dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas oleh siswa. Memang ada guru yang tidak peduli dengan tindakan jiplak menjiplak dari Ulangan Umum di rumah, asalkan tugasnya menjadi lebih mudah. Banyak pula yang menjadikan Ulangan Umum hanya sebagai formalitas dan nilai ditentukan dari proses pembelajaran sebelumnya (sebelum himbauan belajar di rumah). Kendatipun demikian cara penilaian semacam ini tidak efektif karena berpeluang mengabaikan dinamika kurva belajar, bahwa daya serap siswa dapat naik turun pada masing-masing materi.

Guna mengatasi kecurangan atau kekaburan dalam menilai siswa, para guru yang mengajar dari jarak jauh harus memiliki strategi tertentu seperti melakukan ujian dengan memberikan pertanyaan secara live sehingga kemampuan asli siswa akan terlihat dari jawaban yang meluncur langsung dari bibirnya. Atau bila ada hambatan teknologi maupun ujian live memerlukan waktu yang panjang mengingat banyaknya jumlah siswa guru mesti membuat soal analisis dengan sedikit mungkin peluang tereduksinya gambaran kemampuan asli siswa.

Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah pemberian tugas di rumah diupayakan tidak menyediakan kesempatan bagi siswa untuk melalaikan jam belajar. Seringkali siswa bermain sejak pagi hingga sore hari dan hanya berhenti untuk mengirim tugas hasil menyontek atau dibuatkan orang lain. Tentu saja semua tantangan itu tidak bisa dimenangkan dari pembelajaran yang mengandalkan hapalan.  [T]

Tags: belajar di rumahcovid 19Pendidikan
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal “Social Distancing”, “Physical Distancing” dan Pembatasan Sosial Berskala Besar

Next Post

Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co