22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

tatkala by tatkala
March 28, 2020
in Khas
Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sudah lebih satu bulan jenis virus corona baru (Covid-29) menyebar sampai diputuskan sebagai pandemi global. Pengusaha wisata dan pekerjanya di Nusa Penida pun terdampak. Usaha speedboat tak seramai sebelumnya, penyewaan kendaraan berkurang, dan banyak hal lainnya karena kepulauan ini makin fokus menarik kunjungan turis.

Di tengah masa menegangkan ini, sejumlah kelompok warga belajar dan mempraktikkan cara hidup ekologis melalui berbagai cara. Salah satunya untuk mengenalkan kembali potensi pertanian dan cara hidup selaras alam di Pulau Nusa Penida.

Gede Agustinus Darmawan atau yang akrab dipanggil Timbool adalah salah satu anak muda penekun pewarna alami yang sedang berkegiatan di Dusun Tanglad bersama warga penenun. Mereka mendukung produksi pewarna alami dari aneka tumbuhan untuk kain tenun dan kini berusaha menanam kembali sejumlah tanaman bahan baku pewarna yang makin hilang. Kegiatan ini bagian dari program Ekologis Nusa Penida GEF-SGP yang dikoordinir Yayasan Wisnu.

Selain menanam bibit secara konvensional di lahan-lahan milik penenun, kelompok tenun Alam Mesari ini juga mencoba menanam dengan model seeds bomb atau seeds bombing. Melempar “bom” benih untuk menjangkau area yang sulit dijangkau seperti tebing dan perbukitan di sekitar dusun mereka.

Nusa Penida adalah wilayah kepulauan yang masuk Kabupaten Klungkung. Tiga pulau ini, terbesar Nusa Penida, kemudian Lembongan, dan Ceningan, makin terkenal sebagai tujuan wisata di Bali. Untuk menyeberang ke ketiga pulau itu, perlu waktu sekitar 20-45 menit tergantung lokasi penyeberangan speedboat. Misal dari Pantai Sanur, Denpasar, sekitar 45 menit speedboat menuju Pulau Nusa Penida. Sedangkan menuju Lembongan dan Ceningan lebih cepat.

Benih-benih dalam bentuk “bom” ini pada 14 Februari 2020 lalu sudah terlihat tumbuh seperti tunas kacang ijo, dibuat pada  hari berbeda. Ada yang sudah berusia satu bulan dan satu minggu.

Ratusan telur tanah itu memang tak sama, ada yang sudah bertunas, ada yang belum. Ada juga yang lebih cepat tubuh tunasnya karena tersiram air hujan setelah dibuat bulatan-bulatan.

“Saat musim penghujan baru disebar. Kemungkin hidup 50%,” kata Timbool. Metode bom benih ini digunakan untuk menghijaukan lahan yang sulit dijangkau, sehingga lebih spekulatif. Sudah 8000 benih yang dimasukkan bom benih. Dalam satu “bom” diisi 10-15 biji benih dan isinya benih tanaman perintis seperti turi, orok-orok, dan gereng-gereng. Sementara untuk bibit tanaman pewarna adalah tarum. Benih-benih dalam “bom” ini difokuskan terlebih dulu untuk menyuburkan tanah. “Pohon-pohon itu pembuat lapisan tanah, daunnya cepat gugur,” ujarnya.

Dalam satu “bom” yang dilempar diharapkan akan ada beberapa benih yang berhasil bertahan dan mengisi lahan pulau Nusa Penida yang kurang produktif. Karena dominan bebatuan karang, “bom” benih ini diperkirakan akan terpecah setelah dilempar. Karena itu satu bulatan diisi belasan benih agar menyebar.

Lahan-lahan kelompok penenun kain menjadi prioritas di antaranya tebing yang sulit dijangkau, daerah terjal, dan area dengan banyak hama monyet. Selain metode “seeds bombing”, penghijauan juga dilakukan dengan menanam bibit terutama tanaman bahan baku pewarna alami seperti  mengkudu, secang, indigo, dan tarum.

Cara pembuatan “bom” benih ada beragam, Timbool dan rekannya melakukannya dengan membasahkan adonan tanah subur, dicampur pupuk kompos, dan sedikit tanah liat untuk pengikat.  Komposisinya sekitar 5:1 antara tanah subur-kompos dengan tanah liat.

Di Desa Batumadeg, Yayasan Idep mengembangkan permakultur pekarangan rumah tangga, dengan menanam aneka jenis sayuran seperti timun dan sawi hijau. Yayasan Idep memperkenalkan juga banana pit, yaitu lubang dengan diameter sekitar 1 meter dengan kedalaman 1 meter.

Lubang berfungsi sebagai tempat pengolahan limbah, pembuatan kompos, dan kebun. Lubang diberi kerikil/batu sedalam 50 cm, bagian bawah untuk tempat pengolahan air limbah, di atasnya untuk sampah organik. Di sekitar lubang ditanam pohon pisang, dan di antara pohon pisang bisa ditanam sayuran. Fungsi pohon pisang adalah untuk menyimpan air ketika musim hujan dan melepas air di musim kering.

Sementara itu Yayasan Taksu Tridatu memperkenalkan pembuatan pakan kering untuk ternak sapi. Pakan kering dibuat dari rerumputan dan daun-daun yang sudah kering, kemudian difermentasi, dan ditambahkan untuk memberikan nutrisi. Salah satu tempat pengembangan ternak sapi dengan pakan kering bisa dilihat di Rumah Belajar Bukit Keker, Banjar Nyuh Kukuh, Ped. Di area ini bisa dilihat juga teknik pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pemanfaatan cahaya matahari jadi listrik dengan panel surya.

Ada juga model kebun untuk memasok kebutuhan sebuah komplek pura Khayangan Jagat, Pura Puser Sahab di Desa Batumadeg. Kelompok Wisanggeni mengajak warga pengempon (pengelola) pura untuk kembali menghijaukan lahan sekitarnya dengan aneka pohon umur panjang sebagai peneduh dan juga memasok kebutuhan ritual upacara.

Meningkatnya turis artinya beban limbah pun bertambah. Bagaimana strategi pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil?

Program pemilahan sampah sudah dilakukan sekitar setahun oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, salah satu mitra program kerja  Program Ekologis Nusa Penida. Bahkan Desa Adat Nyuh Kukuh Ped mendapat penghargaan dari Bupati Klungkung sebagai penggagas TPST/Bank Sampah.

Selain mengajak rumah tangga memilah sampah, juga menyediakan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang berlokasi di Rumah Belajar (learning center) Bukit Keker di Banjar Nyuh Kukuh. Sebuah moci, kendaraan roda tiga dengan bak terparkir di sana.

Hasil survey timbulan sampah rumah tangga di Banjar Nyuh oleh PPLH sekitar 550 kg per hari, ini bisa memenuhi 5 moci. Sebagian besar berupa sampah organik sekitar 60%. PPLH juga membentuk tim relawan Nyuh Kedas dalam mengelola sampah. Diawali dengan pelatihan pengelolaan sampah (kompos, mol, daur ulang kertas). Saat ini ada 7 orang anak yang aktif mengelola sampah di Banjar Nyuh, terutama untuk mengajak warga memilah sampahnya.

Hal objek wisata di Pulau Bali yang mengandalkan alam dan budaya, demikian pula Nusa Penida. Bagaimana menyinergikan wisata dan pertanian sebagai bagian kehidupan sehari-hari warga?

Jaringan Ekowisata Desa (JED), sebuah kerjasama antara Yayasan Wisnu dan sejumlah desa menawarkan dan mengembangkan wisata alternatif. Jaringan yang sudah berjalan saat ini adalah Desa Kiadan, Plaga (Badung), Dukuh, Sibetan (Karangasem), Tenganan Pegringsingan (Karangasem), Perancak (Jembrana), dan Nyambu (Tabanan).

Saat ini sedang dirintis di Nusa Penida melalui Program Ekologis Nusa Penida. Konsepnya adalah pariwisata berbasis potensi diri (alam, manusia, sosial budaya, infrastruktur) yang dikelola oleh masyarakat setempat. Prinsipnya kepemilikan (masyarakat sebagai pemilik mengetahui dan mengenal potensi yang dimiliki), pengelolaan (pengelolaan sumber daya berdasar pada prinsip kebersamaan dan keadilan), dan keberlanjutan (dengan menjaga kesakralan melalui dokumentasi dan media pembelajaran),

Paket wisata yang sedang dirancang berfokus pada pola hidup masyarakat Nusa Penida yang meliputi sistem pertanian lahan kering dan olahan pangan, sumber ekonomi (rumput laut dan tenun), serta seni dan budaya. Rumah Belajar Bukit Keker di Desa Ped, akan dijadikan sebagai tempat penerimaan tamu sekaligus percontohan adaptasi lingkungan melalui praktik produksi biogas, kebun permakultur, dan pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi.

Gede Sugiarta, Koordinator Program Ekologis ini mengatakan Nusa Penida bisa menjadi contoh pengelolaan wisata alam dan pulau kecil yang berkelanjutan jika warga kembali menyadari kekayaan pengetahuan dan kearifan lokal seperti pertanian lahan kering.

“Melalui Program Ekologis Nusa Penida kami berharap secara perlahan pulau kecil ini mampu mengembalikan dan meningkatkan ketahanan sosial budaya-ekologis sebagai upaya menghadapi desakan globalisasi,” ujarnya. [T] [*/Rilis]

Tags: ekologilingkunganNusa PenidaPariwisata
Share121TweetSendShareSend
Previous Post

Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

Next Post

“Work from Home”, Antara Harapan dan Kenyataan

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
“Work from Home”, Antara Harapan dan Kenyataan

“Work from Home”, Antara Harapan dan Kenyataan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co